
Tatapan Gadis belum berpindah ke arah Genta, tahu kalau perempuan itu segera meledakkan bom, Genta langsung memepetkan kursinya.
"Bener Ta, kamu tahu dimana Windi?"Tanya Gadis.
Genta menarik nafas "Aku gak tahu lah, kamu tanya sama Gara yang mantannya"
Kini Gara yang menyadari Gadis akan melepaskan bom segera memindahkan arah fokus dari ponsel ke arah Gadis. Lelaki itu nyengir.
"Sorry Dis gue becanda tadi" cengirnya yang membuat helaan nafas Genta.
Gadis memutar matanya lalu memukul Gara dengan pouch yang dia bawa tadi.
"Ihhhh Gara ngeselin, jantung gue mau copot ****" makinya membuat Genta tertawa melihat kebrutalan Gadis saat menghajar Gara.
š”š”š”
Genta dan yang lainnya keluar dari kelas dan menyusuri koridor setelah jam 3 sore. Antar masih belum terlihat mungkin adik kelasnya itu sibuk dengan kegiatan organisasi.
"Tar kita latihan ya" ajak Irvan
"Tapi tar gue kudu nganterin nyokap belanja dulu" jawab Eles yang meminta kelonggaran waktu.
"Jan lama lama, tar kita gak jadi latihan" seloroh Gara memperingati.
"Iya iya, crewet banget Lo" Eles memiting kepala Gara dengan begitu kuat.
Mereka berjalan menyusuri koridor, sewaktu melewati kelas Gadis, Genta berhenti dan berdiri diambang pintu.
"Dis pulang yuk" ajaknya setelah mendapati kelas Gadis sepi.
"Aku ada rapat OSIS bentar, mau ngasih bimbingan ke anak OSIS yang baru" ujar Gadis mendekati Genta.
"Lama gak?"
"Bentar doang" Gadis berjalan berlawanan arah "Tungguin ya" lalu perempuan itu melambaikan tangan kearahnya.
Genta hanya tersenyum melihat itu kemudian bergegas menyusul temannya. Ternyata Irvan, Gara dan Eles tidak terlalu jauh, Genta masih bisa mengimbangi langkah ketiganya.
Diparkiran, langkah Genta terhenti saat melihat Rani berada di depan sekolahannya, Rani tampak menunggu didepan pos satpam.
"Itu nyokap elo Ta?" Tunjuk Irvan kearah Rani.
"Lo dijemput? Perasaan elo bawa motor" kata Gara heran sendiri.
Perasan Genta tidak enak, ada yang tidak beres hingga membuat Rani menemuinya disekolahan, biasanya Rani tidak pernah kesini, hampir tidak pernah sama sekali.
"Gue nyamperin nyokap dulu" katanya menepuk bahu Irvan yang ada disebelah Genta
Lelaki itu penuh kemantapan dan sedikit keraguan berjalan mendekati Rani, awalnya Genta melihat senyum mengembang Rani, namun begitu dekat senyum itu dirasakan Genta adalah senyum kepedihan.
"Genta ikut mama yuk" ajak Rani secara tiba tiba.
Genta memicingkan mata, kenapa? Maksudnya Rani bisa meminta Genta menemuinya tanpa harus menjemput seperti ini.
"Genta kan bawa motor sendiri" jawabnya setengah ragu.
"Sebentar aja, motor kamu biar dibawa temen temenmu" Rani tersenyum.
Ada yang aneh dari sorot mata Rani, sorot mata itu seolah menjelaskan kerapuhan dirinya.
"Tapi Genta bareng sama Gadis ma" Genta masih berusaha menolaknya.
"Genta" nada Rani berubah menghalus dan itu membuat Genta tidak enak menolaknya.
"Genta nitipin motor ke Eles dulu" katanya berjalan kearah parkiran dimana Irvan, Gara dan Eles masih disana menunggunya.
Langkah Genta melemah, kenapa Rani menemuinya disekolahan? Ada apa sebenarnya? Kenapa mata perempuan itu sembab? Genta tahu jika tadi Akmal dan Rani sempat adu cekcok tapi...
"LesĀ tolong bawa motor gue" Genta melempar kunci motor kearah Eles yang langsung ditangkapnya.
"Lah mau kemana elo?" Tanya Eles.
"Gue mau pergi bentar sama nyokap" tatapan Genta begitu kosong, dia tidak sedang memandang kearah Eles melainkan memikirkan alasan dari kedatangan Rani yang tiba tiba.
"Bilangin Gadis gue balik duluan, tolong anterin dia ya" suara Genta begitu melemah.
"Gu_gue gak tahu" Genta menatap Irvan "Gue duluan" katanya sudah berbalik badan dan kembali ke Rani.
Ketiga teman Genta itu hanya bisa memandangi Genta yang baru saja masuk kedalam mobil Rani.
š”š”š”
Rani tidak membawanya pulang kerumah, atau membawa Genta ke butik miliknya, Rani membawa Genta kerumah Ghina, adik iparnya.
Sewaktu mereka sudah sampai disana, Genta ragu ragu melepaskan seatbelt dan ikut turun. Rani tersenyum kearah Genta.
"Ayo masuk, Mama mau bicara didalam" katanya.
Kenapa Rani harus sejauh ini hanya untuk berbicara dengannya, Genta menelan ludah, saat ini ada perasaan aneh dan desiran menyakitkan dihatinya, penuh ragu Genta berjalan dan mengikuti Rani.
Rumah Ghina saat ini dalam keadaan kosong, Ghina mungkin masih bekerja sedangkan Nada, entahlah dia dimana.
Rani berhenti ketika berada diruang tamu Ghina, perempuan itu menoleh dan sudah berlinang air mata.
"Mama akan cerai sama papa kamu"
Deg
Jantung Genta berhenti, nafasnya terasa sesak, kerongkongan Genta terasa di tusuk pecahan kaca, sayatan itulah yang membuat dia merasakan sakit.
"Mama gak mampu mempertahankannya Ta" Rani sesegukan "Mama bener bener gak kuat kalau harus memaafkan papamu yang sudah berkali kali selingkuh dari mama"
Berkali kali? Ah kepala Genta benar benar pusing mendengarnya.
"Mama udah gugat cerai papa kamu, cepat atau lambat kamu dan mama akan di panggil kepengadilan" kata Rani menyeka air mata yang membanjiri pipinya, Rani memegang kedua tangan Genta.
"Ta, bilang sama Mama kalau kamu akan ikut mama, bilang sama Mama nak"
Genta tidak mengerti, Genta kesulitan menangkapnya, tatapan Genta kosong, kepalanya terasa pusing, nafasnya sesak. Dada Genta benar benar sakit saat tahu kenyataan ini.
"Kemarin Mama baik baik aja sama papa" kata Genta dengan nada rendah.
"Kemarin Mama masih bisa memaafkan papamu, tapi sekarang Mama udah gak sanggup Ta"
Genta menarik nafas, benar benar terasa sesak, matanya sudah memerah, Genta menahan agar tidak menjatuhkan air matanya namun gagal, air mata itu benar benar lolos dari matanya. Akhirnya Genta menangis.
Ditengah tengah itu Rani mengeluarkan selembar kertas, dia menyodorkan kearah Genta.
"Kamu tanda tanganin surat ini, kamu akan ikut mama dan kita bahagia berdua"
Genta tidak bisa memilih saat ini, Genta hanya ingin pergi karena semuanya begitu menghantam Genta. Lelaki itu mundur selangkah, saat Rani maju Genta mundur dan berkahir melarikan diri.
Genta begitu takut menerima kenyataan ini, hingga dia memilih pergi membawa mobil Rani, entah tujuan nya Kemana, tapi yang jelas tangan Genta membawa stir mobil kerumahnya, meskipun didalam mobil Genta tidak bisa berfikir waras dan berharap. Genta bisa berfikir sejenak berusaha menerima keadaan yang terjadi secara mendadak untuknya.
Genta keluar dari mobil tapi ketika dia berdiri, Akmal berjalan mendekatinya.
"Genta papa mau___" Genta mundur, Genta tidak mau berbicara dengan siapapun.
Saat ElesĀ yang berboncengan dengan Gadis baru tiba bersama mobil sedan milik Irvan. Genta mundur dan mendekat kerah motor, Gadis turun, Eles pun ikutĀ turun, Baru saja Eles melepaskan helmnya, Genta langsung menyambar.
"Ta si Gadi__"
Genta sudah pergi seorang diri dengan motor yang melaju dengan kecepatan tinggi, lelaki itu hilang kendali, beberapa kali tatapannya kabur oleh air mata yang menggenang, beberapa kali Genta kehilangan keseimbangan saat membawa motor, beberapa kali fikirannya meminta Genta mengakhiri semua.
"Ta Lo kenapa?" teriakan dari arah samping tidak lagi bisa menghentikannya.
Irvan yang mengendarai mobil berusaha mengejar Genta, tapi lelaki itu terlalu cepat untuk menyalip kendaraan.
Di perempatan jalan, Genta menerobos lampu merah hingga sebuah mobil menghantam motornya, Genta oleng hingga motor itu terjatuh ke aspal dan Genta ikut menggelinding terjatuh.
Ketika gesekan itu berhenti, kepala Genta menabrak pembatas jalan.
"Gentaaaa" ada suara pekikan yang dapat Genta dengar sama samar.
Sedetik nya, Gadis sudah ada dipandangan mata Genta meski dengan tatapan kabur, Gadis menggoyang goyangkan tubuh Genta.
"Ta, bangun Ta" Gara ikut memanggil.
Selanjutnya kegelapan yang Genta temui.