
Cahaya mentari pagi menerobos masuk dari jendela kamar Nana. Nana dan Daniel pun tersadar kalau sudah pagi. Mereka pun merubah posisi mereka yang tadinya dalam posisi berbaring, menjadi posisi duduk hampir bersamaan yang mana membuat mereka berdua sama-sama tersentak kaget.
"Pa-pagi Nana..cepat juga kamu bangunnya ahaha.." Ujar Daniel tertawa canggung seraya menggaruk tengkuknya yang gatal karena digigit nyamuk lalu meraba-raba lantai mencari kacamatanya dan memakainya.
"Hemm.." Jawab Nana singkat seraya turun dari kasurnya.
"Kak Daniel..Aku akan mandi dan bersiap-siap untuk mencari Nayya dan Naiel.." Ujar Nana yang hendak membuka kenop pintu kamarnya yang membuat mata Daniel melebar, dan Daniel pun langsung bangkit berdiri dan menghampiri Nana, memegang pundaknya, menatap Nana dengan ekspresi tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"M-mencari Nayya dan Naiel?!?! Bukankah kita sudah melaporkan tentang ini kepada pihak yang berwajib?! Jadi untuk apa kamu bersusah payah mencari mereka!! Biarkan saja para polisi melaksanakan tugas me-"
"AKU!! TIDAK BISA HANYA BERDIAM DIRI KETIKA TAHU KALAU ADIK-ADIKKU DICULIK!! DAN AKU JUGA TAHU PELAKU DIBALIK PENCULIKAN KEDUA ADIKKU!! JADI KUMOHON KAK DANIEL JANGAN MENGHALANGIKU!!" Seru Nana memotong perkataan Daniel. Daniel yang mendengarnya tersentak lalu melepas tangannya dari pundak Nana.
"Kau ini tak kusangka keras kepala ya. Hah..baiklah kalau itu maumu aku tidak akan menghalangimu tapi..ijinkan aku ikut denganmu.." Ujar Daniel seraya mengelus kepala Nana dengan lemah lembut.
"Baiklah, Aku mengijinkan Kak Daniel ikut..sekarang kita bersiap-siap dahulu." Ujar Nana membuka kenop pintu kamar dan keluar berjalan menuju kamar mandi.
Daniel pun menghela napas lalu mengacak-ngacak rambutnya, menekan kacamatanya yang melorot dari hidungnya dan berjalan mendekati jendela, menatap langit yang mendung dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
''Aku harus..mengawasi gadis datar ini kalau-kalau dia melakukan hal-hal ceroboh..'' Pikir Daniel dalam hati mengkhawatirkan Nana.
Nana kembali ke kamarnya dengan handuk dikepalanya yang dia usapkan ke rambut basahnya, menatap Daniel yang sedang melamun menatap langit mendung, menghela napas, Nana menghampiri Daniel yang tidak menyadari keberadaanya lalu Nana menepuk bahu lelaki berkacamata itu, yang mana membuatnya terkejut sontak menoleh.
"Hufft...kamu ini Nana, mengagetkan aja.." Ujar Daniel mengelus dadanya yang bidang untuk menenangkan irama jantungnya.
"Mandi.." Kata Nana seraya melempar handuk yang tadinya dia pakai untuk mengeringkan rambutnya yang ditangkap Daniel dengan mudahnya.
Daniel pun menganggukan kepalanya dan berjalan pergi meninggalkan Nana yang kini menatap langit mendung seperti yang dilakukan Daniel tadi bedanya raut wajahnya datar namun matanya dipenuhi kesedihan dan rasa bersalah yang teramat dalam.
Nana tiba-tiba teringat sesuatu, dia lupa memberitahukan kepada kedua orang tuanya kalau kedua adiknya diculik. Nana merasa bimbang karena dia takut kalau orang tuanya kecewa kepadanya, yang tidak bisa menjaga kedua adiknya, dan takut kalau orang tuanya khawatir dan merasa sangat cemas juga gelisah, memikirkan adik-adiknya dan Nana tidak menginginkan itu.
Namun akhirnya karena tidak ada pilihan lain, dan menyembunyikannya juga terasa salah bagi Nana, maka dia memberanikan diri untuk menelpon orang tuanya.
Ketika Nana menelpon orang tuanya, anehnya teleponnya tidak diangkat oleh keduanya. Nana pun heran karena orang tuanya tidak pernah tidak mengangkat telepon darinya, mereka pasti langsung mengangkat telepon darinya dengan segera. Berulang kali Nana menelpon orang tuanya, Ayahnya, Ibunya, mereka berdua sama-sama tidak mengangkat telepon Nana dan itu membuat firasat Nana menjadi tidak enak.
"Kau sedang menelepon siapa, Nana?" Tanya Daniel yang membuat Nana tersentak lalu menoleh menatap lelaki yang sedang bertelanjang dada dengan handuk dipundaknya.
"Ibu..dan Ayah..tapi mereka tidak mengangkatnya.." Jelas Nana lirih.
"Kak Daniel.." Ujar Nana memanggil lelaki berkacamata itu.
"Bisakah Kakak memakai baju?" Pinta Nana yang sebenarnya sedaritadi risih melihat lelaki berkacamata itu yang bertelanjang dada memperlihatkan otot kotak-kotaknya yang menonjol.
Setelah mereka sarapan dan membereskan kekacauan yang ada di rumah Nana. Mereka pun keluar dari rumah Nana dan menuju suatu tempat, Nana tidak memberitahukan mereka akan kemana dan Daniel pun lama-kelamaan makin penasaran.
"Nana..kita sebenarnya mau kemana?" Tanya Daniel yang sedari tadi penasaran.
"Kalau kita sudah sampai baru akan kuberitahu.." Jawab Nana seraya melengos pergi dan diekori oleh Daniel.
Tak berapa lama mereka berjalan, akhirnya mereka tiba di depan gerbang sebuah rumah mewah yang sangat besar dan itu membuat Daniel tersentak kaget. Daniel merasa heran dan bingung.
''Mengapa Nana membawaku ke rumah ini? Apakah Nana ingin bertemu dengan pemilik rumah ini? Apa jangan-jangan si penculik adalah pemilik rumah ini?!?!?' Ujar Daniel dalam hati bertanya-tanya.
"Hufft..rumah ini rumah rentenir..dan aku memang ingin bertemu dengannya..
Kalau tentang dia penculik kedua adikku atau tidak..aku juga tidak tau makanya aku datang kesini untuk menanyakannya.." Ujar Nana yang seakan-akan membaca dan menjawab isi hati Daniel. Daniel terlonjak kaget dan menatap Nana dengan bingung.
''Dia..bisa membaca pikiranku?!?!'' Jerit Daniel dalam hati.
"Tidak, aku tidak bisa membaca pikiran orang aku hanya menerka saja.." Kata Nana lagi yang membuat Daniel makin bergidik.
''Kalau begitu yang tadi apa?!?! Dasar muka datar!!'' Ujar Daniel dalam hati dengan geram.
"Sudah kubilang itu cuman terkaan..dan lagi sepertinya Kakak tadi ngehina aku ya?" Tanya Nana seraya menatap lekat-lekat wajah Daniel.
"Siapa yang sedang ribut di depan rumah saya?" Tiba-tiba terdengar suara seseorang bertanya namun tidak ada terlihat seorang pun selain Daniel dan Nana.
"Eh? Suara siapa itu?" Tanya Daniel seraya celingak-celinguk kesana kemari.
"Madam Rose..Saya Nana Naire datang ke sini untuk berjumpa dengan ada.." Ujar Nana dengan santai karena mengetahui siapa pemilik dari suara misterius ini.
"Oh~ Nana ya? Silahkan masuk.." Katanya dan tiba-tiba saja gerbang terbuka dengan sendirinya yang membuat mereka berdua tersentak, secara bersamaan lalu dengan ragu melangkah masuk ke halaman rumah mewah tersebut.
Ketika mereka sampai di depan pintu, belum lagi mereka menekan bel sekali lagi pintu terbuka dengan sendirinya, dan dibalik pintu terlihat seorang wanita paruh baya yang cantik yang memiki warna rambut merah menyala dan bergaun mewah yang berwarna sama dengan banyak perhiasan yang ada dibadannya.
"Ada apa gerangan kau datang kemari Nana~? Untuk membayar hutang? Oh~ Dan siapa anak tampan berkacamata ini? Pacarmu?" Tanyanya dengan senyum ramah.
"Aku kemari ingin menanyakan sesuatu kepada anda Madam. Maaf aku belum bisa membayar hutang..dan Kak Daniel bukan pacarku.." Jawab Nana seperti biasa dengan muka datarnya.
[CONTINUE?]