
Bella kembali masuk setelah menemui arwah seorang Ibu-ibu yang tidak jelas arwah dari siapa. Ketika Bella baru saja memasuki ruang tamu rumah Nathan, sebuah tangan meraih bahunya dan cukup membuatnya merasa kaget.
"Astaga..!" Pekiknya serayap menoleh.
"Habis darimana?" Tenyata tangan tersebut milik Nathan.
Bella terkesima melihat penampilan sederhana dari Nathan sore ini, Nathan hanya memakai celana pendek dengan kaos oblong biasa, membuat Bella gugup sebab sebelumnya Nathan selalu berpenampilan rapi bila di depannya.
Nathan ku memang sangat tampan, astaga Tuhan Fikiran ku mulai tidak waras. Sejak tadi aku hanya membayangkan Nathan saat menjadi suamiku kelak. Batin Bella yang tengah mematung.
Dia melakukan hal itu lagi, apa yang sedang di fikirkan nya saat ini.
Nathan menunduk sebentar dan mencium pipi kanan milik Bella sehingga membuatnya tersadar dengan rona merah di wajahnya. Bella menatap ke arah Nathan dengan ekspresi wajah gugup, tangan kanannya di letakkan pada pipi kanannya sendiri seolah bibir milik Nathan masih menempel di pipinya.
"Belum juga menikah kau sudah seperti itu." Eluh Bella serayap tersenyum malu.
"Salah siapa? Aku bertanya tapi kau selalu tidak pernah fokus pada pertanyaanku itu." Jawab Nathan tersenyum tipis membuat Bella mengalihkan pandangannya saat ini juga.
"Emm aku hanya keluar mencari angin tadi." Jawab Bella asal.
"Dengan baju tipis ini? Sudah ku bilang jika baju ini pakailah untuk di dalam kamar jangan keluar rumah seperti itu."
"Dasar tukang atur! Aku tidak sengaja memakainya." Runtuk Bella kesal.
"Aku hanya tidak ingin milikku di lihat oleh siapapun, mari masuk aku ingin berbicara beberapa hal padamu."
Jawabannya selalu saja membuat jantungku berdebar.
Bella mengikuti langkah Nathan untuk masuk kedalam rumahnya, dia menarik tangan Bella lembut menuju ke arah kamar yang saat ini di tempati Bella.
"Kau mau apa?" Tanya Bella penuh curiga.
"Buang fikiran negatif mu padaku sayang, aku tidak akan melakukan hal yang melampaui batas sebelum ikrar pernikahan terucap di antara kita." Jawab Nathan menyuruh Bella untuk duduk di sofa kecil yang ada di dalam sana.
Nathan sendiri berjalan menuju ke arah lemari besar miliknya dan mengambil sesuatu dari sana, dia kembali dengan sebuah senyuman yang cukup membuat jantung Bella kembali memacu dengan cepat. Nathan segera duduk di samping Bella serayap menyerahkan sebuah kotak kecil yang ada di tangannya.
"Apa ini?" Tanya Bella langsung menerima kotak cincin tersebut, langsung terpotret jelas sejarah dari cincin tersebut dan membuat Bella merasa terharu dengan perjuangan Pak Salim untuk mendapatkan cinta dari Almarhum Mama Nathan.
"Kau kenapa?" Tanya Nathan balik.
"Tidak ada." Bella segera membuka kotak tersebut dan terlihat sebuah cincin di sana." Kenapa kau berikan cincin ini padaku?" Imbuh Bella berpura-pura bertanya karena sebenarnya dia sudah tahu maksud dan tujuan dari Nathan.
"Itu cincin almarhum Mama, dia menyuruhku memberikannya pada seseorang yang tepat agar bisa menjaganya." Jawab Nathan tersenyum.
"Bukannya sebaiknya di berikan nanti saja." Tutur Bella lirih sebab dia masih tidak yakin dengan pernikahan itu meski sebenarnya Bella merasa sangat bahagia.
"Tidak akan ada bedanya nanti atau sekarang, kau akan menjadi istriku oke." Nathan mengambil kotak cincin tersebut lalu mengambil cincinnya, dia menatap ke arah Bella penuh dengan keyakinan serayap menarik nafas sepanjang-panjangnya." Aku minta kau jawab pertanyaanku saja sayang, tidak perlu ada ucapan tapi atau semacamnya sebab aku tidak akan mengulangi pertanyaan ini." Imbuh Nathan menjelaskan.
Bella yang sudah tahu arah pembicaraan tersebut menjadi semakin gugup dan tegang meski di situ hanyalah ada mereka berdua.
"Kenapa pakai begini segala? Aku sudah bosan." Jawab Bella beralasan.
"Hmm yah, mungkin cara ini memang sedikit membosankan tapi aku berjanji akan memberikan ending yang tidak membosankan untuk kehidupan kita nanti."
Wajah Bella semakin memerah, kepalanya tertunduk dengan sebuah tarikan nafas yang begitu panjang." Oke ucapkan." Pinta Bella lembut dan cukup membuat perasaan Nathan sangat senang.
Sebelum berkata, Nathan kembali menarik nafas panjang sebab ini baru pertama kali untuknya." Bella, maukah kau menikah denganku." Tutur Nathan terdengar tegas seolah dia seorang pria dewasa yang berumur 28 tahun.
"Iya aku mau." Jawab Bella mengangguk pelan.
"Terimakasih sayang." Nathan dengan cepat memakaikan cincin pada jari manis Bella membuat Bella merasakan sensasi perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan lagi.
Bella langsung menoleh saat melihat cahaya camera yang berasal dari belakang tempat mereka duduk saat ini.
"Wahhh akhirnya Bellaku akan menikah." Teriak Lena histeris membuat Bella langsung berdiri dari tempatnya saat ini.
"Lena!! Apa yang kau." Tanya Bella tertahan sebab melihat sosok Farel tengah berdiri di samping Lena." Kamu..!" Melihat ke arah Nathan dengan tatapan tajam.
"Maaf sayang, aku hanya ingin ada yang menjadi saksi momen penting ini." Jawab Nathan santai.
"Ahh ya tentu saja." Tutur Bella semakin merasa malu.
"Sudahlah, nih Nath hasilnya." Sahut Farel memperlihatkan sebuah kamera, terdengar jelas suara Bella dan Nathan saat sedang mengobrol tadi.
"Astaga.." Eluh Bella.
"Selamat yah." Lena langsung memeluk erat tubuh Bella dan berbisik." Karin pasti ikut bahagia di sana." Tutur Lena mencium pipi kanan Bella.
"Hmm tentu saja." Jawab Bella tersenyum saat mengingat nama Karin.
"Kado untukmu." Lena melepaskan pelukan dan memberikan sebuah bungkusan yang ada di tangannya." Bukalah cepat." Pinta Lena.
Bella membuka kado tersebut dan mengerutkan keningnya saat melihat isinya." Len, kau tidak salah membeli kan?" Tanya Bella membuat Nathan dan Farel menahan tawa mereka.
"Tidak, itu doaku untukmu Bella. Bagus bukan?"
"Iya tapi..." Kado yang di terima Bella adalah beberapa pakaian bayi yang terlihat sangat lucu.
"Setelah menikah, ku doakan agar kau cepat punya bayi, wahhh aku jadi punya keponakan setelah itu." Jawab Lena yang ternyata lebih menyebalkan daripada Karin.
"Amin." Sahut Farel.
"Amin, bukankah itu sebuah doa sayang, tidak ada salahnya bukan."
"Hmm oke, Amin terimakasih Len." Jawab Bella lemas.
"Sama-sama."
"Emm tunggu Nath, antar aku ke rumah setelah ini."
"Ada sesuatu yang mau kau ambil?" Tanya Nathan.
"Kucingku, kasihan jika tidak di beri makan." Jawab Bella yang masih mengingat kucingnya.
"Hmm baik sayang, kita makan dahulu."
Keempatnya pun menuju ke arah ruang makan yang sudah tersedia beberapa makanan lezat untuk merayakan hari jadi antara Nathan dan Bella.
.
.
.
.
Vero bangun dengan keadaan berantakan serayap menatap ke arah sekitar, dia mencari di mana keberadaan Bastian namun tidak menemukannya. Akhirnya Vero memutuskan untuk turun dan melihat seisi rumah yang terasa sepi itu. Sesekali tangannya mengusap perut karena merasa lapar setelah melakukan beberapa pelepasan tadi.
"Bastian kau dimana?" Panggil Vero serayap menatap sekitar.
Sebuah tangan tiba-tiba menepuk lembut pundaknya sehingga membuat Vero sangat kaget.
"Aagh.." Pekiknya saat melihat wanita separuh baya berdiri di belakangnya, cukup aneh, sebab tadi Vero tidak mendengar ada seseorang di rumah ini.
Wanita itu berwajah pucat dengan setelan kebaya berwarna coklat tua, bibirnya tersenyum sedikit namun semakin menampilkan pemandangan yang cukup membuat Vero merasa takut.
"Ibu siapa?" Tanya Vero terbata.
"Saya Mbok Darmo Non, pembantu dari Tuan Bastian. Nona pasti lapar, mari saya antarkan ke dapur, saya sudah memasakkan beberapa masakan untuk Nona atas perintah Tuan Bastian." Jawab Mbok Darmo dengan intonasi suara yang datar.
"Hmm begitu, Lantas Tuan Bastian kemana?"
"Saya tidak tahu Non, Tuan cuma pamit pergi sebentar tadi." Jawab Mbok Darmo.
Vero yang sudah sangat lapar langsung saja mengiyakan ajakan dari Mbok Darmo tersebut meski ada perasaan tidak nyaman sejak dia berada di rumah Bastian saat ini. Berbagai makanan Lezat di hidangkan di atas meja yang cukup besar, Vero langsung saja duduk dan merasa senang karena sudah sangat lama dia tidak makan enak.
"Wah Mbok, banyak sekali makanannya?"
"Iya Non, kata Tuan biar Non bisa kembali sehat." Jawab Mbok Darmo tersenyum aneh.
"Ya sudah pergi Mbok, saya mau makan." Pinta Vero merasa tidak nyaman dengan tatapan dari Mbok Darmo.
"Baik Non permisi." Mbok Darmo segera pergi menuju kebelakang sementara Vero langsung mengambil piring dan nasi.
Jangan di makan Nak...
Suara tersebut terdengar seperti suara Ibu Vero yang beberapa hari lalu meninggal, Vero mencari sumber suara namun tidak menemukan apa-apa di setiap sudut ruangan.
"Ahh mungkin perasaan aku saja." Tutur Vero akan menyendok makanan tersebut namun tercium bau anyir, Vero mengerutkan keningnya dan mencium masakan yang ada di sendoknya." Harum, bau apa sih tadi." Imbuhnya kembali curiga namun tidak di hiraukan dan segera makan dengan lahapnya.
Mbok Darmo cekikikan dan mengeluarkan suara seperti kuntilanak serayap menatap ke arah Vero yang tengah makan segerombolan belatung dan daging busuk. Vero yang tidak bisa melihat hal itu, makan dengan lahapnya menikmati setiap makanan yang terhidang di depannya.
.
.
Sementara di luar rumah, sosok tinggi hitam berbulu yang secara tiba-tiba datang dan langsung berwujud sebagai Bastian segera masuk untuk menemui Vero yang sudah selesai makan.
"Darimana saja Bas." Tanya Vero dengan nada manja.
"Ada urusan sebentar, apa kau sudah makan sayang?"
"Hmm sudah, Mbok Darmo yang menyiapkannya." Jawab Vero tersenyum manis.
"Syukurlah, aku punya sesuatu untukmu." Bastian memberikan tas yang saat ini di bawanya.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Vero membuka tas tersebut dan berteriak senang saat melihat tumpukan uang berada di dalam tas tersebut.
"Uang siapa ini?" Tanya Vero.
"Itu untukmu, kau bisa berbelanja dengan uang itu."
"Astaga sayang terima kasih." Teriak Vero langsung memeluk Bastian.
"Sama-sama sayang."
"Em tapi." Tiba-tiba Vero melepaskan pelukan dan menatap ke arah Bastian.
"Tapi apa?"
"Aku mau kita menikah sayang, aku tidak ingin hubungan tidak jelas seperti ini. Dan aku mau pernikahan kita sangat megah dan hanya orang-orang terpandang saja yang hadir di acara pernikahan kita, bagaimana? Apa kau bisa mewujudkannya untukku."
"Tentu sayang, apapun itu." Bastian langsung mengangkat tubuh Vero dan menciumnya, Vero yang sangat menyukai permainan Bastian langsung saja membalas ciuman tersebut hingga Bastian kembali menggaulinya di sofa yang terletak di ruang tengah rumah tersebut.-
Sekali lagi maaf jika ada keterlambatan sebab itu semua bukan kehendak Author🙏
Dukung terus cerita ini dengan cara, like, share dan Vote yah😁 Terimakasih 😍😍