
Akhirnya wanita paruh baya yang dipanggil Madam Rose oleh Nana, mempersilahkan mereka berdua masuk ke rumah mewahnya. Mereka duduk disebuah sofa berwarna emas yang besar dan empuk sekali, yang mana membuat siapa pun yang duduk disofa itu akan merasa sangat nyaman dan rileks, namun hal itu tidak berpengaruh dengan Nana karena sekarang dia terlihat begitu tegang dan gelisah, walaupun raut wajahnya datar seperti biasa namun dari gestur tubuhnya terlihat bahwa dia sedang gelisah.
"Hem~ Kalian mau minum sesuatu? Aku bisa menyuruh pelayanku untuk membuatkan apa yang kalian inginkan.." Ujar Madam Rose seraya menyibak rambut merahnya dengan tangan kanannya.
"Tidak perlu Madam.. Saya datang kesini bukan untuk bertamu melainkan saya ingin menanyakan anda sesuatu.. Apakah boleh Madam?" Tanya Nana dengan tatapan mata yang memancarkan keseriusan.
Mendengar itu Madam Rose tersenyum kecil lalu menatap wajah Nana.
"Silahkan..." Jawabnya singkat seraya menyilangkan kakinya.
"Terima kasih Madam..Tanpa basa-basi lagi. Saya ingin menanyakan apakah anda yang yang menculik kedua adik saya?" Tanya Nana to the point yang membuat Madam Rose dan Daniel tersentak kaget, apalagi Daniel yang sekarang kelihatan panik dan mengucurkan keringat dingin dari pelipisnya.
''Muka datar BODOH!! Kenapa kau langsung menuduhnya seperti itu?!?!'' Geram Daniel dalam hati.
"Hum~ Atas dasar apa kamu Nana menuduh saya atas penculikan yang terjadi pada kedua adikmu~?" Tanya Madam Rose dengan seringai tipis diwajahnya.
"Dugaan saya saja..Namun jika saya ternyata salah. Mohon maafkan saya.." Nana memejamkan matanya lalu membukanya perlahan dan menatap Madam Rose dengan lekat sekali. Madam Rose yang mendengar itu menghela napas, seraya tersenyum lalu bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Nana, mengelus kepalanya dengan lemah lembut.
"Sayang sekali Nana. Dugaanmu kali ini salah.. Aku tidak menculik kedua adikmu bahkan aku tak tau kalau kedua adikmu telah diculik.." Ujar Madam Rose dengan lemah lembut.
"Kalau begitu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena menuduh anda. Saya permisi Madam..." Ujar Nana meminta maaf lalu pamit untuk undur diri.
"Tidak apa Nana, Kau tidak perlu minta maaf karena kau tidak salah. Hati-hati dijalan ya, kalian berdua.." Ucap Madam seraya mengantar Nana dan Daniel menuju pintu keluar.
Diperjalanan pulang Nana menundukkan kepalanya, dan itu membuat Daniel merasa khawatir. Mereka berdua terjebak di keheningan dan hanya Daniel yang merasa tersiksa, dia mencoba mencari topik pembicaraan namun nihil.
"Aku..harus bagaimana Kak Daniel?" Tanya Nana tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya yang masih lurus ke depan. Daniel tersentak lalu membenarkan kacamatanya yang melorot.
"Menurutku..Kau harus istirahat dan lupakan semua ini sejenak.." Ujar Daniel dengan memanyunkan bibirnya.
"Anu.. Kak Daniel udah gila ya?" Tanya Nana seraya menatap Daniel.
"Hufft...Kamu yang gila disini Nana!! Menuduh si siapa tadi Madam..Madam Rose sembarangan!! Frontal lagi!!" Ujar Daniel sedikit merasa kesal seraya mengacak-ngacak rambut Nana.
"Ya..Aku kan cuman menduganya. Lagian Madam Rose saja tidak marah lalu kenapa Kak Daniel marah?" Tanya Nana yang berhenti melangkah lalu berjongkok dan mengelus kucing yang ada di samping bahunya.
"Emang sih!! Tapi ya-"
"Daripada itu mending Kakak bantuin aku buat melaksanakan rencanaku.." Sela Nana tiba-tiba.
"Rencana?" Tanya Daniel tak mengerti maksud dari gadis datar ini.
"Ka-kamu beneran mau ngelakuin itu?!?!" Ujar Daniel yang nampak terkejut.
"Kalau Kak Daniel tidak mau ya tidak usah..Aku ngak maksa.." Nana mempercepat langkahnya karena ingin cepat-cepat ke rumah untuk mengambil foto kedua adiknya. Daniel mengacak-ngacak rambutnya dengan pandangan mata yang penuh kekesalan, dia pasrah dan ikut membantu gadis bermuka datar ini.
Mereka pun berjalan-jalan ke sekeliling kota, menanyakan tentang adik-adiknya Nana kepada orang-orang yang mereka jumpai, tanpa kenal lelah Nana terus, terus, dan terus mencari. Hingga matahari tenggelam dan tergantikan oleh kegelapan malam, selama berjam-jam tanpa istirahat, Nana terus berlari kesana-kemari ditemani oleh Daniel. Karena hari sudah semakin gelap Daniel memutuskan untuk membujuk Nana.
"Nana...Sepertinya pencarian ini harus dihentikan..Hari sudah semakin gelap..Ayo pulang ya?" Bujuk Daniel.
"Tapi-"
"Ngak ada tapi tapi!! Kalau kataku pulang ya pulang ngerti?!?!" Bentak Daniel seraya menarik belakang kerah baju Nana dan menyeretnya yang diseret hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.
''Tumben..langsung nurut..'' Heran Daniel dalam hatinya.
Mereka kembali pulang ke rumah Nana, namun tiba-tiba terbesit di pikiran Daniel kalau dia tidak seharusnya dua hari berturut-turut menginap di rumah gadis yang sendirian.
"Anu..Nana. Sepertinya aku tidak bisa menginap lagi..Maaf." Ujar Daniel dengan mata melirik ke samping tidak berani menatap Nana.
"Kenapa? Tapi, dari reaksimu aku menduga kalau kamu merasa tidak enak menginap di rumahku karena kita hanya berduaan saja." Kata Nana dengan menyelipkan beberapa helai rambutnya kebelakang daun telinganya.
"Ahahaha...ketahuan." Ujar Daniel tertawa canggung dengan menekan kacamatanya.
"Hufft...Kalau begitu tidak apa. Kak Daniel aku berterimakasih karena Kakak telah membantuku dan menemaniku kemarin dan hari ini. Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih dan maaf sebesar-besarnya karena telah membuatmu repot.." Nana menundukkan kepalanya sedikit ketika berucap tadi.
"Sama-sama, dan kau tidak perlu meminta maaf Nana. Kau tidak membuatku repot. Aku senang bisa membantumu. Kalau begitu aku pulang ya. Hati-hati! kunci pintu dan jendelamu rapat-rapat!! Kau dengar muka datar!! BYE!!" Kata Daniel seraya berjalan pergi dengan tangan melambai-lambai.
Nana melangkah masuk ke dalam rumahnya, menaiki tangga menuju kamarnya dan masuk. Merogoh saku celana training berwarna hitamnya dan mengambil sebuah handphone berwarna sama, lalu menekan sebuah nomor yang bertuliskan "Ibuku" dan meletakkan handphone-nya didaun telinganya, berdering, berdering terus berdering hingga suara operator yang mengatakan nomor yang dituju tidak aktif atau berada diluar jangkauan, Nana menutup teleponnya, terdiam sejenak, lalu melemparkan handphone-nya ke kasur dengan kasarnya. Menatap kosong ke arah jam dinding lalu menatap kasur dan menghempaskan diri ke kasur, saking lelahnya Nana langsung terlelap. Tak berapa lama
dia terlelap, tiba-tiba Nana mendengar suara bel pintu yang ditekan seseorang.
''Siapa yang datang malam-malam begini?'' Gumam Nana dalam hati sembari menatap jam dinding yang menunjukkan pukul '23.45'.
Mengusap-usap matanya, Nana turun dari kasurnya dan berjalan keluar kamar, menuruni tangga dan menuju pintu sebelum dia membuka pintu, dia mengintip ke sebuah lubang yang tersedia untuk mengintip siapa yang datang ke rumahnya malam-malam begini. Mata Nana terbelalak lalu tiba-tiba dia membuka pintu dengan cepat.
"NAYYA!! NAIEL!!"
[CONTINUE?]