
Genta menatap kearah kertas itu, ada nama Akmal dan Sandra yang tertulis dengan tulisan warna hitam pekat. Genta hampir meremasnya, sama seperti hatinya yang kini seperti diremas remas.
"Papa tahu kamu akan kecewa mendengar ini, tapi maafkan papa Gen" ujar Akmal ketika melihat wajah Genta.
"Papa hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah papa perbuat" kata Akmal.
Genta berdiri, kepalanya terasa pusing, meski begitu dengan kekuatannya Genta berusaha untuk berdiri tegak. Lelaki itu menatap Akmal.
"Tanggung jawab?" Genta mengulangi kalimat Akmal yang terasa lucu untuk dirinya "Terus gimana sama Benua, papa lupa kalau dia juga anak papa?"
Akmal menelan ludahnya. Lelaki itu mencoba menarik nafas, sebelum ikut berdiri dan menatap Genta.
"Papa juga bertanggung jawab, 3% saham papa sudah papa alihkan atas nama Benua untuk menafkahi anak itu"
"Tapi papa gak menikahi Tante Lisma" Genta menekan kalimat itu hingga kedua giginya berbenturan.
"Itu kemauan Lisma" Akmal menarik nafas "Dia terlalu mencintai Hartadinata, jadi apa yang bisa papa perbuat? Lagipula itu hanya kehilafan kami berdua"
Sialan, kata kata khilaf yang selalu dijadikan Akmal sebagai alasan benar benar membuat Genta ingin meninju lelaki ini. Genta memejamkan mata, otot otot kepalanya begitu menegang, kepalanya terasa begitu pusing.
"Genta, papa harap kamu bisa menghadiri acara pernikahan papa" Akmal memegang bahu Genta namun ditepis oleh anak itu.
"LEPAS" ujar Genta.
Dengan kekuatannya, Genta membuang kertas undangan itu, lalu dia berjalan meski sempoyongan, baru beberapa langkah, Genta berhenti, kepalanya berdenyut nyeri, tatapannya mulai kabur kembali. Nafas Genta terasa sesak, dadanya berdegup kencang.
"Genta kamu gak papa?" Akmal mendekati putranya.
Nafas Genta memburu, ah Genta merasakan pening yang teramat sangat saat ini.
"Genta" Akmal meraih bahu putranya.
"Kamu kenapa? Papa akan panggil dokter, kamu istirahat dulu disini"
Kekeras kepalaan seorang Genta Edenata lah yang membuat Genta menepiskan rengkuhan di bahunya. Genta masih berkeras bahwa dirinya tidak apa apa sedangkan tatapan lelaki itu sudah berputar putar saat ini.
"Genta mau pulang" katanya.
"Papa anter"
"gak perlu" Genta menatap kearah Akmal dengan tajam.
Akmal menarik nafas, terkadang menghadapi sikap keras kepala seorang Genta memang sangatlah sulit, melihat saat ini wajahnya pucat namun Genta tetap berusaha membohonginya.
"Genta, kamu lihat kondisi kamu, mana mungkin kamu baik baik aja" suara Akmal meninggi.
"Papa anter kamu pulang, cuman itu"
Nafas Genta masih memburu, dadanya terasa nyeri, dan Genta memutuskan menyerah untuk bersikap keras kepala, dia akhirnya mau diantarkan Akmal.
🏡🏡🏡
Hal tak kalah menyakitkan lagi bagi dirinya ketika Genta memasuki pelataran rumah dan melihat seorang laki laki keluar dari rumahnya, disusul Rani, keduanya seperti sudah akrab.
Genta buru buru melepaskan seatbelatnya, dengan kasar Genta mendorong pintu mobil Akmal.
"Genta" Rani tampak terkejut melihat kedatangan putranya.
Tidak, yang membuat Rani terkejut sebanarnya kedatangan Genta bersama Akmal. Hal yang paling ditakutkan untuk dirinya kembali lagi menghantui.
"Kenapa kamu bisa sama papa kamu?" Tanya Rani.
"Dia siapa?" Tanya Genta dengan tatapan menghunus kearah pria yang berdiri tak jauh dari Rani.
"Dia klien Mama, lusa putrinya menikah jadi dia mengantarkan kain khusus"
Hah? Klien, jika memang dia klien mengapa harus bertemu selarut ini dan dirumah berdua saat dirinya tidak ada.
Akmal mendekati mereka berdua, berjalan lebih dekat sambil membawa kertas undangan yang ada ditangannya.
"Bu Rani saya permisi dulu" pamit pria itu kearah Rani.
Tak lama mobil yang dikendarainya sudah melenggang meninggalkan Genta, Akmal dan Rani yang saling bertatap dengan begitu tajam.
Akmal menyodorkan undangan yang dia bawa kearah Rani.
"Aku kesini cuman nganterin Genta karena dia gak enak badan sekalian nganterin ini" kata Akmal menyodorkan undangan.
Rani menatap undangan yang membuat hatinya hancur berkeping keping. melihat nama yang tertera di atasnya kembali menghancurkan hati Rani. Perempuan itu tidak menerimanya justru sedang menatap Akmal yang tanpa rasa bersalah kembali datang ke hadapannya.
"Masuk Genta" Rani menarik tangan Genta secara paksa.
Tentu, hal itu menyinggung Akmal, lelaki itu mengikuti Rani dari belakang sambil berusaha meraih tangan Rani yang menggandeng tangan putranya.
"Rani tolong jangan bersikap seperti ini" kata Akmal.
Rani melepaskan genggaman Genta, perempuan itu menatap wajah mantan suaminya yang kini tanpa rasa malu masih menampakan diri dihadapan dirinya.
"Ini bukan urusan kamu, ini urusan keluarga saya" tekan Rani.
"Ran__"
Rani menatap wajah Genta yang pias, melihat wajah kedua laki laki dihadapannya saja sudah menjelaskan kalau Genta benar benar anak Akmal.
"Masuk Genta" Rani lebih dulu berjalan masuk kedalam rumah.
Susul Genta dengan langkah gontai dan lemas, ketakutan akan Rani menikah lagi kembali muncul. Akmal hanya bisa menatap mantan istri dan anaknya masuk kedalam rumah mereka dulu. Tatapan Akmal tiba tiba memanas, entah kenapa melihat dia tidak bisa ikut serta masuk kedalam kembali menyakitinya.
🏡🏡🏡
Didalam rumah, Genta melihat Rani berpegangan dengan ujung meja makan. Genta menatap wajah marah ibunya.
Rani melihat kedatangan putranya dan langsung berjalan mendekati Genta. Diraihnya tangan lelaki yang tingginya sudah melebihi dirinya.
"Genta, Mama pernah bilang kan sama kamu kalau Mama gak suka kamu deket sama papamu" kata Rani "apa kamu lupa gimana perlakuan dia ke kita?"
Dia? Kata kata itu seperti lebih pantas ditunjukan untuk orang asing, Akmal bukan orang asing bagi Genta, dia adalah ayahnya.
"Lelaki itu siapa?"
Genggaman tangan Rani terlepas, dengan lemas Rani menghembuskan nafasnya.
"Mama udah jelasin kalau dia klien"
Genta tertawa terbahak bahak secara tiba tiba membuat Rani mengernyitkan dahi.
"Klien? Ada klien bertamu semalam ini? "
"Maksud kamu apa? Kamu mau nuduh Mama yang gak jelas?"
"Mama mau nikah lagi?" Tanya Genta yang justru tidak menjawab pertanyaan dari mamanya.
"Genta mama___"
"Genta tanya mama mau nikah lagi?"
Rani menarik nafas dengan berat, setiap tarikan selalu sesesak ini, apalagi melihat wajah marah putranya. Kenapa Rani tidak mengenali Genta sekarang, kemana anaknya yang penurut dulu?.
"Mama gak suka kamu ketemu sama papamu" Rani mengalihkan tubuhnya "Kamu tahu kan papamu itu yang udah memutuskan pergi dari kita"
Genta menatap tidak percaya kearah Rani, setelah pertanyaannya diabaikan tadi kini Rani seolah membangun bentengan antara dirinya dan Akmal. Genta tidak habis fikir kenapa Rani seposesif ini.
"Papa itu masih papanya Genta" kata Genta dengan suara parau.
Rani menoleh menatap putranya, dia tidak habis fikir kenapa Genta masih menganggap Akmal sebagai ayahnya setelah perlakuan yang dia lakukan ke mereka.
"Mama tahu, tapi Mama sama papa udah cerai" teriak Rani "Mama gak suka kamu nemuin papamu"
"Selama nama Genta masih ada Pinaringan-nya, itu artinya Genta ini masih anak papa"
"Jangan keras kepala kamu, kamu sendiri yang sudah memutuskan ikut sama Mama, jadi apapun alasannya kamu harus ikuti keputusan Mama" kata Rani mengakhiri debat mereka.
Genta dengan lemas menatap kearah Rani yang seperti sudah tegas memutuskan hubungan mereka. Dengan nafas sesak Genta mencoba untuk bernafas. Rani berjalan kearah kamarnya, ditutup kamar itu dengan hentakan yang begitu keras.
Apakah Rani juga berniat mengendalikan hidup Genta saat ini? Apa tidak cukup Rani menghancurkan nya?
🏡🏡🏡
Genta terduduk di belakang pintu kamar, dia menatap sekeliling. Kenapa Rani memutuskan hubungannya dengan Akmal, sesalah apapun seorang ayah, bukankah darah lebih kental mengalir dibandingkan kesalahan?
Ponsel Genta bergetar, banyak sekali panggilan dari Gadis, beberapa pesan WhatsApp yang secara pelan mulai dibaca oleh Genta.
Gadis : Genta. Kamu dimana?
Gadis : Ta, aku butuh kamu :(
Gadis : Genta :( :(
Gadis : aku butuh kamu ta, temenin aku hari ini
Gadis : Genta aku pengen dipeluk kamu
Genta melempar ponsel itu dengan keras hingga membentur ujung ranjang. Cukup keras hingga layar utamanya retak. Genta muak, dia tidak bisa harus membagi fokus nya. Gadis terlalu banyak menuntut menurut Genta.
Tidak lama, ponsel yang ada di kaki ranjang bergetar, ada nama Gadis sebagai si pemanggil disana. Perlahan Genta mulai bangkit, dia mendekati ponselnya, menekan tombol angkat pada layar yang baru saja retak.
"Genta, kamu dimana?" Suara Gadis di ujung sebrang terdengar serak.
"Kenapa?"
"Aku butuh kamu Ta, kamu bisa temui ak___"
"Dis, maaf ya, aku habis berantem sama Mama. Besok aja aku jemput kamu" Genta mematikan panggilan itu.
🏡🏡🏡
Pagi hari nya, Genta berangkat tanpa menyantap sarapan, bahkan ketika Rani sedang membeli sayuran, Genta sudah berangkat lebih dulu. Lelaki itu memacu motornya kerumah Gadis, setelah semalam dia mengacuhkan Gadis, perasaannya jadi tidak menentu, Genta merasa bersalah sendiri.
Didepan gerbang rumah Gadis, Genta membunyikan klakson, namun gerbang itu terkunci rapat, tumben sekali?.
"Diss Gadisss" panggil Genta setelah mematikan mesin motor.
Tidak ada sahutan dari dalam, ini masih setengah tujuh, terlalu pagi jika Gadis berangkat lebih dulu.
"Mbak Seblak, jualan Seblak, beli gak?" teriak Genta sekali lagi.
Namun semuanya percuma, Genta meraih ponsel, hendak mengirimi Gadis pesan namun nama "Fuckboy" memanggil nya. Genta menekan tombol angkat, dan mendekatkan benda Pipih ketelinganya.
"Ta, Lo dimana?" Tanya Irvan langsung menyambar jatah sapaan.
"Rumah Gadis"
"Sini kerumah Eles dulu, Lo gak lupakan kalo hari ini Eles berangkat ke Kalimantan?"
Genta terdiam lalu menepuk jidatnya, astaga, padahal baru kemarin Irvan mengingatkan jam keberangkatan Eles.
"Gue otw sekarang"
Genta membunyikan mesin motor dan memutar arah motornya, lelaki itu kembali lagi ke komplek rumahnya.
Perjalan Genta hanya diisi dengan keresahan, entahlah kenapa hari ini dia merasa resah yang sangat hebat. Apa karena Eles akan pergi?
🏡🏡🏡
Ketika berada dirumah Eles, ternyata sudah banyak orang disana, banyak orang orang yang sedang menaikan barang. Genta menghentikan motornya didepan pagar rumah Eles, lalu turun dan mendekati Irvan.
"Jam berapa sih Lo kerumah Gadis, perasaan gue gak liat lo lewat sini?" Tanya Irvan begitu tahu Genta sudah berada disebelahnya.
Tatapan Genta dan Gara bertemu, tapi keduanya langsung mengalihkan dengan cepat, baik Gara dan Genta sama sama tidak mau dan tidak ingin untuk bertegur sapa.
"Jam enam"
"Busyet" Irvan geleng geleng "Mau ngapain pak berangkat kerumah Gadis sepagi itu? Mau mantap mantap?"
Genta hanya menghadiahi lirikan tajam kearah Irvan, membuat yang dilirik diam membisu. Antar yang baru datang ikut bergabung disebelah Irvan, ada keringat yang menetes perlahan di pelipis Antar namun tidak ada yang memperdulikan hal itu.
Eles yang baru keluar dari rumahnya, berjalan mendekati keempat sahabatnya. Ditatap satu persatu sahabat Eles.
"Pasti kangen" cengir Eles tidak bisa menutupi kesedihannya.
"Hati hati men" Irvan menepuk bahu Eles.
"Bang Eles, hati hati ya, semoga di sekolahan baru , bang Eles bisa jadi ketua OSIS" celetuk Antar yang ditertawai Irvan dan Gara.
"Sialan Lo" maki Eles sambil menjitak kepala Antar.
"Sering sering kabarin kita di grup" kata Genta menatap kearah Eles.
Eles mengangguk sambil menatap kearah Gara, lelaki itu masih saja membisu, tidak mengeluarkan jokes andalannya yang biasa membuat anggota Kera band selalu tertawa.
"Lo, gak ada yang mau lo sampean ke gue?" Tanya Eles.
Gara Mendongak, perlahan menatap kedua mata Eles. Mata bulat hitam milik Gara berair namun lelaki itu memindahkan pandangan secepatnya agar tidak meneteskan air mata.
"Ra, thanks ya udah jadi temen gue yang paling baik" Eles menepuk bahu Gara "susah seneng elo selalu ada buat gue"
Gara membasahi bibirnya dan memberanikan diri menatap wajah Eles. Dibandingkan dengan yang lainnya, Gara dan Eles lah yang paling dekat. Gara tersenyum dan menepuk bahu Eles dengan kencang.
"Gue boleh minta satu hal gak sama kalian?" pinta Eles menatap satu persatu sahabatnya.
"Apa nyet?" Tanya Irvan dengan senyuman manis.
"Gue mau, Kera band tetap ada, jangan pernah bilang kalo Kera band udah bubar, gue mau Kera band tetep ada. Kayak pertama kali kita buat, kayak mimpi mimpi kita" Eles menatap kearah Genta yang sedang menatap sepasang sepatunya juga menatap kearah Gara yang kini menatap kearah mobil pickup.
"Gak masalah Kera band gak latihan. Asal dia tetep ada, disini" Eles menunjuk kearah dadanya.
"Gue usaha in" ujar irvan mengiyakan.
"Iya bang, pasti itu" Antar ikut mengiyakan dengan mantap.
"Ra, Ta?" Panggil Irvan kearah mereka berdua yang setia membisu.
"Mau kan?" Tanya Eles sekali lagi.
Genta mengangguk dengan lemah diikuti Gara yang juga mengangguk. Ada senyum puas dari Eles dan Irvan, setidaknya Gara dan Genta tidak akan berniat menghapus Kera band.
"Oh ya, satu lagi nih" Eles nyengir.
"Banyak amat lo permintaannya" akhirnya jiwa julid milik Gara keluar, dia tidak tahan sahabatnya ini menyampaikan salam perpisahan yang terlalu berbelit-belit.
"Jangan lupa Van bayar utang gue dikantin pak Tab, Lo juga Ra jangan lupa bayar utang gue di Elis" ujarnya.
"De ayoo" panggilan dari Rivaldo membuat Eles melangkah menuju mobil.
Tidak lama, mobil yang dikendarai Eles bergerak menjauh, hanya tatapan kehilangan yang mengantarkan kepergian Eles.
Kenangan lah yang akan ada diantara mereka, bagaimana susah payah mereka membangun Kera band.
Satu persatu sudah bergerak untuk pergi terutama Gara yang sudah membawa mobilnya untuk pergi tanpa sepatah kata, sedangkan Irvan , Genta dan Antar masih setia berdiri dihalaman rumah Eles.
"Bang Genta gak kerumah sakit?" Tanya Antar ketika Genta hendak berjalan kearah motor.
"Ngapain gue kesana?" Tanya Genta sambil mengernyitkan dahi.
"Lah gimana sih?" Antar garuk garuk kepala "Kan dari kemarin ayahnya kak Gadis dirawat di rumah sakit"