Why Me?

Why Me?
Why Me? 55



"Van" Eles berdiri membawa kertas yang dia temukan tadi.


Irvan yang sedang memegang penyedot debu mematikan penyedot  saat mendengar panggilan kencang dari Eles. Lelaki itu menyodorkan kertas yang berisikan tulisan yang tidak dia pahami.


Irvan menerimanya dan membaca isi itu, lalu memotret hasil diagnosa dokter dan mengirim ke mamanya. Gadis berdiri setelah menyelimuti tubuh Genta.


"Ada apa?" Tanya Gadis saat melihat tatapan aneh dari kedua teman Genta.


Irvan menyodorkan selembar kertas dari psikiater, kertas yang diterima Gadis langsung dibacanya. Tidak lama ada suara getar di ponsel Irvan, lelaki itu mengangkatnya.


"Halo ma?" Sapa Irvan


"Kenapa kamu ngirim hasil diagnosis psikiater ke mama? Apa kamu ada masalah?" Tanya mama Irvan dari seberang.


Irvan memijat pelipisnya sebelum angkat suara.


"Bukan punya Irvan tapi punya Genta" katanya dengan nada setengah takut "Mama bisa nerjemahin ke bahasa yang mudah kita pahami?"


Lelaki itu bergerak turun dari kamar Genta yang diikuti Gadis, Eles dan juga Antar. Meninggalkan Genta tertidur seorang diri dikamarnya.


Sampai di undakan terakhir, Ririn baru menyudahi berbincang sebentar dengan perawatnya.


"Mama gak bisa ngejelaskan lebih rinci masalah yang dialami teman kamu, tapi yang jelas teman mu sedang mengalami masalah depresi berat" Ririn menjeda kalimatnya "Biasanya penderita mengalami depresi situasional dulu, biasanya gejala ini karena stres terlalu dalam, mungkin ditandai perubahan pola makan, pola tidur bahkan kesulitan untuk tidur"


Irvan menarik nafas sedalam dalamnya, dia mulai mengeraskan volume suara panggilan itu supaya teman temannya bisa ikut mendengarkan.


"Nah kalau temen kamu ini merasa dia gak menemukan teman untuk memahami kondisinya maka dia bisa semakin stres dan mengalami depresi berat, dia bisa mengalami sedih berlarut-larut, keputusasaan dan itu dalam jangka waktu yang lama" Ririn berhenti.


"Van, kamu dengerin Mama kan?" Tanyanya takut jika panggilan yang mereka lakukan terputus.


"Iya Irvan dengerin Mama"


"Mungkin temen kamu lagi ada masalah yang berat, kamu harus bisa nguatin dia, bahaya Lo kalau penderita udah berfikir kearah yang gak logis atau dia udah mulai ketergantungan sama obat" Tutur Ririn menjelaskan sedetailnya.


"Temen Irvan broken home" kata Irvan dengan lirih.


"Borken home?" Ulang Ririn


"Irvan harus gimana ma?" Tanya Irvan dengan nada begitu lirih.


Genta adalah kebahagian untuk Irvan, bagaimanapun lelaki itu selalu menguatkannya dalam keadaan apapun, mungkin jika tidak ada Genta, Irvan akan selalu merasa kesepian setiap waktunya.


"Kamu harus selalu ada disebelah dia, dengerin semua yang dia sampaikan, pahami perasaan dia dan jangan pernah memaksa dia buat memahami apa yang gak mau dia pahami" saran Ririn "Irvan, kita lanjut nanti ya, Mama ada pasien"


Dan panggilan langsung terputus, mereka bertiga menghela nafas berat. Terutama Gadis yang merasa ditikam sesuatu.


"Dia gak pernah mau cerita ke kita" kata Eles dengan nada suara lemah.


"Dia selalu mikir bisa nyelesaiin semuanya" imbuh Eles.


Irvan hanya menarik nafas dengan begitu berat. Tidak ada kata yang bisa keluar hari ini, bahkan Irvan terlalu pusing memahami masalah Genta yang begitu berat.


"Kalian pulang aja, biar gue yang jaga Genta" kata Gadis beranjak dari duduknya.


Irvan, Eles dan Antar menatap kearah Gadis dengan kompak, perempuan itu  tersenyum dengan tulus.


"Bukannya Benua hari ini keluar dari rumah sakit?" Tanya Gadis "kalian juga harus dampingi Gara, jangan sampai Gara berakhir kayak Genta"


Gadis kembali melangkah menuju kamar Genta.


🏡🏡🏡


Gadis mengusap rambut Genta, menatap rahang kokoh lelaki disebelahnya yang memejamkan mata begitu damai. Bahkan bubur yang dia buat sampai mendingin dimeja yang berdekatan dengan ranjang kamar Genta. Lelaki itu dengan nafas teraturnya memeluk pinggang Gadis.


Gadis terus mengusap puncak kepala Genta, tidak perduli berapa kali usapan yang sudah dia lakukan, Gadis tidak pernah merasa lelah.


"Kamu belum pulang?" Suara serak itu membuat usapan Gadis berhenti.


Gadis menatap mata Genta yang perlahan membuka matanya, lelaki dengan tubuh kekar itu menggeser posisi tidur dan menegakkan setengah tubuhnya, ditarik Gadis hingga masuk kedalam pelukannya. Hanya memeluk perempuan ini Genta merasa masalahnya sedikit bisa hilang.


"Mau tinggal disini?, hmm" Genta mengusap punggung Gadis.


"Mau" Gadis semakin memperdalam pelukan mereka, merasakan hangatnya tubuh Genta yang membelainya.


Gadis mengurai pelukan mereka lalu menatap wajah berantakan khas bangun tidur dari Genta.


"Aku buatin bubur, tapi udah dingin" Gadis beranjak dari tidurnya dan membuka mangkuk yang dia tutup sedari tadi, bahkan susu hangat yang dia buat juga ikut mendingin.


"Aku panasin dulu ya" kata Gadis beranjak untuk turun.


"Gak usah" Genta menariknya "Yang penting gak basi kan?"


Tangan Genta membuka penutup mangkuk, lalu menyendok sesendok bubur buatan Gadis dan berdehem.


"Enak" katanya kembali mengambil sesedok lagi.


Melihat Genta menikmati bubur buatannya, hati Gadis jadi menghangat, dalam hatinya Gadis berjanji akan selalu berada di sisi lelaki rapuh ini, lelaki pembohong yang mengaku dirinya baik baik saja.


"Kenapa?" Sadar kalau sedari tadi Gadis tidak melepaskan pandangannya dari Genta, lelaki itu menaikan sebelah alis.


Sebelah tangan Gadis yang tidak memegang mangkuk mengusap wajah Genta, lalu sudut bibirnya terangkat.


"Aku mau bahagia in kamu" katanya.


"Kenapa tiba tiba?" Genta menelan buburnya dengan pelan.


Gadis berdecak "emangnya gak boleh" Gadis cemberut sendiri.


Genta mengambil mangkuk yang dipegang Gadis dan meletakkan di atas meja, lalu tangannya mengambil susu dan meneguk susu putih itu.


"Mau?" Tawar Genta pada Gadis yang masih cemberut.


"Gak ah" tolaknya dengan cemberut.


"Minum aja, nanti gantian aku yang minum susu punyamu"


Gadis melotot saat menyadari kalimat mesum dari Genta lalu tangan mungilnya memukul mukul dada bidang Genta, pukulan itu justru membuat Genta tertawa terbahak bahak.


Genta meletakkan susu yang baru setengah di minumnya lalu menarik Gadis kedalam pelukannya hingga tubuh Gadis berada diatas tubuhnya.


Genta memeluk tubuh Gadis hingga pukulan yang dilayangkan Gadis berhenti. Lelaki itu menghirup aroma tubuh Gadis.


"Aku sayang sama kamu Dis" kata Genta lirih.


"Aku juga"


Genta mendorong sedikit tubuh Gadis lalu ******* bibirnya, kini Genta merubah posisi mereka berdua dimana Gadis yang berada dibawah tindihan Genta. Gadis mengalungkan tangannya di leher Genta sehingga dengan leluasa Genta bisa memperdalam ciumannya.


"Astagfirullahaladzim astagfirullah, astagfirullah" suara istighfar dari belakang membuat ciuman Genta dan Gadis terlepas.


Genta menoleh dan menatap ketiga temannya yang melongo melihat adegan antara dirinya dan Gadis tadi.


"Jadi ini Dis kelakuan elo pas nyuruh kita buat nemuin Gara, jadi elo mau mesum sama Genta" Eles geleng geleng sendiri.


Saat itu terjadi Gadis menutup wajahnya dengan selimut, dia terlalu malu menatap Eles, Irvan dan Antar yang seperti tidak percaya melihat kejadian tadi.


"Dis gue kan nyuruh elo ngehibur Genta, kenapa elo malah memperkosa dia" komentar Irvan juga terdengar tidak percaya.


Genta menatap kearah Gadis dimana wajah perempuan itu ditutupi dengan selimut sangking malunya. Genta menarik selimut itu dan menatap wajah Gadis yang sudah seperti udang rebus. Wajah itu mengundang tawa dari Genta, bahkan begitu lebar, amat lebar.


"Iya Van gue diperkosa Gadis" katanya masih terus tertawa menggoda Gadis yang kini memejamkan mata karena malu.


"Bang Genta udah senyum, berarti upaya kak Gadis buat ngehibur dia berhasil" kata Antar dengan suara lirih.


"Iya ampar ampar pisang, cuman Gadis yang bisa buat Genta ketawa selebar itu" kata Eles.


"Mau dilanjutin gak? Mumpung nyokap elo masih lama baliknya" kata Irvan menggoda Genta.