Why Me?

Why Me?
Why Me? 78



Rejeki pernikahan itu selalu ada, buktinya setelah Genta melamar Gadis, banyak jadwal manggung yang berhasil di dapatkan oleh Kera band, dan kini menuju pernikahannya, Genta di sponsori oleh beberapa brand terkenal.


Bahkan pernikahannya di siarkan di tiga stasiun televisi. Ini berkat perjalanan Genta dan Gadis yang tidak mudah.


Genta melalui banyak hal dalam hidupnya, melalui rasa sakit yang tidak akan pernah di rasakan orang lain. Genta melakukannya dan merasakan itu semua sendiri, patut kalau dia kini berbahagia.


"Ta" Akmal menepuk bahu Genta yang gagah.


"Tanggung jawab suami tidak hanya memberi makan istri" Akmal membenarkan dasi dan jas Genta "Tapi memberi kehidupan yang layak untuk istri dan anakmu" nasihat Akmal.


"Kesuksesan suami itu dilihat dari istri mereka, kalau istrimu justru semakin terlihat menderita setelah menikah berarti kamu tidak bisa membahagiakan dia, dan begitu sebaliknya" Akmal menatap putranya dengan penuh bangga.


"Pa"


"Maaf, papa gak bisa kasih perlindungan rumah yang nyaman dimasa muda kamu" kata Akmal penuh penyesalan "Papa hanya bisa menjadi contoh yang buruk untuk kamu"


Genta tersenyum, menatap Akmal yang juga menatapnya. Dibelakang Akmal berdiri Richard yang tengah menggendong Amanda, Richard juga tersenyum bangga meski lelaki itu tidak ikut serta membesarkan Genta.


"Ta, Gadis nangis di ruangannya" kata Eles mendekati Genta.


"Kenapa?"


"Gue rasa dia keinget sama bokap nya"


Genta segera pergi, setelah pamit Dengan Akmal lelaki itu berjalan dengan cepat menuju ruangan Gadis.


Dengan tergesa-gesa Genta pergi menuju ruangan Gadis.


Saat membuka pintu, Gadis yang ditemani Windi sedang menangis sesegukan di sofa, gaun yang dia kenakan masih tetap terlihat menawan meski sang pemiliknya tengah bersedih.


"Hey" Genta duduk jongkok dihadapan Gadis, lalu memberi kode pada Windi untuk meninggalkan mereka.


Semua orang yang berada di ruangan ikut pergi, memberikan waktu berdua untuk Genta dan Gadis.


"Aku kangen papa" aku Gadis dengan air mata yang bercucuran.


"Aku juga" Genta menyeka air mata yang menetes.


"Seharusnya di pernikahan ku, papa sama ibu ada disini, kasih aku kata kata sebelum aku menikah"


Genta lantas memeluk Gadis, memeluk perempuan itu dan mengijinkan perempuan nya menangis dalam dekapan Genta. Tidak ada yang salah merasa bersedih diacara bahagia yang akan di gelar, Gadis telah kehilangan kedua orangtuanya sebelum dia mengenalkan seseorang yang akan menemani hidupnya.


Genta mengusap lengan Gadis, mengusap secara perlahan.


"Mama papa yang akan gantiin papa dan ibu mu" ucap Genta mengecup puncak kepala Gadis.


"Genta, Gadis" diambang pintu Rani berdiri dan mendekati mereka berdua.


Pelukan Genta dan Gadis terlepas, Rani yang datang dengan Amanda lantas menangkup wajah calon menantunya.


"Kenapa? " Tanya Rani.


"Aku kangen papa sama ibu, ma"


Rani lantas memeluk Gadis, memeluknya dengan pelukan hangat seperti yang dia lakukan ke anak anaknya.


"Mama janji, Mama akan gantiin Mama kamu. Dan papa Richard juga"


"Nah, enak kan Dis nikah sama aku, kamu jadi punya dua papa"


Mendengar penuturan Genta yang spontan tadi, Gadis jadi tertawa cekikikan, apalagi Rani, justru perempuan itu meninju perut Genta.


"Ayo sekarang kita benerin dandanan kamu" ajak Rani yang langsung memanggil penata rias.


šŸ”šŸ”šŸ”


Setelah acara yang mendebarkan, kini Genta dan Gadis bisa bernafas lega karena pada akhirnya mereka sudah resmi menikah.


Genta dan Gadis sedang berdiri, menyambut para tamu yang menyalami mereka.


Disebelah kanan, berdiri Rani dan Richard, serta di sebelah kiri Akmal dan Ghina. Awalnya Akmal berdiri sendirian namun Ghina yang kasihan melihat kakaknya itu, akhirnya menemani Akmal.


Pernikahan yang ditayangkan di televisi itu begitu megah, dihadiri sejumlah artis papan atas yang mengucapkan selama kepada mereka. Ada beberapa investor perusahaan Akmal, beberapa dokter dokter dan sejumlah perancang busana serta model.


"Selamat ya Ta" kata Gara yang datang bersama dengan kekasihnya.


"Kenalin calon gue" Gara memperkenalkan perempuan berambut panjang dengan senyum tipis.


"Cepet dapet momongan Ta" dibelakang, Irvan datang bersama Pelangi.


"Lah berdua kalian?" Tanya Genta kaget saat Irvan datang bersama Pelangi.


"Gue paksa" Irvan nyengir membuat Pelangi memukul lengannya begitu keras.


"Kak Gadis cepet dapet momongan" Antar datang dengan calon istrinya.


Dan Eles hanya datang sendirian, tentu saja hal itu menjadi bahan bully-an karena saat ini Eles justru tengah menggandeng Benua.


"Astagfirullah masih jomblo aja" komentar Gara sambil menatap sekilas kearah Benua yang juga menatapnya.


"Adek gue elo adopsi Les?" Tanyanya.


"Gue mah jomblo Alhamdulillah Allahuakbar Subhanallah, emangnya elo pada belum nikah udah awewe" kata Eles yang membuat Irvan memukul belakang kepalanya.


"Eh tukang zina kesindir" kemudian Eles tertawa cekikikan yang di ikuti teman temannya.


"Kamu liat oom yang brengosan itu gak?" Tanya Gara ke Benua.


Awalnya Benua menoleh kanan dan kiri lalu menemukan Akmal yang tidak jauh sedang berbincang bersama salah satu tamu.


"Itu" tunjuk Benua.


"Iya itu, kamu samperin dia terus tendang kakinya"


"Heh setan Lo ngajarin adek gak bener" Eles yang mendengar bisikan Gara lantas memukul pelan kepala Gara.


"Gak setimpal sama perbuatan dia" kata Gara.


"Tapi nanti kalo oom itu marah gimana?" Tanya Benua dengan polos.


"Enggak, tenang aja, oom itu gak akan marah sama kamu" Gara menyakinkan Benua.


Dengan polosnya bocah SD itu berjalan kearah Akmal, lalu menendang dengan begitu keras tulang kering Akmal. Tentu saja lelaki berkepala lima itu kaget, dia hampir saja memarahi Benua andai tidak ingat jika Benua adalah darah dagingnya sendiri.


"Maaf Om adek saya kalo liat orang brengsek emang suka gitu" kata Gara yang mengekori Benua.


Lelaki itu lantas menarik tubuh Benua dan menggendongnya.


"Benua salam FQ ke oom" titah Gara ke Benua.


Benua tersenyum kearah Akmal yang juga dibalas lelaki itu. Melihat Benua setampan ini diam diam Akmal merasa senang kalau putranya dibesarkan dengan baik oleh Lisma.


Benua tersenyum lalu mengangkat tangan dan mengulurkan jari tengah.


"**** you" tidak lupa kalimat itu dibumbuhi dengan wajah Benua yang begitu lucu.


Akmal terkejut, terlebih melihat Gara yang justru tertawa puas. Gara membawa Benua kearah teman temannya yang tengah menatap kearah mereka.


"Si Gara ngajarin adeknya jadi bar baran gitu " komentar Irvan tidak percaya melihat apa yang diajarkan Gara pada Benua barusan.


"Bang Gara, Lo suka cari gara-gara" kata Antar "Kalo Om Akmal marah gimana coba?"


"Gak mungkin tu orang berani marah sama anak Hartadinata" kelakar Gara "Bisa dituntut perusahaannya"


Genta hanya takjup melihat tingkah Gara yang tidak setengah-setengah untuk balas dendam pada Akmal. Bahkan Genta merasa takut sendiri kalau kalau lelaki itu nekat mempermalukan papanya di pernikahannya sendiri.


"Ra, tapi Lo masih waras kan?" Tanya Genta was was.


"Waras lah, Lo kira?"


"Enggak, gue ngecek aja" kata Genta akhirnya pasrah dan menatap kearah Gadis sambil menghela nafas lemah.


"Foto dulu skuy" ajak Eles "Tapi personil Kera band aja" cengirnya.


"Eh badak, bilang aja elo malu keliatan jomblo" Gara tidak terima, sudah lelah lelah dia menjemput pacarnya dan dibawa ke pernikahan Genta, justru Eles meminta foto tanpa kekasih.


"Sekali aja, habis itu baru kalian foto sama pasangan" kata Eles.


Diarahkan photograper profesional, Kera band berdiri dan berfoto bersama pengantin. setelah menjalani foto foto alay yang hampir membuat photograper kelelahan, kini Kera band menyalami dan mengucapkan selamat ke Genta.


"Selamat ya Ta" kata Irvan.


"Selamat Gadis" kata Gara.


"Selamat kalian" Eles ikut menyalami.


Dibelakang, Antar tersenyum kearah mereka berdua.


"Gue kira, yang nikah gue duluan bang" katanya.


"Jangan lupa nyusul ya" kata Genta kearah teman temannya.


"Siappppp" dengan kompak kata kata itu dijawab dengan suara yang begitu lantang.


Setelah Kera band turun, Genta menggenggam tangan Gadis, menatap dengan penuh terimakasih kearah perempuan bermata indah itu.


Terimakasih Gadis, karena sudah mau menemani Genta, sudah menguatkan lelaki yang pernah berada dititik terendah dalam hidupnya.


Tuhan benar soal menemukan dan ditemukan, soal dibahagikan dan membahagiakan.


Dulu Genta pernah kehilangan rumah, pernah kehilangan keluarga yang pernah membuatnya bahagia. Tapi kini, dengan keberaniannya Genta membangun rumah yang pernah dia impikan, rumah yang tidak ada kata berpisah selain ajal. Rumah yang sempat dia harapkan.


Gadis, orang orang akan iri padamu, karena memiliki laki laki yang pernah memiliki luka, laki laki yang pernah jatuh dan tetap berusaha dewasa, laki laki yang mengajakmu ke "Surga".


HAPPY WEDDING


GENTA EDENATA PINARINGANĀ 


Dan


GADIS AYUNDA


Semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawardah dan Warohmah.


ASIH SUYADI


-tamat-