
๐Mall๐
Veronica terlihat sedang memarahi seorang karyawati yang menurutnya terlalu bersantai dalam berkerja. Dia memaki-maki karyawan tersebut dengan sebuah ucapan penuh hinaan sehingga membuat para pengunjung dan karyawan lain melihat ke arah karyawati tersebut.
"Maaf Bu, bukannya saya melawan, tapi memang keadaan Mall sedang sepi jadi saya duduk di sini sebab tidak ada hal yang bisa saya lakukan." Jawabnya menunduk.
"Panggil saya Nona! Kau tahu, kau di bayar di sini tapi kau malah enak-enakan duduk seperti itu! Bukankah di sana ada perkerjaan lain! Lihatlah! Kau tidak lihat jika baju di sana terlihat tidak rapi!." Katanya dengan nada kasar sebab Veronica tahu jika Bastian sedang tidak berada di tempat.
"Ma maafkan saya Nona." Jawabnya dengan mata berkaca-kaca seolah akan menangis.
"Bicara pada teman-temanmu untuk mematuhi segala peraturan ku! Kau mau aku pecat! Kau tahu hah! Aku bukan hanya kaki supervisor di sini tapi aku juga calon tunangan dari Pak Bastian! Jika aku melihatmu seperti ini lagi! Aku akan memecatmu sekarang juga!! Dasar!!" Veronica memukul kepala karyawati itu kasar serayap beranjak dari tempatnya.
Karyawati tersebut menangis terisak sehingga beberapa temannya berjalan ke arahnya." Sabar yah, namanya juga kerja." Tuturnya mengusap lembut punggungnya.
"Aku baru ingin istirahat sedikit tadi, tapi Bu Veronica seperti itu hiks..hiks..hiks." Jawabnya terisak.
"Hm Bu Vero memang sangat keterlaluan, dia selalu sok berkuasa dan marah-marah tidak jelas seperti itu!" Runtuk yang lain.
"Hussssytttt.. Sudah sebaiknya kita kembali berkerja daripada kena marah si Lampir itu lagi."
Semuanya pun kembali berkerja sebab Veronica sangat hobi berkeliling dan sering muncul tiba-tiba. Sementara di ruangannya, Vero tersenyum senang sambil membayangkan jika sebentar lagi dia akan menjadi istri dari Bastian. Rasa sukanya yang berlebihan membuat kejiwaannya sedikit terganggu saat takdir mempertemukannya lagi dengan Bastian yang tidak lain adalah cinta pertamanya.
"Aku yakin! Dengan kecantikanku ini, aku akan bisa memikat Bastian agar menjadi milikku selamanya. Setelah menerima gaji pertamaku aku akan pergi ke dukun dan memasang susuk lagi agar keinginanku ini segera terwujud. Hahaha hahaha, aku akan jadi nyonya Bastian dan memiliki harta kekayaannya." Teriak Vero merasa sangat bahagia meski itu masih jadi sebuah angan-angan untuknya.
.
.
.
Bella, Nathan dan Lena memutuskan untuk makan di sebuah restoran sebab sudah waktunya untuk makan siang. Bella yang sedang tidak berselera makan karena masalah tadi membuat Nathan ikut tidak memesan makanan. Lena sendiri sejak tadi hanya terdiam, sebab dia hampir membuat Bella marah karena ucapan ledekan yang sudah membuat wajah Bella hampir mirip kepiting rebus. Namun di dalam hati Lena merasa sangat bahagia dengan sikap Nathan yang cenderung memaksakan apapun pada Bella, karena Lena tahu, jika Bella adalah wanita yang sangat acuh terutama untuk urusan pria.
"Makanan di sini sangat enak Bell, kau pasti rugi jika tidak mencobanya." Kata Lena serayap menikmati hidangan di depannya.
"Aku belum bisa melupakan bau yang tadi Len, jadi mungkin aku akan makan di rumah saja." Jawab Bella lirih.
"Hmm aku akan membungkus makanan untuk kita nanti." Sahut Nathan yang juga hanya menikmati satu cangkir kopi di depannya.
"Sebaiknya kau makan Nath, nanti kau sakit." Tutur Bella yang masih fokus berfikir soal rumah Bastian.
"Aku selalu seperti ini sejak mengenalmu, sulit makan, tidur, jadi emm aku mulai terbiasa dengan ini." Jawab Nathan tersenyum tipis ke arah Bella.
Wahh Nathan, dia jujur sekali dengan perasaannya meski Bella kelihatan tidak memperdulikan hal itu. Ahhh ternyata Nathan bukan hanya manis tapi emmm dia sangat sabar meski wajahnya cenderung seram. Hahahaha melihat mereka berdua, aku sangat bahagia. Batin Lena serayap senyum-senyum.
"Ya terserah padamu Nath, yang pasti aku tidak bertanggung jawab jika kau sampai sakit."
"Itu sudah kewajibanmu Bella, jika aku sakit, kau harus merawatku sebab aku sakit karena dirimu bukan." Mengedipkan sebelah matanya pada Bella.
"Jangan mulai berceloteh lagi Nath! Aku sedang memikirkan hal itu! Simpan dulu gombalan-gombalan recehmu itu!!" Bella melirik malas ke arah Nathan serayap menghembuskan nafas berat.
"Memikirkan Bastian Bell?" Tanya Lena serayap makan.
"Hmm, aku rasa korbannya sudah banyak dan yang paling sering ku temui adalah wanita yang memakai baju kuno itu. Dia sering mengikuti Bastian meski Bastian tidak menyadarinya atau dia berpura-pura untuk tidak menyadarinya." Tutur Bella lirih.
"Wanita berbaju kuno?" Tanya Nathan.
"Kinanti?" Gumah Nathan lirih, fikirannya langsung tertuju pada wanita itu sebab ciri-ciri Kinanti memang seperti itu. Dia wanita dari desa yang ingin melanjutkan kuliah di kota agar kehidupan keluarganya bisa sedikit baik.
"Kinanti? Bukannya itu mantanmu Nath? Kenapa kau menyebut namanya?"
"Ciri-ciri Kinanti mirip seperti yang kau sebutkan, apa mungkin dia jadi korban Bastian? Sebab aku tidak pernah melihatnya sejak dia bilang ingin mengakhiri hubungan kita." Jawab Nathan menjelaskan.
"Kau punya fotonya Nath?"
"Tidak Bella, dia selalu malu jika aku mau memfotonya." Kata Nathan menjelaskan.
"Ini terdengar semakin mengerikan saja, seorang pria yang haus akan tumbal sedang berkeliaran mencari mangsa. Aku sangat tidak ingin berkerja di sana lagi." Sahut Lena langsung kehilangan selera makannya.
"Sebenarnya tujuannya simpel Len, dia ingin menyingkirkan siapapun yang curiga kepadanya. Jika kau tidak berucap seperti itu kemarin, mungkin dia tidak akan mengejarmu."
"Ah... Aku menyesal sudah membahas hal itu di sana." Eluh Lena.
"Ikuti caraku Len, aku berjanji tidak akan membiarkan Bastian bisa menyentuhmu." Tutur Bella mencoba menenangkan perasaan Lena.
.
.
.
.
Siang ini Bastian tidak ada di Mall sebab dia merasa tidak sabar untuk bertemu dengan Ki Joko seger. Dia berjalan sekitar setengah jam dan sampailah dia di sebuah gubuk milik Ki Joko seger. Ki Joko seger sendiri tengah mendesah lembut saat mencium kehadiran Bastian meskipun Bastian masih belum sampai di rumahnya.
Aku harus beralasan apalagi dengan manusia satu itu, astaga.. Aku tidak tahu akan sesulit ini. Eluhnya dalam hati sebab Bastian selalu mendesaknya dan tidak segan-segan mengancam akan membunuhnya jika dia sampai menyerah.
Tok...Tok...tok..
Ki Joko seger membuka pintu gubuknya dengan langkah malas, dia tersenyum memaksa saat melihat Bastian sudah berdiri di balik pintu rumahnya.
"Masuklah," Pintanya." Anak buahku sedang tidak ada di tempat karena aku suruh mengantarkan muridku kembali ke rumahnya." Tutur Ki Joko seger menjelaskan meski Bastian tidak bertanya hal itu.
"Itu bukan urusanku Ki." Jawab Bastian yang selalu meninggikan suaranya sejak dia menyadari jika Ki Joko seger sulit memenuhi keinginannya." Kau tahu maksud tujuanku ke sini untuk apa bukan!" Imbuh Bastian duduk di hadapan Ki Joko seger.
"Hmm yah. Dan masalah murid ku itu ada hubungannya dengan niatmu itu." Jawab Ki Joko seger menjelaskan.
"Maksudmu apa Ki?"
"Pelanggan muridku tidak sengaja sudah berurusan dengan wanita yang saat ini sedang menjadi ambisi mu, dan dia jadi sekarat karena melawan perintahku untuk tidak berurusan dengan wanita tersebut." Kata Ki Joko seger menjelaskan.
"Ohh apa kau ingin bilang jika kau tidak sanggup menemukan cara bagaimana menakhlukkan dia!! Apa itu maksudmu!!" Bentak Bastian kesal.
Ki Joko seger langsung memasang wajah gugup sebab Bastian sudah mengancamnya akan menghabisinya dengan makhluk penghuni liontin miliknya. Dia sempat menyesal sudah mengajarkan Bastian bagaimana cara mendapatkan makhluk sekuat itu, dia tidak menyangka jika akhirnya itu akan menjadi bumerang untuknya seperti sekarang.
"Aku hanya belum tahu caranya Bas." Jawab Ki Joko seger lirih, sebab dia tengah berbohong saat ini. Dia sudah berusaha mencari cara tersebut namun tidak ada celah, sebab kekuatan yang di miliki Bella sudah bertengger sejak lama di dalam tubuhnya. Apalagi kekuatan itu memang datang sendiri tanpa harus mencarinya, hal itu membuat kekuatan itu melekat dan sudah mendarah daging di dalam tubuhnya." Kekuatannya belum terlihat Bas, tapi rasanya aku kesulitan mencari cara untuk itu. Kau tidak tahu kekuatan wanita itu sebesar apa? Sebab dia tidak menyadari hal itu Bas, yang di perlihatkan saat ini hanya bagian kecil dari kekuatannya itu. Aki mohon dengan sangat, lupakan soal ini jika kau tidak mau hancur sendiri sebab dia sedang mencari celah untuk hal itu." Imbuh Ki Joko seger menjelaskan, berharap Bastian dapat mengerti semua ini.
"Tidak Ki! Jika kau tidak mau membantuku, siap-siap saja nyawamu akan hilang! Jika kau mundur satu langkah saja, aku berjanji mengirim makhluk itu untuk mencincang habis tubuhmu itu!!" Teriak Bastian kesal sebab ambisi terbesarnya adalah mengalahkan Nathan saudara angkatnya. Bastian juga tahu jika Nathan sudah sangat dekat dengan Bella saat ini. Bastian bisa saja menghabisi Nathan sejak dulu, Namun dia ingin Nathan bisa melihat jika dia memang jauh lebih unggul darinya. Dia ingin Nathan mengakui kekalahannya, kelemahannya. Bastian ingin Nathan melihat dengan kedua bola matanya sendiri, jika suatu saat Bella akan menjadi miliknya dan hal itu pasti akan membuat perasaan Nathan kembali hancur. Dan jika Nathan terlihat semakin hancur, hal itulah yang menjadi kesenangan tersendiri untuk Bastian.-
TBC ๐