
Di taman kota, Bella dan Nathan terlihat hanya duduk berdua serayap melihat beberapa pasangan yang tengah melintas sesekali di hadapan mereka. Sangat banyak pasangan yang duduk di sekitar mereka, sambil bermanja-manja dengan pasangannya masing-masing. Bella bahkan tidak dapat berfikir, kenapa Nathan mengajaknya di tempat seperti ini. Nathan dan dirinya bahkan tidak melakukan aktivitas apapun sejak tadi dan hanya berdiam di tempat duduk taman serayap memperhatikan sekitar. Meskipun sesekali ada seorang wanita yang sengaja mencuri pandang ke arah Nathan, namun dia hanya berdiam dan tidak menangapi hal tersebut. Begitu juga yang di lakukan Bella, dia juga bersikap biasa saja saat ada seorang pria yang mencuri pandang ke arahnya saat ini.
"Sebenarnya kita sedang apa Nath?" Tutur Bella lirih.
"Hanya mencari angin segar saja." Jawab Nathan tanpa ekspresi." Apa kau mau ke Mall?" Imbuh Nathan bertanya.
"Tidak.. Aku bosan dengan suasana seperti itu. Emm iya Nath? Jika ayahmu pemilik mall itu bukannya kau bisa mendapatkan barang gratis di sana? Kenapa kemarin kau tidak menebus kaca mata itu di Mall milikmu saja?" Tanya Bella mencari topik pembahasan.
"Hmm Mall itu sudah di serahkan sama Kak Bastian, jadi aku tidak mau berada di sana meski hanya berjalan-jalan saja. Lebih baik aku mencari Mall yang lain daripada harus bertemu dengannya." Jawab Nathan sambil terus menatap ke arah depan.
"Hmm begitu." Mengangguk-angguk.
"Tempat tinggalmu di mana Bella? Bolehkan aku mengetahuinya? Jika tidak ya sudah aku tidak memaksamu."
"Emm aku berasal dari daerah PP, aku lahir dan besar di sana." Jawab Bella lirih.
"Berarti cukup jauh dari sini?"
"Hmm yah, aku tidak ingin Ayah mengetahui posisiku sekarang." Jawab Bella menjelaskan.
"Apa kau mempunyai seorang Ibu?"
Bella mengangguk pelan." Mama itu orang yang selalu membelaku, tapi tetap saja jika dia kalah dengan kuasa Ayah. Emm ayahku berwatak keras, hampir mirip seperti aku." Tersenyum." Hanya saja aku tidak pernah melihatnya semarah itu padaku. Kau tahu Nath jika aku anak tunggal mereka, hmm satu kalipun Ayah tidak pernah membentakku. Dan hari itu, mungkin aku sangat keterlaluan karena membuat dia malu di depan para relasi kerjanya, hingga dia mengucapkan kata-kata tersebut. Meski terkadang anak angkat Ayah sesekali menghubungiku dan berkata jika dia menyesal melakukan itu. Tapi tetap saja, aku tidak akan kembali jika aku belum bisa menghilangkan fobiaku ini. Entahlah Nath, rasanya itu sangat menyakitkan, melihat Ayah yang biasanya selalu lembut lantas aku harus mendengar dia berkata sekasar itu dengan raut wajah yang marah, membuatku tidak bisa melupakan itu semua." Kata Bella yang mulai sedikit terbuka dengan Nathan.
"Tidak ada orang tua yang membenci anaknya Bella."
"Hmm kau benar, tapi aku tidak ingin pulang dan membuat dia marah lagi seperti itu. Fobiaku masih saja ada Nath, jadi menurutku tidak ada gunanya jika aku pulang sekarang. Karena orang tuaku juga sebenarnya sangat ingin melihatku menikah dan mempunyai sebuah keluarga kecil seperti layaknya gadis seumuranku." Imbuh Bella menahan perasaan yang bergemuruh di hatinya, sebab dia merasa sesak jika mengingat sang ayah dengan wajah marah yang saat itu begitu tega mengusirnya.
"Maka dari itu, menikahlah denganku." Jawab Nathan tersenyum tipis serayap menatap ke arah Bella.
"Sudah ku bilang untuk tidak membahas hal itu." Tutur Bella yang langsung memasang wajah kesal menatap ke arah Nathan.
"Apa salahnya membahas saja, mungkin saja kau berubah fikiran. Bukankah itu malah menguntungkanmu karena memiliki suami tampan seperti diriku." Mengedipkan sebelah matanya.
"Aku tidak pernah merasa seperti itu Nath, sedikitpun tidak!" Jawab Bella memalingkan wajahnya." Jika kau sangat ingin menikah, menikahlah.." Imbuh Bella lirih.
"Denganmu??"
"Dengan wanita lain."
"Aku tidak mau jika bukan denganmu." Jawab Nathan kembali tanpa ekspresi.
"Aku lelah berbicara denganmu."
"Ya sudah tidur sini jika lelah." Nathan mengeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Bella lalu mengiring kepala Bella agar bersandar pada pundaknya.
"Bukan lelah seperti itu! " Runtuk Bella yang kembali berdebar dengan perlakuan dari Nathan saat ini, dia segera mengangkat kepalanya lalu mengeser tubuhnya agar menjauh dari Nathan.
"Lantas seperti apa sayang..? Hah.. Kau membuatku binggung dengan segala keinginanmu itu." Tutur Nathan yang semakin membuat wajah Bella memerah.
"Entahlah! Mari pulang!" Jawabnya berdiri.
"Hmm kita berkeliling tempat ini sebentar lalu kita pulang." Nathan ikut berdiri dan langsung meraih jemari Bella.
"Tangan mu kondisikan Nath!" Bisik Bella yang tidak ingin banyak orang mendengarnya.
"Aku sangat takut dengan wanita yang sejak tadi memperhatikanku, jadi pura-puralah menjadi istriku. Oke sayang. Setelah ini aku akan mentraktirmu." Tersenyum tipis dan tetap melihat ke arah depan.
"Bukannya itu alasanmu saja." Jawab Bella menatap Nathan dari samping, dia baru menyadari jika sejak tadi Nathan lebih banyak tersenyum dari pada biasanya. Wajah Bella semakin terasa hangat saat ini, rasanya Nathan semakin tampan dengan senyumannya itu. Bella memang merasa jika Nathan pria yang suka memaksa, namun Bella sangat menyukai hal itu. Sebab meskipun status Bella seorang janda yang sudah berulang kali gagal, namun satu kalipun dia tidak pernah merasakan apa ini sebuah ciuman, apalagi malam pertama. Semua mantan suaminya kabur sebelum bisa menyentuhnya, jadi sangatlah wajar jika Bella selalu merasa gugup yang berlebihan ketika dia sedang berada di situasi seperti ini.
"Hmm ya, jika tidak ku paksa begini, kau tidak akan pernah mau bukan?" Jawab Nathan tanpa melihat ke arah Bella.
Hmm kau memang benar Nath, bukannya aku suka di paksa. Namun aku terlalu takut memulai semuanya..
"Nath, emm aku ingin berkunjung ke warung kecil yang dulu." Kata Bella tiba-tiba.
"Oh warung yang dekat dengan Mall itu?"
"Hmm ya.."
"Apa kau tidak bernyanyi hari ini?"
"Emm tidak. Aku sedang tidak ingin melakukan itu. Tadi aku sudah telfon Ronald sebab tidak datang hari ini. Aku ingin tahu keadaan depot itu sekarang seperti apa." Pinta Bella.
"Hmm oke kita kesana, semoga saja belum tutup."
.
.
.
.
"Ini wanita yang Ibu ceritakan Pak." Tutur sang Ibu memperkenalkan.
Sang suami menatap ke arah Bella dari atas sampai bawah, bibirnya tersenyum saat melihat penampilan Bella bukan seperti seorang paranormal. Apalagi setelah melihat Nathan yang berpakaian formal membuat suami pemilik warung sangat yakin jika itu memang benar-benar rambut dan bukan sebuah jimat." Iya Bu, Non ini kelihatan cuma wanita biasa." Jawab sang Suami tersenyum.
"Aku Arabella Bapak, emm aku memang cuma wanita biasa." Sahut Bella menjelaskan." Bagaimana dagangannya Ibu, apa ada kendala lagi?" Imbuh Bella bertanya.
"Itu yang mau Ibu tanyakan Non, emm apa Rambut itu jimat atau sesuatu yang emm Non tahu kan yang Ibu maksud?"
"Sudah aku bilang jika itu hanya rambut, aku hanya mencoba membantu sebisanya Ibu sebab aku juga sering melihat kejadian seperti ini." Tutur Bella menjelaskan.
"Jadi uang yang di hasilkan aman kan Non." Sahut bapak memastikan.
"Jangan punya fikiran seperti itu Bapak, rambut itu hanya berfungsi sebagai pagar saja. Masalah warung ini sepi atau ramai, itu alami rezeki dari Bapak sama Ibu sendiri. Sebab aku merasa jika masakan Ibu memang sangatlah enak dan sedap, jadi wajar saja jika warung kalian ramai pembeli." Jawab Bella kembali menjelaskan.
"Syukurlah jika seperti itu Non, Ibu sama Bapak sudah mikir aneh-aneh soal ini sebab depot depan jadi sepi sejak Non datang waktu itu." Tutur Ibu warung menjelaskan.
Aku tidak menyangka jika Bella mempunyai jiwa yang sangat perduli kepada sesama. Saat pertama kenal dulu, ku fikir dia wanita yang tidak baik. Namun semakin kesini, aku semakin tahu jika di balik gosip menyeramkan soal dirinya ada kebaikan yang entah sebesar apa? Rasanya aku semakin kagum padanya, sekarang aku malah berfikir jika mantan suaminya terlalu bodoh telah meninggalkan wanita sebaik Bella hanya karena fobia tersebut.
"Hmm itu jadi urusan aku Ibu, apa masih ada makanannya? Aku merindukan ayam geprek Ibu yang sedap itu." Tersenyum ke arah Ibu warung.
"Sebenarnya Ibu sudah mau tutup Non, tapi masih ada kok. Ibu siapkan sebentar ya." Jawab Ibu tersebut yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Terima kasih Ibu." Tutur Bella setengah berteriak.
"Emm sebenernya Non punya ilmu apa, kok rambutnya bisa di jadikan pagar seperti itu?" Tanya sang suami ingin tahu.
"Tidak ada Pak. Emm aku murni hanya wanita biasa." Jawab Bella ramah.
"Tapi Kenapa seperti itu Non?"
"Emm entahlah Bapak, mungkin saja itu hanya anugerah dari Tuhan."
Anugerah atau apa? Aku juga tidak memahami dengan semua kekuatan yang ada di dalam tubuhku..
"Terima kasih atas bantuannya ya Non."
"Sama-sama Bapak." Jawab Bella lembut.
"Bapak tinggal beres-beres piring kotor ya."
"Oke Bapak silahkan." Tersenyum." Bagaimana keadaan di sini Nath?" Tanya Bella yang langsung mengalihkan pandangannya pada Nathan.
"Sejuk, tidak panas seperti kemarin." Jawab Nathan serayap memperhatikan sekitar." Kau mirip seperti paranormal Bell." Imbuh Nathan mengoda.
"Hmm mungkin juga, hanya saja aku tidak mau membuka tempat praktek. Aku hanya menolong orang yang ingin aku tolong saja." Jawab Bella tersenyum.
"Bagaimana dengan depot di depan, apa kau membiarkannya sepi seperti itu?"
"Setelah makan aku akan kesana, kau tunggu di sini saja sebab aku takut terjadi sesuatu denganmu." Pinta Bella sebab dia tahu jika Nathan hanya orang awam.
"Aku malah takut kau kenapa-kenapa."
"Tidak akan terjadi apapun Nath, kau lihat sendiri kan aku wanita seperti apa? Kenapa kau tidak memahaminya juga." Jawab Bella yang selalu kesal dengan sikap Nathan yang selalu tidak bisa di atur.
"Kau wanitaku Bella, sudah seharusnya aku mempunyai fikiran seperti itu meski kau sekuat apapun."
Ucapan Nathan saat ini langsung membuat hati Bella tersentuh. Bella selalu tidak bisa memahami, kenapa Nathan terlihat lebih dewasa darinya. Tanpa berkomentar, Bella langsung mengambil sehelai rambut dan mengikatnya pada jari tengah milik Nathan.
Aku mencintaimu Nath...-
Silahkan like ๐
Komentar ๐ฌ
Klik โฅ๏ธ
Vote juga please ๐
Terimakasih yang masih setia๐
Salam Arabella Maheswari ๐