Why Me?

Why Me?
Why Me? 45



Akmal akhirnya pergi setelah tatapan Genta begitu menyorotkan kemarahan, dia tidak akan bisa membawa anak itu pergi dalam kondisi seperti ini, Akmal mengenal betul watak Genta bagaimana. Dengan berat hati akhirnya dia memilih meninggalkan Genta dan Rani.


Perempuan yang berpegangan pada ranjang itu masih menangis tersedu sedu, meski begitu dengan segala kekuatannya, Rani mencoba bangkit dan mendekati Genta .


"Sayang" Rani hendak memegang wajah Genta yang menahan segala tangisnya.


Sayang, Genta lebih dulu menepisnya dengan kasar. Sorot matanya tak sama kalah marahnya saat menatap Akmal tadi.


"Genta mama__"


"KELUAR" usir Genta.


"Taaa" Rani masih berusaha membuat emosi Genta stabil.


"Aku bilang keluar, KELUAR MA" diakhir kalimat nadanya begitu meninggi.


Rani hanya bisa memaklumi Genta, mungkin lelaki itu terlalu kaget melihat sikap bruntal Akmal barusan.


"Mama minta maaf udah ganggu kamu, kamu tahu kan ini semua Mama lakuin demi kamu, Mama gak mau kamu jatuh ditangan papa kamu"


Akhirnya Genta mendongak dan menatap tajam kedua bola mata Rani. Ditatap seperti itu entah kenapa Rani jadi takut sendiri, tatapan itu sama persis dengan tatapan Akmal.


"Aku gak mau tahu urusan Mama, dan aku gak mau ikut campur urusan mama" tekan Genta begitu kuat "SEKARANG MAMA KELUAR" usir Genta.


Rani lalu keluar dari kamar Genta, ketika pintu tertutup tubuh Genta merosot kebawah, kekuatan yang tadi di dapatkan hilang secara tiba tiba, yang ada hanya rasa lemas dan sayatan belati yang begitu tajam.


🏑🏑🏑


Lagi lagi Genta tidak tertidur sama sekali, meskipun dia sudah merapikan barang barang miliknya, tetap saja mata bulat hitam itu tidak bisa membuat Genta merasa lelah atau mengantuk. Semalaman Genta hanya berpikir mengenai keluarganya.


Setelah mandi dan mengganti dengan pakaian sekolah Genta menuruni tangga, melihat pemandangan Rani yang tengah menyiapkan sarapan, langkahnya berhenti. Entah kenapa sesakit ini melihat perempuan itu bekerja keras sendiri, kenapa hatinya begitu teriris melihat ini semua.


Genta terus berjalan.


"Genta, sarapan dulu nak, Mama udah buatin nasi goreng" tawar Rani yang mengambilkan piring meskipun Genta tidak duduk.


Lelaki itu hanya menatap arah meja makan kemudian melanggang tanpa sebuah kataΒ  pamitan sama sekali. Genta hanya tidak mau duduk disana membuat dirinya kembali memutar memori tentang Akmal, Genta tidak mau.


🏑🏑🏑


Tidak ada romantis romantisan dengan Gadis pagi ini, Genta hanya menjemputnya, dan mengantarkan Gadis sampai sekolah kemudian mereka berpisah di parkiran. Gadis juga tidak bertanya kenapa Genta berubah, lelaki itu terlalu pusing memikirkan semua yang menghantamnya bertubi tubi.


"Genta" Eles merangkul lengan Genta.


"Udah sekolah Lo?" Tanya Genta yang terus berjalan menuju kelasnya.


"Bokap gue udah membaik meskipun belum sadar"


Genta hanya mengangguk, sungguh dia tidak sedang memikirkan obrolannya dengan Eles, otaknya masih terfokus kerumah. Genta tidak menuju kelas, lelaki itu membelokan langkah menuju kantin pak Tab, disana Genta langsung memesan makanan.


"Lo gak sarapan dirumah?" Tanya Eles.


"Haiii gengs" Irvan dan Antar datang bersamaan, keduanya langsung duduk.


"Beuh si Genta udah makan di kantin" komentar Irvan saat melihat Genta menyantap nasi goreng buatan pak Tab.


"Gimana kaluarga elo Ta?" Tanya Eles terdengar hati hati.


Genta menghentikan kunyahannya, meski begitu dengan senyum paksa Genta menariknya.


"Mereka bakalan cerai" kata Genta seolah tidak terjadi sesuatu hal yang patut dicemaskan.


Eles dan Irvan hanya bisa diam saja, sedangkan Antar tidak tahu apa apa mengenai obrolan mereka. Tidak ada yang bercerita, semua diam saja sampai Genta menghabiskan sepiring nasi goreng.


"Diparkiran tadi sih udah ada mobilnya bang Gara, gue kira dia kesini" kata Antar.


"Belum, dia belum kesini malah" kata Eles, lelaki itu bangkit lebih dulu "Gue kekelas dulu, ngecek si Gara" tuturnya .


"Ikut aja kita. Sekalian tanya gimana keadaan Benua" saran Irvan yang diangguki Genta dan Antar.


Mereka semua kompak berdiri, setelah membayar sarapan Genta, semuanya pergi ke kelas Gara bersama sama. Sesekali Eles dan yang lainnya bercanda meski hanya dibalas senyum tipis dari Genta.


Sampai di kelas XII IPA 4, mereka masuk bersama sama, Gara tampak sedang duduk dengan wajah pucat.


"Elah ni anak, kita tungguin di kantin malah jadi penunggu kelas" adalah kalimat sapaan pertama yang keluar dari mulut Eles.


Mendengar suara teman temannya Gara mendongak, saat melihat Genta , entah kenapa Gara juga ikut berdiri.


"Ra gimana keadaannya Benu__" belum selesai Genta berbicara, Gara sudah menendang perut Genta hingga lelaki itu mundur dan menabrak meja.


Tidak puas disitu, Gara lantas menarik kerah Genta dan meninju wajahnya, begitu bruntal Gara menyerang sepihak Genta yang masih bingung dengan keadaan disini, banyak jeritan histeris dari teman sekelas Gara namun tidak di gubris sama sekali.


"Brengsek, ********" makian itu terus diucapkan Gara.


"Ra Ra" Eles menarik tubuh Gara untuk menghalukan tinjuan Gara.


"Sadar Ra, Lo kerasukan apa?" Irvan menghalangi Gara supaya dia tidak terus menerus memukul Genta.


Gara tetap bisa lolos setelah memberontak sekuat tenaganya, lelaki itu menarik kerah Genta lagi, dan mengumpat begitu banyak kata kata kasar.


"Lo kenapa, ada masalah apa?" Disela sela pukulan, Genta masih bisa bersuara.


"Masih tanya Lo, tanya sama diri elo sendiri"


Bugh


Bugh


Bugh


Bugh


Genta hampir lemas sendiri karena tidak diberi celah untuk membela dirinya, Gara terlalu emosi, kemarahannya sudah mendominasi dirinya.


"Brengsek" akhirnya satu pukulan mendarat di pipi Gara, lelaki itu tersungkur.


Gara menatap lelaki yang memukulnya barusan, Irvan masih berdiri dan hampir menyerang balik Gara andai emosi lelaki itu tidak segera stabil.


"Dia temen elo Ra" kata Irvan begitu frustasi saat menyadari dia memukul Gara.


Lelaki itu meludah tempat disebelahnya, Gara menyeka darah disudut bibir kemudian berdiri.


"Gue gak punya temen kayak dia" kata Gara.


Dengan sisa tenaga yang dimiliki Genta, lelaki itu berdiri dan menatap kearah Gara. Tentu saja Genta masih bingung setengah mati.


"Lo ada masalah apa sama gue?" Tanya Genta berusaha mengendalikan emosinya, sungguh saat ini Genta ingin menghabisi Gara.


"Sok suci, muak gue sama elo Ta" Gara berjalan dan menabrak bahu Genta.


Lelaki itu sudah hilang dibalik kerumunan, hanya ada mereka yang menatap kearah Genta. Irvan tetap menatap arah tembok, sedangkan Eles dia menatap arah Genta yang tampak bingung dengan wajah babak belur. Antar? Lelaki itu sudah kabur sejak Gara memukul Genta pertama kali. Antar terlalu pengecut melihat hal semacam ini.


"Kita ke UKS dulu obati luka elo" saran Eles menepuk bahu Genta.


Usapan di wajah secara perlahan menyapu wajah Genta. Lelaki itu menelan ludah dan berusaha memahami situasi saat ini, Genta meraih tas punggungnya, meski dengan tatapan teman sekelas Gara, lelaki itu akhirnya keluar dari kelas Eles yang disusul oleh Irvan.