
Bella dan Nathan menghadap perapian sambil memandangi api yang tengah membakar peti berserta boneka yang sudah di tempelkan foto Pak Salim. Tidak ada obrolan sedari tadi sebab keduanya sama-sama menahan perasaan yang bergemuruh di hatinya. Bella ingin beranjak pergi saat mengingat cucian spreinya tadi namun tangan Nathan mencegahnya.
"Mau ke mana?" Serayap menatap Bella dari samping.
"Melihat cucian ku mungkin saja sudah selesai." Tutur Bella lirih dan kembali duduk di rumput hijau di pekarangan rumah Nathan.
"Kau mencuci apa tadi?"
"Sprei." Tutur Bella singkat.
"Sprei??"
"Hmm yah, setiap bangun tidur selalu seperti itu. Sprei yang ku tiduri basah karena keringat ku." Jawab Bella menjelaskan.
Apa kau berpura-pura karena ingin menjaga perasaanku Nath, Astaga Nath, kenapa anak kecil sepertimu bisa bersikap begitu dewasa?
"Biarkan saja, pembantuku sudah datang jadi biar di urus dia nanti. Emm apa kau akan pergi berkerja hari ini Bella?"
"Iya, maka dari itu antarkan aku pulang untuk mengambil seragam kerjaku di rumah."
"Hmm baik, sebaiknya kau mandi dulu." Nathan hanya mampu melirik ke arah sekitaran leher Bella yang berkeringat, dia kembali menelan saliva nya menahan keinginan untuk menyentuh Bella saat ini juga.
Ahh yah.. Dia sangat seksi, bagaimana tidak aku tergila-gila dengan wanita ini. Setiap kali aku melihat keadaannya yang seperti sekarang, jantungku memacu begitu cepat seakan ingin meledak. Aku ingin segera menikahinya agar perasaanku ini tidak berlarut-larut.
Nathan tersadar dari lamunannya saat tangan Bella menyentuh pundaknya." Kau kenapa Nath? Apa kau sakit?" Tanya Bella menyentuh dahi Nathan yang juga berkeringat.
"Tidak." Tutur Nathan tersenyum aneh sebab perasaanya semakin tidak terkendali." Mandilah, aku juga akan mandi dan mengantarkanmu ke rumah." Imbuh Nathan menatap ke arah wajah Bella yang terlihat begitu bersinar di matanya.
Aku ingin m#l#mat habis bibirmu itu Bella.. Ahhh!! Apa otakku semakin tidak waras saja sekarang!
"Oke Nath, aku mandi dulu ya." Bella berdiri dan berjalan masuk, bola mata Nathan kembali memperhatikan lekuk tubuh Bella dari belakang, dia kembali menarik nafas panjang dan mengendalikan hasratnya yang lagi-lagi membuat fikirannya menjadi keruh.
"Kau benar-benar sudah mencintai wanita itu Nath?" Suara dari Pak Salim membuat Nathan tersentak kaget sehingga dia langsung berdiri dan menatap ke arah Pak Salim yang selesai berolahraga jalan pagi.
"Hmm yah Ayah, tapi nyatanya dia belum bisa menerima itu semua. Padahal aku menerima dia apa adanya dan tidak mempermasalahkan masa lalu serta umurnya yang lebih tua dariku." Jawab Nathan duduk di salah satu tempat duduk di taman halaman rumahnya.
"Pengalaman hidup Bella terlalu pahit Nath, jadi wajar jika dia terlalu banyak menimbang sesuatu, sebab Ayah yakin jika dia hanya tidak ingin salah dalam memilih. Sabarlah, hargai perasaannya yang seperti itu, buat dia jadi senyaman mungkin agar dia punya waktu yang tepat untuk mengungkapkan itu semua." Tutur Pak Salim berjalan mendekati Nathan.
"Aku sudah berusaha meski terkadang aku sering tidak bisa mengendalikan perasaan ku sendiri." Kata Nathan lirih.
"Apa anak Ayah ini sudah tidak sabar melepas masa lajangnya?" Ucap Pak Salim mengoda.
"Hmm yah." Tersenyum ke arah sang Ayah." Tapi ini hanya untuk Bella Ayah, jika selain Bella aku tidak mempunyai keinginan untuk menikah muda." Imbuh Nathan membuat Pak Salim ikut tersenyum sebab dia merasa senang karena melihat raut wajah Nathan yang tengah berbahagia sekarang.
"Jika Bella sudah setuju, Ayah akan menikahkan kalian berdua."
"Andai bisa secepat itu Yah." Eluh Nathan lagi.
"Jangan lupa berdoa dan tetaplah bersabar."
"Hmm baik." Nathan berdiri." Aku akan mandi Yah, sebab Bella pergi berkerja hari ini jadi harus mengambil seragamnya di rumah." Imbuh Nathan menjelaskan.
"Kenapa tidak mengambil libur dulu, Ayah ingin mengobrol banyak dengan dia."
"Dia sangat tidak pernah bisa di atur, jadi simpan dulu keinginan Ayah itu, jaga kesehatan, aku menyayangimu." Tutur Nathan tersenyum sejenak dan berjalan pergi dari hadapan Pak Salim.
Kamu dengar Narti.. Anak kita sudah dewasa dan ingin menikah muda. Aku sangat ingin melihat itu terjadi pada kedua putra kita jika di berikan umur panjang, tapi melihat kenyataan Bastian yang seperti itu, Ya Tuhan sadarkan Bastian sebelum semuanya terlambat.
.
.
.
.
Mobil Nathan terparkir di depan rumah Bella, dan di sana sudah ada Lena yang sejak tadi mengetuk-ngetuk pintu rumah Bella tapi tidak ada jawaban.
"Astaga pantas saja aku ketuk sampai tanganku copot tapi tidak ada jawaban." Goda Lena menyambut kedatangan Bella.
"Kita tadi mencari sarapan, iya kan Nath." Memberikan kode pada Nathan.
"Hmm yah." Jawab Nathan tersenyum.
"Semalam juga terasa aneh Bella, dan aku mencoba menghubungimu tapi nomer mu tidak aktif." Kata Lena dengan wajah yang sedikit pucat.
"Maaf Len, ponselku mati dan aku baru mengetahuinya tadi. Tidak perlu khawatir, jika kau masih memakainya tidak akan terjadi sesuatu, hanya perasaan aneh saja yang akan kau rasakan tapi mereka tidak akan menyentuhmu." Jawab Bella mengusap pipi Lena.
"Aku selalu melakukan itu Bella, aku bahkan sudah tidak pernah keluar malam meski kekasihku memaksaku. Emm kau tidak akan membiarkanku mati konyol kan Bella? Aku sangat takut dengan semua itu hingga setiap malam aku bermimpi buruk." Ucap Lena yang memang terlihat sedikit pucat karena kurang tidur.
"Tidak akan, jika aku tidak ada masalah soal mimpi, aku akan mengajakmu menginap di rumahku untuk sementara waktu agar kau tidak ketakutan secara berlebihan."
"Hmm yah aku mengerti Bella hahahaha jadi tidak masalah soalnya di rumahku masih ada Mama dan Ayah juga Kakakku." Jawab Lena mulai ceria lagi.
"Tunggu aku 10 menit untuk berganti baju dan memberi makan kucingku." Bella tersenyum sejenak lalu membuka pintu rumahnya." Jika haus ambil sendiri di kulkas ya." Teriak Bella berlalu pergi.
.
.
.
.
"****** Nenek lampir tenyata masih ada." Gumah Lena yang langsung menunduk saat Veronica berjalan ke arah Bella dan Lena yang tengah menata baju.
"Lampir?" Sahut Bella binggung.
"Huuussstttt!! Jangan terlalu keras dia bisa mendengar kita dari jarak jauh hehehe." Jawab Lena cekikikan pelan." Pura-pura tidak tahu saja Bell oke." Imbuh Lena seolah fokus menata baju.
"Hmm oke." Jawab Bella menurut saja sebab menurutnya itu semua tidaklah penting.
"Kamu anak baru?" Tutur Veronica yang sudah berdiri di belakang Bella.
"Maksud Nona?" Sahut Lena.
Nona?? Batin Bella.
"Aku tidak berbicara denganmu tapi dia." Menujuk ke arah Bella.
"Dia mencarimu Bella, panggil dia Nona agar kau tidak terkena masalah." Bisik Lena memberi saran.
Aku mencium bau aneh di sini. Batin Bella.
"Emm saya..." Tutur Bella terhenti karena merasa kaget dengan raut wajah Veronica yang terlihat buruk." Kenapa wajah Nona.." Imbuh Bella mengucek-ngucek matanya.
"Kenapa wajahku cantik kan, tidak seperti wajahmu yang hanya kau poles dengan kosmetik murahan." Jawab Veronica ketus meski dia melihat tanda di dahi Bella samar, namun dia mengangap itu semua tidaklah penting.
Bella terkekeh mendengar jawaban dari Vero, sebab dalam pengelihatannya wajah Vero sangatlah buruk seperti sebuah wajah yang penuh dengan koreng dan masalah kulit yang sudah menahun.
Ahh yah... Mana bisa Bella di kendalikan, dia selalu saja memicu masalah. Duuuhhh Bella.. Batin Lena mengerutkan keningnya.
"Tidak masalah jika kosmetik ku murahan Nona, asal aku terlihat pantas memakainya." Jawab Bella yang masih menahan rasa geli sebab melihat wajah Vero saat ini.
Sekelebat bayangan datang dan langsung menempel pada punggung Veronica membuat mata Bella langsung menatap ke arah Vero heran.
Kenapa makhluk itu menempel seperti itu? Batin Bella yang sangat jelas melihat sesosok kuntilanak tengah menempel di punggung milik Vero.
"Kau melihat apa hah!!" Bentak Vero yang merasa tersinggung dengan tatapan Bella saat melihatnya.
"Tidak ada Nona." Jawab Bella tersenyum aneh.
"Apa kau anak baru?"
"Tidak, saya sudah lama berkerja di sini, nama saya Bella." Jawab Bella ramah.
Dia sangat cantik! Susuk macam apa yang di pakainya? Batin Vero.
"Kenapa aku baru melihatmu!"
"Emm mungkin karena dulu saya sempat mengambil libur panjang jadi anda tidak tahu, saya bahkan baru melihat anda." Bella mulai merasa aura negatif pada diri Vero apalagi melihat makhluk yang bergelayut di punggung Vero menatapnya serayap tersenyum. Bahkan Bella sempat menyapanya dengan lambaian tangannya. Lena yang tidak bisa melihat hal itu merasa binggung dan sempat melihat ke arah belakang Vero tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Bella sedang melambai pada siapa ya? Batin Lena.
"Kamu jangan main-main sama saya ya!!" Kata Vero merasa kesal dengan sikap Bella.
"Maaf Nona." Tersenyum." Apa Nona tidak merasa berat?" Pertanyaan itu cukup terdengar aneh untuk Vero.
"Apa kamu gila hah!!"
Bella mengerutkan keningnya." Maksud Nona?"
"Ucapanmu sungguh tidak ada hubungannya dengan hal yang kita bicarakan!" Tutur Vero kasar.
"Hmm begitu." Bella mengangguk-angguk.
"Karena kau baru tahu saya, maka saya akan jelaskan! Nama saya Nona Veronica, selain menjabat sebagai supervisor saya juga calon tunangan Pak Bastian! Jadi kau harus patuh dengan semua aturan saya juga!! Apa kau paham!!"
Hahaha, dia bilang tunangan dari Bastian?? Apa aku tidak salah dengar?? Tapi pantas juga sebab wajah wanita ini penuh dengan susuk!!
"Apa kau mendengar ucapan saya Bella!!!" Imbuh Vero geram sambil melebarkannya matanya menatap ke arah Bella.
"Ahhh!! Kenapa suaramu harus seperti itu Nona? Itu semakin membuatmu terlihat buruk rupa!!" Jawab Bella yang mulai tersulut emosinya akibat ucapan kasar dari Vero.
"Jangan mencari masalah Bella." Sahut Lena berbisik.
"Dia yang sudah mencari masalah padaku!!" Menujuk ke arah Vero." Meskipun kau supervisor tapi kau tetap saja hanya karyawan! Uhhh bau mu sangat busuk." Imbuh Bella yang semakin membuat Vero emosi, dia maju dan akan melayangkan sebuah tamparan pada Bella namun ada tangan yang mencegahnya.-
Maaf ya Reader😩
Belum bisa Update dua sekaligus.
Author benar-benar lagi nggak enak badan😩
Tetep setia...
Silahkan like 👍
Komentar 💬
Klik♥️
Vote juga yah😁
Terimakasih 😘