
Waktu berjalan terasa begitu cepat untuk Bella, esok adalah hari di mana Nathan akan mengikatnya dengan sebuah janji suci yang entah untuk sementara atau selamanya. Di karenakan jarak yang jauh, orang tua dan keluarga Bella yang masih perduli padanya di persilahkan oleh Pak Salim menginap di rumahnya sejak 2 hari sebelum pernikahan.
Di dalam kamar Bella merasakan perasaan yang gugup untuk acara besok, meski saat ini Mama Sinta tengah berada di dekatnya namun tetap saja ada perasaan takut akan kegagalan seperti yang sudah terjadi dulu. Bella berfikir jika kebahagiaan tidak akan datang sebelum fobia itu bisa pergi dari hidupnya.
"Memikirkan hal itu lagi?" Tanya Mama Sinta yang sudah berada di ambang pintu kamar Bella, Mama Sinta melangkah masuk dan duduk di samping Bella yang tengah tersenyum ke arahnya." Mama juga takut akan hal itu sayang, tapi tidakkah kau merasakan perbedaan pada Nathan? Mama rasa dia serius dengan ucapannya meski umurnya memang sangat tidak mungkin untuk bisa bersikap dewasa padamu." Imbuh Mama Sinta membelai rambut panjang Bella.
"Hmm ya Ma, tapi tetap saja rasanya takut." Jawab Bella lirih.
"Jangan fikirkan yang lain, fikirkan saja Nathan. Asal dia tidak meninggalkan mu dan memenuhi janjinya, itu semua sudah cukup sayang."
"Jika tidak?" Bella menatap ke arah Mama Sinta sendu.
Mama Sinta memeluk tubuh Bella serayap mengusap lembut punggungnya, bibirnya tersenyum sambil terus mengusap seolah sedang menguatkan agar perasaan Bella bisa menjadi tenang.
"Apa kau mengenal Nathan dengan sangat baik sayang?" Tanya Mama Sinta lirih.
"Cukup baik Ma."
"Bagaimana penilaian mu?"
"Aku menyukainya, dia terasa berbeda dari yang lain." Jawab Bella.
"Lantas apa yang kau takutkan." Mama Sinta melepaskan pelukannya dan menatap wajah Bella.
"Entahlah Ma." Balas Bella singkat.
"Itu hanya keraguanmu sayang, keraguan karena kau terlalu banyak mengalami kegagalan. Coba berfikir positif saja sayang, kau bisa menilai Nathan pria seperti apa kan? Mama yakin kau tidak sembarangan menerima seseorang apalagi memutuskan untuk hal besar seperti ini. Mama minta, jangan kecewakan keluarga Nathan dengan melihatmu tidak bahagia seperti sekarang." Tangan Mama Sinta terangkat lalu mengusap lembut pipi Bella sehingga membuat Bella tersenyum ke arah Mama Sinta.
Tok..tok..tok...
Suara ketukan pintu membuat Bella dan Mama Sinta langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Nathan sudah berdiri di ambang pintu yang entah sejak kapan.
"Bukannya seharusnya kalian tidak boleh bertemu dahulu?" Goda Mama Sinta.
"Entahlah Ma, aku hanya menuruti apa kemauan calon istriku." Jawab Nathan serayap berjalan masuk.
"Itu tradisi kuno." Sahut Bella.
"Semua sudah menunggu di bawah untuk makan malam." Tutur Nathan berdiri di hadapan Bella dan Mama Sinta.
Akhirnya Bella harus terpaksa mau, meski sebenarnya dia tidak sedang berselera makan.
.
.
.
.
Malam berlalu, Bella bergegas membereskan tempat tidurnya dan menaruh selimut serta sprei kotor pada kamar mandi di dalam kamar. Bella segera mandi sebab perias pengantin datang pada pukul enam pagi ini. Sambil menyisir rambut panjangnya, dia memandangi dirinya sendiri pada pantulan cermin. Ada sebuah senyuman di sana, sebab tidak dapat di pungkiri jika Bella merasa sangat bahagia hari ini.
Tok...tok...tok...
"Sayang..."
Terdengar suara Mama Sinta memanggil dari balik pintu, Bella segera menghentikan aktivitasnya dan segera membukakan pintu. Terlihat ada dua orang wanita berdiri di belakang Mama Sinta, keduanya membawa kotak makeup besar dan sudah di pastikan jika mereka pasti perias pengantin.
"Syukurlah kau sudah mandi." Tutur Mama Sinta.
"Apa sekarang?"
"Tentu sayang, butuh waktu panjang untuk mempersiapkan ini. Mari silahkan masuk."
Mama Sinta mempersilahkan keduanya masuk kamar meski Bella terlihat masih memandang ke arah keluar pintu seolah tengah mencari seseorang.
"Nathan tidak akan ke sini sebelum nanti, apa kau merindukannya setelah semalaman tidak bertemu?" Goda Mama Sinta membuat wajah Bella langsung memerah.
"Apa yang Mama katakan." Protes Bella masuk kamar dan meninggalkan Mama Sinta begitu saja.
Dari rona merah wajahmu saja sangat kelihatan jika kau juga menyukai Nathan. Ya Tuhan, beri kebahagiaan untuk anakku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi itu, Vero kembali bangun dalam keadaan terlanjang bulat. Pakaian pengantinnya sudah berserakan di lantai dan dia kembali tidak menemukan Bastian di sampingnya. Bibirnya meringis menahan perih pada pangkal pahanya, Vero bahkan tidak sadar dengan apa yang di lakukannya semalam. Dia hanya mengingat terakhir kali dia makan malam di meja makan dengan lahapnya bersama Mbok Darmo
Kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian semalam. Batinnya serayap berusaha duduk.
Matanya menjelajah sekitar, rumah itu kembali terasa sunyi dan seolah tidak berpenghuni. Padahal semalam, Vero mengingat jika sangat banyak orang-orang yang memenuhi rumahnya dan pagi ini semuanya seolah sudah musnah dan tidak menyisakan tanda sedikitpun.
Apa aku bermimpi semalam? Vero memandangi tangan kirinya yang terpasang sebuah cincin berlian pemberian Bastian semalam, dan hal itu membuatnya yakin jika semalam dia tidak sedang bermimpi. Bahkan baju pengantin yang dia kenakan masih berserakan di lantai kamarnya.
Vero kembali mengingat sesuatu saat tangannya menyentuh benda kertas yang berada di balik sprei nya. Dan benar saja, saat dia menyikap sprei tersebut sangat banyak uang berada di sana hingga bibirnya kembali tersungging.
"Astaga uang lagi! Yang kemarin saja belum habis, Suamiku memang sangat mencintaiku. Meski dia sering meninggalkanku tapi dia tidak pernah membiarkanku kekurangan." Katanya serayap memunguti uang tersebut, rasa perih di pangkal paha perlahan menghilang karena melihat uang yang begitu banyak. Vero bahkan tidak tahu sebanyak apa uang tersebut hingga fikirannya menjadi sangat tidak waras.
"Wah bisa beli mobil nih, astaga uangnya banyak sekali!." Vero berteriak kegirangan seperti orang yang sudah kehilangan akal mengingat saat ini dia tengah terlanjang bulat dan tidak memakai satu helai benangpun.
Vero segera mengambil tas dan memasukkan semua uangnya. Dia bergegas membersihkan diri untuk bersiap-siap pergi ke showroom mobil. Saat pintu kamarnya terbuka, tercium bau masakan khas dari Mbok Darmo. Vero menengok dari pagar pembatas lantai dua dan tidak melihat siapapun di dapur. Namun dia melihat beberapa masakan sudah tersaji di meja makan. Vero langsung menuruni tangga karena perutnya memang terasa sangat lapar. Apalagi sejak dia menempati rumah ini, Vero menjadi kencanduan oleh masakan Mbok Darmo yang sebenarnya tidak lazim untuk di konsumsi manusia. Vero segera menyantap makanan tersebut bahkan dia tidak menyadari jika mulutnya berlumuran darah kental akibat daging busuk yang di konsumsi nya pagi ini.-
Maaf ya keterlambatannya 😭
Author nggak tahu meski ngomong gimana karena review nya benar-benar lama🙏
Jangan lupa, silahkan like, share dan Vote ya🤗
Terimakasih 🙏