Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 56



🌁Kantor Bastian🌁


Veronika yang tidak lain adalah kaki tangan Bastian, tengah duduk di hadapan Bastian saat ini. Veronica adalah seorang wanita yang cukup cantik, dia berumur satu tahun lebih tua daripada Bella. Dia baru berkerja sebagai penganti Aldo dua Minggu yang lalu.


"Maaf Pak jika kemarin saya tidak bisa pergi berkerja sebab Ibu saya harus melakukan operasi." Tutur Veronica yang sejak dua hari yang lalu tidak masuk kerja.


"Tidak masalah, emm hari ini Bella dan Lena tidak masuk berkerja jadi kau segera hubungin karyawan lain untuk mengisi tempat mereka." Jawab Bastian ramah.


"Hmm baik Pak." Tutur Veronica yang wajahnya terlihat semburat merah.


Veronica adalah adik kelas Bastian dahulu, dari dulu dia sangat menyukai Bastian. Mereka tidak sengaja bertemu saat Veronica sedang buru-buru membawa ibunya ke rumah sakit. Bastian menolong mereka, dan hal itu semakin membuat Veronica terhanyut dengan sikap Bastian yang terlihat begitu manis dan bijak.


Bastian semakin kelihatan mempesona sekarang, Astaga... Dia sangat tampan.


"Apa kau ingin membicarakan hal lain Ver?" Tutur Bastian yang membuat Veronica tersadar dari angan indahnya untuk bisa menjadi kekasih seorang Bastian.


"Tidak ada Pak. Maaf saya permisi." Veronica menunduk sebentar dan pergi dari ruangan Bastian.


Bastian menyadarkan punggungnya di kursi kokohnya, dia masih memikirkan kejadian semalam. Sangat jelas saat itu dia melihat seseorang yang seperti sedang mengikutinya dari belakang, namun saat dia mencarinya, orang tersebut tiba-tiba sudah menghilang. Bastian bahkan menyuruh makhluk penghuni liontinya untuk mencari keberadaannya namun makhluk itu tidak dapat mengendus orang tersebut siapa.


"Apa Bella? Hmm rasanya tidak mungkin. Dia terlihat tinggi seperti seorang lelaki. Emm aku harus bertanya pada Ki Joko seger malam ini, mungkin saja dia sudah menemukan cara untuk menakhlukan Bella." Tiba-tiba Bastian tersenyum mengerikan saat membayangkan Lena." Kau mau menghindariku ya, aku tidak tahu jimat apa yang kau pakai itu Lena? Apa itu jimat dari nenek moyangmu? Tapi akan ku tunggu jimatmu itu melemah, agar aku bisa menambah kekuatan kalungku dengan darah perawan yang kau miliki itu hahaha hahaha hahaha." Bastian tertawa lepas tanpa dia sadar jika Bella sedang menuju ke arah kediamannya saat ini.


.


.


.


🚗Mobil Nathan🚗


Sudah setengah jam lebih perjalanan mereka menuju kediaman Bastian, semakin akan sampai ke lokasi, keadaan terasa semakin tidak nyaman. Bella memperhatikan sekitar dan sangat berharap dia mendapatkan petunjuk atau yang lainnya. Sedangkan Lena sendiri beberapa kali mengusap tengkuknya sendiri sebab merasa ada perasaan aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya.


"Aku membenci tempat ini." Gumah Lena yang pernah beberapa kali ke sini jika terpaksa harus memotong jalan." Apa kau tidak merasa jika suasananya sangat tidak enak Bella?" Imbuh Lena.


"Hmm, sepertinya di desa ini sangat banyak orang yang memakai jasa makhluk yang tidak kasat mata Lena. Kau lihat rumah-rumah yang megah itu, di atas atap mereka ada berbagai macam makhluk yang bermacam-macam bentuk." Jawab Bella menjelaskan.


"Ahhh..!! Kau membuatku takut," Lena kembali duduk memojok agar bisa lebih dekat dengan Bella.


"Tidak perlu takut Lena, kita tidak ada urusan dengan mereka."


"Tapi aku merasa aneh."


"Terlalu banyak aura negatif jadi rasanya mungkin seperti itu. Apa masih jauh tempatnya?"


"Setelah belokan depan kita sampai." Tutur Lena yang merasa tahu tempat ini, Nathan berpura-pura tidak tahu sebab Bella mengira jika orang suruhan Nathan yang sudah mendapatkan alamat rumah Bastian.


Wilayah itu terletak di pinggiran kota, di sana sangat banyak bangunan megah dan tidak pantas untuk di sebut rumah perdesaan. Bella menebak jika penghuni wilayah tersebut hanya seseorang yang memiliki ajaran sesat atau semacamnya. Namun di sisi lain, suasana dingin dan sejuk serta banyaknya perpohonan membuat wilayah itu memang sangat cocok di jadikan sebuah Vila atau semacamnya. Bella juga melihat ada beberapa rumah yang tidak ada penunggunya atau terlihat biasa saja. Tapi aura negatif yang sangat kuat membuat wilayah itu terasa begitu aneh dan membuat orang merasa tidak nyaman jika mereka orang yang peka dengan sesuatu hal yang tidak terlihat.


Mobil Nathan berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar dengan beberapa pohon besar terlihat mengelilinginya. Rumah itu mempunyai halaman yang sangat luas sehingga rumah Bastian terletak di tengah empat pohon besar yang seolah melindungi rumah tersebut.


Bella turun dan langsung memperhatikan rumah yang terlihat tidak berpenghuni, namun ada satu orang penjaga rumah yang tengah duduk di depan pos satpam saat ini.


"Jika Bastian tahu bagaimana?" Bisik Lena.


"Sudahlah ikuti saja rencanaku, aku hanya perlu melihat sekitar rumah Bastian." Balas Bella berbisik.


"Aku menunggu di sini saja. Nath tolong buka pintu mobilnya." Pinta Lena.


Nathan menombol kunci otomatisnya dan Lena pun segera membuka pintu mobil lalu masuk." Kau tidak ikut Lena Nath?" Kata Bella mendongak ke arah Nathan yang jauh lebih tinggi darinya.


Dengan ramah Nathan tersenyum ke arah penjaga tersebut, lalu penjaga itu langsung menghampiri Bella dan Nathan tanpa membuka pintu pagar rumahnya.


"Siang Bapak." Sapa Nathan ramah.


"Siang juga Aden, Tuan rumah sedang tidak ada di tempat." Jawab Bapak penjaga menjelaskan.


"Hmm maaf Bapak emm saya boleh minta tolong sesuatu."


"Apa yang bisa Bapak tolong Aden?" Jawab bapak itu ramah.


"Emm saya baru pindah di rumah keempat dari rumah ini." Menunjuk ke kiri." Ini tadi kebetulan kita habis dari pasar." Tutur Nathan yang membuat Bella sedikit binggung.


Uhh.. Kenapa membahas pasar segala. Batin Bella yang menuruti apa yang sudah jadi kemauan Nathan.


"Saya mencari mangga muda di pasar tapi tidak menemukannya Pak, emm jika di perbolehkan, saya minta mangga satu atau dua buah, sebab istri saya sedang hamil muda dan menginginkannya." Bella langsung melihat ke arah Nathan dengan mata melotot, Nathan sendiri tersenyum serayap mengedipkan matanya untuk memberikan kode pada Bella agar diam.


Masih ada ide lain? Kenapa dia beralasan seperti itu!!


"Ya sudah tunggu sini, biar Bapak ambilkan." Tutur Bapak tersebut yang hendak pergi.


"Tunggu Bapak." Sahut Bella membuat Bapak tersebut berhenti.


"Ada apa Non?"


"Emm saya mau suami saya yang mengambil sendiri mangga tersebut." Jawab Bella ramah.


"Tapi sayang, aku nggak bisa manjat." Tutur Nathan berakting.


"Pokoknya aku mau kamu ambil sendiri mangga muda itu. Please Bapak saya mohon, ini anak pertama kami." Imbuh Bella sambil mengusap lembut perutnya sendiri.


Andai ini kenyataan Bella, pasti aku sangat bahagia.. Batin Nathan tersenyum menatap ke arah Bella.


Nanti Tuan Bastian akan marah jika aku membiarkan mereka masuk tapi.. Aku tahu rasanya menjadi mereka, bahkan aku dulu sampai mencuri rambutan milik tetangga hanya untuk memenuhi permintaan Marni yang sedang hamil muda. Jika sebentar saja mungkin Tuan Bastian tidak akan tahu.


" Tapi sebentar saja ya Aden." Jawab Bapak tersebut merasa kasihan dengan Bella dan Nathan.


"Iya Bapak, setelah saya mengambil mangga itu satu, kita akan langsung keluar." Tutur Nathan tersenyum ramah.


"Hmm baik Aden."


Bapak tersebut langsung mengambil kunci di saku celananya dan membuka gembok pagar rumah Bastian, lalu mempersilahkan Bella dan Nathan untuk masuk ke dalam.-


Haiiii Reader terhormat😁


Terimakasih yang masih setia baca☺️


Silahkan like 👍


Komentar 💬


Klik♥️


Vote juga boleh😘


Salam sayang Arabella Maheswari 😉