Why Me?

Why Me?
Why Me? 51



"Benua, adik Gara itu dia anak papa kamu"


Deg


Rahang Genta rasanya baru saja terlepas, Genta kehilangan oksigen, semua organ tubuhnya berhenti untuk beroperasi, Genta tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. Rani hanya membohonginya, Rani hanya bercanda.


Sedetik, dua detik, bahkan sampai tiga puluh lima detik Genta masih mencerna kalimat Rani.


"Mama mau bohongin Genta" Genta buru buru berdiri, tulang kakinya begitu lemas, entah kenapa Genta merasa gemetar.


"Untuk apa Mama bohong" Rani ikut berdiri dan berusaha menyakinkan putranya "Kamu bisa tanya langsung sama Lisma, berkat saham yang dia punya di perusahaan papa, Lisma selingkuh sama papa kamu"


Genta menatap tidak percaya kearah Rani, Genta merasa pusing, semua benda disekelilingnya berputar. Ah, ada yang mencengkram didalam sana, hati Genta terasa diiris sesuatu, dibumbuhi irisan jeruk nipis di luka sayatan hatinya. Amat perih, tidak cukup, bahkan kata kata tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan Genta saat ini.


"Percaya sama Mama" Rani menangkup wajah Genta.


Bola mata Genta baru bergerak saat Rani menempelkan tangannya di wajah Genta, sampai Genta harus terjatuh kelantai hanya karena lemas.


"Genta, penghianatan papa kamu terlalu menyakitkan untuk kita, mungkin mama baik baik aja diperlakukan seperti itu oleh papamu, tapi enggak saat papamu juga menyakiti kamu" kata Rani memeluk Genta.


Semuanya terasa sudah hancur, Akmal menghancurkan semuanya, Akmal menghancurkan rumah Genta, Akmal menghancurkan hati mamanya, Akmal menghancurkan hati Genta bahkan Akmal menghancurkan persahabatan nya dengan Gara. Jadi ini alasan wajah aneh yang selalu ditampilkan Lisma, jadi ini alasan kenapa Gara bersikap sedingin itu padanya.


Genta baru menangis ketika semuanya telah diterima oleh otaknya, dia terisak di dekapan Rani. Kekecewaan Genta pada Akmal kini sudah berada di titik paling akhir, Genta tidak punya alasan untuk tinggal dengan orang itu, tidak akan.


Genta terisak dengan begitu kencang, dia menggenggam tangannya kuat, betapa hatinya dihancurkan oleh Akmal malam ini.


🏡🏡🏡


Tapi ketika dia mendapatkan kembali kekuatannya, Genta keluar rumah dan menuju rumah Gara. Dia perlu membicarakan ini, bahkan menangis didepan lelaki itu.


Saat motornya sudah berada dirumah Gara, lelaki itu menerobos masuk begitu saja. Genta tidak menyapa pembantu yang sedang menyapu di ruang tamu, Genta langsung naik kelantai atas. Disana, ketika dia pertama kali membuka pintu, Irvan, Eles, Antar sedang duduk di sofa sambil memandangi Gara yang memantulkan bola basket ke dinding.


Mereka menatap kearah Genta yang wajahnya berantakan, bahkan seragam SMAnya masih menempel di tubuh.


Eles berdiri begitupun dengan Irvan, apalagi saat melihat tatapan Genta begitu kosong.


"Ta, Lo kenapa?" Tanya Eles merasa tidak enak.


Genta berjalan kearah Gara yang tidak beranjak bahkan saat tahu bahwa Genta datang kesini.


"Bener yang dibilang nyokap gue?" Tanya Genta berusaha tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan Rani.


Genta berharap semuanya hanya kebohongan Rani karena ingin mendapatkannya, Gara hanya menatap Genta dari bawah, dia kehilangan tenaga.


"Jawab gue Gara" Genta tidak sabaran, dia menarik kerah Gara hingga lelaki itu berdiri.


"Apa?" Adalah kalimat tanya setelah dia bungkam dari tadi.


Genta tidak melepaskan cengkramannya, lelaki itu semakin menarik kerah baju Gara dengan kuat.


"Apa bener Benua anak bokap gue?" Tanyanya.


Gara menggerakkan bola matanya dan menepis dengan kasar cekalan Genta, tenaganya sudah kembali, kini lelaki itu menyerang Genta dengan bruntal seperti sedang melampiaskan semua kekesalannya.


"Lo baru tahu?"


Bugh


Bugh


Bugh


Bahkan Genta tidak melawan, dia pasrah, Irvan dan Eles berusaha menengahi, berusaha melerai pertikaian itu.


"Lo baru tahu gimana sakitnya itu Genta" akhirnya Gara menangis sambil duduk.


Diikuti tangisan serta tetesan darah yang keluar dari hidung Genta. Lelaki itu masih menatap langit tempat latihan band mereka, menatapnya dengan tetesan air mata.


"Bang hidung Lo berdarah" kata Antar menatap kearah Genta, lelaki itu ingin mendekat tapi nyalinya terlalu ciut untuk masuk ke pertikaian mereka.


Gara masih menangis sesegukan, hati yang remuk dan segala sakit hatinya sudah memuncak hari ini.


"Setiap liat elo, gue pengen mati Ta, gue pengen mati karena tahu kenyataan kalo Benua bukan anak Hartadinata, gue pengen mati setiap liat elo" Gara meraung raung sambil menangis.


Genta ikut menangis, dia begitu tidak percaya bahwa Akmal lah yang sudah menghancurkan hidupnya.


"Gue hiks gue" Genta menatap kearah Gara.


"Gue benci karena Lo temen gue, gue benci ngeliat elo karena kebayang bayang perselingkuhan nyokap gue, gue benci karena elo anak dari laki laki yang ngehancurin keluarga gue, gue benci karena nyokap gue brengsek" tangis Gara.


Irvan, Eles dan Antar  lemas sendiri melihat dua temannya seperti ini, seperti tersambar petir mendengar mereka berdua.


"Gue benci elo Ta, gue benci karena elo anak dari orang yang pengen gue bunuh, gue benci diri gue sendiri karena gak tahu apa apa" aku Gara memukul dadanya.


"Lo anak ******** Ta, Lo anak brengsek, Lo biadap, gue benci elo Ta"


Genta hanya bisa menggenggam tangannya dengan kuat, dia menerima semua maki makian yang diberikan Gara untuknya. Genta menatap kearah Gara yang menangis sesegukan.


"Gue gak bisa maafin elo, gue gak bisa, bahkan ngeliat elo gue selalu benci sama diri gue sendiri" Gara berdiri dengan tenaganya, dia berjalan turun dari ruang latihan untuk menuju ke kamarnya.


"Taaaa" Irvan berjalan mendekati Genta, tapi lelaki itu lebih dulu pergi.


Genta sudah kehilangan kebahagian yang dia impikan, Akmal menghancurkan semua yang sedang Genta capai. Mimpi Genta untuk menjadi bintang, persahabatan Genta, semua dihancurkan Akmal dengan nafsu lelaki bejat itu.


Genta terus berjalan dengan limbung, dia tidak memperdulikan panggilan teman temannya, Genta menaiki motor dan melenggang pergi.


🏡🏡🏡


Genta pergi menuju apartemen Akmal, lelaki itu tidak tahu apakah Akmal akan ada disitu, atau mungkin dia tinggal dengan Sandra, Genta tidak perduli yang jelas disini, Genta berdiri dengan seragam sekolahnya sambil menggedor pintu apartemen milik Akmal.


"Genta, muka kamu kenapa?"


Bugh


Genta memukul wajah Akmal dengan kuat, Genta tidak perduli kalau lelaki didepannya ini adalah ayah yang membuatnya lahir. Genta terlalu muak, Genta membenci lelaki yang tetap berdiri baik baik saja sedangkan dia sudah menghancurkan semua kebahagian orang orang.


Setelah Akmal tersungkur karena tanpa persiapan menghadapi seragan Genta, lelaki itu memegang pipinya tidak percaya.


Sedangkan Genta, Genta justru terduduk sambil menangis terisak isak, dia menangis karena harus berada pada titik seperti ini.


"Genta kamu kenapa?" Akmal berusaha berdiri dan mendekati putranya, tangan kekar itu meraih tubuh Genta yang sedang menangis.


Namun ditepis Genta dengan kasar. "jangan sentuh aku" katanya mendongak dan menatap kearah Akmal.


"Kamu kenapa?"


Ah, Genta benci sekali melihat tampang polos lelaki didepannya, setelah dia menghancurkan Genta , Akmal masih tidak tahu kesalahan apa yang sudah dia perbuat.


Genta berdiri untuk menghadapi papanya, lelaki itu menatap kearah Genta dengan bingung.


"Genta udah tahu semuanya, Genta tahu kalau Benua anak papa"


"Itu__ papa bisa___"


"Genta benci sama papa, PAPA UDAH NGEHANCURIN HIDUP GENTA, PAPA UDAH BIKIN GENTA NYESEL JADI ANAK PAPA"


Saat itu juga Akmal pucat, lelaki itu kehilangan nafas. Akmal merosot bahkan bersimpuh dihadapan Genta. Lelaki itu menangis, tersedu sedu, merasa bersalah dengan Genta. Melihat Genta datang dengan berantakan seperti itu, membuat hati Akmal teriris, apakah dirinya sudah menghancurkan hidup Genta.


"Maafin papa, karena nafsu papa semuanya jadi kayak gini" katanya.


Genta menatap tidak percaya dengan Akmal, lelaki itu bahkan mengakui semua kesalahannya.


"Maafin papa, Gen" kata Akmal.


Genta menjauhkan dirinya karena tidak percaya dia bisa lahir dari lelaki seperti ini, Genta tidak percaya bahwa Akmal menjadi lelaki paling biadap didunia. Genta tidak percaya bahwa lelaki yang dulu dia panggil papa sebajingan itu.


"Mulai sekarang, Genta bukan anak papa lagi" kata Genta lantas pergi sangking kecewanya.


jadi ges. gimana kalo kalian diposisi Genta?