
Warning🔞🔞🔞
Yang masih belum cukup umur harap di skip😁
Tapi di baca juga nggak apa-apa, bisa di buat pengalaman dan di petik pelajarannya.
Yang pasti, bijaklah dalam membaca..
Happy reading❤️❤️
20:24
Bella dan Nathan masih betah duduk di salah satu tempat yang berada di sebuah depot bakso, bukan tanpa alasan mereka melakukan hal itu. Namun karena pemandangan yang di suguhkan di depot tersebut sangatlah menarik perhatian. Selain ada tempat duduk biasa, pemilik depot juga menyediakan saung-saung kecil dengan pemandangan lampu-lampu yang bisa terlihat jelas dari saung tersebut.
"Jika sudah mengantuk, katakan saja." Tutur Nathan tersenyum.
"Emm kau tidur di mana nanti Nath?" Tanya Bella lirih.
"Bersamamu. Meski kau tidak ingin melakukan hal itu, bukannya itu sudah seharusnya di lakukan." Jawab Nathan membuat Bella menarik saliva-nya pelan.
Aku tidak boleh mengecewakan Mama dan yang lain.
"Tenang saja, kita hanya sekedar tidur saja. Aku sangat ingin melakukan hal itu sejak dulu, emm maksudku menjagamu." Imbuh Nathan menjelaskan.
"Tapi, emm itu Nath, tidakkah kau takut jika aku nanti akan melukaimu?"
"Aku sudah memikirkan hal itu sayang, jadi kau tidak perlu memikirkannya lagi. Apa kau keberatan?" Tanya Nathan.
"Hmm tidak." Jawab Bella dengan wajah yang merona merah.
Ya Tuhan semoga aku tidak membuatnya kabur nanti.
"Sebaiknya kita pulang Nath, kau pasti lelah." Pinta Bella melihat ke arah raut wajah Nathan yang terlihat pucat.
"Hanya sedikit, lelah ini tidak sebanding dengan rasa bahagiaku hari ini sayang."
Deg...
Aku tidak ingin mengecewakannya lagi Tuhan.
"Meski begitu, sebaiknya kita pulang." Pinta Bella lagi.
"Baik, mari pulang."
Selesai melakukan pembayaran, keduanya keluar dari depot tersebut dan segera pulang. Setibanya di di kamar, Nathan berganti baju di samping tempat tidur, sedangkan Bella masuk ke dalam kamar mandi. Seusai mengganti bajunya, Nathan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menunggu kedatangan Bella. Lima menit berlalu, namun Bella belum juga keluar dari kamar mandi dan hal itu cukup membuat Nathan merasa tidak sabar. Nathan kembali menyibak selimutnya dan menerobos masuk ke kamar mandi begitu saja. Terlihat jelas Bella yang tengah berdiri mematung di depan cermin dengan raut wajah kaget melihat kedatangan Nathan yang secara tiba-tiba.
"Kau sedang apa sayang? Aku menunggumu sejak tadi." Tutur Nathan melangkah ke arah Bella.
"Kau jangan sembarangan masuk seperti itu." Protes Bella.
"Lantas bagaimana? Aku sudah menunggumu tapi ternyata kau masih di sini." Nathan berdiri sejajar dengan Bella di depan cermin toilet." Apa kau takut? Aku hanya ingin kau berada di sampingku dan menemaniku tidur, itu saja. Aku tidak akan melakukan macam-macam jika bukan kau yang menyuruhku." Tangan Nathan terangkat dan mengusap lembut puncak kepala Bella serayap menatap raut wajah Bella yang tegang dari pantulan cermin tersebut.
"Hmm baik, jadi kita hanya tiduran saja. Tidak masalah." Nathan langsung mengiring Bella keluar dari toilet. Dia mendudukan Bella di sisi tempat tidur sementara Nathan dengan cepat berbaring di sisi lainnya.
Jantung Bella menegang, terlihat jelas rona merah di raut wajah Bella sebab lampu yang memang di biarkan menyala begitu saja. Nathan yang merasa tidak sabar, langsung menarik lembut tubuh Bella dan membaringkannya di sampingnya. Salah satu tangannya menelusup masuk ke belakang leher Bella agar Nathan bisa membuat Bella lebih dekat dengannya.
"Kenapa seperti ini? Katanya hanya tidur berdua?" Protes Bella berusaha menjauh namun tangan dan kaki Nathan mengunci pergerakannya dengan menumpukan satu kakinya pada kedua kaki Bella.
"Aku ingin tahu rasanya di hajar olehmu sayang." Jawab Nathan serayap tersenyum memandangi wajah cantik Bella dari jarak yang sangat dekat.
*Jika aku bisa, sudah sejak lama aku lakukan Nath. Rasanya aku tidak sampai hati melakukan itu padamu.
Astaga Tuhan, istriku sangat cantik*.
Bella tidak menjawab ucapan Nathan dan hanya menundukkan wajahnya karena berusaha menghindari tatapan mata Nathan yang semakin membuat jantungnya menggila.
"Bukannya ini sangat nyaman sayang." Nathan mengeratkan dekapannya sehingga telinga Bella menempel pada dada bidang milik Nathan. Terdengar jelas suara detak jantung Nathan yang hampir sama seperti Bella, namun anehnya Nathan bisa mengendalikan raut wajahnya meski jantungnya tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
Bella terpejam, merasakan dekapan hangat dari Nathan. Hembusan nafas berat Bella terasa begitu lembut menerpa pori-pori kulit Nathan sehingga membuat Nathan tersenyum serayap merasakan semuanya.
"Aku takut kau tidak bisa bernafas jika seperti ini terus." Nathan merenggangkan tangannya dan beralih untuk menatap wajah Bella dengan sendu.
"Jangan lakukan itu Nath." Pinta Bella yang mulai tidak bisa mengendalikan perasaannya karena kelembutan sikap dari seorang Nathan.
"Kenapa tidak boleh? Apa kau terus bersembunyi seperti itu sayang? Sejak dulu aku tahu bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya padaku." Tangan Nathan terangkat dan mengusap lembut pipi milik Bella. Bola mata Nathan memandangi setiap inci wajah Bella yang memang terlihat begitu sempurna. Alis nya yang melingkar alami, dengan bulu mata yang lentik dan panjang juga lekuk bibir merah Bella membuat Nathan beberapa kali tidak dapat mengendalikan perasaannya dahulu. Jantung Nathan semakin memacu hebat saat tangannya secara tidak sadar menyentuh bibir merah milik Bella." Maaf sayang." Imbuh Nathan lirih sebab hasratnya sudah tidak bisa terbendung lagi. Nathan mencium lembut bibir merah Bella dengan sebuah tekanan leher karena Bella mencoba menolaknya. Namun saat bibir Nathan mulai bermain di sana, perlahan Bella mulai terbawa suasana dan menikmatinya.
Tangan Nathan yang sempat menekan leher Bella, perlahan merenggang dan mulai mengusap lembut punggung Bella yang masih berbalut baju tidur. Ciuman yang semula terasa begitu lembut, kini berubah menjadi ciuman panas saat Bella mulai membalas l#m#tan bibir Nathan.
Seluruh ketakutan Bella menjadi musnah begitu saja setelah merasakan sentuhan dari Nathan yang cenderung tidak memaksa. Kelihaian Nathan agar membuat Bella terbuai, membuat Bella bisa melakukan kewajibannya untuk melayani suaminya sebagaimana mestinya.
Desahan yang saling bersahutan, mengema di seluruh ruangan kamar yang kedap udara. Saat pelepasan, Nathan sempat mendesah panjang dan tersenyum serayap menciumi seluruh wajah Bella untuk menggambarkan perasaan bahagianya malam ini.
"Terimakasih sayang." Tutur Nathan menyeka keringat yang berada pada sekitar wajah Bella.
Bella yang setengah mati merasa malu, hanya memasang wajah gugup dengan senyuman tipis pada bibirnya.
Aku tidak percaya jika melakukan hal ini, ya Tuhan aku sangat malu. Bella memutar tubuhnya dan memunggungi Nathan begitu saja.
"Ahh kau masih saja seperti itu." Nathan memakai celana dalamnya dan langsung mendekap erat tubuh Bella dari belakang." Tidurlah." Imbuh Nathan berbisik.
"Jangan terlalu dekat Nath, aku takut melukaimu nanti." Jawab Bella lirih.
"Jika aku menjauh darimu, itu sesuatu yang bisa melukaiku." Ucapan Nathan kembali membuat sensasi dingin pada perasaan Bella.
Sesaat setelah itu dengkuran halus terdengar keluar dari arah Nathan, Bella mencoba mengeser tubuhnya untuk menjauh namun tangan Nathan seolah melingkar kuat pada perut ratanya. Bella mendesah lembut, perlahan matanya meredup dan mengikuti Nathan yang sudah pergi ke alam mimpi.-
Silahkan like, Share dan Vote yah
Terimakasih 🤗