Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 68



Saat jam makan siang Bella menghubungi Nathan serayap menikmati makan siangnya bersama Lena di sebuah depot yang sering di datanginya bersama Karin dulu. Bella langsung menombol kontak milik Nathan dan dengan cepat panggilan tersebut langsung di terima oleh Nathan.


Via telfon 📲


"Apa kau merindukanku sayang." Ucapan Nathan sontak membuat wajah Bella memerah namun di sembunyikan dengan ekspresi kesalnya.


"Apa yang kau katakan Nath." Tutur Bella serayap melirik ke arah Lena yang fokus pada makanannya.


"Tidak biasanya kau menelfonku, jadi mungkin keajaiban itu datang cepat dan segera membuka pintu hatimu untukku." Jawab Nathan yang lagi-lagi sanggup membuat jantung Bella berdenyut.


"Ahhh jangan mengombal dulu, aku tadi bertemu Farel." Tutur Bella serius.


"Farel?"


"Hmm, dia berjalan berdua dengan seorang wanita separuh baya yang awalnya ku pikir Ibunya."


"Apa dia ke Mall?"


"Iya. Apa dia Ibu Farel?"


"Tidak mungkin Bella, sebab Mama Farel tidak pernah keluar rumah apalagi ke Mall. Mama Farel pemikirannya sangat kuno jadi tidak mungkin itu Mamanya." Jawab Nathan menjelaskan.


"Aku juga berfikir demikian sebab mereka terlihat mesrah, apa Farel terlihat baik-baik saja saat dia bersamamu?"


"Dia sudah satu Minggu ini menghilang, nanti aku merencanakan akan ke rumahnya sepulang kerja. Kau melihat apa tadi?"


"Farel aneh Nath, dia bahkan tidak mengenaliku tadi. Apa aku salah orang? Tapi jika kau berkata demikian aku jadi berfikir memang ada yang tidak beres dengan wanita itu." Jawab Bella menjelaskan.


"Kau mau ikut ke rumah Farel nanti, jika mau, aku jemput di tempat biasa saat kau pulang kerja."


"Hmm baik." Tersenyum.


"Kau sudah makan Bella?"


"Ini sedang makan."


"Bersama siapa?"


"Rahasia, sudah dulu ya nanti makananku dingin."


Tut..Tut..Tut..


Bella sengaja langsung mengakhiri panggilan itu karena ingin membuat Nathan merasa cemas. Beberapa kali panggilan masuk, namun Bella hanya tersenyum dan tidak memperdulikan panggilan tersebut.


"Sampai kapan kau gantung perasaan Nathan seperti itu Bella?" Tanya Lena.


"Entahlah.." Tersenyum menikmati makan siangnya.


"Kau tidak takut di hilang jika kau terus menggantungnya seperti itu."


"Jika menghilang, berarti dia bukan untukku. Aku tidak ingin terlalu pusing memikirkan hal semacam itu Len."


"Ahhh benarkah? Pria seperti Nathan sangat jarang di jumpai, sifat posesifnya terasa pas untukmu yang memang selalu hobi untuk di paksa." Jawab Lena tertawa cekikikan.


"Apa kau merasa seperti itu Lena?"


"Hmm ya, meski posesif tapi Nathan pria yang manis dan juga ahhh.. Wajahnya sangat tampan." Jawab Lena setengah berteriak.


"Sudahlah, masalahku masih terlalu banyak. Jika dia ingin pergi dan merasa lelah, aku tidak masalah untuk itu."


Aku berharap kau tidak lelah dan tetap di sampingku apapun yang terjadi Nath.


Suara hati Bella yang sangat lain dengan ucapannya selalu membuatnya berperang dengan dirinya sendiri. Pendirian Bella yang begitu kokoh membuat dia tidak mau melanggar janjinya sendiri untuk tidak menjalin hubungan dengan pria manapun sebelum masalahnya selesai, termasuk Nathan. Meski hatinya mulai melemah saat bersama Nathan, Bella ingin segera berlari ke arah Nathan dan membagi sedikit beban hidupnya padanya, namun perasaan itu tertahan dengan masalah hidupnya yang tidak berujung. Namun satu hal yang pasti, hati Bella kini sudah terikat kuat bersama satu nama, dan itu adalah Nathan. Dia hanya butuh waktu untuk semua, agar dia bisa sepenuhnya memberikan hatinya. Dan semua tergantung pada Nathan, dia akan bisa merawat perasaan Bella atau, nantinya dia akan meninggalkan Bella karena hati yang lelah untuk menunggu.


.


.


.


.


.


Bella menunggu kedatangan Nathan di depan toko kelontong sedangkan Lena sendiri langsung berlalu pergi dengan kekasihnya sebab dia sudah tidak mau berkeliaran saat malam hari. Mobil Nathan berhenti tepat di bahu jalan tempat Bella sedang duduk menunggu. Bella segera beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam mobil.


"Untukmu, kau pasti haus bukan." Nathan memberikan Bella sebuah minuman isotonik.


"Terimakasih." Jawab Bella langsung minum dengan sekali nafas.


"Kau tadi makan siang dengan siapa? Kenapa telfonku tidak kau angkat?" Pertanyaan dari Nathan sontak membuat Bella tertawa renyah." Kau selalu bersikap seperti itu jika aku sedang mengkhawatirkan mu." Imbuh Nathan fokus menyetir.


"Itu tidak penting Nath."


"Penting untukku, apa kau makan bersama Bastian? Sudah ku bilang untuk tidak melakukan hal itu!" Tutur Nathan mulai meninggikan suaranya.


"Jika aku makan siang bersama Bastian, aku tidak akan menelfon mu seperti tadi. Aku bersama Lena, dia bahkan takut untuk kutinggalkan jadi kemanapun aku pergi dia selalu ikut." Jawab Bella menjelaskan.


"Terimakasih sudah menjaga kepercayaan ku sayang." Nathan mengusap lembut puncak kepala Bella serayap tersenyum sejenak.


"Kenapa kau selalu berucap hal-hal yang tidak penting seperti itu." Runtuk Bella yang sebenarnya sangat merasa senang.


"Itu penting untukku, simpan dulu kemesraan kita berdua, kita sudah sampai." Nathan memarkir mobil tepat di bahu jalan depan rumah Farel.


"Ahh! Yah tentu saja." Jawab Bella kembali mendengus kesal.


"Tunggu di situ, aku bukakan pintu."


"Hmm oke Tuan."


Bella mengikuti langkah Nathan yang langsung di persilahkan masuk oleh satpam sebab tahu jika Nathan adalah teman dari Farel. Beberapa saat menombol bell pintu rumah Farel, keluarlah seorang Ibu-Ibu yang wajahnya sangat mirip dengan Farel. Wajahnya terlihat tidak baik seperti sebuah wajah yang kurang tidur, namun bibirnya tersungging saat dia melihat Nathan dan Bella berada di balik pintu tersebut.


"Astaga Nak Nathan." Tuturnya memeluk erat Nathan yang bertubuh tinggi." Suruh Farel pulang Nath, Tante sangat merindukannya." Ucapan tersebut sontak membuat mata Nathan melebar sebab tujuan dia ke sini untuk mencari Farel.


"Aku bahkan ingin menanyakan keberadaan Farel pada Tante." Mama Farel langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nathan dengan mata berkaca-kaca." Kita bicara di dalam saja Tan." Nathan langsung merangkul kedua bahu Mama Nathan lalu berjalan ke dalam rumah.


Bella tidak merasakan apapun di rumah itu, bahkan rumah Farel terlihat biasa-biasa saja. Ketiganya duduk di ruang tamu dan perlahan-lahan Mama Farel menangis terisak.


"Apa yang sebenarnya terjadi Tan?"


"Tante juga nggak tahu Nath, Farel langsung saja tidak pulang seminggu lebih ini. Kau kan tahu dia tidak pernah melakukan hal itu sebab dia selalu menemani Tante sejak mendiang ayahnya yang sudah tiada. Farel tidak pernah sampai tidak pulang dan meninggalkan Tante seperti ini. Tante ingin menelfon mu tapi Tante tidak ingat nomer mu, sebentar Nath." Mama Nathan terlihat masuk ke kamar utama dan membawa setumpuk kertas tagihan." Dia tidak pulang tapi menghambur-hamburkan uang seperti ini." Imbuh Mama Nathan memperlihatkan kesedihan yang terpancar pada wajahnya.


Nathan mengambil kertas-kertas tersebut dan langsung mengerutkan keningnya karena biaya yang di lampirkan di dalam kertas sangatlah besar. Bahkan Farel juga membeli sebuah rumah baru di perumahan elit yang cukup dekat dengan kediamannya.


"Tante sudah menyuruh sekertaris pribadi Ayah Farel untuk kesana, tapi dia tidak pernah kembali dengan sebuah kabar. Dia seolah lupa dan Tante harus kembali menyuruhnya tapi tetap saja tidak ada yang berubah." Jawab Mama Farel menjelaskan.


"Menurutmu bagaimana Bella?"


"Tebakan awal ku, emm itu mungkin Farel terpengaruh ilmu sihir, pelet atau semacamnya sebab saat aku tadi berjumpa dengannya dia tidak mengenaliku tapi wanita di sampingnya terlihat panik dan langsung buru-buru membawa Farel pergi." Jawab Bella serayap menatap ke arah Mama Farel.


"Apa kau juga temannya Farel nak."


"Hmm iya Tante, aku tadi berjumpa dengannya saat sedang berkerja."


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Mama Farel dengan wajah yang berderai air mata.


"Baik Tante, dia masih sangat baik hanya ingatannya saja yang membuat dia melupakan kerabatnya."


"Astaga... Bagaimana ini, apa Tante harus mencari paranormal atau dukun?"


"Tidak perlu Tan, itu itu hanya membuat kehidupan Tante jadi tidak tenang setelahnya. Saya tidak menjanjikan Farel akan pulang Tan, tapi saya akan ke rumah ini untuk menjemput Farel."


"Apa kau pernah mengalami kejadian seperti ini Bella?" Tanya Nathan merasa tidak yakin.


"Emm tidak Nath, aku hanya perlu berniat baik saja, berhasil tidaknya itu bukan di atas kuasaku." Jawab Bella.


"Apa kau tahu hal-hal yang seperti ini Nak?"


"Hmm iya Tante, sedikit tapi tetap saja, doa dari seorang Mama tidak bisa mengalahkan semua kekuatan." Imbuh Bella yang ingin menghibur perasaan Mama Farel.


"Tante selalu mendoakannya Nak."


"Baik doakan lagi agar Farel bisa pulang hari ini. Emm saya bawa tagihan pembayaran rumah ini ya Tan?"


"Hmm bawalah." Jawabnya lirih.


"Baik saya permisi untuk langsung pergi kerumah ini, Tante berdoa saja biar semuanya lancar. Jangan terlalu bersedih hingga membuat Tante jatuh sakit nantinya." Tutur Nathan yang mulai berdiri bersama Bella.


"Hmm iya Nak Nathan, terimakasih."


"Sama-sama Tan, saya permisi dulu."


Setelah mencium punggung tangan Mama Farel, keduanya langsung berjalan keluar dan masuk mobil untuk menuju ke lokasi. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke sana. Saat Nathan akan beranjak turun, tangan Bella mencegahnya.


"Kenapa?"


"Tetap di sini Nath, please untuk kali ini turuti apa kataku." Jawab Bella lirih.


"Apa terlalu bahaya di dalam sana?"


"Tidak, emm itu..."


Sulit sekali untuk berbicara jika aku takut dia ikut terpengaruh dengan wanita yang mungkin akan terlihat begitu cantik di mata Nathan.


"Jika kau tidak menyebutkan alasannya, aku akan tetap ikut." Kata Nathan yang lagi-lagi akan turun dan di cegah oleh Bella.


"Aku takut kau tergoda dengan wanita itu." Jawab Bella membuat Nathan tersenyum ke arah Bella.


"Berarti kau.."


"Sudahlah, turuti apa mau ku kali ini!" Bella menyembunyikan wajahnya serayap berusaha membuka pintu mobil." Tolong Nath." Imbuh Bella yang tidak ingin Nathan tahu betapa merahnya wajahnya saat ini.


"Tunggu dulu."


"Apalagi?" Jawab Bella lirih.


"Itu bukan alasanmu saja kan?" Bella hanya mengelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara." Aku lebih baik menemanimu meski di sana terlalu berbahaya jika memang itu hanya alasanmu saja." Imbuh Nathan lagi.


"Aku serius, tolong sekali ini saja." Tutur Bella memohon.


"Hmm baik, kabari aku jika terjadi apa-apa."


"Hmm oke." Nathan menombol kunci otomatis.


Cklek


Aku pasti bisa! Demi dia.


Bella menarik nafas panjang dan menghadap ke arah Nathan dengan senyum menawannya, hal itu cukup membuat Nathan merasa aneh meski tidak bisa di pungkiri jika dia terhanyut saat ini.


Apa dia sedang mengodaku? Aku benar-benar sudah semakin tidak waras jika dia bersikap seperti itu.


"Apa yang sedang kau lakukan Bella? Jantungku langsung meledak melihat senyuman mu itu." Kata Nathan yang mulai berkeringat dengan perlakuan Bella saat ini meski Bella hanya menyuguhkan sebuah senyuman dan tatapan yang lekat.


"Bolehkan aku memelukmu Nath?"


Ahhh lidahku terasa gatal melontarkan ucapan seperti itu. Wajahku rasanya panas sekali! Batin Bella.


"Hei ada apa ini?" Tanya Nathan curiga.


"Em tidak ada Nath, aku hanya butuh ekstra kekuatan saja." Jawab Bella lirih.


"Aku tidak percaya ini, pasti kau ada maunya." Jawab Nathan masih tidak percaya.


"Ya sudah jika tidak mau." Bella memutar tubuhnya dan hendak keluar namun Nathan menarik lembut lengan Bella dan memeluknya dengan posisi duduk. Sesaat Bella terdiam, merasakan sensasi hangat yang di timbulkan dari kegiatannya saat ini. Wangi bau maskulin menyeruak masuk ke dalam hidung milik Bella dengan perasaan yang begitu nyaman, seolah tiada beban hanya dengan sebuah pelukan. Namun Bella tersadar dengan rencananya saat melihat sebuah kunci yang masih menancap di mobil milik Nathan. Dengan cepat tangan Bella mengambil kunci tersebut dan melepaskan pelukannya.


"Apa sudah ada tambahan kekuatan." Goda Nathan tersenyum.


"Yah sudah." Jawab Bella lirih dengan wajah yang merona sangat merah." Baik tunggu aku di sini." Bella langsung saja keluar dari mobil saat melihat tatapan Nathan yang di rasa mulai nakal. Dia mengunci pintu mobil dari luar dan memperlihatkan kunci tersebut pada Nathan.


"Ahhh yah tentu saja, dia punya tujuan untuk melakukan itu." Runtuk Nathan tersenyum ke arah Bella yang melambaikan tangan dan langsung melenggang berjalan menuju rumah itu.


Maaf Nath, aku terpaksa. Meski begitu emm.. Kau membuatku sedikit nyaman tadi.-


Part-nya sudah aku panjangin💪


Hampir sama seperti dobel update 😁


Terimakasih masih setia😙


Silahkan like 👍 komentar 💬 klik ♥️ Vote juga please 😘...


Salam Arabella Maheswari 😉