Arabella Maheswari

Arabella Maheswari
Chapter 71



🌁Kediaman Veronica🌁


Vero tengah senyum-senyum sebab membayangkan wajah Bella besok yang menurut angan-angannya akan berubah jadi buruk.


Tok...tok...tok...


"Ahhh menganggu saja!! Ya masuk." Tuturnya kasar.


Seseorang wanita tua masuk dengan berjalan tertatih, wajahnya terlihat pucat dengan sebuah syal hitam melingkar di lehernya. Vero sendiri hanya melirik malas ke arah wanita tersebut meski terlihat jelas jika dia membutuhkan sebuah bantuan. Dia duduk di pinggiran tempat tidur Vero serayap menatap sendu ke arah Vero.


"Ada apa Bu! Cepet ngomong! Kenapa ngelihatin aku seperti itu!!" Runtuk Vero kesal.


"Emm itu Ver, uang yang Ibu kumpulin dari orang-orang kok nggak ada di lemari yah." Tanyanya lirih.


Sial! Kenapa secepat ini sih dia tahu! peritungan banget sama anak!


"Ibu nuduh aku!!" Jawab Vero dengan nada membentak.


"Ibu hanya bertanya Ver, mungkin saja kamu tahu."


"Aku nggak tahu! Sudah! Mending Ibu keluar! Aku mau tidur." Kata Vero mengusir.


Ya Tuhan lebih baik kau ambil saja nyawaku daripada seperti ini. Batin Ibu Vero serayap berjalan tertatih keluar kamar Vero. Vero sendiri langsung bangun dan menutup pintunya keras.


Braaakkkk!


Klik


Dia mengunci pintu kamarnya agar Ibunya tidak dapat masuk lagi, Vero kembali ke tempat tidurnya dan memasang earphone untuk mendengarkan lagu serayap tiduran. Vero terpejam dengan bibir yang tersungging membayangkan wajah tampan Bastian, meskipun tadi siang Bastian berkata demikian dia masih saja berharap jika Bastian suatu saat akan menjadi miliknya. Tanpa di sadari Vero, sebuah bola api menghantam wajahnya dan menimbulkan sensasi sedikit perih. Vero sempat membuka mata dan mengusap wajahnya serayap mengambil cermin yang terletak di laci samping tempat tidur.


"Aku pikir apaan." Bibirnya tersenyum memandangi wajah yang terlihat baik-baik saja. Dia meletakkan cermin kecil itu dan kembali memejamkan mata karena rasa kantuk yang mulai menyerang. Vero tidak sadar jika senjata yang di pakainya untuk menyerang Bella akan kembali kepadanya.


.


.


.


.


🚗Mobil Nathan🚗


Bella merasa binggung sebab Nathan tidak juga membelokkan mobilnya untuk mencari makan malam. Dia hanya berputar-putar tidak jelas dengan ekspresi tersenyum tipis.


"Apa yang sedang kau lakukan Nath? Kau jadi mencari makan atau tidak?" Tanya Bella mulai geram.


"Hmm entahlah, aku binggung mau makan apa. Kau punya ide sayang." Melihat ke arah Bella sejenak.


Ahh ya! Sayang! Setiap kali dia memanggilku begitu selalu saja wajahku terasa hangat.


"Kau kan yang mau makan! Kenapa bertanya padaku?" Jawab Bella ketus.


Nathan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya saat mendengar jawaban dari bibir Bella.


"Apa kau kesal hah!!" Imbuh Bella bertanya.


"Tidak, kenapa berfikir seperti itu?"


"Kau mengharapkan jawaban yang manis dariku kan? Itu terlihat dari ekspresi mu." Kata Bella yang sudah hafal dengan hal ini.


"Sok tahu. Kau tahu aku ingin apa saat kau menjawab pertanyaanku dengan ketus seperti itu?" Tanya Nathan balik.


"Apa?" Jawab Bella singkat.


"Aku ingin m#lum#t bibirmu itu, sayangnya kau bukan istriku jadi aku hanya menarik nafas panjang untuk meredam semuanya." Jawab Nathan tersenyum tipis ke arah wajah Bella yang semakin terlihat merah.


Hahahaha, lucu sekali. Tapi itu memang yang ku inginkan Bella.


" Dasar mesum!" Runtuk Bella memunggungi Nathan.


"Aku pria normal Bella, jadi jangan mengodaku seperti itu lagi jika tidak ingin hal itu terjadi sebelum pernikahan kita." Jawab Nathan santai.


"Hmm. Daripada kau berputar-putar tidak jelas seperti ini, antar aku ke mini market depan untuk membeli sesuatu."


"Kau mau membeli apa?"


"Sudahlah, tidak perlu banyak bertanya."


Nathan langsung membelokkan mobilnya ke mini market yang sudah tiga kali lebih di lewatinya. Keduanya pun turun dan masuk kedalamnya. Setibanya di dalam Bella mengambil sebuah keranjang belanja berwarna merah namun Nathan meraih keranjang tersebut dan membawakannya. Bella hanya menarik nafas panjang dengan perlakuan Nathan yang memang hobi memaksa.


"Seharusnya kau langsung meminta bantuan padaku sayang."


"Bantuan apa?" Tanya Bella berusaha mengendalikan perasaannya.


"Untuk membawa ini." Mengangkat keranjang berisi sabun dan keperluan lain.


"Itu sudah."


"Lain cerita jika kau yang meminta bantuanku meski kau wanita kuat sekalipun." Jawab Nathan menjelaskan." Sebanyak ini sabunnya?" Imbuh Nathan bertanya.


"Hmm aku sering mencuci jadi menghabiskan sabun cukup banyak."


"Sebentar." Nathan meraih jemari Bella untuk berhenti saat mereka berada di lapak mie instan.


"Kau mau membeli mie?" Tanya Bella.


"Hmm, buatkan aku di rumah untuk makan malam."


"Apa kau mempunyai bahan makanan di rumah?"


"Sudahlah jangan banyak berprotes!" Jawab Bella ketus membuat Nathan mendesah lembut.


Nathan langsung menghimpit tubuh Bella seolah ingin mencium Bella dan melakukan hal yang tadi di ucapkannya. Jantung Bella semakin memacu dengan cepat saat Nathan mulai mendekatkan wajahnya serayap menatapnya lekat.


Pria ini memang gila! Apa dia akan menciumku di tempat ini??


Dalam jarak beberapa Senti Nathan berhenti, dia tersenyum memandangi wajah cantik Bella yang tengah gugup dan tegang menatap ke arahnya.


Dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa jika sedang seperti ini, aku sungguh bahagia sebab mengetahui titik lemahnya. Awalnya aku membayangkan jika dia akan sering menghajar ku mengingat kekuatannya yang seperti itu.


"Nath.." Tutur Bella lirih.


"Hmm ya. Aku mencintaimu."


Cup...


Satu ciuman mendarat di pipi kanan milik Bella, Bella mematung serayap menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya tertunduk karena Bella tidak ingin melihat ke arah Nathan saat ini, dia takut jika jantungnya akan benar-benar meledak.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau beli lagi." Tanya Nathan senyum-senyum.


"Tidak." Jawab Bella dengan nada lembut.


Ahhh yah.. Itu suara aslimu Bella, aku tahu itu.


"Baik kita bayar sekarang dan segera pulang." Nathan kembali meraih jemari Bella menuju ke kasir mini market tersebut.


.


.


.


.


Setibanya di rumah, Bella menyuruh Nathan menunggunya di ruang televisi serayap melihat televisi agar dia bisa beristirahat sejenak. Sedangkan Bella menyiapkan hidangan untuk Nathan di dapur kecil miliknya. Hanya memakan waktu 15 menit, Bella sudah keluar dengan membawa sepiring nasi goreng dan air putih untuk Nathan.


"Silahkan makan." Bella meletakkan Piring di hadapan Nathan yang tersenyum ke arahnya.


"Baunya sedap sayang." Jawab Nathan segera menyendok nasi tersebut lalu meniupnya sebentar dan memasukkannya pada mulutnya." Sedap sekali, aku beruntung memiliki istri seperti dirimu." Imbuh Nathan mengoda.


"Ya asal kau senang saja." Jawab Bella yang tidak ingin membuat nathan melakukan perbuatan yang di lakukannya di mini market tadi. Itu merupakan ancaman terbesar Bella, kekuatannya melemah saat Nathan berbuat hal demikian kepadanya.


"Bagus seperti itu, kau harus berucap baik pada suamimu yang tampan ini." Jawabnya kembali menggoda.


Aku ingin mengusirnya saat ini juga.


"Cepat habiskan Nath, ini sudah malam. Apa kau tidak merasa lelah."


"Tidak." Jawab Nathan singkat membuat Bella mendengus kesal." Bagaimana mungkin aku merasa lelah berada di samping istriku yang cantik ini." Imbuhnya.


Bella meraih remote televisi sebab tidak ingin melontarkan pertanyaan apapun pada Nathan. Dia tahu jika jawabannya akan berisi gombalan yang semakin membuat jantungnya berpacu hebat. Nathan meletakkan piring kosongnya pada meja serayap menatapi wajah Bella yang menegang.


"Itu harapanku sayang." Kata Nathan lirih membuat Bella melihat ke arahnya." Aku harap masalah ini segera selesai agar aku bisa segera meminang mu. Aku sudah membicarakan ini dengan Ayah sayang, dan Ayahku setuju meski aku sudah menjelaskan semua masalah hidupmu padanya. Jika tidak setuju pun aku tidak perduli, aku Akan tetap menikahimu jika masalah Karin selesai. Emm baik, aku akan pulang." Nathan meraih jas dan memakainya.


Bella memandangi wajah Nathan yang awalnya dia pikir hanya seorang anak kecil yang belum dewasa. Dia tidak menyangka jika Nathan bertahan sejauh ini untuk menemaninya meski Bella sudah menyuruhnya pergi dengan bersikap kasar padanya.


"Emm tunggu semuanya selesai Nath." Jawab Bella lirih dan hal itu membuat Nathan langsung memutar bola matanya melihat ke arah Bella.


"Tentu sayang." Mengusap lembut puncak kepala Bella." Aku sangat tahu isi hatimu meski kau tidak pernah jujur dengan itu. Terimakasih makan malamnya, besok kita membeli bahan makanan, aku ingin kau memasakkan sesuatu lagi untukku. Apa kau mau?" Imbuh Nathan bertanya.


"Hmm baik." Jawab Bella tersenyum.


"Astaga, aku tidak ingin melakukan hal ini. Rasanya kakiku sangat berat meninggalkanmu seperti ini." Nathan berdiri diikuti oleh Bella.


"Sudah. Jangan berlebihan seperti itu."


"Cintaku memang sedikit berlebihan saat ini."


"Mari ku antarkan ke depan."


Setelah mengantarkan Nathan ke depan, Bella pun segera masuk ke dalam rumah. Dia meraih piring kosong serayap senyum-senyum karena hatinya berbunga-bunga malam ini. Bella menuju ke arah dapur dan mendapati kucingnya yang terlihat sudah mengecil perutnya.


"Heiii Pus, kau sudah...?"


Meoong


"Di mana anakmu." Bella langsung mengendong kucing tersebut serayap mengusap puncak kepalanya lembut.


Meoong


"Wah ayo kita ke sana untuk melihat anakmu."


Bella berjalan ke arah dapur dan membuka pintu dapurnya untuk melihat anak dari kucingnya. Dia tersenyum melihat empat ekor anak kucing yang masih bayi dan bahkan kelopak matanya pun masih tertutup.


"Astaga .. Anak-anak mu sangat lucu." Tutur Bella tersenyum." Emm.. Aku akan membuatkan mu tempat tidur untuk anak-anak mu ya Pus." Imbuh Bella.


Meong


"Hmm tunggu di sini." Bella menurunkan kucingnya lalu mengambil kardus, dia meletakkan selimut kecil pada dasar kardus tersebut agar anak kucingnya merasa hangat. Bella meletakan anak kucing satu persatu pada kardus tersebut lalu membawanya ke dalam rumah.


Kamu memang pantas menjadi ratu kami bella.-


TBC♥️