
Semua terdiam menunggu jawaban dari Bella, sedangkan Bella sendiri juga terdiam karena merasa malu harus menjawab pertanyaan itu saat sedang berada di hadapan Nathan. Mama Sinta yang masih mengingat semua sikap Bella, langsung mengusap lembut punggung Bella agar Bella merasa sedikit tenang.
Kenapa masih saja sulit. Batin Bella mencoba mengucapkan namun mendadak tenggorokannya terasa kering sehingga tidak bisa mengeluarkan suara.
"Jika kau tidak menyukainya dan hanya terpaksa, maka Ayah tidak akan menyetujui pernikahan ini." Tutur Pak Raffles tegas, sehingga Bella langsung menegakkan pandangannya pada sang Ayah.
"Bukan seperti itu Ayah."
"Lantas bagaimana? Sikapmu sangat tidak sesuai dengan umurmu sayang. Cepat jawab sebab Ayah tidak akan bertanya untuk yang kedua kalinya." Tuturnya berusaha memojokkan Bella.
"Tinggal ucapkan saja bagaimana perasaanmu padanya sayang, itu saja." Sahut Mama Sinta.
"Hmm iya." Jawab Bella membuat Nathan mulai tersenyum.
"Iya apa? Yang jelas sayang, agar Ayah yakin jika kau tidak terpaksa melakukan ini." Tanya Pak Raffles mengoda.
"Iya, aku mencintainya." Tutur Bella lirih serayap melirik ke arah Nathan sebentar.
"Apa itu sudah cukup nak?" Pak Raffles tersenyum menatap ke arah Nathan.
"Maksud nya Ayah?"
"Apa jawaban itu yang selama ini kamu tunggu? Sikap Bella memang sangat kaku, namun kau bisa melihat dari raut wajahnya yang memerah jika memang dia mempunyai perasaan yang sama padamu." Jawab Pak Raffles menjelaskan dan hal itu membuat Bella mendesah kesal.
"Iya Yah, saya sudah paham akan hal itu. Jadi meski Bella tidak pernah membalas dengan sebuah ucapan, saya tahu jika Bella juga mempunyai perasaan yang sama seperti saya." Tutur Nathan serayap tersenyum menatap Bella.
"Ayah merestui kalian. Ayah kedalam sebentar, mengurus sisa perkerjaan tadi, setelah itu kita makan malam bersama." Pak Raffles mencium kening Bella sebentar sebelum berdiri.
"Terimakasih Ayah."
"Sama-sama. Bara, bawa semua berkas ke ruangan, agar bisa Ayah periksa." Pinta Pak Raffles serayap berjalan menaiki tangga menuju ke arah ruangannya di ikuti oleh Bara.
"Bella, antar Nak Nathan ke kamar tamu ya. Istirahat dulu, biar nanti bisa makan malam bersama. Mama mau menemui Ayah dulu, kau tahu jika dia tidak bisa mempersiapkan keperluan mandinya tanpa Mama."
"Oke Ma, siap." Mama Sinta mengusap sebentar puncak kepala Bella dan berjalan menaiki tangga.
"Mari ku antar ke kamarmu Nath." Tutur Bella berdiri.
"Hmm baik." Jawab Nathan yang memang sedikit merasa lelah karena perjalanan tadi." Aku masih ingin jawaban itu suatu saat nanti sayang." Imbuh Nathan berjalan mengikuti Bella.
"Jawaban apa?" Tanya Bella berpura-pura tidak tahu.
"Apa kau mencintaiku?" Wajah Bella semakin terlihat merah saat Nathan kembali melontarkan pertanyaan tersebut.
"Bukannya jawaban tadi sudah jelas."
"Belum, aku ingin kau menjawabnya sambil menatapku penuh cinta." Nathan tersenyum tipis menatap wajah Bella dari samping.
"Tidak akan ku lakukan hal seperti itu, aku bukannlah wanita yang romantis dan suka merayu seperti itu." Jawab Bella ketus.
"Sudah ku duga jika seperti itu jawabannya, tapi tetap saja aku menginginkan hal itu."
"Istirahatlah dahulu, jangan memikirkan hal itu." Bella membukakan sebuah kamar untuk Nathan.
"Di mana kamarmu?" Tanya Nathan tidak langsung masuk.
"Sebelah sana." Bella menunjuk sebuah kamar yang ada di ujung ruangan tersebut." Hmm baik selamat istirahat." Imbuh Bella langsung beranjak pergi meninggalkan Nathan begitu saja.
"Jika kau sudah jadi milikku, tidak akan ku biarkan kau mengacuhkan ku seperti ini Bella." Gumah Nathan tersenyum tipis sebelum akhirnya dia masuk dan menutup pintu kamar tersebut.
Bella menoleh sebentar ke arah kamar Nathan yang sudah tertutup, dia bernafas lega sebab jantungnya selalu saja menegang jika sedang bersama Nathan seperti tadi. Padahal seharusnya dia harus membiasakan diri untuk itu, namun tetep saja, hal itu sulit untuk Bella lakukan.
Bella memutar kunci yang sudah tertancap pada pintu kamarnya dan membuka pintunya perlahan. Tidak lupa dia mencabut kunci tersebut dan menggenggam nya lalu segera masuk ke dalam kamar yang sangat di rindukannya.
Kamar tersebut terlihat sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Boneka-boneka kecil milik Bella masih tertata rapi di lemari kaca yang terdapat di sana. Bahkan foto-foto bersama Karin masih berjajar rapi di meja samping tempat tidurnya.
"Mama merawatnya dengan baik." Gumah Bella tersenyum menatap sekitar.
Bella berjalan menuju ke jendela kamarnya yang sudah terbuka, dia menatap ke bawah dan melihat sebuah pohon mangga yang masih berada di sana. Bahkan makam kucing kesayangannya masih terawat rapi dengan berbagai bunga yang tumbuh di sekitar makam tersebut. Bella meletakkan tasnya dan segera berjalan menuruni tangga untuk melihat makam tersebut.
Setibanya di sana, Bella memetik beberapa bunga dan meletakkan di atas pusaran kucingnya.
"Hai Pus, aku baru bisa datang, maaf. Emm bagaimana kabarmu?" Kata Bella menyapa.
"Kau masih saja mengingat hal itu adikku." Bella langsung menoleh ke arah sumber suara dan terlihat Bara sudah berdiri di belakang Bella dengan sebuah senyuman.
"Dia temanku, mana mungkin aku melupakannya." Jawab Bella berdiri sejajar dengan Bara." Kenapa Ayah tadi bersamamu bukan Pak Dirman?" Pak Dirman adalah Ayah dari Bara yang merupakan orang kepercayaan Pak Raffles.
"Kau tidak tahu? Ayah sudah meninggal beberapa tahun lalu jadi aku yang mengantikan beliau untuk mengurus perkerjaan Ayah Raffles."
"Astaga, maaf aku tidak tahu." Jawab Bella lirih.
"Tidak masalah, emmm kau di sini berapa hari?"
"Tiga atau empat hari."
"Kenapa tidak satu bulan menginap?"
"Tidak bisa, aku dan Nathan harus mengurus persiapan pernikahan di sana." Jawab Bella tersenyum.
Bella langsung melirik malas ke arah Bara sebab ucapan dari Bara terdengar sangat memuakkan." Kenapa tidak kau saja yang menikah jadi istri mu bisa tinggal di sini untuk menemani Mama!" Jawab Bella ketus.
"Tidak ada yang ku sukai di sini."
Karena aku menginginkan dirimu Bella, aku akan menunggu Nathan meninggalkan mu agar kau paham jika tidak ada lelaki yang bisa menerimamu sebaik aku.
"Lantas! Kenapa kau menyuruhku?" Kata Bella kesal.
"Astaga adikku, emosimu tetep saja seperti itu. Aku hanya memberi saran saja agar Mama bisa senang karena kau selalu di sampingnya." Jawab Bara serayap mengusap lembut puncak kepala Bella.
"Jangan lakukan itu." Kata Bella menghindari tangan Bara." Aku tidak ingin Nathan melihat ini, bersikaplah biasa saja sebab aku tidak mau membuatnya cemburu. Permisi." Bella segera beranjak dari tempat tersebut dan meninggalkan Bara yang masih terpaku melihatnya.
Bukan hanya kekayaan dari Tuan Raffles yang ingin ku kuasai Bella, tapi dirimu juga.
.
.
.
.
.
🏠Kediaman Vero🏠
Setibanya di rumah, Vero berjalan ke belakang untuk mengambil piring dan sendok. Dia terpekik kaget saat Mbok Darmo tiba-tiba muncul dan menatapnya aneh. Bibir Mbok Darmo terlihat tersenyum namun terasa begitu mengerikan seolah itu bukanlah sebuah senyuman. Vero sampai tersenyum kikuk melihat ekspresi wajah Mbok Darmo yang tengah berdiri mematung menatapnya.
"Astaga Mbok! Bikin kaget saja." Protes Vero mengusap lembut dadanya.
"Maaf Non hihihi." Jawabnya tertawa cekikikan membuat Vero mengerutkan keningnya.
"Tertawa Mbok kok gitu sih? Mirip kuntilanak saja."
"Masih mirip Non, memang sudah seperti ini kok tertawanya dari dulu." Jawab Mbok Darmo melihat ke arah bungkusan yang di bawa Vero." Itu apa yang Non bawa?" Imbuhnya bertanya.
"Nasi Mbok, aku lapar. Lagian Mbok kemana saja?"
"Mbok memang malam Non kerjanya, itu sudah peraturan dari sini."
"Peraturan macam apa seperti itu! Sudahlah Mbok, aku mau makan dulu." Tutur Vero akan beranjak.
"Tidak mau makan masakan Mbok?"
Vero menoleh ke arah meja makan dan anehnya sudah tersaji banyak makanan di sana padahal dia meninggalkan rumah setengah jam yang lalu.
"Apa Mbok beli tadi?"
"Tidak Non, hati-hati kalau beli di depot perempatan jalan soalnya di sana makanannya bermasalah." Tuturnya tersenyum aneh.
"Apa seperti itu Mbok?"
"Buka saja bungkusan yang Non bawa." Vero langsung membuka bungkusan dan terkejut saat melihat isi dari bungkusan tersebut adalah belatung dan daging busuk. Tangan nya bergetar dan bungkusan tersebut terlepas begitu saja dari tangannya hingga jatuh ke lantai.
"Bener kan hihihihi." Tutur Mbok Darmo kembali cekikikan." Sudah, Non makan saja masakan Mbok. Ini biar Mbok beresin." Imbuhnya.
"Ya sudah Mbok." Karena Vero merasa sangat lapar, dia langsung menuju ke arah meja makan yang berjarak lima meter dari tempatnya berdiri.
Sambil membereskan nasi yang tercecer, Mbok Darmo memperhatikan Vero yang tengah makan dengan lahap. Dia kembali tertawa cekikikan karena sebenarnya makanan yang di makan Vero adalah sekumpulan belatung dengan daging busuk. Sedangkan yang di buangnya di lantai adalah nasi bungkus dengan lauk daging dan lainnya.
Mbok Darmo yang sebenarnya adalah sosok kuntilanak, sudah memanipulasi otak Vero agar dia melihat segala sesuatu sesuai dengan pemikirannya. Sehingga Vero tidak sadar jika yang berada di sekitarnya bukanlah manusia.
Bastian yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Vero dengan baju kantornya langsung saja mencium kening Vero sebentar dan ikut duduk bersama Vero di kursi sampingnya.
"Astaga sayang, kemana saja? Aku tidak bisa menghubungimu seharian ini!" Tanya Vero dengan nada manja.
"Maaf sayang, perkerjaanku sangat banyak jadi seperti itu. Aku juga harus mempersiapkan pernikahan kita besok."
"Besok??" Tanya Vero terkejut.
"Ya kita akan menikah besok." Tangan Bastian terangkat dan mengusap lembut pipi milik Vero.
"Kau serius sayang?"
"Aku serius. Semua sudah ku persiapkan sesuai dengan keinginanmu sayang." Jawab Bastian dengan nada datar.
"Astaga aku senang sekali." Teriak Vero senang karena Vero berfikir jika dia benar-benar akan menjadi nyonya Bastian.
Mata Bastian menyala merah sebab dia menginginkan Vero saat ini juga, tangannya mulai menelusup masuk di sela kedua paha Vero yang hanya mengenakan rok mini. Vero yang langsung terbuai akan sentuhan Bastian, langsung saja menghentikan aktivitas makannya dan segera duduk di paha milik Bastian. Keduanya kembali melakukan aktivitas panas, bahkan Vero sendiri tidak sadar jika dia sudah di jadikan sebuah budak nafsu oleh makhluk hitam, tinggi besar yang saat ini sudah menindih tubuhnya.-
Typo bertebaran 😁
Tetep setia😁
Dengan cara like share dan Vote yah🤗
Terimakasih 😙