Why Me?

Why Me?
Why Me? 44



Genta dan yang lainnya hendak beranjak menuju kendaraan masing masing, tapi panggilan seseorang dari belakang membuat langkah mereka terhenti semua.


"Genta" panggilan itu berasa dari arah belakang.


Genta menoleh nya dan mendapati Akmal sedang berdiri dengan setelan jas yang rapi, lelaki itu mendekati putranya.


"Papa mau bicara sama kamu" katanya.


Genta menatap kearah Irvan, meminta persetujuan dari tatapan itu.


"Lo pergi aja, nanti nyusul kita" kata Irvan yang mengajak Antar untuk pergi lebih dulu.


Genta hanya bisa menarik nafas, melihat Akmal yang menemuinya di sekolah, Genta yakin lelaki ini akan membahas mengenai keluarganya.


"Papa duluan aja nanti Genta nyusul" katanya.


🏡🏡🏡


Mereka duduk berhadapan di cafe yang tidak terlalu jauh dari sekolah, setelah tadi Genta mengikuti mobil Akmal dengan motornya kini mereka sedang duduk di meja yang sama.


"Gimana sekolahmu?" Tanya Akmal basa basi.


"Langsung aja, Genta ada perlu sehabis ini" potong Genta cepat.


"Kamu pasti udah tahu tentang perceraian papa sama Mama" kata Akmal menatap mata putranya yang bahkan menatapnya dengan begitu tajam.


"Maaf, papa gak bisa mempertahankan rumah tangga ini, kamu tahu kan, Mama mu begitu keras kepala, apapun yang dia mau harus papa turutin, papa gak nemuin kenyamanan seperti di awal pernikahan kami Ta" Akmal menjabarkan semuanya, seolah Rani lah yang menjadi pihak paling bersalah disini.


Genta muak sendiri hanya mendengar itu, lelaki itu menatap kearah Akmal.


"Pa, orang yang selingkuh apapun alasan nya dia tetep salah, gak ada hak buat benerin kesalahan itu" pungkas Genta begitu tajam.


Akmal menarik sudut bibir dengan kecewa, yah sejak memutuskan menemui Genta disekolah Akmal sudah yakin lelaki ini akan menohok dengan kata kata pedasnya.


"Tapi asal kamu tahu, papa sayang sama kamu"


Genta membuang pandangan, sayang? Jika Akmal benar menyayangi Genta mengapa lelaki itu berselingkuh sampai memiliki anak?.


"Genta, kamu ikut Papa ya. Papa janji akan nurutin semu kemauan kamu, alat band, liburan bahkan kamu minta mobil pun papa kasih" bujuk Akmal.


Genta justru menggeser kursi dan berdiri, lelaki itu sudah menggendongkan tas di bahu kirinya. Genta menatap arah Akmal.


"Genta buru buru" Genta sudah melangkah namun dia menoleh "Boleh pinjam kunci mobil?"


Akmal menatap kearah putranya, ragu ragu dia menyodorkan kunci mobil yang saat ini sudah berpindah tangan. Genta berjalan cepat dan membuka mobil Akmal, lalu menarik secara paksa hingga kabel kamera yang dipasang Genta terputus.


"Genta, apa itu?" Tanya Akmal dari arah belakang.


Genta sudah berdiri dihadapan Akmal, lelaki itu menyerahkan kunci mobil. Genta mengangkat barang yang dia pegang.


"Ini?" Genta tersenyum miring "Saksi bisu perselingkuhan papa didalam mobil" tukasnya lalu berjalan kearah motor.


🏡🏡🏡


Di lorong rumah sakit, Eles , Antar dan Irvan sedang duduk di kursi tunggu operasi, Rivaldo dan yang lainnya tidak ada. Genta dengan cepat mengambil langkah lebar untuk segera menemui Eles.


"Gimana keadaan bokap elo?" Tanya Genta ketika mata mereka saling menatap.


Ada seulas senyum bahagia yang terpancar disana, Eles sedang tidak pura pura. Wajahnya begitu semangat lebih dari tadi pagi, atau kemarin malam.


"Operasi bokap gue berlangsung lancar" kata Eles.


Huh, Genta bisa menghela nafas dengan lega, dia ikut duduk disebelah Eles, lelaki itu tampak lebih memiliki semangat baru.


"Gimana keadaan Benua?" Tanya Irvan ditengah keheningan.


"Dia belum ngabarin?" Tanya Genta.


Antar hanya menatap diantara mereka lalu seulas senyum bangga hadir dibenaknya, Antar merasa bangga bisa berada diantara mereka, biasa merasakan kekompakan yang baru pertama ini dia temui.


"Lo kenapa dah cengengesan, gila?" Tanya Eles menatap arah Antar.


Lelaki itu dengan tegas menggeleng, meski begitu senyum di wajahnya tetap mengembang.


"Gue bangga aja bang bisa duduk diantara kalian" akunya.


"Apaan sih elo, gila beneran kali elo" Genta geleng geleng sendiri.


"Beneran bang kalian kompak banget, liat deh muka kalian sama cemasnya" Antar tidak henti hentinya memuji kekompakan Kera band.


"Lo kan udah jadi bagian kita, jadi Lo juga kudu kompak" Tutur Irvan memijat tekut Antar dengan lembut.


Antar mengangguk yakin, dia akan tetap ada disini, bersama mereka. Genta yang membagi fokusnya jadi merasa pusing, tatapannya mulai kabur. Sialan, mungkin ini efek beberapa hari Genta kuat terjaga dimalam hari.


"Coba Van Lo telfon Gara, tanyain keadaan Benua gimana?" Titah Genta sambil memijat dahi antara kedua alisnya.


Pijatan itu sengaja dia tekan untuk menetralisirkan rasa sakit. Genta merasa darahnya menurun, kepalanya terasa dingin saat ini.


"Gak aktif" kata Irvan.


"Apa keadaan Benua mengkhawatirkan?" Tanya Antar.


Eles tersenyum menatap teman temannya, lelaki itu mengusap wajah dengan lembut.


"Coba kalian kerumah Gara, kasihan dia kalo Benua kenapa napa" kata Eles.


Irvan dan Genta saling pandang untuk memutuskan apakah dia akan pergi kerumah Gara dan meninggalkan Eles, atau dia tetep disini menunggu Gara datang. Irvan mengerutkan dahi saat Genta mengangkat alis, melalui isyarat itu Antar hanya bisa merasa pusing sendiri karena dia tidak paham dengan bahasa isyarat yang dilakukan Genta dan Irvan.


"Bang kalian ngapain sih?" karena tidak tahan Antar mulai protes "Ngomong aja, jangan pakek gini gini" Antar mempraktekkan dengan menaikan alisnya mengikuti Genta.


Mendengar itu Eles dan yang lainnya kompak tertawa, dasar anak kecil memang hal seperti ini saja dia tidak paham.


"Kita memang suka pakek bahasa kayak gini ketimbang ngomong" jelas Genta.


"Oh" Antar mengangguk paham.


"Kita ke rumah Gara dulu ya Les, nanti kita kesini lagi" ujar Genta berpamitan.


"Gak usah, kalian langsung balik aja, bokap gue udah gak papa. Lagian ada bang Aldo" Eles tersenyum.


🏡🏡🏡


"Garaaaa" teriak Irvan dari luar gerbang.


Sejak setengah jam yang lalu, Genta Irvan dan Antar sudah pergi dari rumah sakit dan berada di depan gerbang rumah Gara. Namun semua pintu terkunci.


Genta menekan bel pintu yang ada didekat gerbang, berkali kali dipencetnya namun tetap tidak ada jawaban ataupun seseorang yang membukakan pintu.


"Apa Benua dibawa kerumah sakit?" Tanya Irvan.


Genta menggeleng lemah sambil memandang rumah Gara. Dia membalikan badan untuk menyapu pandangan ke jalanan, udara malam hari begitu menyegarkan, bintang bintang juga berpijar dengan cerah.


"Gara gak biasanya kayak gini" keluh Irvan ikut bersandar di gerbang.


"Bang Gara Gara kenapa ya?" Antar ikut bersandar, biar kompak.


🏡🏡🏡


Karena menunggu sejam lebih dirumah Gara, Genta dan yang lainnya memutuskan untuk kembali kerumah masing masing, apalagi selama sejam itu tidak ada tanda tanda Gara kembali kerumahnya.


Genta membuka pintu, pertama kali yang ditemuinya adalah Akmal dan Rani yang tengah bertengkar.


"Aku gak mau tahu, setengah aset perusahaan harus atas nama aku" kata Rani dengan sorot mata tajam.


"Perusahaan itu aku yang ngebangun, kamu gak punya hak apa apa atas itu semua"


"Asal kamu tahu, sebagian aset perusahaan itu kamu dapetin dari keluarga aku" tunjuk Rani kearah wajah Akmal.


"Kamu jangan serakah. Kamu minta rumah ini, kamu bawa Genta, dan kamu masih minta perusahaan aku" Akmal geleng geleng.


"Itu konsekuensi dari perselingkuhan kamu"


"Jangan jadikan kesalahanku sebagai keuntungan buat kamu Rani" Akmal mencekal tangan Rani saat perempuan itu hendak beranjak "Aku udah ngalah selama ini, apa itu masih kurang?"


Rani menepis cekalan itu, dia menatap dengan tatapan benci penuh luka kearah Akmal. Melihat lelaki itu masih bernafas saja sudah mengiris hatinya.


"Aku mau Genta ikut aku" kata Akmal yang langsung membuat Rani melemparkan gelas yang dia pegang tadi.


Genta hanya bisa memandangi kearah itu. Memandang dengan penuh luka yang tidak bisa dia jabarkan lagi. Kata kata apapun tidak bisa mewakili itu semua.


"JANGAN PERNAH BERMIMPI!!!" Tegas Rani.


"Aku yang bisa membuat Genta hidup bahagia" kata Akmal penuh percaya diri.


"Kamu pikir Genta mau tinggal serumah dengan wanita ****** itu, manggil Mama sama wanita yang udah ngehancurin keluarga dia, KAMU PIKIR DIA MAU" bentak Rani


"Aku akan lebih memahami Genta, selama ini kamu selalu nuntut Genta jadi apa yang kamu mau"


"Aku yang lebih paham apa yang terbaik buat Genta" kata Rani tidak mau kalah.


"Selama ini di mataku, kamu Mama yang buruk untuk Genta, aku gak mau ninggalin anakku sama wanita gak becus kayak kamu" tunjuk Akmal kearah Rani.


Wanita tidak becus, kata kata itu begitu menampar hati Rani. Apa selama ini Rani kurang becus merawat Akmal dan Genta, menemani lelaki itu merintis usaha hingga sebesar ini. Rani sampai berpegangan dengan ujung meja. Dia takut akan jatuh ambruk dan terlihat lemah didepan orang yang meninggalkannya, tidak, Rani harus baik baik saja.


"Aku gak akan biarin Genta menjadi penerus mu, menjadi lelaki yang tidak pernah setia" Rani membalikan badan sehingga membelakangi Akmal.


Perempuan itu meneteskan air mata dibalik itu. Rani tidak terlalu kuat untuk menahan rasa sakit ini sendirian.


Genta berjalan kearah mereka tapi dia tidak berhenti, Genta terus berjalan menaiki tangga tanpa memperdulikan Akmal maupun Rani.


"Genta" panggil Akmal, lelaki itu mendekati Genta.


"Bereskan barang barangmu, kamu ikut Papa, tinggal di apartemen papa" kata Akmal.


Genta masih diam saja, dia begitu sesak merasakan situasi seperti ini. Genta terlalu berat merasakannya.


"Gak Genta, kamu masuk ke kamar, kamu akan tetap tinggal disini sama Mama" kata Rani.


"Genta mau istirahat. Genta capek" lelaki itu memilih meneruskan langkahnya tanpa menghiraukan perdebatan Akmal ataupun Rani lagi.


Namun Akmal tidak berhenti disitu, lelaki itu lebih dulu menerobos kamar Genta. Akmal mengambil koper Genta dan memasukan semua pakaian Genta disana.


"Papa ngapain?" Tanya Genta mulai tidak percaya dengan apa yang di lakukan Akmal.


"Kamu akan tinggal sama papa, jangan tinggal sama Mama kamu" jawabnya tetap memunguti pakaian Genta.


"Apa yang kamu lakukan?!!" Rani menarik tangan Akmal namun ditepisnya, hingga Rani limbung dan jatuh kelantai.


Melihat itu Genta begitu frustasi dengan tingkah gila papanya, Genta berjalan dan menarik tangan Akmal dengan kuat. Lelaki itu akhirnya berdiri dan menghentikan kegiatannya.


"Keluar dari sini" usir Genta dengan suara halus.


"Gak, sebelum kamu ikut Papa" tolak Akmal tak kalah tegas.


"KELUAR DARI SINI!!!!" kini suara Genta begitu Menaik, kesabarannya telah hilang.


"Keluar dari sini sebelum aku mukul papa" katanya dengan sorot mata penuh kekejaman.


Genta bisa melakukannya untuk melindungi diri Genta sendiri, apakah beban yang di berikan Akmal dan Rani selama ini belum cukup. Dengan Akmal bertindak segila tadi, membuat Genta semakin ditekan stres.


Suara isakan tangis Rani seperti tusukan jarum dihatinya, seperti belati yang menancap di dada.


"Genta gak pengen ikut siapa siapa" kata Genta.