Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 51



Nathan merasa kasihan saat melihat mata Bella yang sudah berkaca-kaca, dia paham jika masalah yang di hadapi Bella sangatlah berat. Nathan kembali menghembuskan nafas berat sebab harus menepis perasaan yang semakin hari semakin terasa tidak terkendali. Dia sangat ingin memiliki Bella seutuhnya, bukan untuk di jadikan pacar atau sebagai mainan. Namun dia ingin menjadi suami Syah Bella, dia ingin membuktikan pada Bella jika perasaanya benar-benar tulus. Namun setelah melihat kenyataan yang seperti ini, dia kembali harus bersabar untuk bisa mewujudkan keinginan tersebut.


"Sudahlah. Aku akan menunggumu sampai kau siap. Emm dan lagi aku juga masih sangat muda, jika kau menolak ini bukankah kau yang akan di rugikan Bella." Kata Nathan mencoba mencairkan suasana.


"Maksudnya? Kenapa aku yang di rugikan?" Bella kebingungan dengan perkataan yang di lontarkan Nathan.


"Kau akan rugi sebab kau akan bertambah tua." Jawab Nathan tersenyum tipis membuat Bella menatap Nathan dengan wajah kesal.


Pria ini memang sangat menyebalkan..!


"Aku akan beruntung sebab kau tidak akan berada di sekitarku jika aku sudah tua nanti!" Balas Bella tidak mau kalah.


"Kenapa begitu hah!" Nathan melipat kedua tangannya yang di tumpukan pada meja di depannya serayap melihat ke arah Bella.


"Apa kau mau dengan orang tua?" Bella melirik malas ke arah Nathan.


"Hmm mau. Asal itu kamu." Mengedipkan sebelah matanya serayap tersenyum simpul." Sudahlah aku tidak ingin menambah beban perasaanmu Bell. Tapi jika kau berkenan, sekali-kali mainlah ke rumahku, Ayah sangat ingin mengenal dirimu." Imbuhnya.


"Pak Salim maksudmu?"


"Hmm iya." Tersenyum." Apa kau mau Bella?" Tutur Nathan mengulang pertanyaannya.


"Tidak!" Jawab Bella tegas.


"Kenapa tidak?" Tanya Nathan lagi.


"Emm aku hanya merasa tidak pantas denganmu." Jawab Bella lirih, sebab memang dia merasa seperti itu, Bella merasa jika Nathan berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya.


"Maksudmu aku terlalu tampan untukmu? Apa begitu maksudmu?"


Bella menarik nafas panjang dan menghembuskannya." Tidak ada gunanya aku berbicara dengan pria sepertimu Nath." Tutur Bella kesal.


"Hmm jika kau sedang berbicara denganku, jawablah sekedarnya saja. Jawab pertanyaanku saja, tidak perlu memikirkan hal lain. Apa kau mau?" Tanya Nathan lagi.


"Hmm kapan-kapan jika ada senggang waktu." Jawab Bella yang mulai menyerah berbicara dengan Nathan.


"Kapan?"


"Aku tidak tahu." Melirik malas.


"Hmm baik weekend depan, terima kasih sayang." Jawab Nathan mengusap puncak kepala Bella sebentar.


"Dasar gila..!" Runtuk Bella yang sebenarnya merasa sangat senang sebab Nathan memaksanya seperti sekarang.


Sebagai seorang wanita yang berumur 25 tahun, tidak dapat di pungkiri jika Bella sangat mengingikan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Seorang suami yang menerimanya apa adanya, seorang anak lucu yang lahir dari rahimnya. Namun keinginan itu sirna begitu saja ketika dia menyadari jika itu semua tidak mudah di dapatkannya. Kegagalan demi kegagalan yang datang membuat Bella tidak memikirkan lagi keinginannya itu. Tapi setelah kehadiran Nathan yang sangat mengusik perasaannya, Bella jadi seringkali memikirkan keinginannya itu lagi, meski dia tidak tahu keinginan itu akan jadi kenyataan atau hanya akan jadi sebuah keinginan saja.


"Hmm terserah kau mau berkata apa, ganti bajumu. Apa kau tidak gatal memakai itu sedari tadi." Jawab Nathan dengan santainya.


"Kita mau kemana? Kenapa kau suruh aku ganti baju segala."


"Ohh kau berharap seperti itu sayang, hmm oke, kau mau kemana? Akan ku turuti." Jawab Nathan yang sengaja di lontarkan agar Bella semakin kesal padanya.


"Aku tidak berucap seperti itu Nath! Aku hanya bertanya tadi! Astaga ..!" Teriaknya semakin geram.


"Bukannya kau tadi yang berucap seperti itu, tidak perlu malu untuk itu Bella, aku akan berusaha ada untukmu di saat kau membutuhkanku." Tutur Nathan tersenyum tipis.


"Aku tidak membutuhkanmu! " Berdiri." Cuci mangkuk itu! " Menatap kesal ke arah Nathan dan pergi begitu saja.


Nathan tertawa terkekeh melihat sikap dan ekspresi wajah Bella saat ini. Namun sesaat dia kembali diam, sebab dia menyadari sesuatu, dia sudah lupa kapan terakhir kali dia bisa tertawa lepas seperti sekarang.


.


.


.


Di tempat lain, tepatnya di rumah sederhana milik pelanggan yang sudah di berikan Bastian uang. Pria itu terlihat sedang berdandan seperti akan pergi ke suatu tempat. Sedangkan istrinya sendiri tengah membungkus sebuah barang pesanan yang akan di kirimnya hari ini.


"Mau kemana lagi Yah?" Tutur sang istri tanpa melihat ke arah suaminya.


"Ada bisnis." Jawabnya singkat.


"Pasti judi..!! " Tutur sang istri geram.


"Itu kau tahu."


"Kau tahu jika itu kesukaanku, kenapa kau tidak memahami hal itu!" Pria itu mulai berbicara dengan nada tinggi sambil menatap tajam ke arah sang Istri.


"Suka itu dengan hal-hal yang positif, jangan dengan hal seperti itu! Judi, main perempuan! Mikir lah Yah, anak kita sudah pada besar tapi kelakuanmu masih seperti itu!" Jawab sang Istri mulai tersulut emosi saat ini.


"Ahh.. Pusing aku debat melulu, aku pergi! Mungkin akan pulang malam jadi kau tidak perlu menungguku."


Sang Istri hanya mengelus dada lembut serayap menarik nafas panjang melihat sang Suami yang sudah berjalan keluar dari rumahnya.


Ya Tuhan, sampai kapan dia akan seperti itu. Aku lebih mirip tidak mempunyai Suami, sebab satu kalipun dia tidak pernah menafkahiku dengan uang halal. Batin sang Istri.


Pria itu langsung berjalan menuju ke arah tempat perjudian yang biasa di datanginya. Dia memamerkan uang banyaknya pada teman-temannya padahal dia tidak tahu jika bahaya sedang mengintainya.


Hari ini dia semakin merasa beruntung sebab dia menang banyak sehingga uang yang di dapatkannya tadi menjadi semakin bertambah. Dia tertawa lebar sambil menciumi uang di hadapan teman-temannya. Lastri yang tidak lain seorang janda dengan satu orang anak, langsung duduk mendekati pria tersebut. Pria itu memang kerap kali memberi uang yang di dapatkan dari berjudi pada Lastri seorang janda yang sudah berumur 41 tahun itu.


"Wah Abang menang banyak ya." Tutur Lastri tersenyum pada pria itu.


"Iya nih." Mencubit pipi Lastri lembut.


"Bagian Lastri ada donk Bang?" Kata Lasti merayu.


"Buatin Abang kopi yah di rumah, mau nggak?"


"Yuk bang." Lastri langsung melingkarkan kedua tangannya pada lengan pria tersebut.


"Aku tinggal dulu ya." Ucapnya pada teman-temannya dan pergi begitu saja.


"Di tempel langsung deh sama si Lastri haha."


"Si Karyo saja yang terlalu bodoh, bukannya mending ngurusin istri dan keluarganya daripada si Lastri janda gatel itu!"


"Bodohlah..! Yang penting bukan aku haha."


18:30


Pria itu terlihat baru saja keluar dari kamar Lastri dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Hmm ya sesuai dugaan, mereka baru saja melakukan kegiatan panas berdua di rumah Lasti. Apalagi kebetulan saat ini anak Lastri tengah kuliah dan berada jauh dengannya, itu membuat Lastri dengan bebas memasukkan seorang pria ke rumahnya meski pria itu masih berstatus suami orang.


"Makasi ya Bang uangnya." Tutur Lastri tersenyum senang.


"Hmm terima kasih juga servisnya haha, emm Abang pulang dulu ya. Besok Abang ke sini lagi, sekarang Abang ada keperluan di kampung sebelah." Jawabnya serayap menyentuh dagu Lastri sedikit.


"Iya Abang hati-hati." Tutur Lastri mengantarkan pria tersebut sampai di depan rumahnya.


Pria itu kembali berjalan menyusuri area persawahan dengan berjalan kaki, dia sudah terbiasa melakukannya sebab kampung seberang hanya berjarak 500 meter saja. Pria itu berniat untuk pesta minuman keras sebab uang di sakunya masih cukup banyak. Tiba-tiba sebuah angin berhembus cukup kencang, dan dia mencium aroma kentang yang sangat menyengat setelah itu.


"Ahh siapa yang membakar kentang di tempat seperti ini." Gumahnya serayap tetap berjalan sebab bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. "Kenapa aku jadi takut seperti ini?" Imbuhnya merasa heran sebab suasana jalan tersebut terasa sangat aneh.


Dia mengusap tengkuknya serayap berlari agar cepat sampai di kampung seberang, namun yang terjadi bukannya cepat sampai tapi pria itu malah tidak juga sampai seperti sedang berputar-putar saja. Dia merasa sudah setengah jam berjalan namun tidak juga menemukan kampung yang di tujunya. Tangannya gemetaran serayap mengambil ponselnya untuk melihat jam, dan matanya melebar saat melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 00:00.


"Ahh apa ini! Apa ponselku yang rusak!!" Runtuknya kesal.


Dia kembali memperhatikan sekitar dengan sekujur tubuh yang penuh dengan keringat dingin. Matanya melebar saat mendengar suara geraman yang berasal dari atas pohon yang saat ini berada di atasnya. Sekujur tubuhnya bergetar, perlahan-lahan dia mendongak ke arah atas dan langsung terkejut saat melihat sesosok tinggi besar berbulu tengah menatap ke arahnya dengan mata merahnya. Pria tersebut menelan saliva-nya pelan sambil terus memperhatikan sosok tersebut, tubuhnya tiba-tiba tidak bisa di gerakkan, bahkan dia mencoba berteriak namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Sesaat dia mengingat istrinya yang tengah berada di rumah sekarang, istri yang selalu menerima keadaanya meski satu kalipun dia tidak pernah memberikan nafkah padanya.


Maafkan aku. batinnya menyesal.


Dengan cepat makhluk itu membabat habis kepala pria itu dengan kuku runcingnya dan mengoyak tubuh pria itu hingga tidak tersisa.


Sementara Bastian terlihat tertawa lepas saat melihat liontin yang berada di lehernya bersinar, itu menandakan jika tumbalnya di terima dengan baik.


"Hahaha, aku tidak perlu membunuh pria itu dengan tanganku, sebab kau sudah memakan uang yang ku berikan tadi hahahaha. Rasakan bagaimana perihnya hahahaha, kamu sudah berani menganggu wanitaku seperti tadi jadi hmm kamu harus membayarnya dengan nyawamu, bukankah itu sepadan!!" Katanya serayap kembali tertawa lepas.


Bastian tidak menyadari, jika dirinya semakin tenggelam di dunia hitam. Hawa nafsunya yang menggebu membuat hatinya sudah tidak pantas lagi di sebut seorang manusia. Dia hampir mirip iblis berwujud manusia yang haus akan pujian, kehormatan dan juga junjungan. Dia bahkan tidak sadar jika tidak ada yang abadi di dunia ini, apalagi sesuatu yang di dapatkan dengan cara yang sesat seperti sekarang.-


Silahkan like πŸ‘


Komentar πŸ’¬


Klik β™₯️


Vote juga please 😘


Terimakasih 😘


salam Arabella Maheswari πŸ˜‰