Why Me?

Why Me?
Why Me? 64



Genta mengusap rambut basahnya dengan handuk, hari ini, hari Minggu, Genta ingin pergi jalan jalan dengan Gadis. Jadi sekitar pukul sembilan, dia sudah mandi namun belum berganti pakaian.


Celana pendek selutut, kaos hitam dan rambut yang masih basah itu di usap usap dengan handuk. Genta turun kebawah saat hidungnya mencium aroma sup yang begitu kuat.


"Maa masak sup ya?" Teriak Genta sambil menuruni tangga.


Tangannya terus mengusap usap rambut agar rambutnya cepat kering.


"Sini turunnn" balas Rani.


"Buatin GentaΒ  coklat panas"


Genta melangkah pelan sambil memainkan ponsel, sesekali berhenti melangkah dan membalas pesan Gadis. Katanya pagi ini Gadis sedang membawa Martine keliling komplek agar tidak melulu berada didalam rumah.


"Maaaa" panggil Genta sambil menatap ponsel.


Saat kakinya menapaki lantai, Genta terus berjalan tanpa memperhatikan arah depan.


"Mana coklat panas Genta"


"Ini" ada suara berat yang terdengar, Genta mendongak , setengah kaget.


Tubuhnya membeku saat melihat laki laki seumuran Rani menyodorkan cangkir kearahnya. Genta masih menatap lelaki itu tanpa bergerak barang sedikitpun, lelaki yang sama yang mengantarkan Rani pulang, entah kenapa ada tatapan tidak suka yang hadir di wajah Genta.


"Gak jadi diambil?" Tanya lelaki didepannya itu.


Genta menerimanya lalu berjalan tanpa sepatah kata ke meja makan dan meletakkan diatas sana. Rani yang melihat itu dari arah kulkas hanya bisa menarik senyum ke arah Richard.


"Genta, makan sama sama ya" kata Rani mendekati putranya sambil mengelus rambut Genta dengan handuk, kemudian mengambil handuk yang dibawanya dan meletakkan di kursi.


Entah kenapa Genta kehilangan selera makan, sudah lebih dari enam bulan kursi disebelah Rani kosong, namun pagi ini seseorang menempatinya.


"Kenalin saya Richard"


Genta hanya mengangguk tanpa minat, bahkan menatapnya saja dia tidak melakukannya. Justru ketika Richard menyodorkan tangan, Genta malah sibuk mengambil nasi serta sup.


"Genta"


Genta menatap Rani, kemudian dengan sedikit kode Rani meminta Genta menerima uluran tangan tanda perkenalan dari Richard. Genta tersenyum terpaksa lalu menerimanya dan dengan cepat menarik tangan itu kembali.


Sesendok nasi dan sayur mulai menjelajahi mulut Genta, namun kali ini sup buatan Rani terasa hambar atau hanya dirinya yang merasa seperti itu. Banyak ketakutan yang justru muncul dari sini. Rani membawa laki laki lain dengan tujuan yang bisa Genta pahami, Rani ingin menikah lagi.


Lalu bagaimana dengan dirinya? Meskipun ini sudah enam bulan lebih tapi untuknya luka ini baru kemarin.


"Genta, Om Richard ini dia dokter di rumah sakit Plasma, kebetulan dia direktur bagian penyakit dalam" Tutur Rani menjelaskan.


Genta mengangguk saja, lelaki itu masih tidak memperdulikan Richard sama sekali, bahkan dia sibuk menikmati sarapannya.


"Kata mama mu kamu mau kuliah kedokteran, saya bisa Lo kenalkan kamu dengan dosen dosen UI, kebetulan banyak teman saya disana" kata Richard.


Genta mengangguk, menatap sekilas wajah Richard lalu tersenyum paksa dan dia kembali menggeluti makanan.


"Rencananya kamu mau ambil bagian apa? Penyakit dalam atau ___"


Genta menatap Richard yang masih berusaha menarik perhatiannya.


"Anak band" Genta mengacungkan jari yang membentuk simbol metal, lalu memeletkan lidahnya dengan sengaja.


"GENTA" bentak Rani.


Genta menoleh kearah Rani sambil tersenyum "Becanda" katanya meminta maaf.


"Tidak apa apa Rani, saya juga suka dengan musik" kata Richard masih berusaha untuk merayu Genta.


"Kamu mau nonton konser metal di Amerika, kebetulan akan diadakan konser penyanyi metal legendaris disana"


Genta tersenyum sekali lagi, senyum muak, yang tergambar jelas dari wajahnya. Genta berharap Richard bisa membaca ketidaksukaannya.


"Gak perlu" tolak Genta dengan suara halus , Genta menatap Rani "Genta mau jemput Gadis, udah ada janji jalan sama dia"


Dan geseran kursi itu juga ikut mengiris hati Rani. Perempuan itu ikut berdiri.


"Genta, Om Richard ini ngeluangin waktu sibuknya lho demi bisa ketemu sama kamu" kata Rani mengikuti Genta menaiki tangga.


Bahkan Rani mengekori Genta sampai masuk kedalam kamarnya. Genta menatap kearah Rani dengan seulas senyum.


"Oh ya, aku pikir dia Dateng kesini karena pengen ngasih tahu pernikahan Mama sama dia"


"Gentaaaa"


"Mama mau nikah lagi?" Tanya Genta dengan wajah serius.


Rani mengusap lengan sebelah kirinya sebagai pertanda gugup, dia mengalihkan arah pandangan. Rani masih belum siap untuk memberitahu ke Genta kalau Richard berniat menyuntingnya.


Genta membasahi bibir ranum, lalu menghela nafas dengan berat. Genta sudah tahu jawaban dari Rani, lelaki itu mengangkat kaos hitam dan menggantinya dengan kemeja.


"Nanti malam, Om Richard ngajak kita makan malam di restoran"


Genta mengangguk, kemudian dia berjalan meninggalkan Rani di dalam kamar. Genta tidak ingin berekspektasi saat ini, dia tahu ujungnya bagaimana, Rani akan menemukan kehidupannya yang bukan tentang dia, atau Akmal lagi.


Genta menatap Richard lalu tersenyum tipis dan pergi tanpa pamit sama sekali.


🏑🏑🏑


Di sofa ruang tamu milik keluarga Gadis, Genta menatap kearah gelas dengan kosong. Tatapannya sekosong hatinya saat ini.


"Ngelamunin apa sih?" Tanya Gadis ikut bergabung disebelah Genta.


"Papa badannya lagi gak enak, kita tunda dulu ya jalannya" kata Gadis menatap tidak enak kearah Genta.


Lelaki itu mengusap rambut Gadis sambil mengangguk, lalu tanpa aba aba Genta merendahkan posisi duduknya untuk bersandar di sandaran sofa. Gadis yang bisa menebak keresahan Genta lantas mengusap puncak rambut kekasihnya.


"Tadi ada Om Om datang kerumah, ikut sarapan bareng aku sama Mama, dia duduk di kursi yang dulu diduduki papa" cerita Genta dengan suara lirih "kayaknya Mama mau nikah lagi"


"Kamu gak suka sama om Om itu?"


Genta menggeleng, tidak ada alasan bagi dirinya membenci orang itu, toh niatnya baik datang ke kehidupan Rani untuk membahagiakan ibunya.


"Bukan gak suka, cuman takut aja"


"Takut kenapa?"


"Takut kalo nantinya, Om Om itu gantiin posisi aku dihidup Mama, atau nanti mereka punya anak dan mama lupa sama aku"


Gadis menepuk bahu Genta sambil merapatkan duduknya, kemudian Gadis memberikan senyum manis kearahnya.


"Kamu percaya kasih ibu kan?" Tanya Gadis "Kalau kamu percaya, kamu pasti yakin, seorang ibu gak akan melupakan anaknya sendiri"


"Genta, sudah saat nya Mama mu percaya lagi sama seseorang, kamu gak mau kan Mama mu nanti menua seorang diri, kamu belum tentu lho bisa selalu ada buat dia. Atau kamu berbagi beban hidup sama Mama mu, kamu nanti akan sibuk sama hidupmu sendiri"


Genta mengangguk "Aku kangen papa Dis" akunya untuk pertama kali.


Gadis menatap Genta yang tengah menatap kearah dinding tanpa kekuatan. Enam bulan itu waktu yang begitu lama untuk tidak menemui orang yang dulu setiap harinya sering ditemui Genta, mungkin dia bisa pergi diam diam dan menemui Akmal, namun Genta tidak mau menghianati Rani lagi, membuat perempuan itu kehilangan kepercayaan pada siapapun.


"Iya pa" Gadis segera bangkit dan berjalan kearah Martine.


Tubuh Martine sekarang sudah semakin lemas, wajahnya pucat, tubuhnya juga ikut kurus, melihat bagaimana Martine segagah itu membuat Genta merasa kasihan, terlebih kasihan dengan Gadis karena harus merawat ayahnya seorang diri.


🏑🏑🏑


Malam harinya, Genta menepati janji untuk makan malam bersama Richard, direstoran Italia yang begitu mewah dengan interior yang unik. Genta duduk dengan stelan rapi, tenang saja Genta tidak berniat membuat ulah saat ini, dia sudah cukup dewasa untuk melakukan sesuatu kekanak-kanakan.


"Mau pesan apa?" Tanya Richard kearah Genta yang sedang membalas pesan Gadis.


"Ngikut aja"


Genta masih sibuk dengan ponselnya, terkadang yang dilakukan hanya menggeser menu, membuka beranda Facebook, membuka snap teman temannya, atau melihat Instagram.


"Ujian mu mulai minggu depan kan? Setelah itu nanti om kenalkan dengan tutor yang sering membantu siswa masuk UI" kata Richard penuh semangat.


Genta mengangguk tapi masih memusatkan pandangannya ke ponsel.


"Sudah ada rencana mau mengambil kedokteran bagaian apa?"


"Emmm rencana mau ambil jantung, cuman gak tahu jantung siapa yang mau diambil" cicit Genta terdengar menyebalkan.


"Genta" kini suara Rani mampu membuatnya memindahkan arah fokus dari ponsel.


"Taruh ponsel mu ketika berbicara Dengan orang, mana sopan santun yang sering Mama ajarkan"


Genta akhirnya meletakkan ponsel dan menatap kearah Richard. Lalu tersenyum kearah orang asing yang mungkin akan dia panggil Dengan sebutan ayah.


Ketika pelayan mengantarkan pesanan ada suara bising dimeja Genta, suara pelayan meletakkan pesanan diatasnya. Genta menatap satu persatu menu yang sudah dipesan, tidak ada yang membuatnya merasa ingin makan. Melihat ekspresi Genta, Richard bisa tahu kalau Genta tidak nafsu untuk makan.


"Apa menunya tidak cocok buat kamu?" Tanya Richard.


"Enggak, menunya enak" putus Genta.


Genta menoleh kearah kanan, dimana Akmal dan Sandra sedang duduk disana, pandangan mereka bertemu, Akmal menatap kearah putranya begitu juga dengan Genta. Namun Genta memilih mengalihkan begitu saja.


"Lihat makananmu" titah Rani saat tahu Genta menatap Akmal sekali lagi.


Ya Genta hanya bisa menurut dengan pasrah. Genta akhirnya mengambil salah satu menu yang sudah dipesan.


"Rani jangan sekeras itu dengan Genta" kata Richard menatap Rani dengan lembut.


Dari tatapan itu saja Genta bisa tahu Ricard adalah orang yang tulus, tapi kenapa dia tidak ada feeling pas dengan lelaki ini.


"Aku cuman gak mau dia terpengaruh aja"


"Kamu bilang ini udah enam bulan kan? Terlalu lama untuk seorang anak dan ayah tidak bertemu"


"Genta" panggilan dari samping membuat Rani dan Genta menoleh dengan terkejut.


Akmal berdiri disana, dengan setelah jas rapi dan senyum tulus nya. Binar mata nya pun bercahaya ketika menatap Genta, seperti begitu senang bisa bertemu putranya.


"Kamu__" saat Rani hendak berdiri Richard meraih tangan Rani dan menenangkan dengan usapan kecil dipunggung tangannya.


"Boleh aku ngobrol sebentar sama anakku" pinta Akmal dengan suara baik baik.


Genta hanya bisa menunduk pasrah, lalu menatap wajah marah Rani. Meski begitu mata Rani tidak menatap kearahnya justru sedang memandang kearah Richard, seperti meminta persetujuan lelaki itu. Ketika Richard mengangguk, baru Rani dengan lemas mulai bersuara.


"Jangan lama lama, kita sedang makan malam bersama"


"Gak lama" kata Akmal "Ayo Gen" ajak Akmal.


Genta menggeser kursi dan mengikuti ke meja yang tadi diduduki Akmal. Menatap Sandra dan anak kecil yang berada dipangkuan Sandra. Genta menatap kebersamaan mereka, rasanya Genta seperti orang asing disini.


"Duduk Genta" kata Sandra dengan ramah.


Ini pertama kali dirinya duduk satu meja setelah Akmal menikahi orang yang dulu menghancurkan keluarga Genta.


"Kamu mau pesen apa?" Akmal menyodorkan daftar menu kearah Genta namun ditolak oleh Genta.


"Udah pesen disana"


"Kenalin, ini adik kamu namanya Jasmine Taennya Beatrice Pinaringan" sandra melambaikan tangan putrinya yang begitu putih.


"Haloo kakak" gerakan itu hanya ditatap Genta dengan kosong.


"Panggilannya Taennya, baru dua bulan tapi tingkahnya udah pecicilan" imbuh Akmal dalam cerita Sandra.


Istrinya itu tertawa mendengar kalimat Akmal, sepertinya mereka bahagia, pancaran mata keduanya saja sama sama menunjukan kebahagian mereka.


"Mau gendong gak?" Tawar Sandra pada Genta.


"Gak suka anak kecil" kata Genta begitu menohok.


Senyum Sandra langsung sirna, meski begitu Akmal berusaha untuk mencairkan suasana, Akmal tahu Genta tidak akan menyukai keluarga barunya, bagaimanapun Sandra memang orang ketiga yang menghancurkan rumah tangga orangtuanya dulu.


"Ada yang kamu butuhkan disekolah?" Tanya Akmal.


Genta menggeleng, lalu meneguk minuman yang tadi sudah diantarakan oleh pelayan.


🏑🏑🏑


Dari meja Rani, perempuan itu terus memandang kearah meja yang ada di sebrang sana, memperhatikan anaknya.


"Udah jangan terlalu diperhatikan. Justru bikin hati kamu sakit" kata Richard.


"Aku takut Genta bakalan ninggalin aku, kita gak tahu kan kalimat apa yang di ucapkan si Akmal"


Richard meletakkan tangannya diatas tangan Rani, lalu mengusapnya.


"Kamu percaya gak, apa yang kita pikirkan akan diterima oleh alam dan dikembalikan oleh alam, maka dari itu buang fikiran negatifmu supaya alam memberikan energi yang positif buat kamu" kata Richard berusaha untuk menguatkan Rani.


"Tapi aku takut sekali kehilangan Genta"


"Genta bisa memilih, dia punya banyak kesempatan untuk ninggalin kamu, tapi kamu lihat kan, Genta tetap disebelah kamu"


"Rani, kamu harus bisa kasih kepercayaan ke Genta, aku yakin anak itu ingin bertemu ayahnya, kasih dia kesempatan. Dia tidak akan pergi, justru jika kamu merantainya, Genta bisa pergi"


Rani hanya bisa menunduk, saat ini ketika Genta melangkah kearah mejanya, senyum Rani lantas mengembang. Genta duduk di kursi semula dan meneguk air putih yang ada disana.


"Kamu makan dulu" tawar Rani.


Ponsel diatas meja Genta bergetar, Genta menatap layar ponsel dan menggesernya.


"Kenapa?"


Isakan di ujung sebrang membuat Genta memaku.


"Papa drop, dan sekarang dirawat dirumah sakit"