Why Me?

Why Me?
Why Me? 74



Genta menatap mata sayu perempuan yang ada diatas tubuhnya.


"Sorry" saat perempuan itu hendak bangkit Genta justru menahannya.


"Diss" panggil Genta kepada Gadis.


Yah, Genta tidak tahu kenapa Gadis ada di kamarnya, yang jelas ini nyata bukan ilusi. Gadis ada diatas tubuhnya, menindihi Genta yang sedang bertelanjang dan hanya menggunakan handuk di bagian bawah.


"Kamu kemana aja?" Tanya Genta tak lepas menatap mata Gadis.


"Ak_aku" Gadis gugup saat ditatap Genta seperti ini.


Mata mereka saling tatap, lalu Genta mendekatkan wajahnya dan semakin dekat hingga bibir Genta dan Gadis beradu. Baik Genta maupun Gadis menikmati pungutan yang semakin liar itu tanpa sadar dimana mereka menikmati ciuman yang semakin dahsyat.


"Ahh Genta" rintih Gadis saat Genta menggigit bibir bawahnya.


"Aku kangen Dis, aku kangen" kata Genta memeluk Gadis dengan erat.


Ada yang aneh terasa dibawah, Gadis merasakan itu dengan jelas membuat dia begitu malu hingga menyembunyikan wajah di tekut Genta.


"Kenapa?" Menyadari Gadis tidak menjawab ucapannya dan justru menahan tawa di leher, membuat Genta mengernyitkan dahi.


"Aku malu" akunya.


"Karena?" Genta memaksa Gadis untuk menjauhkan wajahnya dari leher Genta.


Gadis membasahi bibirnya yang sudah kehilangan warna lipstik berkat pungutannya dengan Genta tadi.


"Adek mu bangun"


Wtf. Genta merasa di pukul talak lehernya. Dia begitu malu dengan ucapan Gadis dan baru merasakan sesuatu dibawah sana meminta di puaskan.


"Kamu, bisa keluar sekarang?" Tanya Genta karena begitu malu.


Gadis turun dan begitu cepat meninggalkan kamar Genta, lalu didepan pintu Gadis sempat berteriak kecil.


"Ditunggu dibawah sama Mama mu" katanya lekas berlarian.


Genta meruntuki adik kecilnya yang justru bangun disaat seperti ini. Malu bercampur kesal sekarang menjadi satu.


🏡🏡🏡


Genta turun kebawah dan menemui Gadis yang sudah bergabung dengan Rani dan Richard, ada Amanda yang sedang disuapi babysister.


"Kamu mandi lama banget Gen?" Tanya Rani dengan senyum jahil.


"Tadii" Genta melirik ke Gadis sekilas.


"Udah duduk, makan" ajak Richard yang tidak mau mencari tahu alasan kenapa Genta begitu lama dikamar.


"Ternyata bener ya Ta, kalau dunia itu tak selebar daun kelor" ucap Rani membuat Gadis tersenyum "Mama gak nyangka Lo kalo Gadis ini yang jadi psikiater keluarga kita"


Genta melirik ke Gadis. Lalu merasa canggung sendiri mengingat adik sialan nya tadi.


"Papa emang sengaja pilih Gadis sewaktu papa tahu kalau dia ini temen satu sekolah kamu" kata Richard.


Gadis hanya tersenyum dan Genta diam diam justru merasa gugup sekaligus canggung.


"Saya malah gak tahu kalau pak Richard ini papanya Genta" kata Gadis.


"Oh ya Gen, mama lupa buat ngasih tahu kamu" Rani mengambil segelas air dan meneguknya "Dulu Gadis pernah Dateng kerumah kita yang lama, dia nanyain kabar kamu, itu pas kamu di Semarang"


Genta menatap Gadis tidak percaya, bernakah perempuan itu mencarinya?.


"Mama udah tahu kalau Gadis di Jakarta?"


Rani menggeleng "enggak, Mama gak tahu, yang mama tahu Gadis nanyain kabar kamu"


"Bener Dis?" Tanya Genta .


"Iya" Gadis menatapnya lalu tersenyum.


Ah, ada harapan untuknya dan Gadis kembali seperti dulu.


🏡🏡🏡


Malam ini hujan sedang turun di Jakarta, Genta mengantarkan Gadis pulang. Ternyata Gadis tetap pulang kerumahnya yang dulu, dimana dia dan Martine tinggal.


"Kamu masih disini?" Tanya Genta.


"Iya, kamu kenapa gak pernah kesini?" Gadis melepaskan seatbelatnya.


"Aku kira rumah ini udah kamu jual"


"Mana mungkin sih Ta, ini satu satunya peninggalan papa yang gak akan pernah aku jual. Bahkan kalaupun aku nikah. Aku mau besok tinggal disini"


Genta mencengkram kuat stirnya. Menikah? Apakah Gadis sudah merencanakan itu?.


"Kamu___" Genta menatap lurus dimana air berjatuhan "Kamu mau pacaran sama aku?" Genta menatap wajah Gadis dengan gugup.


Gadis tersenyum lalu memeluk erat tubuh Genta dari samping, begitu erat karena perempuan itu bersembunyi di dada Genta.


"Aku gak mau pacaran Ta, aku mau menikah" kata Gadis.


"Ha?" Genta kaget.


Gadis melepaskan pelukannya dan menatap kearah Genta lalu tersenyum kecil.


"Gak sekarang Genta. Aku tunggu sampai kamu siap" kata Gadis perlahan membuka pintu mobil dan bergerak menjauh.


🏡🏡🏡


Gadis dan Genta serta Amanda sedang berkeliling mall, Amanda begitu antusias diajak pergi oleh Genta, memenuhi janji yang pernah dikatakan dulu.


Genta, Gadis dan Amanda berjalan jalan di toko mainan, Amanda memilih beberapa boneka Barbie, juga mobil mobilan.


"Banyak banget" komentar Genta yang menatap Amanda menggendong boneka Barbie sepuluh buah dengan model yang sama.


"Iya, nanti mau di bagi bagiin sama temen temen" kata Amanda polos.


"Mau ngamal?" Genta membantu Amanda memasukan mainan pilihan kedalam keranjang yang di pegang oleh Gadis.


"Enggak, mau ngasih aja. Kan kita kaya" kelakar Amanda dengan bahasa andalannya.


Genta hanya bisa geleng geleng saja, semenjak Amanda sering main bersama Kera band, bahasa Amanda ada peningkatan. Lebih sering menggunakan istilah istilah orang besar yang pasti tidak Amanda ketahui artinya.


"Amanda, ini sepuluh buah terlalu banyak, memangnya temen Amanda ada berapa?" Tanya Gadis.


"Satu" jawab Amanda polos.


Genta hampir saja mengumpat, andai tidak ada Gadis disebelahnya.


"Kalo satu, Amanda ambil dua aja, kalau temennya ada banyak baru ambil semua" nasihat Genta.


"Gak mau" Amanda menggeleng dengan tegas "Kan papa kaya, Amanda mau buang buang uangnya papa" ujarnya.


"Amanda___" Genta hendak bersuara.


"Kata bang Gara, gak papa kita buang buang uang selama kita kaya"


"Biar aku aja yang ngomong sama Amanda" ujar Gadis.


Genta berdiri, saat dia berdiri matanya bertatapan dengan perempuan berambut pendek. Dia Sandra yang juga sedang menggandeng Putri kecilnya. Sudah lama mereka tidak bertemu, tapi Genta masih ingat rasa sesak setiap bertatapan dengan wanita ini.


"Genta" panggil Sandra berjalan mendekatinya "Boleh saya bicara dengan kamu?" Tanyanya.


Genta menatap kearah mata Gadis, lelaki itu meminta persetujuan. Anggukan itu akhirnya menyakinkan setengah keraguan untuk menolak berbincang dengan Sandra.


"Ya" jawab Genta cuek.


"Saya tunggu di cafe sebelah" Sandra melenggang bersama anak kecil berkuncir dua.


🏡🏡🏡


Di cafe yang sedang memutar lagu mellow ini, Genta duduk di temani secangkir kopi hangat. Taennya sedang memainkan boneka beruang yang baru saja dia beli, sedangkan Genta hanya menatap ujung gelas tanpa mau menatap kearah Sandra yang diam saja.


"Genta" panggil Sandra dengan suara lemah.


Genta mengangkat kepala, menatap mata bulat Sandra yang entah saat ini terlihat begitu rapuh.


"Saya akan bercerai dengan papamu" kata Sandra terdengar miris.


Genta tidak menimpali, lelaki itu mengangkat gelas dan menyesapnya pelan pelan. Setelah dirasa cukup untuk menambah keberaniannya, segelas kopi hangat itu diturunkan kembali.


"Bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang kita cintai?" Tanya Genta.


"Rasanya" Sandara menatap kearah depan dengan kosong "dunia saya betul betul hancur"


Perlahan bola mata hitam pekat itu bergeser dan menatap dimana Genta berdiri dengan gagah.


"Kamu masih ingat, dulu kamu menemui saya di cafe" Sandra mengulas kembali tentang pertemuan pertama mereka di cafe, saat Genta masih SMA.


"Kamu pernah bilang ke saya, orang yang selingkuh suatu saat dia akan kembali selingkuh" Sandra menatap keatas cangkirnya "Kamu benar" kemudian kepalanya terangkat.


"Saya merebut seseorang, maka saya juga kehilangan seseorang itu pula"


Genta tersenyum, bukan senyum menang, melainkan senyum yang memberi kekuatan. Bagaimanapun Sandra telah ditinggalkan dengan orang yang pernah menjadi separuh jiwanya.


"Selingkuh itu penyakit, gak akan ada obatnya, sekali selingkuh, akan terus selingkuh" ucap Genta "Papa akan seperti itu, papa gak akan pernah puas dengan satu wanita"


Sandra tertawa miris "Apa saya seperti pembuangan kencing seorang laki laki?" Tanyanya.


Genta mengangguk "Ya, karena benih itu, Tante begitu percaya diri akan memenangkan hati papa, akhirnya Tante kalah"


"Sejak saya mencintai papamu, sebenarnya saya tahu kalau saya akan kalah, tapi saya tetap memaksa hingga menghancurkan hidup orang lain dan diri saya"


Sandra menatap Taennya yang juga tersenyum menatapnya.


"Saya akan pergi, mengikhlaskan papamu bahagia dan mencari tempat bahagianya" Sandra mengelus puncak rambut Taennya.


"Saya minta maaf dengan mu dan namamu, karena dulu saya pernah merebut papamu" kata Sandra terdengar tulus "Saya akan menikmati karma ini".


Genta mengangguk, sangat pelan.


"Ayo Taennya kita pulang" ajak Sandra.


"Kakak ini siapa?" Tanya Taennya.


Sandra menatap kearah Genta sekilas lalu tersenyum, dan dia menggendong Taennya kepelukanya.


🏡🏡🏡


Hubungan Genta dan Gadis berjalan semakin baik setiap harinya. Meski jadwal Genta yang semakin padat namun Genta selalu menyempatkan untuk menemui dirinya. Terkadang Genta datang ke rumah sakit dan kadang pula Gadis yang menemani Genta syuting.


Karena hari ini tidak ada jadwal syuting sama sekali, Genta merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Udah mandi?" Tanya Gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Udah tadi" Genta mengamati Gadis yang membuka lemari dengan piyami mini.


Sejak sepuluh menit tadi, Genta sudah menerobos kedalam rumah Gadis, bahkan langsung masuk kedalam kamar Gadis tanpa persetujuan dari pemilik rumah.


"Keluar dulu, aku mau ganti" ucap Gadis menatap Genta dari pantulan kaca.


"Ganti disini aja" Genta Menaik turunkan alis, menggoda Gadis yang kini wajahnya merah padam.


"Ihhhhhh" Gadis berdecak membuat tawa Genta begitu keras.


Genta berdiri dan dari belakang memeluk tubuh Gadis. Diciumnya leher basah Gadis, aroma strawberry yang pertama kali dia cium.


"Hari ini aku libur Lo" kata Genta.


"Hari ini aku kerja"


Mendengar itu Genta langsung merubah ekspresi wajahnya, dia kesal terlebih karena ini hari libur pertama setelah namanya masuk kedalam panggung hiburan. Mereka bahkan tidak memiliki waktu bersama setelah bertemu.


"Ambil cuti" titah Genta terdengar tegas.


"Aku ada janji ketemu pasien"


"Gadis" Genta membalikan tubuh Gadis "Aku bilang libur" katanya.


"Genta"


Genta justru memajukan wajahnya, amat sangat dekat hingga membuat Gadis secara reflek mundur kebelakang dan menatap lemari. Genta tersenyum melihat kegugupan nyata dari Gadis.


"Kalau gitu bolos sama aku" bisik Genta sensual.


Gadis menegang terlebih kini punggungnya sudah diraih Genta dan tubuhnya benar benar melekat di tubuh Genta.


Dengan cepat Genta melumut bibir Gadis, membuat Gadis menjatuhkan baju yang sudah dia ambil tadi. Mereka sama sama menikmati, Genta menuntun Gadis keatas ranjang. Lalu menindih tubuh Gadis disana.


"Aku mau kamu Dis" bisik Genta ditelinga Gadis.


Tidak ada penerimaan atau penolakan, Gadis hanya diam saja, membiarkan tangan Genta yang berniat membuka tali piyamanya.


"Astagfirullah" lagi lagi, Genta merasa Dejavu dengan momen seperti ini.


Dengan sigap setelah mendengar suara tadi, mereka berdua berdiri dan menatap di pintu kamar Gadis, sudah berdiri empat orang.


"Genta, kita nge-whattshap elo dari tadi, ternyata elo mantap mantap disini" Gara nyelonong masuk dan duduk disisi ranjang Gadis.


"Sejak kapan kalian disini?" Tanya Genta.


"Sejak elo ******* tadi" Irvan terkekeh geli "makanya, lain kali kalau mau awewe ditutup dulu pintunya"


Genta menepuk dahi karena melupakan hal itu, dia membiarkan pintu depan terbuka , membiarkan pintu kamar Gadis juga ikut terbuka lebar.


"Sayang banget tadi yakan, kita bisa kasih edukasi gratis ke ampar ampar pisang" celoteh Gara.


"Edukasi pala elo" Genta hampir memukul Gara dengan bantal andai dia tidak memasang pelindung dengan tangannya.


"Ngapain sih kalian kesini?" Genta menatap kearah Eles yang sedikit waras.


"Lo mah gitu, suka lupa jadwal " Irvan geleng geleng "besok kita diundang di acara penghargaan musik, jadi hari ini kita ada meeting sama perancang busana"