
"Pelangi" jawab Irvan sambil menatap mata Genta dengan lemas.
Ya, dunia Irvan, senang senangnya kemarin membuahkan hasil yang tidak dia inginkan. Irvan benar benar kacau, dia bingung harus bagaimana sedangkan saat ini dia tidak menyukai Pelangi sama sekali.
"Gue udah pernah bilang kan ke elo, jangan terlalu main cewek, kalo kayak gini gimana coba?" Genta mengusap rambutnya dengan kacau "Lo masih SMA"
Irvan tetap diam, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gue gak tahu Ta, semuanya terjadi gitu aja, gue lupa pakek pengaman" sesal Irvan.
"Lo yakin Pelangi hamil anak elo?"
Tidak. Genta sedang tidak merendahkan siapapun. Genta tahu, meski Irvan kerap gonta ganti pasangan, lelaki itu selalu memacari perempuan perempuan yang sudah rusak. Yang terkenal dengan kenakalannya.
"Gue yakin" Irvan menatap mata Genta dengan berkaca kaca, lelaki se-badboy Irvan bahkan kini hampir meneteskan air matanya "Waktu dia main sama gue. Dia bener bener masih polos, dia masih perawan Ta"
Genta tidak percaya, sungguh. Irvan orang yang sangat hati hati soal begini.
"Terus sekarang gimana?"
Irvan menggeleng, lalu senyum rapuh terbit dari bibirnya.
"Gue gak tahu, Pelangi gak mau gugurin kandungannya, dia minta gue tanggung jawab"
Genta membisu, Irvan mendekati Genta dan menepuk bahu lelaki itu.
"Maaf ya, gue udah marah marah, gue cuman butuh elo disaat kayak gini Ta"
Genta menarik nafas sedalam dalamnya, menatap Irvan yang begitu pucat. Selama ini Irvan selalu merasa sepi, dan dia melampiaskan dengan mencari teman sehingga kerap kali membawa pulang teman perempuannya. Irvan benci tidur atau berada di rumah sendiri, itu sebabnya Irvan selalu senang berkumpul dibandingkan pulang kerumah dan menemui keheningan.
"Gue cabut Ta, gue ada janji sama Ampar ampar pisang" Irvan berjalan dengan lemas keluar dari ruangan OSIS.
Begitu dia membuka pintu, Gadis sudah berdiri disana, menatap Irvan dengan datar.
"Duluan Dis" Irvan tidak banyak basa basi, tidak seramah dulu.
Ada cemburu yang menyelimuti hati Irvan lantaran Genta lebih banyak menghabiskan waktu bersama Gadis dibandingkan dengan dirinya. Genta menoleh kearah pintu dan menatap Gadis sedang berdiri menunggunya.
Perlahan Genta berjalan mendekati Gadis nya, lalu menggandeng tangan Gadis tanpa persetujuan.
🏡🏡🏡
Selama perjalanan, Gadis tidak memeluk seposesif biasa. Terkesan lamah dan tidak bertenaga. Genta tidak mempertanyakan lebih banyak, dia masih memikirkan mengenai Irvan yang membawa berita buruk. Sampai didepan rumah Gadis, perempuan itu lantas melompat pelan dari atas motor dan berdiri di sebelah Genta. Menatap wajah Genta lebih teliti, tanpa senyum dan datar.
"Kenapa sih?" Genta melepaskan helmnya, namun dia tidak berniat turun.
"Ada yang mau aku omongin" kata Gadis dengan lirih.
Dia mendekati Genta, lalu menatap wajah Genta dengan begitu intens, mata hitam pekat milik Genta selalu lemah jika ditatap oleh mata indah Gadis.
"Aku mau kita putus"
Kalimat dari Gadis barusan berhasil membuat wajah Genta mendatar, berhasil membuat hati Genta kembali bergumpal.
"Kenapa?" Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari bibir Genta.
"Aku udah bosen" kata Gadis masih datar.
Genta mantap wajah Gadis, mencari kesungguhan dari tatapan itu. Amat sangat lama, lama sekali sampai Genta tidak menemukan raut bercanda sama sekali.
"Aku gak suka kamu kayak gini Dis, kita baik baik aja Lo tadi, kenapa sekarang kayak gini?" Genta akhirnya turun dan berdiri didepan Gadis.
"Bener kata Irvan, selama ini kamu fokus ke aku" kata Gadis mengalihkan tatapan ke sembarang arah.
Genta mengenggam bahu Gadis, mencengkramnya sedikit kuat agar perempuan itu bisa menatap matanya.
"Lihat aku" pinta Genta.
"LIHAT AKU GADIS" Genta mengeraskan kalimatnya bahkan mengguncang bahu Gadis.
Akhirnya kedua bola mata mereka saling beradu dengan arti yang berbeda, Genta menatap Gadis sebagai perempuan yang paling dia cintai tapi Gadis, menatap Genta penuh luka.
"Kamu minta putus karena kata kata Irvan di ruang OSIS tadi?" Tanya Genta dengan nada lembut.
"Bukan cuma itu, aku bosen sama kamu Ta" kata Gadis menatap dengan serius kearah mata Genta.
"Bosen gak jadi alasan buat kita berakhir Dis, selama hubungan ini bisa diperbaiki kenapa kita harus putus?"
Mata hitam Gadis sedikit demi sedikit berair namun Dengan cekatan Gadis mengalihkan tatapannya ke sebelah kiri, dan menepiskan cengkraman di bahunya.
"Kamu terlalu egois buat aku" kata Gadis kembali menatap mata Genta setelah berhasil mengusir air matanya "Dulu, pas papa sakit kamu sama sekali gak nemenin aku, bahkan kamu gak ada disebelah aku disaat aku butuh kamu"
"Dis, waktu itu orang tua aku___"
"Kenapa? Apa perceraian Mama papa kamu jadi alasan lagi sekarang?" Gadis memotong kalimat Genta dengan cepat "Kamu selalu kayak gitu, selalu berfikir kalau orang yang punya masalah itu cuman kamu aja"
Genta mengusap wajahnya dengan kasar "Dengerin aku__" katanya dengan lirih.
"Dis, aku udah minta maaf waktu itu, dan aku selalu nemenin kamu"
"Ada? Kapan?" Gadis mulai menatap Genta dengan tatapan berbeda "Waktu papa gak ada, kamu kemana?"
"Waktu itu aku sekolah Dis"
"Aku tetep mau putus" kata Gadis final.
"Dis, kamu cuman lagi emosi sekarang, jangan kayak gini, kita bisa bicara in semuanya baik baik"
"Tolong hargai keputusan ku Genta" suara Gadis melemah, seperti Gadis biasanya "aku mau kita udahan, aku pengen sendiri"
Genta menerima keputusan itu karena tatapan lemah dari Gadis, karena suaranya. Genta mundur selangkah dan mengangguk. Tidak apa apa, Gadis hanya sedang emosi hari ini, besok perempuan itu akan kembali seperti biasanya, saat Gadis dan Genta baik baik saja.
"Ya, kalau itu maumu" Genta menatap Gadis yang tidak mau menatapnya "Aku pulang dulu" putus Genta.
Lebih baik Genta pulang terlebih dahulu, Gadis sedang butuh waktu sendiri. Kehilangan Martine mungkin membuat dirinya merasa sedang rumit.
🏡🏡🏡
Malam hari, sekitar pukul dua dini hari, suara ponsel Genta bergetar. Genta yang sedang duduk dibingkai jendela menoleh sekilas kearah kasurnya. Lalu berjalan perlahan dan mengambil benda Pipih itu. Ada nama Gadis di layar, perempuan itu menghubungi nya malah hari? Kenapa? Apa Gadis menyesali keputusannya tadi siang?.
"Iya Dis" Genta buru buru menyambar, langsung menyapa Gadis terlebih dahulu.
"Belum tidur?" Suara Gadis begitu lirih.
"Lagi mikirin kamu" Genta merebahkan tubuhnya, lalu menatap langit kamar, kearah stiker bintang kecil di bawah lampu "Kamu belum tidur?"
Gadis tidak menjawabnya dengan cepat, lama sekali, kemudian ada deheman kecil darinya.
"Genta, kamu tahu selama aku kenal kamu, kamu salah satu satunya orang yang selalu berusaha buat aku seneng" kata Gadis "Kamu baik banget sama aku, kamu selalu sabar sama semua sikapku"
Genta meneguk ludahnya, apa Gadis menyesali keputusannya tadi siang hingga dia berbicara seperti itu.
"Aku mau, kamu bisa bikin diri kamu bahagia, minimal kamu bisa memaafkan diri kamu sendiri dan orang orang di sekeliling kamu" kata Gadis semakin terdengar aneh.
"Diss"
"Genta" Gadis kemudian terdiam, seperti ada suara tangisan dari seberang, begitu kecil hingga Genta ragu untuk memastikan jika itu suara Gadis sedang menangis.
"Genta jaga diri baik baik ya" dan panggilan terputus.
Genta merasa, hari itu keputusan Gadis mengakhiri hubungan benar benar sebuah keputusan yang tidak main main. Hari itu Genta merasa Gadis akan meninggalkan dirinya.