Why Me?

Why Me?
Why Me? 60



Genta membawa motornya menuju komplek rumah saat matahari sudah kehilangan cahaya, tapi dia justru berbelok ke pelataran rumah Eles.


Ada beberapa box yang diletakkan di teras rumahnya, mobil pick up yang Genta tebak akan mengangkut barang barang milik keluarga Eles.


Genta melepaskan helm dan berjalan pelan menuju pintu rumah Eles, hendak mengangkat tangan. Namun kembali diturunkan Genta saat melihat Eles menuju kearahnya sambil tersenyum.


"Gue kira bunyi motor siapa" kata Eles menyambut kedatangan Genta.


"Lo lagi sibuk beres beres?" Tanyanya mengekori langkah Eles.


"Yah gak terlalu sibuk"


Mereka terus berjalan dan masuk kedalam kamar Eles, beberapa barang sudah rapi di tata di dalam box, banyak box box besar yang berjejer rapi didekat dinding.


Genta menjelajahi kamar Eles, terakhir kali dia masuk kesini, banyak bingkai bingkai yang menghiasi dinding, begitu astenthic. Kini tidak ada satupun pigura atau hiasan dinding, semuanya polos dengan cat warna putih.


"Gue tadi mau kerumah elo soalnya disekolah gue gak sempet ketemu elo" ucap Eles sembari memasukan beberapa buku yang ada di rak kedalam box.


"Sorry" kata Genta lemah.


"Sans aja" Eles menoleh kearah Genta yang masih berdiri dengan canggung "Kita tadi buat acara party kecil kecilan dirumah Irvan, gak rame, soalnya elo sama___" Eles berhenti.


"Gue bawa sesuatu buat elo" Genta buru buru menyodorkan paperbag yang baru dia keluarkan dari dalam tas.


Mengalihkan pembicaraan seputar Gara dengan hadiah yang sudah Genta persiapkan jauh jauh hari.


Eles menerima itu lalu lengkungan senyum dari bibirnya begitu merekah.


"Lo beneran Ta?" Tanya Eles tidak percaya, pasalnya switer yang baru dia keluarkan terlihat ori.


"Lo kira gue beli KW" Genta tersenyum saat melihat Eles langsung mengenakan switer Drew milik Justin Bieber.


"Sumpah, gue berasa mimpi tahu gak"


"Lo mau tahu. Itu gue belinya rebutan dulu, Untung aja nasib baik berpihak ke gue"


Eles menepuk lengan Genta lalu tersenyum jahil.


"Lo emang temen gue paling yahuuu" godanya.


Mendengar itu Genta terkekeh sendiri, Eles memang sangat menyukai Justin, cita citanya bergabung ke Kera band hanyalah ingin bisa colab dan bertemu Justin Bieber.


"Lo resmi pindah mulai kapan?" Genta mendudukan tubuhnya di atas kasur.


"Sebenarnya lusa, tapi gue udah gak sekolah mulai besok" Eles menatap pantulan dirinya dikaca, betapa gagahnya switer hitam bergambar emoticon senyum membalut tubuhnya.


"Tadi gue udah pesen sama Irvan buat bayar utang utang gue dikantin pak Tab, kalo utang gue di kelas gue udah pasrahin sama Gara"


Selesai ucapannya, Eles mengatupkan rapat rapat bibir yang hampir menghitam akibat rokok itu. Eles mengutuk mulutnya karena menyebutkan nama Gara, lihat saja pantulan wajah Genta yang terlihat tidak enak dipandang.


"Oh ya Ta. Lo jangan lupain gue ya" Eles berusaha menghilangkan canggung.


"Gak akan lah" Genta merebahkan dirinya diatas kasur Eles.


"Sepi pasti Jakarta tanpa elo"gumamnya.


Eles menatap Genta dari posisinya, melihat postur tinggi yang gagah namun di dalamnya penuh kerapuhan.


"Jakarta masih sama, rame, cuman elo dan hati elo yang sepi"


Genta menarik nafas dalam dalam lalu memejamkan matanya, Eles benar yang sepi bukan Jakarta, tapi dirinya yang sudah kehilangan semua arti hidup nya.


🏑🏑🏑


Pukul dua belas malam Genta baru pulang kerumah, dia meletakkan helm di dekat ruang tamu. Lalu berjalan dengan santai menuju tangga.


"Dari mana saja kamu Genta?"


Lampu yang semula gelap tiba tiba terang benderang, Rani mendekati Genta yang masih mengenakan seragam sekolah.


"Kamu tahu kan ini jam dua belas malam, kamu seharusnya pulang lebih awal sebagai seorang pelajar" nasihat Rani.


Genta menatap tidak suka kearah Rani, kenapa perempuan itu justru bertingkah seposesif ini,Β  ini bukan pertama kalinya Genta pulang larut malam, bahkan dulu Genta pernah pulang pukul tiga pagi.


"Mama gak usah lebay deh, Genta sering pulang jam segini"


"Apa kamu bilang? Mama lebay?" Rani menatap tidak percaya kearah putranya.


Bagaimana bisa seorang anak ketika di nasehati oleh ibunya dia justru mencaci dengan kalimat lebay.


"Kamu tinggal sama Mama jadi kamu harus ikuti aturan Mama"


Genta memutar matanya malas, dia muak sendiri mendengar kata kata dari Rani. Aturan? Sejak kapan aturan itu mengikat Genta seposesif ini.


"Aturan? Sejak kapan rumah ini punya aturan jam pulang? Sejak Mama sama papa cerai?" Genta meninggikan suaranya.


"GENTA" bentak Rani.


Nafas Rani memburu, namun dia berusaha menahan kemarahannya sebisa mungkin, Genta baru saja terluka dan Rani tidak ingin menambah lukanya. Meski begitu tatapan Genta tetap tajam kearahnya.


"Mama sangat khawatir Kamu kenapa napa" kata Rani dengan lembut "Ini jam dua belas dan kamu masih pakai seragam sekolah, seharusnya kamu pulang dulu, ganti pakaianmu baru kamu pergi"


Rani berusaha dengan keras mengontrol emosinya, menghadapi seorang Genta Edenata tidak bisa dengan sikap kasar, Genta mudah tersinggung saat ini.


"Kabari Mama kalau kamu pulang telat biar Mama gak khawatir, mama takut terjadi apa apa sama kamu"


Genta menarik nafas dengan dalam. Dia menatap sorot mata Rani yang sudah mulai berkaca kaca.


"Genta capek, Genta mau istirahat" katanya bergegas pergi meninggalkan Rani di ruang makan sendirian.


Rani menatap kearah putranya saat punggung Genta menghilang, Rani terjatuh kelantai sambil terisak isak, ketakutannya kembali lagi. Rani begitu takut Genta akan pergi meninggalkannya, Rani takut dia tidak bisa membahagiakan Genta, Rani takut gagal dalam mendidik Genta.


🏑🏑🏑


Genta membuka mata saat mendengar suara yang berdecit dari bawah, perlahan Genta menegakkan tubuhnya lalu menguap. Sial, semalam dia mengkonsumsi obat tidur sebanyak dua pil hingga mengantuk meski matahari sudah terbit.


Genta melangkah kebawah, saat melihat Rani sedang menarik tangga, Genta menatapnya dari lantai atas.


Rani seperti berniat mengganti bohlam lampu, ,ketika menatap mamanya yang kesulitan menarik tangga, Genta buru buru berjalan kebawah. Dibantunya Rani menarik tangga.


"Biar Genta aja" kata Genta mengambil bohlam lampu yang ada ditangan Rani.


Lelaki itu naik ketangga lipat lalu memutar bohlam yang ada di atap meja makan dan menggantinya dengan yang baru, dirasa sudah berhasil Genta turun kebawah dan mengembalikan tangga lipat ketempat semula.


"Mama cuman gak mau ngerepotin kamu"


"Terkadang ada beberapa hal yang hanya bisa dilakukan seorang pria dan gak bisa dilakukan wanita" tandas Genta.


Rani tersenyum mendengar kata sedewasa itu dari putranya, Rani tersenyum senang karena bisa menatap Genta setiap pagi seperti ini.


"Sarapan dulu yuk" ajak Rani.


"Genta mandi dulu"


🏑🏑🏑


Genta melahap dengan nikmat ayam kecap buatan Rani, ada beberapa menu lainnya seperti chapcai, tumis bakso wortel, dan beberapa menu tambahan. Genta tidak banyak suara, menikmati sarapan hanya berdua saja sudah mengiris hatinya.


"Genta, kapan mulai ujian?" Tanya Rani ditengah sarapan.


Genta mendongak sambil mengunyah nasi yang ada di mulutnya, lalu memutar mata sebagai gestur berfikir. Angkatan bahu berakhir sebagai penanda ketidaktahuannya.


"Kamu kan udah kelas tiga, apalagi sekarang mendekati bulan September, kamu harus mulai memplaning tujuan kamu setelah ini" nasihat Rani "Kamu tentukan mau kuliah dimana"


Genta mengangguk tanpa menjawab nasihat Rani, ah ya soal belajarnya sudah mulai kacau semenjak itu. Genta tidak memiliki harapan dan pilihan untuk kuliah dimana sekarang.


"Kamu mau kuliah dimana?"


Genta menyuapkan nasi kedalam mulut sambil mengunyah secara pelan, dia tampak berpikir.


"Mama ada saran?"


"Emmm" Rani menggabungkan jari jemari membentuk sebuah jembatan untuk menopang dagunya "Gimana kalau UI, kamu bisa ambil kedokteran disana, kebetulan Mama ada kenalan salah satu dosen di UI, jadi kamu bisa tanya tanya apa saja yang dibutuhkan untuk masuk ke UI" pungkas Rani.


Yah, soal planing masa depan untuk anaknya seorang ibu memang tidak pernah setengah-setengah, bahkan Genta hanya bisa mengangguk pasrah saat mendengar penuturan Rani. Wajah Rani begitu mengambarkan kepuasan ketika mendapat jawaban dari putranya.


"Jadi gimana kamu mau kuliah di UI?"


Genta mengangguk tanpa berpikir lagi, memangnya sejak kapan Genta diberikan pilihan. Kalau Rani memberikannya hak untuk memilih mungkin saat pertama kali Rani memutuskan bercerai, Rani akan bertanya terlebih dahulu kepadanya, tapi tidak.


🏑🏑🏑


Jam sekolah masih sama, sama sama membosankan setiap harinya. Genta hanya bisa menguap selama dikelas, bahkan sialnya, hari ini kelasnya tidak ada jam kosong sama sekali.


Gadis tidak pergi sekolah, entah pergi kemana perempuan itu. Sekolah semakin sepi karena Antar jarang bergabung dengan mereka, Eles juga sudah tidak sekolah hari ini, dan Irvan banyak bermain game ketimbang melawak.


Jam tiga sore ini cuacananya begitu mendung, tapi belum ada tanda tanda akan turun hujan. Genta berjalan kearah motor sambil membawa pelan keluar dari area sekolah. Pak Jumaki lelaki berkumis tebal itu selalu menyunggingkan senyum menawannya. Genta mengklakson sebentar sebelum keluar dan mengerutkan dahi kala melihat Akmal sudah menunggu sambil melambaikan tangan kearahnya. Genta berhenti di depan Akmal.


"Papa mau ngobrol sama kamu, mau mampir ke rumah papa?" Tanya Akmal .


Genta mengangguk, rumah? Apakah Akmal sudah membeli rumah baru. Ketika Akmal memasuki mobil sedan dan melajukan mobilnya, Genta hanya mengikuti dari belakang.


Mobil itu melaju sangat jauh meninggalkan sekolahan, ketika Akmal berbelok ke komplek rumah elit, Genta dibuat kaget melihat rumah Akmal yang begitu mewah.


Mungkin harga rumah yang baru Genta pijaki saat ini senilai milyaran. Begitu berbeda dengan rumah yang mereka tempati, rumah yang hanya bernilai beberapa ratus juta.


"Masuk dulu" ajak Akmal sambil berjalan pelan.


Genta melangkahkan kaki, disambut beberapa pelayan rumah yang sudah bekerja disini. Genta menjelajahi rumah Akmal, desain yang modern dan begitu mewah, ruang tamunya saja bisa memperlihatkan kekayaan Akmal.


Saat Genta berjalan kearah ruang keluarga yang begitu luas, langkahnya terhenti, Genta melihat potret dirinya dan Akmal yang di letakkan di dinding, potret kebahagian seorang anak dan putranya.


Akmal ikut berhenti dan menatap kearah yang sama.


"Itu foto paling luar biasa yang pernah kita ambil" kata Akmal.


Genta mengangguk "Saat papa membuka cabang di luar negri"


Akmal mengusap rambut putranya "Ayo ikut Papa" ajaknya.


Mereka menaiki tangga atas, dimana warna putih lebih mendominasi, dibeberapa sudut ada lukisan yang dibuat oleh pelukis ternama. Akmal membuka pintu, ketika memasuki ruangan itu.


Lagi lagi Genta dibuat takjup oleh pandangan yang ada didepannya. Sebuah ranjang berukuran king size, meja belajar, alat game, Komputer gaem, PS dan alat band yang ada di sudut ruangan nya.


"Ini kamar kamu" kata Akmal.


Genta menoleh nya, lalu menaikan alis, apakah ini sebuah siasat untuk membuat Genta jatuh ke tangannya?


"Kamu bisa tinggal disini kapan saja saat kamu mau, kamu juga bisa membawa teman teman mu kesini" Akmal merangkul bahu Genta sambil ditepuknya pelan.


Genta hanya bisa diam saja. Dia menyukai ini, sungguh, tetapi bayangan sorot mata Rani yang terluka membuat Genta merasa tidak membutuhkan ini semua, tinggal sederhana bersama Rani baginya sudah cukup.


"Mau bermain game?" Tawar Akmal.


Genta mengangguk hingga keduanya menuju layar yang begitu besar, Akmal memilih permainan dan memulai memencet stik PS nya. Wajah sumringah Genta perlahan lahan mulai nampak, Akmal merasa puas karena usahanya berhasil. Bagi AkmalΒ  membuat Genta bahagia adalah prioritasnya sekarang.


Setelah satu jam lebih bermain dan menikmati makanan ringan yang dibuat pelayan Akmal, kini giliran mereka berdua berbincang santai.


"Jadi sekarang Eles pindah?" Tanya Akmal ketika mendengar cerita Genta barusan.


"Ke Kalimantan, dia ikut kakaknya yang tugas disana"


"Abdi negara memang sulit, harus siap di tugaskan kemana saja" Akmal menggeleng "Untung papa dulu gak jadi abdi negara" dan tawa Akmal pecah.


Genta tersenyum senang dengan apa yang dia terima hari ini, begitu puas meskipun Genta tidak tinggal serumah dengan Akmal.


"Genta, papa mau bicara sesuatu sama kamu" kata Akmal berdiri dan berjalan menuju meja belajar Genta.


Lelaki itu kembali berjalan menuju dimana Genta duduk sambil membawa sebuah kertas warna emas. Genta menatap itu, lalu mengernyitkan dahi.


Saat Akmal kembali duduk di depannya, lelaki itu menyodorkan kertas tadi.


Deg


Satu detik, dua detik, hati Genta terasa teremas, amat sangat sakit saat dia memegang kertas emas itu.Β 


note : maaf guys aku lagi sibuk nugas jadi lupa apdate.


Oh ya aku lagi open PO buku antalogi puisi "Melipat Kenangan"


kalau kalian order di aku harganya cuman RP.40.000


dm ke ig @asiihsyd ya kalau tertarik.


οΏΌ