Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 76



Pedagang tersebut langsung membelikan beberapa makanan untuk anak-anaknya, sembari menunggu makanan di bungkus dia duduk di depan depot sarayap senyum-senyum karena merasa senang. Tanpa di duga dan di ketahui Bastian ternyata Bella melihat saat Bastian memberikan uang pada pedagang tersebut, sebab tempat duduk pedagang itu tepat berada di depan Kafe tempat Bella menongkrong.


Mobil Nathan berhenti tepat di depan depot tempat pedagang itu menunggu makanannya di susul oleh mobil milik Farel. Bella langsung menghampiri pedagang itu saat dia melihat si pedagang akan membayar makanan dengan uang itu.


"Tunggu Bapak." Teriak Bella berlari ke arah pedagang itu.


Pedagang tersebut menoleh ke arah Bella." Ada apa Non." Tanya si pedagang.


"Berapa semuanya?" Sahut Bella mengeluarkan dompetnya.


"Tidak biar aku." Tutur Nathan menyela.


"Bapak punya uang buat bayar Non."


"Sudahlah Bapak, setelah ini aku akan menjelaskannya." Jawab Bella ramah.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Bella mengajak si pedagang untuk duduk di depan depot itu sejenak.


"Emm Bapak dapat uang darimana?" Tanya Bella berpura-pura tidak tahu.


"Dari pria muda tadi Non, memangnya kenapa?"


"Apa Bapak mengenal orang itu?"


"Tidak Nona, Bapak bahkan tidak tahu maksudnya apa memberikan Bapak uang itu." Jawab Pedagang yang merasa sedikit ada kebimbangan.


"Jika Bapak tidak kenal, mengapa tadi bapak terima? Emm maaf Bapak, boleh saya minta uang itu? Sebab itu bisa jadi petaka untuk keluarga Bapak."


"Apa seperti itu Nona? Bapak tadi asal terima sebab uang Bapak di rampas oleh para preman jadi rasanya sangat pas. Bapak pikir itu pertolongan Tuhan." Jawab Pedagang itu lirih.


"Hmm iya Pak, Pria tadi sedang mencari tumbal, lain kali jangan seperti itu ya Pak. Saya tahu jika Bapak merasa binggung dengan keuangan tapi jika keluarga Bapak nantinya jadi korban bukannya itu sama saja." Farel dan Rio saling melihat sebab mereka tidak menyangka jika Bastian berbuat setega itu.


"Ya sudah Nona, ini uangnya." Eluh pedagang itu memberikan uang pemberian Bastian." Biar nanti Bapak jujur saja sama istri kalau kena palak." Imbuhnya lagi.


"Terimakasih Pak, sebentar." Bella mengusap lembut kedua tangan pedagang tersebut sebab ingin menghilangkan energi negatif yang masih melekat di sana." Sudah bersih Bapak, emm saya punya sedikit uang untuk mengantikan ini." Bella mengambil dompetnya namun di cegah oleh Nathan.


"Aku hanya mempunyai satu juta saja Pak, nanti biar saya antar ke rumah agar besok saya bisa mengantarkan sisa uangnya pada Bapak." Tutur Nathan menyodorkan uang tunai.


"Astaga Aden, ini sudah lebih dari cukup asal uangnya aman." Jawab Pedagang tersebut merasa senang, sebab dia tidak jadi pulang dengan tangan kosong.


"Nih Pak saya ada 1,5 juta jadi kita punya hutang berapa Bella?" Sahut Farel ikut memberikan uang Tunainya.


"Jumlahnya tiga juta, jadi kurang 500 ribu."


"Sudah Aden tidak perlu, ini saja sudah melebihi pendapatan Bapak tadi." Pedagang itu akan mengembalikan uang namun di tolak oleh Farel.


"Itu rezeki Pak, jangan di tolak, jika aku tidak menyumbang aku bisa malu dengan penyanyi Favorit ku hihihi." Jawab Farel asal membuat Bella tersenyum ke arah Farel.


"Yah aku juga tidak mau kalah, aku hanya ada uang segini Pak, maklum aku tidak sekaya mereka." Rio memberikan uang 400 ribu pada pedagang tersebut.


"Dasar miskin!! Hahaha." Sahut Farel tertawa.


"Astaga, masih ada anak muda sebaik kalian." Tutur pedagang itu terharu.


"Sudah seharusnya seperti itu Bapak, mari saya antar pulang." Tawar Nathan.


"Terimakasih Aden, tapi rumah Bapak masuk gang kecil ini." Menunjuk ke kanan." Jadi mobilnya tidak bisa masuk." Imbuhnya ramah.


"Emm begitu."


"Apa Bapak sudah aman Non?"


"Sudah Bapak, tidak masalah, Bapak bisa pulang dengan tenang." Tutur Bella tersenyum.


"Terimakasih Non, Aden, Bapak pulang dulu, takut anak-anak nungguin Bapak."


Setelah Bapak tersebut menghilang dari gang kecil yang terletak di samping depot, Bella memperhatikan sekitar. Makhluk hitam itu kini bertengger di pohon beringin yang ada di seberang jalan. Matanya menyala merah menatap ke arah Bella yang saat ini juga menatapnya.


"Kau lihat apa Bella?" Tanya Farel.


"Apa kau mau tahu Farel?" Jawab Bella lirih.


"Maksudmu?"


"Jika kau ingin tahu, aku bisa membuka mata batin mu saat ini." Jawab Bella yang masih fokus melihat ke arah seberang jalan.


"Apa aku juga bisa Bella?"


"Hmm bisa Nath, kau mau?" Tanya Bella tersenyum ke arah Nathan.


"Hmm yah, aku ingin tahu." Jawab Nathan tegas.


"Apa bisa di tutup lagi Bella?" Tanya Farel.


"Tentu Rel. Menunduk ke sini Nath." Bella menunjuk kepalanya untuk memberi kode Nathan agar dia menunduk.


"Aku juga ingin tahu Bella."


Bella mengusap lembut kedua alis dan kelopak mata Nathan yang tertutup, sesaat setelah itu Nathan langsung mencium bau kentang bakar dan perasaan yang sangat tidak nyaman.


"Buka pelan-pelan Nath, lihatlah ke arah pohon beringin itu." Pinta Bella menunjuk pohon beringin seberang jalan.


Tubuh Nathan bergetar, dia melihat sangat jelas makhluk tersebut sedang berdiri di sana serayap menatap ke arah Bella. Astaga!! Kenapa Bella bisa sangat tenang melihat makhluk mengerikan seperti itu.


"Apa kau melihatnya Nath?"


"I iya, dia hitam, berbulu dan sangat tinggi, matanya menyala dan sedang memperhatikan kita sekarang." Jawab Nathan terbata serayap menelan saliva-nya pelan.


"Dasar penakut! Pasti dia mirip gorila." Ejek Farel.


"Auranya sangat tidak enak Farel, baunya sangat menusuk dengan perasaan yang entah aku tidak bisa melambangkan nya." Tutur Nathan lirih.


"Itu yang Lena rasakan Nath, itu sebabnya dia ingin menyerah, karena rasanya memang sangat tidak nyaman." Sahut Bella menjelaskan." Mari ku tutup lagi, agar kau tidak merasakan hal seperti itu." Imbuh Bella tersenyum.


"Hmm baik." Nathan kembali menunduk serayap memejamkan mata dan perasaannya kembali baik setelah dia membuka matanya." Apa dia masih ada di sana Bella?" Imbuhnya bertanya.


"Hmm masih, makhluk itu merasa binggung sebab dia kehilangan jejak." Jawab Bella


"Sekarang giliran ku Bella." Sahut Farel.


"Apa kau yakin?"


"Hmm ya! Hanya tinggi besar berbulu kan? Anggap saja aku melihat kingkong hahaha." Tutur Farel terkekeh sehingga Bella sangat ingin mengerjainya.


"Hahaha iya itu sebangsa kingkong, mungkin hanya Nathan saja yang terlalu penakut." Imbuh Bella mengedipkan mata ke arah Nathan yang tahu jika Bella berniat mengerjain Farel.


"Hahaha iya! Dasar penakut huh!" Meledek kearah Nathan.


"Hmm cobalah dahulu, jika kau lebih berani dariku, akan ku turuti satu permintaanmu."


"Wahh apa benar begitu Nath?" Tanya Farel menyakinkan.


"Hmm yah."


"Oke baik, mari Bella." Berdiri di hadapan Bella." Aku akan meminta mobil Nathan itu hahahaha." Imbuh Farel terkekeh.


"Diam lah Farel, konsentrasi."


"Baik hehe maaf." Farel mulai menunduk seperti yang di lakukan Nathan tadi, setelah selesai Bella tidak langsung menyuruh Farel membuka matanya. Namun dia mengiring tubuh Farel untuk lebih dekat dengan makhluk itu. Setibanya di tempat yang sudah di rencanakan oleh Bella, Bella menyuruh Farel membuka matanya perlahan. Terlihatlah makhluk tersebut, Farel mematung, tubuhnya bergetar begitupun kakinya. Dia bahkan tidak mampu untuk sekedar menoleh ke arah Bella yang tepat berada di sampingnya. Farel menelan saliva-nya serayap menahan perasaan takut yang menjalar di sekujur tubuhnya, matanya melebar dan tiba-tiba ada rasa hangat di bawah sana. Sebab Farel sampai kencing di celana sebelum dia jatuh terkulai dan pingsan. Bella kembali menutup mata batin Farel lalu mengusir makhluk tersebut pergi dari pohon itu.


"Menjijikan sekali." Eluh Rio.


"Bawa dia pulang, mari ku bantu mengangkatnya di mobil." Kata Nathan serayap tersenyum menang.


.


.


.


.


🏠Kediaman Vero🏠


Dia menghitung uang kematian Ibunya yang di berikan oleh para tetangganya, jumblah nya lumayan, sebab kebanyakan tetangga Vero adalah orang yang cukup berada.


"Wahh sepuluh juta hahahaha, lumayan bisa di buat membeli beberapa baju dan menyogok dukun sialan itu agar bisa menjadikan wajahku cantik lagi." Gumahnya serayap menciumi uang tersebut." Apa aku kesana malam ini? Atau emm aku minta tolong Ki Aryo saja? Hmm aku akan meminta tolong dia saja." Imbuh Vero mulai berkemas.


Ki Aryo adalah dukun pertama Vero yang sudah mengambil kesucian dari Vero, Nyai sendiri adalah guru dari Ki Aryo yang ilmunya lebih tinggi darinya. Vero segera memesan ojek untuk mengantarkannya pergi ke tempat praktek Ki Aryo yang letakkannya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Dia harus menempuh jarak sekitar setengah jam lalu masih harus masuk ke sebuah gang yang sempit dan melalui perkebunan kelapa sawit. Setibanya di sana, Vero di sambut hangat oleh Ki Aryo mengingat jika Vero adalah pelanggan yang penurut dan tidak banyak berprotes.


"Ada perlu apalagi ke sini Nak? Bukannya Nyai sudah bisa mengatasi semua masalahmu?" Tanya Ki Aryo.


"Aku sudah melakukan kesalahan hingga Nyai tidak mau membantuku lagi Ki, lihatlah! Dia tidak bisa menyembuhkan wajahku ini!" Runtuk Vero melepas masker nya, sehingga terlihat jelas wajah buruknya.


"Lain kali turuti apa maunya agar kau tidak mengalami hal seperti ini, sebab Nyai wataknya sangat kaku."


"Jadi. Ki Aryo bisa membantu? Aku memberikan uang dua juta jika bisa mengembalikan kecantikanku." Kata Vero melontarkan niatnya ke sini.


Niat busuk Ki Aryo langsung menjalar di otaknya, selain seorang Dukun sakti, Ki Aryo juga seorang dukun cabul mengingat usianya yang terbilang sangat muda. Dengan paras yang cukup tampan, sehingga Ki Aryo bisa membius para pelanggan wanita untuk mau di gauli nya. Ki Aryo tersenyum setelah membisikkan niat busukknya pada telinga Vero.


"Apa harus seperti itu Ki?" Tanya Vero seolah tidak setuju.


"Jika tidak mau pergilah, minta bantuan pada Nyai untuk menjadikanmu cantik kembali." Jawab Ki Aryo mengancam.


Sial! Aku harus melayaninya lagi! Dasar cabul!


"Hmm baik, aku mau." Tutur Vero lirih, tangannya meletakkan amplop putih pada meja praktek Ki Aryo.


Ki Aryo tersenyum senang dan langsung mengiring Vero menuju ke kamar kecilnya untuk melakukan perbuatan yang menjijikkan.-


TBC