Why Me?

Why Me?
[Part 7 : Kacau balau]



Setelah menjelaskan kronologi tentang apa yang terjadi. Nana pun keluar dari suatu ruangan lalu membungkuk hormat kepada Petugas Richard dan menghampiri Daniel yang sedaritadi menatapnya.


Nana menatap Daniel dengan tatapan mata sendu, Daniel menatapnya balik dengan tatapan mata khawatir.


"Kak Daniel..Ayo pulang.." Ujar Nana dengan nada rendah dan suara yang sangat rendah membuat Daniel yang mendengarnya semakin khawatir.


"I-iya.." Jawab Daniel.


"Kalian berdua tidak perlu khawatir..Kami akan melakukan sebisa kami untuk menemukan adik kalian..sekarang pulanglah kerumah kalian karena hari sudah semakin malam.." Ujar Petugas Richard tersenyum ramah seraya mengelus kepala Nana dan Daniel.


"Ba-ba..baik..Kalau begitu terima kasih Pak..kami permisi.." Ujar Daniel yang kaget ketika kepalanya dielus oleh Petugas Richard.


Ketika mereka keluar dari kantor polisi, keduanya tidak ada yang mengucapkan satu patah kata pun, keduanya terdiam tenggelam dengan pikiran masing-masing.


''Polisi itu..mengelus kepalaku kayak aku anak kecil aja..'' Ujar Daniel dalam hati seraya memegang kepalanya.


'Aduh...aku harus ngomong apa ya? Canggung gini..Aku harus ngomong sesuatu..' Ujar Daniel dalam hati lagi ketika dia melirik Nana yang sedaritadi diam, menatap kedepan dengan pandangan kosong.


"A..itu..Na-"


"Kakak..mau ngak menemanu aku di rumah?" Tanya Nana yang memotong ucapan Daniel. Daniel yang mendengar itu kaget dengan cepat menoleh menatap Nana.


"Eh? E..emang boleh?" Tanya Daniel seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya dia bingung harus mengiyakan atau tidak karena baginya terasa salah aja kalau seorang lelaki menginap di rumah seorang gadis yang mana orang tuanya tidak ada di rumah.


"Kalau ngak mau ngak apa.." Ujar Nana seraya mempercepat langkahnya. Daniel yang mendengar itu entah kenapa malah merasa bersalah.


"O-ok! Aku bakal nginap di rumah kamu!" Ujar Daniel pasrah.


Mereka pun lanjut berjalan dan tak selang beberapa menit mereka tiba di rumah Nana. Nana membuka pintu rumahnya dan masuk diiringi Daniel di belakangnya. Saat melangkah masuk Daniel terbelalak melihat ruang tamu Nana yang sangat berantakan.


"Na-Nana..kenapa rumah kamu ja-"


"Ini ulah penculik brengsek itu!!" Ujar Nana memotong perkataan Daniel. Dia merasa sangat marah terhadap pelaku yang menghancurkan rumahnya dan menculik kedua adiknya.


"O..oh.." Sahut Daniel.


Daniel pun mencoba melihat ruangan lain dan dia juga menemukan pemandangan yang sama. Hancur berantakan, seperti ruang tamu tadi.


"A..anu Nana..Apa kamu lapar? Karena sepertinya kamu belum makan malam ya?" Tanya Daniel khawatir kepada gadis berambut hitam pekat ini siapa lagi kalau bukan Nana.


"Ngak..aku ngak lapar.." Sahut Nana.


"Baiklah..kalau begitu kamu tidur aja dulu..pasti kamu letih karena kejadian-kejadian ini..aku akan tidur disi-"


"Kalau aku tidur di kamar, Kak Daniel juga sama.." Lagi-lagi Nana memotong perkataan Daniel. Daniel yang mendengar itu tersentak kaget dan matanya melebar.


"Apakah wajahku terlihat seperti bercanda?" Tanya Nana dengan raut wajah yang sangat datar.


"Ng-ngak..." Sahut Daniel.


Mereka pun naik ke atas namun Daniel menyempatkan untuk membuka suatu ruangan yang adalah kamar kedua adiknya Nana, Daniel kaget melihatnya apalagi saat Daniel melihat ada ceceran darah di lantai.


"DA-DARAH?!?" Seru Daniel saking kagetnya dengan apa yang dilihatnya. Nana yang mendengar seruan Daniel pun berkata.


"Sepertinya..darah itu berasal dari salah satu adikku.."Ujar Nana dengan raut wajah yang terlihat sedikit berubah menjadi muram. Daniel yang mendengar ucapan Nana menghela napas lalu mengelus rambut Nana seraya berkata.


"Hufft..Aku yakin adik-adikmu akan baik-baik saja.." Ujarnya berusaha menenangkan Nana. Nana yang mendengar itu pun menganggukan kepalanya.


Mereka pun melangkah keluar dari kamar kedua adik Nana dan masuk ke kamar Nana, Daniel daritadi merasa gelisah karena dia merasa tidak nyaman di kamar berduaan dengan seorang gadis.


"A-aku akan tidur di lantai..kamu tidur aja dikasurmu Nana.." Ujar Daniel.


"Hmm.." Jawab Nana singkat.


"Oh iya..Nana aku baru sadar. Sepertinya kamar kamu saja yang ngak berantakan ya? Aneh..Kenapa hanya kamar kamu yang masih rapi dan tak tersentuh sama sekali..?" Heran Daniel seraya menerawang kamar Nana.


"Mungkin..mereka hanya berniat mengincar adik-adikku.." Ujar Nana duduk di tepi kasurnya. Daniel mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti.


"Maksudnya?" Tanyanya.


"Hufft..sepertinya saat para penculik itu masuk ke rumah, Nayya dan Naiel sedang berada di ruang tamu lalu saat mereka menemukan adikku mereka langsung hendak menangkap mereka dan adik-adikku berusaha untuk lari dan terjadilah kejar-kejaran. Saat adik-adikku sedang berlarian untuk menghindari penculik itu yang mana membuat ruangan jadi berantakan, mereka lari ke dapur lalu ke lantai atas dan masuk kekamar mereka, karena sepertinya mereka berpikir kalau kamar mereka adalah tempat paling aman untuk bersembunyi namun dugaan mereka..salah, penculik itu berhasil menerobos masuk dan menangkap mereka namun sepertinya..Nayya dan Naiel berusaha sekuat tenaga agar tidak tertangkap dan sepertinya...Penculik berengsek itu..me-memukul kepala kedua adikku untuk membuat mereka tak sadarkan diri..makanya ada da-darah di lantai kamar adik-adikku.." Jelas Nana dengan badan gemetar dan air mata berlinangan dipipinya.


"Itu deduksiku..dari melihat keadaan disini.." Ujar Nana lagi seraya menghapus air matanya dengan kasar.


"O-oh...sepertinya deduksimu benar..keren dah kamu Nana seperti detektif sungguhan ahaha" Ujar Daniel memuji Nana dan tertawa canggung.


"Terima kasih Kak Daniel..kalau begitu gimana kalau kita tidur?" Tanya Nana seraya menampakkan senyum palsunya ke Daniel yang mana membuatnya terkejut.


'Te..ternyata dia bisa tersenyum..tapi..ada yang aneh dari senyumnya..' Ujar Daniel dalam hati.


"O-ok! Selamat tidur Nana!" Ujar Daniel seraya membaringkan badannya di seprai yang ada di lantai dan memejamkan matanya.


"Selamat tidur Kak Daniel.." Ujar Nana seraya membaringkan tubuhnya juga dikasurnya.


Sebenarnya Nana tidak tidur, matanya masih terbuka lebar memandangi langit-langit kamarnya. Dari sudut matanya mengalir air mata, Nana menangis dalam diam, dia menangis tanpa suara, membiarkan air matanya yang terus menerus keluar dari matanya. Walaupun ada Daniel bersamanya di kamar namun Nana masih merasa seperti dia sendiri.


Dan juga sebenarnya Daniel pun tidak tidur dia memejamkan matanya hanya untuk berpura-pura tidur, dia sangat mengkhawatirkan Nana. Saat dia membuka matanya dengan perlahan dan melirik ke Nana yang ada dikasurnya, dia melihat air mata Nana yang mengalir dengan derasnya yang mana menbuat Daniel merasa kesal dalam hatinya, menggigit bibir bawahnya menampakkan kekesalannya. Pada akhirnya mereka berdua tidak tidur hingga pagi menjelang.


[CONTINUE?]