
Wajah Bella menegang saat melihat sepasang pasutri yang turun dari sebuah sepeda motor, sedangkan Nathan sendiri hanya bersikap biasa saja sebab dia tidak tahu dan mengenal orang yang saat ini sudah berjalan menuju ke arah mereka.
"Di mana Karin!" Kata salah satu dari mereka yang merupakan seorang Ibu-ibu.
"Saya tidak tahu di mana Karin berada Tan." Jawab Bella terbata.
"Alasan saja kamu! Kamu kan yang sudah mempengaruhi anak saya untuk merantau jauh seperti itu." Bella hanya sanggup diam dengan ucapan kasar yang di lontarkan oleh Mama Karin.
"Sudahlah Ma, bukannya kau berjanji untuk bertanya baik-baik." Sahut suaminya." Emm Nak Bella benar tidak tahu di mana keberadaan Karin sekarang." Imbuhnya bertanya.
Astaga Tuhan, aku harus berucap bagaimana? Jika aku jujur sudah pasti orang tua Karin menuduhku macam-macam.
"Saya benar-benar tidak tahu." Jawab Bella lirih.
"Tuh kan! Meski kau bertanya baik-baik jawabannya akan tetap sama!"
"Mungkin saja Nak Bella memang tidak tahu, jangan seperti itulah Ma." Jawab suaminya.
"Lantas harus seperti apa! Dia yang sudah buat anak kita tangannya hampir saja putus." Mama Karin masih menaruh dendam pada Bella dengan apa yang terjadi pada Karin bertahun-tahun silam.
"Astaga Ma, itu hanya masa lalu. Ya sudah ayo katanya mau minta antar ke pasar." Ayah Karin mencoba mencairkan suasana sebab dia tahu jika Bella bukan anak yang sejahat itu. Dia sadar bahwa kejadian dulu hanyalah sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja oleh Bella.
"Awas kamu yah! Kalau saya temukan bukti jika Karin menghilang gara-gara kamu! Saya akan penjarakan kamu. Yuk yah." Ibu-ibu tersebut langsung menarik kasar suaminya dan segera melanjutkan perjalanan dengan tatapan sinis yang tertuju pada Bella.
"Astaga aku sudah berbohong." Gumah Bella merasa bersalah mengatakan hal itu.
"Apa mereka orang tua Karin?"
"Hmm ya."
"Berbohong untuk kebaikan tidak masalah sayang daripada nantinya bisa memperkeruh keadaan." Jawab Nathan membenarkan ucapan Bella.
"Berbohong itu tidak ada baiknya Nath, aku akan berkata jujur suatu saat nanti namun aku harus menunggu waktu yang tepat untuk itu."
"Terserah padamu sayang, mari kita kembali nanti orang tuamu khawatir." Nathan kembali merangkul kedua bahu Bella.
"Kau pikir aku anak kecil."
"Sangat kecil jika dibandingkan dengan diriku." Bella mendesah lembut mendengar jawaban dari Nathan yang selalu tidak ingin di kalahkan.
"Maksudku umur Nath!"
"Umur tidak bisa di jadikan untuk ukuran kedewasaan sayang, bukannya aku sering berucap seperti itu."
"Hmm ya, tentu saja kau selalu benar." Nathan tersenyum tipis dan semakin mengeratkan rangkulannya.
"Terimakasih sudah menghormati ku sebagai kepala keluarga."
"Ouhhh.. Astaga terserah dirimu saja."
"Sudahlah jangan berdebat ini di jalan."
Bella tidak menjawab ucapan dari Nathan, dia masih memikirkan soal pertemuannya dengan orang tua Karin tadi. Dia sadar jika dia memang bersalah sebab telah melukai tangan Karin meskipun itu tidak di sengaja. Namun untuk saat ini dia terpaksa harus berbohong karena tidak ingin memperburuk cara Padang keluarga Karin padanya. Dan yang cukup membuatnya tenang adalah, Karin sudah merasa ikhlas menerima ini meskipun Mama Karin masih menaruh dendam pada Bella.
.
.
.
.
"Hei Pak! Kalau dagang itu yang jujur ya!"
"Maksudnya Non?" Jawabnya terbata.
"Kemarin saya mau makan nasi itu tapi jadi belatung semua! Dasar! Bapak pakai persugihan ya dagangnya?" Tanya Vero ketus.
"Astaga..Bukannya dia kuntilanak? Kenapa malah fitnah saya seperti itu." Gumah pedagang tersebut.
"Apa kamu bilang Pak? Saya kuntilanak? Wah! Ternyata Bapak ini memang nggak waras yah! Saya ini menginjak bumi Pak, bagaimana Bapak berfikir kalau saya kuntilanak?" Jawab Vero marah karena mendengar ucapan dari pemilik depot.
"Iya juga sih Non, tapi uang dari Non kemarin jadi daun dan saya jadi berfikir bahwa Non itu kuntilanak."
Vero sempat terkejut saat pemilik depot berucap seperti itu, sebab Vero mengait-ngaitkan gelagat dari Mbok Darmo yang memang terlihat aneh. Bahkan tertawa cekikikan dari Mbok Darmo sangat mirip seperti tertawa kuntilanak namun dia kembali mengingat Bastian yang biasa saja saat melihat Mbok Darmo. Dan hal tersebut membuat Vero kembali berfikir jika Mbok Darmo adalah manusia biasa dan menganggap bahwa si pemilik depot yang sedikit tidak waras.
"Jangan bicara omong kosong Pak! Mana ada daun? Saya kemarin benar-benar memberi uang kok." Jawab Vero ketus.
"Ya terserah sih Non, saran Bapak nih. Jika Non memang seorang manusia, em pindah saja dari sana Non. Rumah itu sudah terkenal angker, tapi kalau Non juga kuntilanak, yah tempat itu cocok buat Non." Tutur pemilik depot asal bicara.
"Dasar gila!" Dengus Vero kembali berjalan dan meninggalkan depot tersebut begitu saja. Pemilik depot hanya mengelengkan kepalanya serayap menatap ke arah Vero yang di rasa memang seorang manusia.
"Aneh sekali wanita itu, aku jadi ingin tahu suaminya. Kenapa membiarkan istrinya tinggal di tempat seperti itu, ahh sudahlah yang pasti aku sudah mengingatkan sebagai sesama manusia. Sisanya biar dia yang mikir sendiri, bentuk rumahnya saja sudah kelihatan angker. hii jadi merinding ngomongin rumah itu." Pemilik depot kembali melanjutkan aktivitasnya.
.
.
Vero memutuskan untuk makan di sebuah restoran sebelum memulai acara belanjanya. Dia memesan beberapa makanan yang sesuai dengan keinginannya. Beberapa saat kemudian, makanan pun sudah tersedia dimeja. Dengan angkuhnya, Vero memberikan tips 200 ribu untuk pelayan tersebut sehingga pelayan tersebut menerimanya dengan senang hati dan langsung memasukkan uang tersebut pada saku celananya.
Vero merasa sedikit aneh karena tiba-tiba perutnya mual saat melihat makanan di hadapannya, namun karena merasa lapar dia langsung saja menyantap makanan tersebut tapi kembali memuntahkannya sebab menurutnya rasa makanannya sangat tidak enak.
"Sial!" Umpatnya mengambil tisu dan membersihkan sisa makanan di mulutnya."Pelayan!" Imbuhnya berteriak.
"Iya Nona kenapa?" Tanya pelayan langsung menghampiri Vero.
"Makanan apa ini? Kenapa rasanya sangat aneh? Kau mau meracuniku!!"
"Aneh bagaimana Nona? Makanan ini sudah sesuai pesanan tadi." Jawabnya ketakutan.
"Makanlah jika tidak percaya! Dasar!" Vero meletakkan uang di atas meja dan pergi begitu saja dari tempat tersebut.
"Untung masih sepi, aneh apanya sih?" Pelayan tersebut mencicipi masakan tersebut namun rasanya sangat lezat." Enak, apanya yang aneh? Apa wanita tadi sedang hamil jadi terasa aneh? Astaga sudahlah, untung banget hari ini karena pagi-pagi sudah dapat tips besar." Pelayan tersebut merogoh sakunya namun terkejut saat melihat uang tadi berubah jadi daun, matanya melirik ke arah uang yang terletak di meja dan juga berubah menjadi daun." Ahh! Ke kenapa jadi daun?" Dia melihat ke arah Vero yang sudah menghilang dari restoran tersebut." Aduh! Jadi rugi deh! Kalau tidak di ganti uangnya bisa kena marah si Bos." Eluh nya serayap membereskan meja.-
Maaf part-nya agak pendek🙏
Suasana hatiku sedang tidak mendukung di sebabkan daya tahan tubuh yang mulai melemah akibat jarang makan nasi😁
Pengennya Bella langsung nikah tapi🙄takutnya ceritanya malah terlalu meloncat jauh😁jadi di buat pelan-pelan saja🙏sebab pernikahan butuh persiapan😁sabar ya😁Bella pasti nikah kok🤗tetep setia😘
Terimakasih atas dukungannya
Silahkan like 👍 komentar 💬 klik ♥️ Vote juga yah😘Share jangan lupa🤗
Salam sayang ♥️ Arabella Maheswari 😘