
Setibanya di perusahaan milik Pak Salim, Nathan memarkirkan mobilnya dan di sambut tegang oleh satpam di sana, karena tidak biasanya Nathan datang apalagi di jam semalam ini.
"Selamat malam Pak." Sapanya tegas.
"Malam juga, tolong ambil bungkusan yang ada di jok belakang." Tutur Nathan memberikan kunci mobilnya pada satpam perusahaan tersebut.
Bella sendiri memperhatikan sekitar serayap melipat kedua tangannya di perut." Apa ini punya Ayahmu Nath?" Tanya Bella.
"Hmm ya, mari masuk." Nathan meraih jemari Bella dan mengiringnya masuk ke dalam.
Sesuai dugaan semua karyawan merasa sangat kaget dengan kunjungan Nathan, sebab Nathan memang sangat jarang meninjau ke bagian produksi apalagi malam hari. Pengawas gudang langsung berjalan menghampiri Nathan dengan wajah ketakutan.
"Selamat Malam Pak." Sapa Farlan serayap melirik ke arah Bella yang memang sangat cantik. Bahkan semua karyawan yang memang semuanya laki-laki berbisik kagum melihat sosok Bella yang bisa langsung membius mata siapapun yang melihatnya.
"Hmm Malam."
"Apa ada masalah Pak hingga datang semalam ini?" Tanya Farlan yang masih melirik ke arah Bella.
"Tidak ada." Jawab Nathan melirik ke arah satpam yang sudah memasuki area gudang.
"Ini di taruh mana Pak?" Tanya satpam.
"Bagikan pada semua karyawan, suruh mereka langsung memakannya sebab nanti akan dingin." Jawab Nathan dan hal itu membuat Farlan bernafas lega.
"Saya pikir ada masalah Pak."
"Tidak ada." Jawab Nathan yang fokus melihat ke arah Bella yang saat ini tengah sibuk memperhatikan sekitar." Ada yang salah Nona?" Tanya Nathan membuat Bella melihat ke arahnya.
"Tidak ada, perusahaan mu cukup besar yah."
"Sudah ku bilang, keluar dari sana, akan ku berikan perkerjaan yang bagus di sini." Jawab Nathan berharap Bella mau menerima tawarannya.
"Aku tidak berminat, boleh aku melihat-lihat."
"Baik mari ku temani."
Farlan menemani Nathan dan Bella untuk berkeliling di gudang tersebut, Bella melihat banyak makhluk astral di sana meski energi mereka bersifat positif jadi tidak membahayakan para pekerja.
"Apa kau tidak pernah melihat penampakan di sini, emm siapa namamu?" Tanya Bella melihat ke arah Farlan.
"Panggil saya Farlan Nona, emm cukup sering tapi hanya berbentuk bayangan." Jawab Farlan sopan.
"Apa di sini ada hal yang seperti itu Bella?" Tanya Nathan.
"Banyak Nath, tapi tidak masalah karena energinya positif." Jawab Bella yang masih menjelajahi tempat itu dengan kedua bola matanya.
Langkah Bella terhenti saat melihat sebuah ruangan yang terletak di lantai dua sebuah gudang gelap, ruangan itu juga terlihat gelap dan hanya ada sebuah tangga yang terbuat dari kayu untuk mengakses tempat itu agar bisa masuk ke sana.
"Itu tempat apa Farlan?" Menujuk ke arah ruangan tersebut.
"Emm jadi itu bekas ruangan Pak Bastian dulu Nona, hanya saja sekarang beliau sudah tidak di sini. Dan lagi gudang itu juga sudah tidak pernah di pakai sebab perintah dari Pak Salim sendiri." Tutur Farlan menjelaskan.
"Apa alasannya?"
"Katanya banyak barang pribadi milik Bastian yang berada di situ, jadi Pak Salim menyuruh hal tersebut atas permintaan Pak Bastian, bahkan tempat itu terkunci rapat dengan gembok besar." Imbuh Farlan.
"Aku ingin masuk ke sana Nath."
"Aku tidak masalah Bell, tapi tangga itu terlihat sudah lapuk." Jawab Nathan khawatir.
"Dan lagi, di situ sering ada penampakan tinggi besar Nona, jadi sebaiknya Nona tidak kesana. Bahkan Pak Salim sendiri yang menyuruh mengosongkan gudang ini sebab takut terjadi apa-apa dengan pegawainya." Imbuh Farlan merasa khawatir.
"Apa pernah ada kejadian di gudang ini?"
"Hmm sering Nona, kadang palet jatuh sendiri, mesin jalan sendiri dan terjadi gempa kecil padahal tidak ada apapun yang jatuh." Kata Farlan menjelaskan.
"Aku ingin ke sana Nath, ada sesuatu yang menyuruhku ke sana." Kata Bella menatap ke arah Nathan.
"Tempat itu juga terkunci Nona."
"Itu masalah kecil, Nath, Please." Imbuh Bella memohon.
"Aku ikut."
"Hmm boleh." Bella mengambil sehelai rambut dan mengikatnya pada jari tengah Nathan." Farlan sebaiknya kau keluar dari sini, tunggu kami di luar gudang." Kata Bella yang masih fokus mengikat rambut.
Farlan melihat ke arah Nathan, lalu Farlan pergi setelah Nathan membalas tatapan Farlan dengan sebuah anggukan. Bella berjalan mendahului Nathan dan segera menaiki tangga yang terlihat sudah lapuk namun masih cukup kuat untuk menopang berat badan manusia. Setibanya di pintu ruangan, sebuah gembok dan rantai besar terikat di kedua gagang pintu. Bella menarik rantai itu perlahan dan...
Kraaaakkkkk...
Rantai itu langsung terputus dan itu cukup membuat Nathan melebarkan matanya." Dasar alien." Tutur Nathan tersenyum tipis.
"Wahh nama baru, terimakasih." Bella membalas senyuman Nathan dan langsung menerobos masuk ke ruangan yang penuh debu itu." Apa ada saklarnya Nath?" Tanya Bella.
"Aku tidak tahu Bella sebab aku baru tahu tempat ini."
Bella mengangguk pelan serayap memperhatikan sekitar, suasana di sana terasa aneh dengan bau kentang bakar yang menyengat. Bella membalikkan badan dan menutup pintu itu kembali, dia mengambil satu helai rambut lalu mengikatkannya pada kedua gagang pintu.
"Kenapa di tutup?" Imbuh Nathan bertanya sebab dia juga merasakan suasana tidak nyaman itu.
"Aku takut makhluk itu keluar lalu melukai karyawan mu yang sedang berkerja tadi." Jawab Bella lirih.
Bella menghidupkan lampu di ponselnya dan mencari saklar lampu, dia tersenyum lega melihat sebuah saklar yang berada di pojokan pintu masuk. Bella menombolnya dan lampu pun menyala meski tidak seberapa terang." Makhluk seperti itu menyukai tempat yang gelap Nath." Tutur Bella lirih.
"Apa kita akan baik-baik saja Bella?" Tanya Nathan yang membuat Bella terkekeh melihat ke arah Nathan.
"Keluarlah jika kau merasa takut, mumpung kita belum sepenuhnya masuk."
"Kau percaya padaku, kita akan baik-baik saja, ayo masuk."
Tanpa sadar Bella meraih jemari Nathan dan hal itu membuat Nathan senyum-senyum sendiri, Bella yang tidak menyadari hal itu, terus berjalan masuk mencari sesuatu yang menariknya untuk masuk ke dalam sana. Bella menghentikan langkahnya di depan lemari yang terlihat sudah usang, bibirnya tersenyum tipis melihat makhluk tinggi besar tengah berdiri di depan pintu lemari tersebut.
"Kau tunggu di sini Nath, aku mau berbincang dengan Kakek buyut itu."
"Mana ada Kakek buyut?" Jawab Nathan memperhatikan sekitar.
"Sudahlah Nath, tunggu di sini." Bella melepaskan jemari Nathan dan berjalan perlahan ke arah sosok itu.
Giginya bertaring dan besar meski matanya tidak menyala merah. Dia menatap tajam ke arah Bella lalu perlahan berjalan mundur sebab merasa kepanasan dengan energi yang di keluarkan Bella.
"Kenapa kamu di sini Kek." Tutur Bella ramah.
Hmmmmmmmm...
"Oh seperti itu, apa yang ada di dalam lemari itu, kenapa kau berdiri di situ untuk menjaganya."
Hmmmmmm...
"Pergilah Kek, di sini bukan tempatmu. Jika kau pergi secara baik, aku tidak akan melakukan hal yang bisa menyakitimu."
Hmmmmmmmm...
"Ohh benda itu yang membuatmu tidak bisa pergi, jadi kau hanya terpaksa di sini. Jika aku bisa melepaskan benda itu, apa kau mau pergi dari sini?"
Hmmmmmmmm....
"Wahhh negoisasi yang bagus, aku akan membantumu terlepas dari benda itu."
Bella berjalan mendekat ke arah makhluk itu, makhluk itu dengan sendirinya duduk berjongkok agar Bella tidak kesulitan melepaskan benda berwarna merah yang sudah menyiksanya beberapa tahun terakhir. Dengan hanya berbekal keyakinan, Bella meraih benda tersebut dan mematahkannya, benda tersebut melebur menjadi debu saat berada di tangan Bella. Bella meletakkan telapak tangannya ke dahi makhluk tersebut serayap tersenyum.
Kau tidak akan di temukan oleh mereka lagi Kek, pergilah...
Makhluk tersebut lenyap begitu saja dari hadapan Bella, Nathan sendiri masih mematung sebab dia tidak tahu apa yang sedang Bella lakukan.
"Kesini Nath, sudah aman."
Nathan langsung melangkah maju ke arah Bella yang berusaha membuka lemari tua tersebut." Kau berbicara dengan siapa tadi?"
"Penunggu lemari ini, dia ternyata hanya suruhan saja." Bella menutup hidung saat lemari pintu tua itu terbuka dan membuat banyak debu berterbangan sehingga membuat Nathan dan Bella batuk-batuk. Tangan Bella langsung meraih sebuah peti kecil yang terletak di dalam lemari itu." Sebaiknya kita keluar dari sini Nath, aku tidak bisa bernafas dengan baik." Imbuh Bella setelah mendapatkan barang yang di incarnya.
Nathan mengikuti Bella keluar ruangan menuju keluar gedung yang sudah ada Farlan yang menunggu di sana.
"Apa sudah selesai Pak." Tanya Farlan merasa ikut cemas.
"Hmm sudah, mau kau apakan itu Bell?"
"Membukannya, ada sesuatu yang menyuruh aku membuka benda ini." Dengan gampang Bella membuka peti kecil tersebut dan isi dalam peti cukup membuat Nathan dan semuanya terkejut. Ada sebuah boneka kecil, yang di kepalanya di jahit foto Pak Salim. Kaki boneka tersebut di ikat dengan tali yang hampir mirip dengan tali pocong dengan bagian lutut yang di tusuk dengan tiga buah jarum pentul.
"Seperti santet." Sahut Farlan bergidik ngeri." Bukannya itu foto Pak Salim." Imbuh Farlan yang sudah mengenal baik Pak Salim.
"Apa Bastian yang melakukan ini semua Bella?" Tanya Nathan lirih.
"Hmm siapa lagi? Bukannya itu ruangannya? Astaga aku tidak percaya jika Bastian setega itu dengan Ayahnya sendiri." Bella menarik nafas panjang sambil melihat-lihat isi peti tersebut.
Jika dengan sang Ayah yang sudah merawatnya saja tega! Apalagi dengan orang lain? Bastian memang benar-benar bukan manusia.
"Aku ingin menemui Pak Salim malam ini Nath, apa bisa?" Imbuh Bella menatap ke arah Nathan.
"Sekalian kau menginap di rumahku?" Jawab Nathan tersenyum senang.
Aku baru melihat senyuman Pak Nathan sekarang. Batin Farlan.
"Ya oke, tapi ingat jika ini hanya terpaksa!" Kata Bella yang masih tidak mau mengakui ketertarikannya pada Nathan.
"Oke apapun alasannya tidak masalah."
"Emm sebelum pergi, gudang ini sudah aman Farlan, jadi kalian bisa memakainya. Aku pastikan makhluk itu tidak akan menampakan diri lagi dan menganggu perkerjaan kalian."
"Apa begitu Nona?"
"Iya." Jawab Bella tersenyum." Ayo Nath." Bella membereskan peti kecil itu dan berjalan mendahului Nathan dan Farlan.
"Apa dia kekasih anda Pak?" Tanya Farlan mengoda.
"Aku sedang berusaha mendapatkannya." Jawab Nathan tersenyum ke arah Bella yang sudah jauh berjalan di depan.
"Kalian sangat serasi, saya doakan yang terbaik." Kata Farlan.
"Hmm terimakasih doanya, saya permisi dulu."
"Baik Bapak hati-hati."
Farlan tersenyum melihat ke arah Nathan yang mulai bisa menyusul langkah Bella.
Seperti bukan wanita biasa. Farlan menatap ke arah gedung yang sudah lama kosong. Gedungnya jadi terlihat biasa saja, tidak seperti kemarin, jangankan melintas, untuk melirik saja perasaan sudah terasa sangat aneh. Ahh.. Aku harus kembali berkerja.-
Maaf ya belum bisa dobel update
Kesehatan author masih tidak stabil, ini sudah Author usahain di panjangin part-nya ๐
tetep setia๐
silahkan like ๐, komentar ๐ฌ, klik โฅ๏ธ, Vote juga please ๐, terimakasih ๐โฅ๏ธ