Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 69



Bella langsung berdiam diri sejenak saat sudah berada di depan pintu pagar yang tidak di jaga oleh siapapun. Itu sangat wajar sebab ada makhluk tidak kasat mata yang tengah bergelayut di atas pagar rumah tersebut. Seekor kaki seribu dengan wajah manusia tengah bergelayut pada ujung pagar rumah tersebut. Sangat jelas jika wajah makhluk itu berjenis kelamin perempuan sebab terlihat memakai riasan.


Ya Tuhan, aku tidak pernah menghadapi hal seperti ini. Apa yang harus kulakukan. Eluh Bella dalam hati sebab merasa binggung.


Biarkan dia menguasai mu tubuhmu itu Cu...


Suara tersebut tiba-tiba saja muncul, hal itu sangat biasa terjadi saat Bella merasa binggung harus melakukan apa. Matanya mulai terpejam, nafas Bella berhembus lirih mencoba merilekskan tubuhnya sesuai dengan bisikan tersebut. Tanda di dahi milik Bella terlihat keluar bersamaan dengan mata Bella yang berubah menjadi merah. Bella tengah berada di alam bawa sadarnya sebab sesuatu yang berada di tubuhnya tengah menguasainya saat ini. Tangan Bella meraih hewan besar tersebut dan mengengamnya erat hingga makhluk tersebut merintih kesakitan lalu melebur dan terbakar oleh tangan Bella yang tiba-tiba mengeluarkan api.


Bella melangkah masuk dengan tenang, dan langsung menggedor pintu kokoh yang saat ini berada di depannya. Seorang wanita tua membuka pintu tersebut, dia adalah dukun yang menyamar menjadi Ibu dari Tania.


"Mencari siapa?" Tutur Ibu tersebut menatap ke arah Bella yang sudah tidak mirip seperti seorang manusia sebab matanya menyala merah dengan tanda permata yang ada di dahinya.


"Teman Cucuku, lepaskan dia, atau aku akan mengobrak-ngabrik tempatmu ini." Jawab Bella dengan suara yang seperti bukan suaranya.


Mau tidak mau aku harus berusaha melawannya, aku akan mencoba melakukan negoisasi dengannya.


"Untuk apa kau ikut mencampuri urusan duniawi seperti ini?"


"Selama cucuku tidak terganggu dengan kegiatanmu, aku tidak mau ikut campur atas ini. Cepat lepaskan! Masih ada lelaki lain yang bisa kau jadikan boneka!" Jawab Bella tegas.


"Jika aku tidak mau?"


"Hhhmmm.." Bella tidak menjawab dan terus melangkah maju, wanita tua itu terus saja komat kamit dan memunculkan berbagai makhluk yang bentuknya sangat tidak beraturan. Bella menghempaskan satu persatu makhluk tersebut hingga mereka terkapar dan hilang dengan sendirinya setelah terbakar dengan ujung jari-jari Bella yang mengeluarkan api. Bola matanya menatap lekat ke arah wanita tua itu dan mencekik lehernya, ada asap hitam keluar perlahan dari tubuh wanita itu seiring dengan teriakan sang wanita yang memekakkan telinga. Bella menghempaskan tubuh wanita itu ketika asap tersebut sudah sepenuhnya hilang dari tubuhnya.


"Aku meleburkan kekuatanmu."


"Kembalikan kekuatanku." Teriak wanita itu meraba-raba tubuhnya yang sudah tidak mempunyai daya.


Terdengar teriakan dari dalam dan membuat Bella kembali pada kesadarannya, dia sedikit binggung dengan keadaan rumah yang berantakan dengan perabotan yang tergeletak tidak beraturan. Bola matanya melihat ke arah wanita tua itu dan langsung teralihkan saat mendengar teriakan dari dalam kamar lantai dua. Bella segera berjalan naik mengikuti naluri hatinya menuju ke sebuah kamar dan langsung membuka kamar tersebut. Terlihat jelas Farel meringkuk sebab merasa ketakutan dengan wajah wanita yang berubah menjadi buruk rupa dengan luka membusuk yang berada di seluruh wajahnya. Farel langsung berjalan ke arah Bella saat pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Bella.


"Astaga wanitaku." Tutur Farel yang sudah kembali dengan mulut comelnya." Kenapa aku di sini? Lantas kenapa kau bisa di sini?" Imbuh Farel bertanya.


"Nanti ku jelaskan." Jawab Bella melihat ke arah wanita yang kini berjalan ke arah Bella.


"Dasar wanita sialan!! Kau merusak semua rencana ku!!" Teriaknya kesal.


"Maaf dia temanku jadi kau tidak bisa berbuat hal itu."


"Kau tidak tahu kenapa aku melakukan ini!! Pria itu sudah menipu hatiku, dia berjanji setia tapi dia berjalan dengan banyak wanita di luar sana!!" Kata wanita itu menjelaskan.


"Heii aku tidak kenal dengan wanita buruk rupa seperti kamu!!" Jawab Farel yang sudah tidak mengenali wanita tersebut.


"Ini aku Tania sialan!!"


Farel terkekeh mendengar jawaban dari wanita itu sebab seingat Farel Tania tidak mempunyai wajah buruk dan luka yang berada pada wajahnya." Meski Tania tidak seberapa cantik tapi dia tidak memiliki wajah busuk sepertimu." Jawab Farel.


Bella menarik nafas panjang sebab ternyata Farel cukup brengsek dan membuat Bella sedikit kesal." Meski dia seperti itu, tidak seharusnya kau melakukan hal itu Nona. Kau sampai masuk ke dunia gelap seperti itu agar bisa menundukkan dia, sekarang apa yang kau dapatkan dari ini? Wajahmu semakin buruk bukan? Dunia seperti itu hanya menimbulkan kesenangan yang sesaat saja." Bella selalu berharap bisa merubah pola pikir setiap orang yang tersesat seperti sekarang.


"Jika bukan karena kamu! Aku pasti akan berhasil!" Teriak Tania tidak terima.


"Hmm terserah! Yang pasti aku sudah mengingatkanmu, kita pergi Farel." Bella menarik lembut lengan Farel untuk mengajaknya keluar dari tempat itu.


"Aku akan balas dendam.."


"Silahkan.. Aku menunggu hal itu terjadi." Bella tersenyum sejenak dan melanjutkan langkahnya untuk keluar dari tempat itu.


Sesampainya di luar Bella langsung mengeluarkan kunci mobil dari sakunya dan membuka mobil milik Nathan.


"Sebaiknya kita cepat pergi." Tutur Bella segera masuk dan duduk di samping Nathan diikuti oleh Farel yang duduk di Jog belakang.


"Astaga Nath, kenapa kau tidak ikut masuk tadi? Dan coba ceritakan padaku kenapa aku sampai tidak sadar sudah berada di sini." Tanya Farel merasa aneh dengan dirinya sendiri.


"Mamamu bilang jika kau tidak pulang selama seminggu lebih jadi dia menyuruh kita untuk mencarimu." Jawab Nathan mulai melajukan mobilnya.


"Hah!! Apa? Seminggu?" Teriak Farel tidak percaya.


"Kamu sedang tidak sadar jadi kau tidak mengingat itu semua. Siapa Tania?" Bella memutar tubuhnya menghadap ke arah Farel yang masih terlihat pucat.


"Dia mantanku, emm aku hanya berniat main-main tapi dia menganggap semua itu terlalu serius, apa itu tadi benar Tania? Kenapa wajahnya seperti itu?"


"Itu dampak dari susuknya sendiri. Dan kau!" Menjitak kepala Farel.


"Ahhh sakit sekali." Mengusap-usap kepalanya sendiri.


"Lain kali jangan mempermainkan perasaan seperti itu!! Aku juga tidak membenarkan atas perbuatanmu itu Rel, beginilah akibatnya jika orang sudah sakit hati terhadap sesuatu. Berjanjilah untuk tidak seperti itu lagi? Orang yang sakit hati bisa berbuat nekat seperti itu!." Runtuk Bella meras kesal." Kalian harus tahu jika pelet yang di pakainya terlalu kuat jadi aku sedikit takut melihat makhluk tadi." Tutur Bella lirih.


"Hmmm maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." Jawab Farel menyesal.


"Lantas kau apakan mereka Bell? Kau terlihat baik-baik saja." Sahut Nathan bertanya.


"Aku tidak tahu, semua di luar kendali ku." Jawab Bella lirih.


"Lantas tadi seperti apa?"


"Aku hanya mengingat ada kaki seribu raksasa merambat di sepanjang pagar rumah tersebut, lalu ada suara yang menyuruhku agar dia bisa mengambil alih tubuhku. Itu saja, saat aku sadar, aku sudah berada di dalam bahkan Dukun dari wanita itu sudah terkapar tidak berdaya." Kata Bella menjelaskan.


"Siapa yang mengambil alih?" Tanya Nathan.


"Aku tidak tahu." Menggeleng pelan.


"Heeiiii aku sedang melewatkan apa?" Sahut Nathan.


"Tidak ada. Yang pasti kita semua baik-baik saja." Jawab Bella tersenyum karena mengingat kejadian saat dia memeluk Nathan meski hanya sebentar.


Apa aku saja yang berlebihan untuk mengingatnya? Semua terasa nyaman hingga aku hampir saja terhanyut, pria ini memang sangat membuat perasaanku nyaman meski sikap posesifnya sungguh keterlaluan. Ahhh.. Kekuatanku? Entah apa yang ada di dalam sana? Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa mengalahkan makhluk besar itu.


Bau badan Bella rasanya menempel di hidungku. Batin Nathan.


Setibanya di kediaman Farel, ketiganya di sambut dengan isak tangis dari Mama Farel yang memang merindukan anaknya.


"Ahh Mama sudah, aku malu." Tutur Farel lirih sebab merasa malu dengan kelakuan sang Mama yang menciumi wajahnya.


"Mama merindukanmu.." Jawabnya tersenyum.


Deg...!!


Mama... Batin Bella yang bola matanya mulai berkaca, terkadang ada perasaan rindu melintas. Meski semua harus hilang karena beban hidup yang nantinya akan memberatkan kedua orang tuanya. Apa mereka akan memperlakukanku seperti itu saat aku pulang nanti? Aku ingin pulang tapi... Ingatan saat sang Ayah membawa sebuah tas yang penuh sesak oleh bajunya langsung membuat Bella menunduk dan menarik nafas lembut. Mereka tidak akan merindukanku, aku hanya anak pembawa sial bagi mereka! Biar saja Bara yang menguasai semua harta Ayah itu! Aku tidak perduli! Selama aku masih hidup seperti ini! Aku tidak akan mau kembali! Tangan Bella mengepal kuat sehingga membuat Farel memberi isyarat pada Nathan untuk menegur Bella.


"Kau kenapa?" Tanya Nathan menyentuh pundak Bella lembut.


"Tidak ada." Jawab Bella tersenyum aneh serayap mengusap sisa air mata yang ada pada sudut matanya.


"Jika tidak apa-apa mengapa menangis Nak Bella?" Sahut Mama Farel ikut perduli.


"Emm saya hanya terharu saja melihat kalian." Jawab Bella beralasan." Emm Nath kita pergi, nanti malam aku akan bernyanyi." Imbuh Bella menatap ke arah Nathan.


"Kenapa buru-buru, Tante ingin memasakkan kalian sesuatu untuk tanda terimakasih."


"Bukannya saya tidak mau Tante, tapi saya benar-benar tidak mempunyai banyak waktu. Emm mungkin lain kali aku akan mampir ke sini lagi." Jawab Bella ramah.


"Mama masak saja, biar nanti aku bawakan untuknya sebab aku akan pergi ke Kafe tempat Bella bernyanyi." Sahut Farel memberi ide.


"Wahh ide bagus." Jawab Bella tersenyum." Baik Tante saya permisi dulu." Bella mencium punggung tangan Mama Farel.


"Apa makanan kesukaanmu Nak?" Tanya Mama Farel yang tidak langsung melepaskan gengaman tangan Bella.


"Semuanya saya suka Tan."


"Bicaralah nanti Tante masakkan untukmu." Tutur Mama Farel memaksa.


"Gulai Tan, Emm gulai kambing saya sangat menyukai itu." Jawab Bella lirih.


"Baiklah nanti Tante masakkan untukmu."


"Terima kasih Tan."


"Tidak Nak, Tante yang berterimakasih."


"Sama-sama Tan, saya permisi dulu." Bella melepaskan perlahan tangan Mama Farel yang seolah tidak ingin Bella pergi.


"Saya juga permisi Tan." Sahut Nathan mencium punggung tangan Mama Farel.


"Hmm hati-hati."


Mama Farel masih menatap lekat ke arah Bella yang sudah berjalan keluar bersama Nathan.


"Dia sangat cantik Rel." Gumah sang Mama.


"Hmm tapi dia sudah janda bahkan 6 kali." Bola mata sang Mama langsung melihat ke arah Farel.


"Kau serius?"


"Hmm yah serius, sangat tidak pantas bukan?"


"Astaga, dia bahkan mirip sebuah boneka yang berjalan, Mama menyukainya dari awal Mama melihatnya tadi."


"Urungkan niatmu itu Ma, dia kekasih Nathan. Emm baik aku akan mandi." Farel mencium kening sang Mama sejenak dan langsung berlalu pergi.


"Dunia memang sangat banyak misteri." Gumah sang Mama yang berniat langsung memasak request dari Bella tadi.-


Ternyata author nggak sakit tapi lagi hamil muda🎉🎉Author seneng banget.Mohon doa untuk kelancarannya😁😁 meski kerjaannya jadi tidur melulu, sering ngantuk meski sudah tidur seharian 😁


Harap maklum ya Reader terhormat jika semangatnya agak down ☺️🙏


Tetep setia...


Aku usahain update setiap hari😁


Silahkan like 👍


Komentar 💬


klik ♥️


Vote juga 😉


Terimakasih ☺️🙏