Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 85



Setelah berbelanja banyak barang, Vero memutuskan untuk mampir ke rumah dan mengambil sertifikat tanah rumahnya. Vero berniat akan menjual rumah tersebut sebab dia sudah berangan-angan tinggi untuk menjadi Nyonya Bastian dan memiliki seluruh harta milik Bastian, jadi Vero berfikir tidak akan membutuhkan rumah kumuh itu lagi.


"Hahaha ini dia suratnya, hmm lumayan nanti uangnya buat beli mobil mewah." Vero segera memasukan sertifikat tanah tersebut ke dalam tasnya." Waktunya pulang." Vero langsung berjalan keluar dan segera masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya sejak tadi.


🚗Di dalam taksi🚗


"Alamatnya Non." Tutur supir bertanya.


"Perumahan Jati sari nomer 666 Pak." Jawab Vero ketus.


Supir taksi tersebut langsung menatap heran ke arah Vero dari pantulan cermin spion mobil." Non serius itu alamatnya?" Tutur supir taksi bertanya lagi untuk memastikan.


"Hmm yah! Kenapa sih! Itu rumah suami saya! Rumah yang paling besar itu loh pak!" Jawab Vero geram.


"Iya saya tahu Non, em maaf Non bukannya saya ngomong mengada-ada yah, tapi alamat itu sudah terkenal di kalangan tukang ojek online atau taksi online seperti saya karena.."


"Karena apa Pak?" Tanya Vero ingin tahu.


"Di situ angker Non, bukannya dari bangunannya juga kelihatan Non, sudah usang dan mengerikan."


"Mata kamu tuh yang rabun Pak! Rumah mewah gitu di bilang usang!!" Jawab Vero tidak terima sebab dalam pengelihatan Vero, rumah itu sangatlah megah dan mewah.


"Awalnya saya juga nggak percaya Non tapi saya sendiri pernah mengalami kejadian aneh. Saya sampai nggak mau lewat situ lagi kalau sudah malam, takut ada kuntilanak yang Hiiiiiiii, Jadi merinding Non bahas rumah itu." Tutur Supir taksi mengusap lembut tengkuknya.


"Itu sih Bapaknya saja yang rabun, makannya kalau malam itu istirahat Pak jangan narik terus jadi lihat yang aneh-aneh kan! Tuh lihat sendiri, rumah mewah begitu di bilang angker." Kata Vero menujuk rumah milik Bastian.


"Terserah deh Non, pokoknya Bapak sudah ingetin."


"Iya deh berapa semua?" Tanya Vero mengeluarkan dompetnya.


"50 ribu Non."


"Nih buat sedekah kembaliannya." Vero memberikan dua lembar uang 100 ribuan.


"Nggak perlu Non terimakasih." Supir tersebut cepat-cepat mengembalikan uang 150 ribu pada Vero.


"Dasar!! Sudah miskin sombong lagi." Vero segera mengambil belanjaannya dan segera turun dari taksi tersebut.


Supir taksi tersebut mengelengkan kepala sejenak sebelum kembali melaju meninggalkan rumah tersebut. Dia sengaja memisahkan uang yang di berikan Vero di laci mobilnya Karena ingin melihat jika kejadian dulu yang menimpanya memang nyata. Ketika mobilnya berada jauh dari tempat itu, supir taksi itu meminggirkan mobilnya ke bahu jalan. Tangannya gemetaran membuka laci mobil dan ternyata dugaannya benar. Uang tersebut berubah menjadi selembar daun sawo, supir tersebut mengambil tisu dan cepat-cepat membuang daun tersebut karena tidak ingin di ikuti oleh penghuni rumah tersebut.


"Apa Nona tadi juga kuntilanak? Ahh rasanya tidak mungkin. Lantas kenapa dia bisa tinggal di situ dan bilang jika rumah itu sangat mewah?" Gumah Supir taksi kembali melajukan mobilnya." Ngapain mikirin itu orang yah, tidak seberapa cantik tapi mulutnya busuk sekali. Astaga Tuhan, kenapa jadi ngomongin orang. Semoga wanita itu baik-baik saja." Imbuh Supir tersebut serayap fokus menyetir.


.


.


.


.


.


🚗Mobil Nathan🚗


Mobil Nathan sudah memasuki kota tempat lahir Bella meski masih membutuhkan waktu setengah jam lagi untuk sampai ke Kediaman Bella. Ingatan Bella sangat kuat sehingga membuatnya tidak kesulitan menemukan sebuah lapak khusus menjual ikan asin paling enak di sana. Lapak tersebut terdapat di pasar tradisional sehingga Nathan harus memarkir mobil dan masuk ke dalam pasar tradisional tersebut.


"Bukankah sebaiknya kita bertanya pada orang saja sayang?" Tutur Nathan berjalan di belakang Bella.


"Jika tempatnya masih ada, aku masih mengingat itu semua Nath, sebab Mama cukup sering mengajakku ke sini." Jawab Bella terus berjalan." Nah itu tempatnya." Bella tersenyum dan langsung berjalan menuju ke arah sebuah lapak yang memang penuh dengan ikan asin.


Setibanya di tempat tersebut Bella mengambil beberapa ikan asin kesukaan Ayah dan Mama nya, si pedagang yang cukup tahu soal Bella, merasa tidak yakin saat ingin menyapa Bella mengingat sudah bertahun-tahun Bella tidak pernah bersama Mamanya.


"Ini Bu." Tutur Bella memberikan semua ikan asin pilihannya yang sudah di kemas cukup rapi itu.


"Kok sepertinya Ibu pernah lihat Non yah." Jawab Ibu tersebut masih tidak yakin.


"Saya Bella Bu anak dari Bu Sinta." Tutur Bella membuat si pedagang langsung berhenti memasukkan ikan asin kedalam tas plastik dan beralih menatap Bella.


"Astaga Non Bella? Kemana saja Non kok nggak pernah kelihatan." Tanyanya tersenyum.


"Saya kerja di luar kota Bu jadi nggak pernah kelihatan." Jawab Bella asal.


"Buat apa kerja Non?"


"Pengen mencari pengalaman saja Bu, emm totalnya Bu, maaf sudah terlalu sore jadi pengen cepat sampai rumah, takutnya hujan." Jawab Bella yang tidak ingin membahas hal itu di depan orang lain.


"59 Non, sering-sering mampir ya, dapat salam dari Raka Non."


Raka? Siapa itu? Batin Nathan yang sejak tadi tidak ikut bicara.


"Salam balik Bu."


Nathan segera menyelesaikan pembayaran dan pergi dari tempat tersebut dengan sedikit tanda tanya soal Raka. Padahal Raka hanyalah anak dari Ibu penjual tersebut yang sering bertemu Bella ketika kebetulan dia ikut berjualan bersama sang Ibu. Raka memang sangat tertarik kepada Bella, namun dia tahu diri karena perbedaan kasta yang sebenarnya tidak menjadi masalah untuk keluarga Bella.


"Siapa Raka?" Tanya Nathan.


"Temanku dulu, dia anak dari Ibu-ibu tadi." Jawab Bella menjelaskan.


"Tidak percaya terserah sebab itu tidaklah penting."


"Setelah kita menikah, kau harus lebih terbuka lagi padaku." Tutur Nathan yang tadi sempat merasa cemburu.


"Aku sudah terbuka padamu Nath."


"Maksudku masalah teman pria mu itu sayang."


Tidak ada yang lebih tampan dan gila selain dirimu itu Nath! Dia selalu cemburu seperti itu dengan kata-kata sederhana seperti tadi.


"Sayang, kau mendengar ucapanku kan?"


"Iya aku akan melakukan hal itu, cepat buka pintunya. Sepertinya hujan akan segera turun."


"Hmm." Nathan tersenyum lega sebab Bella menuruti apa perkataannya dan segera membukakan pintu mobil untuk Bella. Dan benar saja, setelah keduanya masuk mobil hujan pun mulai turun meski tidak seberapa lebat.


"Apa kau memberitahu Bara soal ini Nath?"


"Belum, apa perlu seperti itu? Jika begitu aku akan menelfonnya dahulu." Nathan akan meraih ponselnya namun di cegah oleh Bella.


"Tidak perlu, kita sudah hampir sampai. Masuk ke belokan sebelah kanan Nath."


Nathan menuruti arahan dari Bella dan sampailah di sebuah rumah berpagar sangat tinggi dan hampir menutupi rumah yang ada di dalamnya. Bella turun dan berjalan ke arah lubang kecil yang terdapat pada samping depan pagar tersebut, terlihatlah seorang satpam tua menghampiri Bella.


"Non Bella." Tuturnya terbata di balik kaca yang di pasang pada lubang tersebut.


Satpam tersebut langsung membuka pintu pagar, dan terlihatlah bangunan rumah Bella yang besar dan megah membuat Nathan cukup tercengang melihatnya, karena Nathan sadar tenyata wanita yang di cintai nya bukanlah wanita biasa. Melihat fisik Bella yang sangat cantik di tambah lagi dengan kenyataannya saat ini, membuat Nathan cukup merasa kecil hati.


Setelah berbincang sebentar dengan satpam tersebut, Bella kembali masuk ke dalam mobil Nathan.


"Itu rumahmu sayang?" Tanya Nathan.


"Hmm ya, banyak sekali perubahan di sini, dulu tidak sebagus ini." Jawab Bella tersenyum.


"Aku merasa tidak pantas berada di sampingmu jika melihat kenyataan ini."


"Terus! Kau ingin mundur saat ini!" Tanya Bella ketus.


"Tidak, tenanglah, aku tidak akan mundur meski apapun yang terjadi." Nathan melajukan mobilnya kedalam serayap menyapa sejenak satpam yang sudah membukakan pintu pagar untuknya.


Semakin masuk ke dalam, bangunan rumah milik Bella semakin terlihat megah. Di sekeliling bangunan terdapat taman yang terawat rapi dan sebuah air mancur yang semakin membuat tempat tersebut terlihat indah.


Saat mobil sudah terparkir Bella menarik nafas lembut, mencoba menenangkan perasaan tegang yang menjalar di seluruh tubuhnya. Meski dia tahu jika ini adalah rumah orang tuanya, namun kemarahan dari sang Ayah tempo hari cukup membuat Bella merasa takut untuk pulang.


"Apa kau takut?" Tanya Nathan menatap ke arah raut wajah Bella yang menegang.


"Hmm ya. Aku tidak bisa melupakan wajah Ayah yang marah padaku dulu." Jawab Bella lirih.


"Orang tua tetaplah orang tua sayang, dia tidak akan marah sampai berlarut-larut meski kesalahan yang kita perbuat sangatlah besar. Aku yakin jika Ayahmu sudah melupakan kesalahan itu, apalagi terhadap anak perempuannya seperti kamu." Tutur Nathan mencoba menenangkan perasaan Bella.


"Sebelumnya di tidak pernah marah padaku tapi hari itu, uhh! Menyebalkan! Aku sangat membenci ekspresi wajah Ayah yang seperti itu." Bella kembali menarik nafas panjang sebab perasaan yang bercampur aduk di hatinya saat ini.


"Apa aku turun dulu?" Tanya Nathan.


"Kau tidak takut Nath? Bukannya tempat ini masih asing bagimu?" Bella menatap ke arah Nathan dengan tatapan heran sebab sedikitpun Nathan tidak merasa gugup saat ini.


"Cukup takut, kau tahu ini yang pertama untukku sayang. Meminta restu seperti ini."


"Tapi aku tidak melihatmu seperti itu." Tanya Bella.


"Aku gugup sayang, tapi bisa ku tutupi dengan baik. Aku hanya tidak bisa menutupi dua hal saja."


"Apa itu?"


"Rasa cinta dan cemburuku padamu, itu hal yang tidak bisa aku tutupi meski aku harus berusaha menutupi nya dengan raut wajahku yang datar ini." Bella terkekeh mendengar pernyataan dari Nathan saat ini, sebab wajah Nathan memang cenderung datar dan jarang berekspresi.


"Bisa di terima Nath, sebab wajahmu memang mirip robot." Jawab Bella tersenyum.


"Seperti itu kau menilai ku?"


"Hmm." Mengangguk.


"Apa sudah lebih baik perasaanmu?"


"Cukup baik daripada tadi, mari turun. Hujan semakin deras."


"Syukurlah." Jawab Nathan mengusap lembut puncak kepala Bella." Tunggu, akan ku bukakan pintu." Imbuh Nathan turun mobil.


Nathan meraih jemari Bella dan berjalan beriringan untuk segera menuju ke pintu utama rumah milik Bella.-


Sekali lagi maaf jika ada keterlambatan Update 🙏


Tetep dukung terus cerita ini dengan cara like share dan Vote yah 😁 Terimakasih 😍