Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 75



Sepulangnya dari kediaman Lena, Bella terdiam sebab merasa kesal soal ide yang Lena lontarkan. Dia sangat tidak menyetujui hal itu mengingat nyawa Lena yang akan jadi taruhannya. Bella berusaha memikirkan cara namun tidak juga mendapatkan ide, hanya sang penjaga rumah yang mungkin bisa menjadi jalan untuk mengetahui banyak hal soal Bastian.


"Mungkin ide Lena benar sayang, bukannya kau nanti bisa melindunginya." Tutur Nathan serayap fokus menyetir.


"Tidak! Aku tidak menyetujuinya, kau tidak tahu Bastian manusia semacam apa Nath. Kakakmu itu selain mempunyai ilmu seperti itu, insting pembunuhnya juga sangat besar. Meskipun makhluk itu tidak bisa mendekati Lena, namun jika dia yang melakukannya itu sama saja. Aku tidak menyetujui hal itu! Tidak ada yang boleh menjadi korban setelah ini, aku sudah cukup kehilangan dengan kepergian Karin, dan sekarang aku sudah dekat dengan Lena dan dia akan merenggutnya lagi, tidak! Aku tidak mau seperti itu! Aku sendiri yang akan menghadapinya jadi tidak perlu ada orang awam seperti Lena ikut campur dalam hal seperti ini." Jawab Bella penuh penekanan, hingga benda mengkilap di dahinya terlihat meski Nathan tidak bisa melihatnya.


Rasa perduli mu sangat besar sayang, aku sungguh kagum dengan itu. Aku berjanji akan selalu menemanimu..


"Bagaimana jika kita nongkrong sebentar di sebuah tempat?"


"Di mana? Aku tidak tahu tempat semacam itu." Jawab Bella yang memang tidak pernah ada waktu untuk berjalan-jalan sebelumnya.


"Sebentar." Nathan meminggirkan mobilnya dan menelfon Farel, Nathan meminta farel mengirimi lokasinya saat ini. Setelah mendapatkannya, mobil Nathan langsung melaju ke arah tempat tujuan. Beberapa saat kemudian, Nathan tiba di parkiran sebuah tongkrongan anak muda dan di sana sudah ada Farel yang menunggu mereka.


"Hai cantik, pantas saja tadi tidak ke Kafe." Sapa Farel tersenyum ke arah Bella.


"Aku mengambil libur dua hari Rel, emm sedang ada urusan." Jawab Bella ramah.


"Hm begitu, baik kita masuk, ada Rio di dalam."


Tanpa basa-basi Nathan meraih jemari Bella dan mengandengnya untuk masuk, sebab tempat itu cukup ramai, bahkan hanya ada beberapa pengunjung wanita saja. Kebanyakan semua pengunjungnya seorang pria muda, hal tersebut tentu saja membuat Bella menjadi sorotan publik di sana. Hampir semuanya melihat ke arah Bella saat dia tengah berjalan bersama Nathan, bahkan ada juga yang berani melambaikan tangan, namun Bella tidak memperdulikan hal itu.


"Aku membenci tempat ini!" Runtuk Nathan yang merasa cemburu dengan keadaan sekitar.


"Bukannya kau yang mengajakku ke sini?" Jawab Bella tersenyum.


"Hahahaha sudahlah Nath, tidak perlu mengurusi mereka, mereka juga bukan level mu. Mereka kebanyakan hanya anak SMA jadi wajar jika sikapnya sedikit berlebihan." Sahut Farel menuturkan." Kau mau pesan apa Bella?" Imbuh Farel bertanya.


"Apa saja Farel, asal jangan kopi." Jawab Bella.


"Kau Nath?"


"Kopi panas saja."


"Baik ku pesankan." Tutur Farel berdiri lalu berjalan menuju kasir.


"Aku tadi ke kafe dengan Farel, tapi tidak menjumpai mu di sana." Kata Rio membuka pembicaraan.


"Hmm aku mengambil libur dua hari." Jawab Bella memperhatikan sekitar.


"Ohh pantas saja tidak ada." Tutur Rio yang terasa kaku sebab takut Nathan cemburu.


Beberapa saat kemudian, pelayan menyajikan pesanan di hadapan Bella dan Nathan. Bella yang merasa tidak fokus, tersenyum aneh saat Nathan mempersilahkan Bella untuk minum. Karena sikap Bella tersebut membuat Farel dan Rio melihat ke arah Bella saat ini.


"Kau kenapa Bella? Kau apakan dia Nath? Apa kau terlalu memaksakannya hingga seperti itu?" Tanya Farel dengan mulut comelnya.


"Ahhh! Kenapa kau menuduhku seperti itu!!" Jawab Nathan kesal.


"Aku sangat tahu hal itu Nath! Jadi benar saja jika Bella merasa tidak nyaman." Tutur Farel yang mencoba mencairkan suasana.


"Berhentilah..! Kalian semakin membuatku pusing!!" Runtuk Bella kesal.


"Hahahaha... Emm aku ada berita mengerikan Bella."


"Apa itu Rel?"


"Di kota ini sedang gempar berita orang hilang, sangat banyak hingga polisi di buatnya kebingungan sebab satupun jasad atau keberadaan mereka tidak pernah di temukan." Kata Farel menjelaskan.


"Hmm begitu."


"Yang paling banyak terjadi di Club' yang terletak di ujung jalan ini, aku juga tidak mengingat nama club' itu apa? Para pelayan di sana banyak sekali yang hilang, kabarnya sebelum menghilang dia di bawa oleh pria yang sama."


"Apa mereka seorang wanita Farel?" Tanya Bella.


"Hm ya."


"Percuma, dia tidak akan berhenti sebelum darah perawan bisa di dapatkannya." Kata Bella Bergumah.


"Siapa?" Tanya Farel.


"Bastian." Jawab Nathan.


"Bukannya dia kakakmu?" Sahut Rio.


"Bukan lagi, aku tidak mempunyai kakak semacam itu."


"Kau seyakin itu Nath." Tanya Farel lagi.


"Hmm sangat yakin." Jawab Bella menyahut." Aku sangat ingin tahu lokasi Bastian melakukan itu semua." Imbuh Bella lirih.


"Maksudmu Bell?"


"Pasti ada lokasinya Rel, dia pasti sudah mempunyai tempat khusus untuk mengiring persembahannya pada makhluk itu."


"Ahhh kalian membicarakan apa? Makhluk apa hei! Ini membuatku takut." Eluh Rio mengusap tengkuknya.


"Sudahlah! Jika tidak tahu diam saja!" Teriak Farel membuat Nathan mendesah kesal sebab Farel juga tidak seberapa tahu soal ini.


"Sudahlah sayang, besok kita akan mendapatkan jawabannya pada penjaga rumah itu. Mungkin saja dia melakukan ritualnya di sebuah kamar yang terletak di dalam rumahnya." Tutur Nathan mengusap lembut punggung Bella.


"Entahlah Nath, rasanya masalah ini tidak mempunyai titik temu. Apalagi mengingat Bastian yang sangat misterius itu, seperti jelangkung yang suka datang dan pergi semaunya." Eluh Bella yang mulai sedikit menyerah.


"Hahahaha kau bisa saja Bell." Jawab Farel terkekeh.


"Aku tidak sedang bercanda heii Farel." Runtuk Bella menatap tajam ke arah Farel.


"Hehehe iya maaf."


Ya Tuhan, aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi, semoga saja besok aku mendapatkan titik terang dari penjaga rumah itu.


Dengan wajah marah Bastian meninggalkan lokasi club' yang sudah di jaga ketat oleh polisi. Dia benar-benar membutuhkan penganti tumbal malam ini, makhluk yang haus darah itu tidak pernah merasa puas jika darah perawan belum di dapatkannya. Namun meskipun darah perawan sudah di dapatkan, hanya butuh waktu satu Minggu bagi makhluk itu untuk berhenti menuntut. Setelah itu dia akan menuntut lagi dan lagi, tapi Bastian tidak pernah merasa lelah mencarinya sebab darah psikopat yang mengalir di tubuhnya seolah sudah mendarah daging menyatu bersama dirinya.


"Sial!!! Aku harus mencari korban di mana lagi." Eluhnya serayap memukul-mukul setir mobilnya.


Bastian langsung menghentikan laju mobilnya saat melihat seorang pedagang yang tengah duduk di pinggir jalan raya. Dia memandangi pedagang itu sejenak, Hmm cukup muda, aku yakin jika dia mempunyai anak istri. Bastian langsung turun dan menghampiri pedagang tersebut dengan niat busuk yang ada di hatinya.


"Maaf Aden, sudah habis." Tutur sang pedagang ramah.


"Saya tidak berniat membeli Pak." Jawab Bastian tersenyum dan duduk di samping pedagang tersebut serayap mengeluarkan dompet.


Pedagang tersebut menelan saliva-nya saat melihat uang yang sangat banyak berada di dompet milik Bastian, dia memang sengaja menyiapkan uang tunai yang banyak sebab jika dia membutuhkan dana langsung seperti sekarang, dia bisa langsung mendapatkannya.


Duh Gusti uangnya banyak sekali, apa aku meminta bantuan Aden ini saja. Dagangan ku memang habis, tapi uangnya sudah di rampas habis oleh preman tadi. Aku binggung mau pulang dan harus ngomong bagaimana sama istriku.


Hahahaha, kebetulan yang tepat. Kau dan keluargamu akan menjadi tumbal ku malam ini. Batin Bastian yang sudah tidak mempunyai hati nurani.


"Ini untuk Bapak." Kata Bastian menyodorkan 30 lembar uang seratusan.


"Ini apa Pak?" Tanya pedagang tersebut dengan tangan gemetaran.


"Ini rejeki untuk keluarga mu Pak, ambilah." Bastian memaksa si pedagang untuk mengambilnya.


"Astaga Aden, terimakasih." Jawabnya menitikan air mata, sebab tujuan pedagang tadi berada di jalan karena merasa tidak tega menceritakan kejadian saat ini pada istrinya.


"Sama-sama Bapak. Emm anak Bapak ada berapa?"


"Empat Aden, laki-laki semua." Jawabnya mengusap sisa air mata.


Tidak masalah, lumayan sebagai ganti Lena yang belum bisa ku dapatkan.


"Wahh keluarga besar."


"Iya Aden."


"Hmm baik Pak, saya permisi ya." Kata Bastian berdiri.


"Sekali lagi terimakasih Aden."


"Sama-sama Bapak." Bastian tersenyum manis meninggalkan pedagang tersebut, sedangkan sang pedagang sendiri langsung bergegas pulang sebab berniat membelikan makanan enak untuk anak-anaknya.


Di dalam mobil Bastian tersenyum mengerikan serayap menatap ke arah si pedagang yang sudah pergi dari tempat duduk tadi. Tiba-tiba ponselnya bergetar, sebuah nomer tidak di kenal tertulis di layar ponselnya. Bastian langsung menerima panggilan tersebut.


Via telfon 📲


"Ya Hallo, siapa ini?"


"Aku Lena Pak."


Astaga apa ini? Belum sempat aku melakukan rencanaku besok, dia sudah menelfonku seperti ini.


"Ohh Lena, ada apa Lena."


"Bisakah kita bertemu besok Pak, emm aku ada perlu untuk membicarakan sesuatu yang penting."


"Tentu Lena, dengan senang hati. Bagaimana jika aku yang menentukan tempatnya?"


"Boleh Pak, aku tunggu di taman XXX ya."


"Oke."


Bastian tertawa lebar serayap meletakkan ponselnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Lena sendiri mengakhiri panggilan dengan tangan gemetaran, sebisanya dia tidak berbicara dalam hatinya saat menelfon Bastian sebab dia tidak ingin merusak rencananya ini. Lena bahkan rela membatalkan acara kencannya dengan kekasihnya sebab perasaan yang di rasakan saat ini cukup membuatnya stres. Dia membungkam mulut pada keluarganya karena tidak ingin keluarganya merasa khawatir padanya.


Maaf Bella, aku tidak mendengarkan ucapanmu. Jika aku tidak melakukan ini, aku bisa-bisa menjadi gila karena perasaanku sangat tidak nyaman ketika menjelang malam. Aku harus mengorbankan diri, agar kau bisa mengetahui letak lokasi Bastian melakukan itu semua. Aku percaya padamu Bella, kau tidak akan membiarkanku mati konyol bukan? Besok sebisanya aku akan tetap memakai ikatan rambut ini agar makhluk itu tidak bisa menyentuhku.


Dengan berderai air mata, Lena mengusap lembut jari tengahnya di mana rambut milik Bella masih terikat di sana. Dia memperhatikan sekitar dan mulai merasakan kenyamanan sebab makhluk milik Bastian sudah menuju ke arah pedagang yang sudah di tandai untuk di jadikan tumbal malam ini.-


Terimakasih yang masih setia 😘


Silahkan like 👍


Komentar 🗨️


Klik ♥️


Vote juga yah...


Share juga jangan lupa biar Author makin semangat jika banyak pembacanya😁


Salam manis Arabella Maheswari.