
Pelanggan Bastian yang sudah di berikan uang terlihat masuk ke sebuah Restoran yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Dia membeli beberapa bungkus makanan untuk anak-anak dan istrinya mengunakan uang yang di berikan Bastian tadi. Dia bahkan tidak mendengarkan peringatan yang di lontarkan Bella untuknya.
Setelah membeli makanan dia berjalan ke arah rumah sederhananya yang hanya berjarak 200 meter dari Restoran tadi. Dia bersiul sambil tersenyum bahagia sebab dia merasa jika hari ini adalah hari keberuntungannya. Dia merogoh saku celananya dan mengambil uang sisa dari membeli makanan dan menciuminya.
"Wahh lumayan, masih banyak sisanya, bisa aku buat untuk judi nanti haha." Dia kembali memasukkan uang tersebut sebab tidak ingin jika istrinya sampai tahu.
Pria itu langsung masuk rumah dan di sambut hangat oleh sang istri. "Kamu bawa apa itu Yah?" Tutur sang istri bertanya.
"Makanan, mana Siska dan Amel Ma?" Jawabnya serayap duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
"Kamu lupa Yah jika mereka mau menghabiskan liburan ke rumah Budhe nya. Baru saja tadi Kak Ana datang menjemput mereka." Jawab sang istri lembut.
"Astaga iya aku lupa." Menepuk jidatnya sendiri dengan lembut.
"Mangkanya jangan judi terus biar fikiran kamu bisa waras."
"Kalau menang juga bakal dapat uang banyak Ma." Jawabnya sedikit kesal sebab sang istri selalu berprotes tentang kebiasaannya itu.
"Aku nggak mau Nerima uang itu Yah, itu uang haram, daripada kamu buat judi bukannya mending kamu pakai untuk modalin usaha aku biar bisa berkembang agar hasilnya bisa di buat menyekolahkan anak-anak sampai kuliah..!!" Runtuk sang istri kesal.
"Hah..!! Malas modalin usaha kamu yang nggak jelas itu. Nih kamu lihat hasilnya..!!" Pria itu mengambil uang yang di berikan Bastian dan mengakuinya sebagai uang yang di dapatkannya dari berjudi.
"Jadi makanan ini kamu beli pakai uang itu?"
"Hmm ya..!! Sepatu buat anak-anak juga aku beli pakai uang ini juga." Tuturnya berbohong.
"Ya Sudah! Makanlah sendiri, aku tidak akan menyentuh makanan itu." Jawab sang istri yang langsung masuk ke kamarnya.
"Ya..!! Aku akan memakannya sendiri!! Dasar istri tidak tahu di untung." Runtuk pria itu merasa kesal dan melahap makanan itu sendiri.
.
.
.
Setelah mengantarkan Lena ke depan, Bella kembali masuk dan duduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya. Nathan memperhatikan tingkah laku Bella tanpa berprotes sedikitpun dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kenapa kau diam saja Nath?" Tanya Bella serayap memandang langit-langit ruang tamunya.
"Lantas aku harus berprotes apalagi? Aku bahkan sangat kaget mendengar cerita itu dari kalian." Jawab Nathan membuat Bella duduk tegak dan melihat ke arah Nathan.
"Apa kau benar-benar tidak tahu Bastian tinggal di mana?"
"Tidak. Dia sudah lama tinggal sendiri sejak ada perdebatan di antara kami." Jawab Nathan lirih.
"Ya sudahlah nanti aku cari tahu sendiri agar semuanya tidak terlihat mencolok." Kata Bella serayap menarik nafas panjang.
"Apa teman-temanmu banyak yang hilang Bella?"
"Kau dengar sendiri kan Lena berkata begitu, aku sendiri tidak tahu sebab aku baru saja masuk tadi pagi, tapi suasana di Mall itu memang terasa sangat aneh tadi padahal dulu tidak seperti itu." Jawab Bella lirih.
"Apa kau tidak bisa menerawang soal kebenaran ini semua Bella? Agar semuanya menjadi lebih jelas dan tidak hanya menduga-duga seperti ini." Tutur Nathan yang sedikit tidak percaya jika Bastian melakukan hal-hal yang seperti itu, meski Nathan tahu jika Bastian memang memakai jimat pemikat.
"Kamu pikir aku dukun Nath..!!" Melirik kesal ke arah Nathan.
"Aku hanya bertanya, kenapa kau seperti itu menjawabnya? Kau kan tahu dunia seperti itu, mungkin saja kau bisa menerawang." Jawab Nathan lirih.
"Aku bahkan tidak memahami kekuatanku itu seperti apa, bagaimana bisa aku melakukan itu Nath!"
"Lantas rambut tadi? Kenapa kau seyakin itu jika rambut itu bisa menjaga temanmu."
"Entahlah.. Aku hanya sedang mengira-ngira saja, sebab semua makhluk tidak kasat mata selalu kepanasan jika menyentuh rambutku. Aku pernah membuktikannya sendiri dulu dan aku mengetahui itu juga karena ada yang berbisik di telingaku untuk melakukan hal itu." Jawab Bella menjelaskan.
"Mungkin saja itu kekuatan dari nenek moyangmu terdahulu Bell, hanya saja kau tidak mengetahuinya."
"Ayahku bilang tidak mempunyai keturunan yang mempunyai kekuatan seaneh aku..! Keluargaku saja berprotes dengan kekuatan ini sebab sudah membuat hidupku semakin berantakan katanya. Padahal aku sendiri merasa beruntung sebab aku tidak membutuhkan orang lain untuk menjaga diriku sendiri di saat aku membutuhkan pertolongan." Jawab Bella dengan nada tinggi." Uhhh! Sudahlah, aku kesal jika membahas soal Ayah." Imbuh Bella lirih.
"Hmm ya sudah, aku akan membantumu sebisaku, aku akan mencari info soal di mana Bastian tinggal sekarang agar kau tidak semakin terlihat gila." Tutur Nathan tersenyum tipis ke arah Bella yang saat ini tengah menatap kesal ke arahnya.
Hahaha dia kesal, aku merindukan wajah imutmu itu Bella, semakin kau marah, rasanya wajahmu semakin terlihat mengemaskan..
"Sudah kubilang jika aku memang wanita gila! Dan sekarang masalah ini semakin membuatku menjadi gila." Imbuh Bella kesal.
"Hmm memang sudah sangat terlihat." Nathan melipat kedua tangannya serayap bersandar ke sofa dan menatap ke arah Bella." Apa kau sudah makan siang Bella?" Imbuh Nathan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hmm sudah tadi."
"Bersama siapa?" Tanya Nathan yang seolah tahu jika Bella makan siang bersama kakaknya tadi.
"Sendiri." Jawab Bella yang kelihatan sedang berbohong.
"Apa benar sendiri?" Tanya Nathan lagi.
"Kau kenapa sih?" Melihat kesal ke arah Nathan.
"Aku hanya bertanya sayang.."
Deg..!!
"Dan aku sudah menjawabnya..!" Jawab Bella memalingkan wajahnya yang terasa hangat.
"Sudah ku bilang jangan berlebihan, aku baik-baik saja Nath." Jawab Bella lirih.
"Tanggung jawablah Bella, buatkan aku sesuatu untuk makan siangku."
"Aku akan memesankan sesuatu untukmu." Kata Bella meraih ponselnya namun di rebut langsung oleh Nathan." Apa yang salah? Apa kau juga cemburu dengan seorang kurir pengantar makanan!!" Teriak Bella kesal.
"Aku ingin makan dari masakanmu." Jawab Nathan tersenyum tipis.
Yah..!! Dia melakukannya lagi..!!
"Aku tidak punya bahan makanan di kulkas."
"Hmm baik aku akan memeriksanya, jika kau ketahuan berbohong. Kau harus menyiapkan makan Siang juga makan Malam untukku." Tutur Nathan berdiri lalu berjalan ke arah belakang.
"Ahhh, yah! Kenapa dia tidak mempercayaiku! Aku bahkan jarang memasak sebab hanya tinggal sendirian!" Runtuk Bella kesal.
Nathan kembali dengan membawa mie instan dan sebutir telur." Ini apa?" Tanya Nathan berdiri di samping sofa yang di duduki Bella.
"Apa kau mau ku masakkan itu Nath? Ku pikir kau tidak akan mau memakan mie instan seperti itu."
"Aku mau, cepat buatkan, aku sangat lapar." Pinta Nathan yang membuat Bella langsung berdiri dan mengambil telur serta mie instan dari tangan Nathan.
"Tunggu di sini, akan ku buatkan." Jawab Bella langsung berjalan menuju dapur.
Nathan tersenyum dan malah mengikuti Bella menuju ke arah dapur, Bella bahkan melupakan sebuah tulisan yang saat ini ada di telapak tangannya.
Setelah mie instan matang, Bella menyajikannya di hadapan Nathan yang tengah tersenyum ke arahnya.
"Apa kau tidak pernah makan mie instan Nath? Kenapa jadi sebahagia itu wajahmu." Runtuk Bella duduk di hadapan Nathan.
"Apa kau merasa jika aku bahagia?" Tutur Nathan yang mulai mengaduk mie tersebut dengan sumpit.
"Entahlah.. Aku hanya menebak karena kau tersenyum tadi."
"Hmm begitu." Mengangguk-angguk serayap meniup-niup mie dan memakannya." Astaga...Rasanya sangat sedap." Imbuh yang mulai mempercepat makannya."Aku baru tahu jika mie instan rasanya seenak ini, padahal jika aku membuatnya sendiri kenapa rasanya terasa aneh." Tutur Nathan serayap makan.
"Uhh.. Gombalanmu sungguh tidak bermutu..!!" Tersenyum.
"Terserah jika kau tidak percaya, emm jadi hari ini kau juga harus menyiapkan makan malamku yah." Tutur Nathan serayap fokus makan.
"Kenapa seperti itu?"
"Sebab tadi kau berbohong padaku, kau bilang tidak ada bahan tapi nyatanya ada mie instan dan telur ini." Jawab Nathan yang lebih banyak tersenyum hari ini.
"Lantas kau akan di sini sampai malam?" Tanya Bella panik.
"Hmm yah." Mengangguk." Kenapa kau sepanik itu?" Tanya Nathan kembali tanpa ekspresi.
Ahh...! Aku harus menahan perasaan lagi jika terlalu lama bersama Nathan..
"Kenapa kau tidak pulang saja Nath? Bukankah kau mempunyai seorang Ayah?"
"Ayah sudah tahu jika aku sedang berusaha mendekati seorang wanita yang nantinya akan ku jadikan seorang istri."
Jantung Bella seakan berhenti berdetak mendengar ucapan Nathan, dia bahkan tidak menyangka jika Nathan sudah berfikir sejauh itu. Bella bahkan belum tahu kapan masalahnya akan selesai namun Nathan malah sudah bercerita seperti itu kepada orang tuanya.
Anak kecil ini benar-benar gila..!! Apa yang di fikirkannya hingga dia bilang seperti itu pada Ayahnya..!!
"Candaan mu sungguh tidak bermutu Nath." Kata Bella dengan wajah gugup.
"Aku tidak sedang bercanda Bella, aku serius berbicara ini, jika kau mau aku rela melepas masa lajangku sekarang juga untuk menikah denganmu." Jawab Nathan yang semakin membuat jantung Bella terasa meledak.
Bella tertawa terkekeh untuk menutupi perasaan gugupnya saat ini, sedangkan Nathan sendiri terlihat menarik nafas panjang serayap mengeser mangkuk mie yang terlihat sudah kosong.
"Kau pasti menuduhku tidak serius lagi." Imbuh Nathan menatap tajam ke arah Bella.
"Bukan seperti itu Nath tapi.." Bella mulai menghentikan tertawanya.
"Tapi apa?"
"Emm kau itu masih muda Nath, carilah wanita yang baik. Hmm, menikahiku itu hanya akan menambah masalah di hidupmu saja." Jawab Bella lirih.
"Yah awalnya aku juga tidak ingin perduli denganmu, tapi ini di luar kuasaku Bella, dan sejak aku sadar hal itu. Aku tidak perduli dengan apa yang menghadang nanti di depan, aku hanya butuh setiamu saja, selebihnya akan ku terima kau apa adanya." Jawab Nathan yang terlihat dewasa dengan ucapannya tersebut.
Bella menghembuskan nafas berat serayap membalas tatapan manik Nathan yang sedari tadi sedang beradu dengan manik miliknya." Aku belum yakin dengan semua ini, sebab aku juga pernah merasa seperti ini, namun di jatuhkan sampai sejatuh-jatuhnya hingga membuat aku tidak mudah mempercayai setiap perkataan pria. Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi Nath, jangan karena aku cantik lantas kau jadi bernafsu seperti itu. Bukan sekali atau dua kali aku mengalami kegagalan Nath, tapi Enam kali. Hmm itu cukup membuat mentalku menciut untuk menjalin sebuah hubungan apalagi sebuah pernikahan." Jawab Bella yang matanya mulai terlihat berkaca-kaca sebab harus mengingat kejadian demi kejadian yang menimpanya hingga harus mengalami sesuatu yang buruk seperti saat ini.-
Bersambung.-
Silahkan like 👍
Komentar 💬
Klik♥️
Vote juga please 😘
Terimakasih 😘
Salam Bella dan Nathan ♥️