Why Me?

Why Me?
Why Me? 62



"Lo bilang apa tadi?" Genta melangkah mendekati Antar dengan wajah yang begitu mengeras.


Ada yang terjadi dengan Gadisnya, tapi Genta justru tidak memperdulikan. Bayangan pesan singkat Gadis semalam, suara seraknya yang berkata dia membutuhkan Genta, terus terngiang di telinga.


"Papanya kak Gadis kena TBC kak, dari kemarin dia dirawat dirumah sakit, sekarang aja anak OSIS pada izin buat jenguk in papanya kak Gadis" kata Antar setengah takut.


Genta merasakan nafasnya kembali sesak. Kenapa dia berubah menjadi orang brengsek yang tidak tahu apa apa dengan kekasihnya, padahal Genta begitu dekat dengan Gadis, setiap hari selalu bersama, namun apa yang terjadi saat ini, justru dia menjadi orang yang tidak tahu apa apa tentang Gadis.


"Ta, Lo gak tahu masalah ini?" Tanya Irvan yang mulai menyadari gelagat Genta.


Lelaki itu menggeleng penuh kelemahan, dia menatap kearah langit, menghirup udara sedalam dalamnya.


"Gue cabut ke rumah sakit dulu" kata Genta bergegas pergi dan menaiki motornya.


Diatas motor, semuanya seakan menampar Genta, tentang kenyataan masalah Gadis yang bahkan dia sendiri tidak tahu. Genta selalu berfikir orang paling menderita di dunia ini hanya dirinya, tanpa bertanya apa masalah Gadis.


Hanya butuh tiga puluh menit, motor Genta menebus jalanan dan berhenti di rumah sakit pelukan bunda. Genta bergegas turun, menyusuri koridor rumah sakit. Dia bahkan tidak tahu dimana Martine dirawat.


"Genta" panggilan dari belakang membuat dia menoleh.


Windi dengan jaket berwarna pink mendekati dirinya, rambut Windi yang pendek sebahu hampir membuat Genta pangkling.


"Tahu kamar inap Om Martine?" Tanya Genta.


"Eh" Windi terperagap "Lantai dua, nomor 456" ujar Windi masih memperhatikan wajah Genta dengan sebaik baiknya.


Ada lengkungan yang begitu jelas terlihat di wajah Windi, namun Genta tidak memperhatikan karena terlalu panik.


"Bareng aja, gue juga mau ke sana" tawar Windi.


"Lo jalan duluan" titah Genta.


Windi yang memimpin jalan, diikuti Genta dari belakang. Selama perjalanan Windi dan Genta hanya diam membisu, tidak ada suara sama sekali, sebelum berbelok ke ruangan bernomor empat ratusan, langkah Genta terhenti dengan kaku.


Gadis tengah menunduk dengan wajah pucat, celana pendek selutut serta switer warna kuning yang hampir menutupi celananya, alas kaki berwarna merah. Perempuan itu menunduk sambil ditemani Roy.


Tatapan Genta memanas, ada rasa bersalah yang teramat sangat, bukan karena disana ada Roy, melainkan karena Genta menjadi orang yang terlahir yang tahu kabar seburuk ini.


"Ta, Lo gak kesana?" Windi menepuk punggungnya sehingga membuat Genta tersadar.


Dengan perlahan kaki Genta melangkah mendekati Gadis, ketika jarak mereka menipis. Gadis mendongak, menatap kedatangan Genta yang merubah pancaran matanya. Bola mata hitam pekat tanpa nyawa tadi perlahan lahan mulai berair. Genta melangkah mendekati Gadis, saat jarak mereka menipis, Gadis langsung memeluk Genta.


Menumpahkan tangisnya yang sudah dia tahan dari semalam, menumpahkan ketakutannya dalam pelukan itu. Genta mengusap punggung Gadis, pasti berat, perempuan bertumbuh mungil yang harus kesepian ditinggal ibunya sejak kecil, harus memiliki badan gagah untuk menjaga dan merawat ayahnya.


"Its okey" suara Genta melemah, membisiki kalimat penenang untuknya.


Genta mengurai pelukan mereka, membimbing Gadis untuk duduk dan mengusap air mata perempuan yang berarti untuk dirinya.


"Maaf ya, aku telat" kalimat itu dipenuhi rasa sesal yang begitu luar biasa.


"Genta, kemarin keadaan papa udah membaik, papa juga gak ngeluh sakit, papa gak batuk, tapi semalam__" Gadis terisak sambil memegangi lengan Genta.


"Semalam papa ngeluh sakit, aku takut Genta"


Seharusnya semalam dia ada disini, duduk menemani dan mengusir rasa takut Gadis, seharusnya semalam dia tidak berkata sekasar itu pada Gadis, disaat Gadis membutuhkan dirinya, kemana Genta?.


"Aku takut papa pergi ninggalin aku Ta, aku takut papa gak disini lagi"


Cekalan itu semakin kuat diikuti isakan dari Gadis. Genta hanya bisa memberi senyum untuk menguatkan Gadis, bahkan saat ini rangkaian kata untuk menguatkan perempuannya sendiri pun sudah tidak bisa dia ucapkan.


"Masuk yuk, aku pengen ketemu sama papa kamu" Genta menyeka air mata Gadis, membelai rambut rambut kekasihnya.


Gadis mengangguk, tidak lagi dia memperdulikan kehadiran anggota OSIS yang sedari tadi menatap kemesraan mereka, tidak juga mempedulikan Roy dan Windi yang merasa ditikam sesuatu.


Genta dan Gadis berjalan masuk keruangan yang sama, disana Martine sedang tertidur pulas, wajah lelah seorang ayah, wajah kesakitan tergambar nyata disana.


"Kata dokter gimana?" Tanya Genta sambil terus menatap kearah Martine.


"Udah parah, papa kena TBC otak"


Genta memeluk Gadis dari samping, mencium pelipis perempuan itu. Dari tatapan Gadis, perempuan itu begitu lemah.


"Pasti sembuh" Genta menguatkan melalui kata kata sederhana itu.


"Disss" Roy melangkah masuk kedalam ruangan setelah panggilannya di toleh oleh Gadis.


"Kita mau pamit dulu. Tadi izinnya cuman sampe jam 9" kata Roy.


Gadis mengangguk, lalu berjalan keluar ruangan untuk mengantarkan kepergian teman OSIS nya.


Genta masih berdiri di dalam ruangan, menatap Martine yang tidak berdaya. Sesal nya kembali menghantam Genta, kemana dirinya disaat Gadis membutuhkan pelukan? Kemana janji janjinya untuk menemani Gadis?.


Bayangan saat Rani demam membuat Genta meringis sendiri, berkali kali Genta menghubungi Akmal namun lelaki itu tidak kunjung mengangkatnya. Kenapa Genta sebrengsek itu, kenapa Genta harus sama seperti Akmal yang meninggalkan orang yang dia cintai disaat dia membutuhkan dirinya?.


🏡🏡🏡


"Dari mana kamu?" Suara itu selalu menekan stres Genta.


"Rumah sakit" jawabnya lemah.


"Papa kamu menikah hari ini" kata Rani mendekati putranya.


Langkah Genta terhenti. Ya, Genta tahu Akmal menikah hari ini, itulah yang membuatnya pulang malam ini dan meninggalkan Gadis dirumah sakit sendirian.


"Kamu mau pergi kesana?" Tanya Rani yang kalimatnya mengandung larangan.


Genta mengangguk tanpa menatap wajah Rani, lelaki itu menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar.


Genta membasuh diri, mengganti dengan kemeja yang rapi serta menyisir rambutnya. Kau boleh mengatakan Genta gila karena mau datang ke acara pernikahan papanya. Genta tidak gila, dia hanya ingin menghormati papanya. Juga, bagaimanapun Akmal masih menjadi ayahnya, sampai kapanpun.


Genta menuruni anak tangga setelah selesai mengganti pakaian, diruang makan, Rani menunggunya sambil bersidekap dengan gugup. Ketika tahu Genta menapaki anak tangga terakhir, Rani bergegas mendekati Genta.


"Jangan pergi" cegah Rani.


"Genta cuman mau ngasih selamat ke papa" jawab Genta dengan suara parau.


Berat rasanya harus melangkah kesana, tapi setidaknya Genta ingin melakukan dan memberi selamat atas pernikahan Akmal untuk terakhir kali. Semoga saja...


"Kamu sayang sama Mama kan?" Rani sudah berderai air mata.


Genta menatap wajah Rani, menatapnya dengan wajah datar.


"Genta" Rani meraih tangan putranya dan digenggam tangan itu "Mama mohon jangan kesana, kamu tahu siapa yang dinikahi papa kamu?, Itu Sandra, orang yang menghancurkan keluarga kita"


"Genta tahu, tapi Genta hanya pengen Dateng, sebentar aja"


"Taaa" Rani merintih "kamu gak boleh pergi kesana" kata Rani final sambil melepaskan genggaman ditangan putranya.


Genta menatap tangannya yang terjatuh secara lemas, menatap sikap Rani yang kembali seposesif itu. Kenapa dirinya tidak boleh pergi kesana? Apakah kedatangan Genta akan menghancurkan harga diri Rani?


Tanpa perduli, Genta melangkahkan kaki, baru empat langkah, suara benda jatuh kelantai membuat Genta menghentikan langkahnya.


Prangggg


Mata Genta membulat sempurna saat melihat benda mengkilat sudah berada didekat leher Rani. Perempuan yang melahirkannya itu mengarahkan pisau ke lehernya sendiri.


"Kamu pergi kesana, Mama akan mati" ancam Rani.


"Ma" Genta lemas sendiri melihat kelakuan Rani.


Padahal dia hanya sebentar kesana, mengucapkan selamat dan meminta untuk Akmal tidak mengulangi perbuatannya lagi, selepas itu Genta akan kembali kerumahnya, bersama dengan Rani, selamanya. Tapi kenapa Rani bisa berbuat seperti ini.


"Lebih baik Mama mati dari pada kamu kesana"


Pisau itu sudah diletakkan Rani di kulit leher. Tubuh Genta sudah menegang, semua kalimatnya terkunci.


"Apa susah untuk kita hidup berdua Genta? Apa sesusah itu untuk kamu melupakan papamu?"


Genta ingin menjerit setiap kali Rani seposesif ini, Genta ingin merenggut nyawanya karena harus diberi batas hubungan antara dirinya dan Akmal. Padahal, Akmal adalah ayah kandungnya sendiri.


"Genta akan pulang nanti, Genta gak tinggal disana" suara Genta lemah, sangat lemah.


Rani menggeleng "Kamu pilih Mama atau papa?"


"Maaaaaa"


"Kalau kamu sayang sama Mama. Jangan temui papa kamu lagi"


Genta menutup matanya, menelan ludah yang terasa mengganjal di kerongkongan, merasa panas di tenggorokan, merasa tubuhnya sudah digerogoti emosi.


"Apa segitu bencinya Mama sama papa?"


Rani mengangguk dengan mantap, dia amat sangat membenci Akmal. Lelaki itu dengan tega menghianati kepercayaan yang sudah dia berikan, menghianati dan meninggalkan dirinya. Membuat Rani berpikir bahwa dirinya adalah wanita paling menjijikan di dunia.


"Tidak ada alasan buat Mama menyukai papamu lagi" kata Rani dengan tegas "Kamu putuskan sekarang, pilih Mama atau papa?"


Genta menunduk, perlukah seorang anak diminta memilih salah satu diantara mereka? Bahkan sudah jelas ibu adalah orang pertama yang akan tertulis, setelah nya baru ayah.


Air mata Rani terus menetes dengan deras dari matanya. Genta lemah melihat air mata itu, perlahan Genta mengangguk, mengiyakan kemauan Rani.


"Ya, Genta akan jauhi papa" Genta mendekati Rani.


Selesai kalimat Genta, pisau itu turun dan jatuh kelantai diikuti tubuh Rani. Genta memeluk mamanya yang terisak didalam pelukan Genta


"Mama orang paling berarti dalam hidup Genta, tolong jangan bersikap seperti tadi" pinta Genta dengan lirih.


note : ini kebanyakan masalah yg dialami anak broken home, dimana dia selalu dibatasi untuk ketemu sama bapaknya sendiri, atau selalu dikasih pilihan.


untuk para pejuang broken home, kalian luar biasa, semangat ya 😘