Why Me?

Why Me?
Why Me? 63



Genta menatap Gadis yang sedang menyuapi makan Martine. Melihat itu Genta merindukan Akmal, lelaki yang tidak dia temui hampir empat hari ini, mungkin Akmal sudah bahagia dengan keluarga barunya.


Genta menatap Gadis yang dengan telaten menyuapi Martine, lalu tertawa karena Martine masih bisa melawak meski kondisinya selemah itu.


"Kalo papa udah gak ngerasain nyeri lagi, kata dokter papa boleh pulang" Gadis meletakkan mangkuk keatas meja lalu memberikan Martine minum.


"Papa udah gak tahan Dis disini" Martine meneguk minum.


"Makanya cepet sembuh, sepi dirumah tanpa papa"


"Papa mau tidur dulu" kata Martine sudah menutup matanya.


Genta paham sikap itu, sikap yang selalu Genta lakukan setiap harinya, tidur adalah cara melupakan sakit paling efektif. Genta dan Gadis saling pandang sebelum Gadis merangkul lengan Genta dan mengajaknya keluar  ruangan.


"Kamu dari tadi ngelamun terus, mikirin apa?"


"Hm" Genta berdehem, dia menatap langkah kakinya dan Gadis yang saling beriringan.


Mereka berhenti dan duduk di kursi tunggu yang sedikit sepi, disebelah Genta ada kaca tembus pandang, sedang hujan diluar jadi air nya terlihat nyata dari dalam. Genta menatap rumput hijau yang dibasahi air hujan, hanya menatapnya saja membuat Genta tahu kalau diluar pasti sejuk.


"Yang" Gadis menggoyangkan lengan Genta.


Lelaki itu menoleh lalu menarik Gadis kedalam pelukannya, tenang saja, kali ini Genta hanya memeluk Gadis sewajarnya, tidak sebruntal saat mereka sedang ditempat sepi.


"Kemarin papa aku nikah" Genta mulai bercerita "Mama gak mau aku Dateng kesana, Mama ngelarang aku buat ketemu papa"


Gadis melepaskan pelukan itu dan menatap ekspresi wajah Genta yang datar, meski begitu Genta masih bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Aku udah gak ketemu papa mulai hari itu, papa juga gak dateng atau nyariin aku" Genta menatap bola mata Gadis.


"Kamu kangen papa?"


Genta menggeleng, "Aku gak habis fikir aja sama sikap Mama, seharusnya Mama gak bersikap kayak gitu, gimanapun kan aku juga anak papa"


Gadis meraih tangan Genta, disela sela jari itu Gadis mengaitkan tangan keduanya. Mata Genta menatap genggaman tangan mereka berdua.


"Kamu tahu, disaat seorang ibu bercerai dengan ayah, ibu akan kehilangan kekuatan untuk berdiri" Gadis menatap mata Genta "Seorang ibu berpegangan pada anaknya, satu satunya pegangan yang bisa membuat dia berdiri seperti semula, tapi saat anaknya pergi ninggalin dia, maka ibu akan jatuh dan kehilangan pegangan untuk berdiri"


Genta menatap wajah Gadis, mencerna kalimat dari Gadis dengan baik baik.


"Mungkin mama kamu takut kamu akan ikut Papa kamu, makanya dia ngelarang kamu ketemu sama papa kamu"


Genta terdiam, menelan ludahnya dan sedikit merendahkan posisi duduk, lalu kepala yang di hiasi rahang kokoh itu menyandar di bahu Gadis.


Genta memejamkan mata, sejenak sampai tanpa sadar dia tertidur di bahu Gadis.


🏡🏡🏡


Martine keluar rumah sakit setelah seminggu dirawat disana, Martine harus berhenti total dalam bekerja, juga harus bolak balik rumah sakit untuk melakukan pengobatan berjalan. Selama itu pula Gadis selalu menamani Martine, beruntung Martine memiliki tabungan yang cukup.


Genta selalu menemani mereka, menebus kesalahan karena pernah mengabaikan Gadis.


"Mau pulang?" Tanya Gadis setelah mereka baru pulang dari rumah sakit.


Genta mengangguk sambil mengusap puncak kepala Gadis. Perempuan yang diusap lantas memeluk Genta dengan erat.


"Makasih ya, makasih udah nemenin aku ngelewatin ini" Gadis mempererat  pelukannya.


Genta mengangguk sambil menciumi leher jenjang Gadis, sedikit menyibak rambut Gadis dan tangan nakalnya menyusup ketengah pelukan mereka, dua kancing kemeja Gadis dibuka oleh Genta hingga perlahan Genta mengigit kerah kemeja Gadis agar bisa mengekspos bahu Gadis yang mulus.


Gadis diam saja, perempuan itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Genta. Dengan nakal Genta mengigit kecil leher Gadis, lalu turun ke dada Gadis. Tidak, jangan berfikir Genta mencium dada tengah milik Gadis. Beberapa bercak merah memenuhi dada kanan dan leher Gadis.


"Pulang ya" terakhir Genta memeluk dengan erat.


Terkadang bermesraan seperti ini membuat keduanya bisa melupakan masalah masing masing, jika ada kesempatan Genta selalu memanfaatkannya.


"Hati hati"


Genta melepaskan pelukan mereka dan membenarkan dua kancing kemeja Gadis, diperlakukan seperti itu tentu membuat Gadis tersipu malu. Genta mencubit sekilas pipi Gadis lalu berjalan kearah motornya.


🏡🏡🏡


Didepan rumah, Genta membuka pintu, mobil sedan warna putih yang tidak dia kenali membuat jantung Genta berdebar lebih kencang. Ketika membuka pintu, Genta melihat sorot mata marah dari Rani, juga tubuh gagah Akmal yang kembali menginjakan kaki di rumah mereka untuk pertama kali setelah perceraian Rani dan Akmal.


Papanya, menoleh ketika melihat Genta baru menutup pintu ruang tamu. Didekati Genta, seperti kejadian sebelum mereka berdua bercerai, Akmal kembali mengadukan perlakukan Rani pada dirinya.


"Bilang sama papa kalau kamu akan ikut Papa" kata Akmal .


Genta menatap kearah Rani yang melotot kearahnya.


"Kamu gak bisa bawa Genta, hak asuh Genta sudah jatuh ke tangan ku" cegah Rani.


"Kamu udah keterlaluan Rani, apa maksud mu melarang Genta menemui aku, aku ini masih ayahnya Genta, masih menjadi tanggung jawabku menemui putra kandungku sendiri" Akmal meninggikan suara.


Rasanya hal seperti ini tidak asing lagi untuk Genta, lelaki itu menarik nafas, lalu melepaskan jaket yang membungkus tubuhnya.


"Wajar aku melarang Genta menemui kamu, aku cuman gak mau nantinya Genta jadi orang seperti kamu"


Akmal geleng geleng sendiri, dia mendekati Rani dengan tidak percaya.


"Cukup aku yang tertekan tinggal sama kamu, cukup aku saja yang hampir mati dengan larangan konyol mu itu" Akmal menarik nafas "Jangan Genta, tolong Rani, biarkan dia menemui aku, aku ini ayahnya"


Urat urat leher Akmal sampai muncul, Genta mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ma, pa" suara Genta melirih.


"Sekarang iya hanya bertemu, tapi besok besok apa lagi. Kamu akan merayu dia untuk tinggal dengan kamu?" Rani menatap Akmal seperti hendak membunuhnya "IYA SEPERTI ITU?"


"Maaa paaa" sekali lagi suara Genta masih melemah, berharap kedua orangtuanya berhenti bertikai.


"Tapi semua kecurigaan aku itu bener, akhirnya kamu selingkuh, nelantarin aku dengan Genta, dan sekarang kamu mau ambil dia?" Rani geleng geleng.


"AKU GAK NELANTARIN KALIAN" teriak Akmal "aku berusaha buat ngasih Genta nafkah, aku masih ngelakuin kewajiban aku sebagai seorang ayah, dan kamu justru menghalangi kami untuk bertemu"


"jangan banyak alas__"


"Kamu selalu egois" kata mereka hampir bersamaan.


"MA PA" Genta berteriak dengan lantang, sangking emosinya tas yang ada dibahu dia banting kelantai.


Genta lelah melihat pertikaian semacam ini, apa tidak puas dulu sewaktu mereka tinggal serumah? Apa tidak puas setelah Genta kehilangan pegangan di kedua tangannya? Bahkan ketika mereka sudah tidak tinggal serumah, pertikaian semacam ini masih terus terjadi.


Akmal dan Rani menatap kearah putranya, mulut mereka rapat terkunci.


"Kasih Genta kesempatan buat ngomong" Genta mendekati mereka berdua "Maaaa, paaa" suara Genta penuh rasa sakit.


"Genta cape, pengen istirahat" mohon Genta untuk mengakhiri pertikaian mereka.


Akmal mendegus, menghembuskan nafas dengan suara yang begitu berat, begitu pun Rani, perempuan itu mengalihkan badan dan mengigit bibirnya.


"Oke, terserah kamu mau larang aku buat ketemu sama Genta" putus Akmal "Genta, papa akan transfer setiap bulan ke atm yang udah papa kasih" imbuh Akmal.


"Atm?" Rani mengernyitkan dahi, ada sesuatu yang tidak dia ketahui ternyata.


Perempuan itu mendekati Genta dan menarik tubuh putranya, lalu merogoh  kedalam saku, tidak ada, Rani beralih ke tas dan membuka tas itu dengan paksa, di keluarkan isi isinya.


"Maaa" Genta memohon agar Rani menghentikan kelakuan gilanya.


Ketika dia menemukan dompet warna hitam, Rani bergegas membuka dan menemukan black card serta atm yang diyakini pemberian dari Akmal.


"Maaaa" Genta masih memohon.


"Ini yang kamu maksud?" Rani menarik kemeja Akmal dan memasukan dengan paksa ke kantong kemeja mantan suaminya.


"Rani" Akmal tidak percaya melihat sikap bruntal mantan istrinya.


"Genta gak butuh sepeserpun uang kamu"


Genta ingin menangis, ingin marah pada sikap posesif yang terlalu diperlihatkan oleh Rani. Dia tahu Rani kehilangan separuh jiwanya. Tapi jangan mengajak Genta ikut serta kehilangan separuh jantung Genta. Padahal ATM dan black card adalah cara terakhir untuk Genta bisa menerima kewajiban sebagai anak Akmal.


"Kamu bener bener Ran" Akmal tidak percaya melihat sikap mantan istrinya "aku tahu kamu punya segalanya untuk memenuhi kebutuhan Genta, tapi hal kayak gini udah jadi kewajiban aku sebagai seorang ayah" perkeras Akmal.


"Simpan kewajiban kamu buat anak baru mu itu, Genta gak butuh sedikitpun kewajiban itu, yang Genta butuhin cuman aku"


Akmal benar benar emosi, menatap dengan bengis kearah Rani. Perlahan tangan Genta menyentuh lengan Akmal, lelaki itu menoleh dan menatap wajah Genta. Emosinya tadi perlahan memudar.


"Tolong tinggalin kami pa" mohon Genta.


Akmal menarik nafas, kalau Genta yang meminta, Akmal akan berusaha mewujudkannya.


"Ayo ikut Papa aja, papa gak mau kamu bernasib sama kayak papa" kata Akmal hendak meraih tangan Genta namun Genta segera menjauhkan tangan itu.


"Aku akan tetep disini, sama Mama" putus Genta.


Ya, Genta memang sudah memutuskan sejak awal kalau dia akan berada disebelah Rani. Perempuan yang mentalnya tersakiti karena di khianati orang paling dia percaya di dunia. Genta tahu kenapa Rani bersikap seposesif itu, karena seperti kata Gadis, ketika dirinya memutuskan pergi, Rani akan kehilangan semua.


"Tapi Ta" suara Akmal melemah.


"Turuti kemauan Mama, jangan temui aku"


Rani terisak, dia menyeka air matanya secepat kilat. Tidak menyangka jika ini semua harus berakhir seperti ini, Rani tidak menyangka karena dia harus menyakiti hati putranya sendiri.


Akmal menghembuskan nafas pasrah, lelaki itu bergerak untuk keluar dari rumah.


🏡🏡🏡


Keputusan untuk tidak menemui Akmal sudah terjadi mulai saat itu, meski dengan berat Genta berusaha untuk menuruti kemauan mamanya. Kini setiap pagi, Genta berpura pura baik baik saja untuk menghibur hati Rani, duduk di meja makan dan menikmati sarapan paling luar biasa buatan ibunya.


Pergi sekolah dan menjemput Gadis, bertemu Irvan, lalu tanpa sengaja berpapasan dengan Gara yang selalu berwajah masam ketika melihatnya, pulang sekolah dan duduk disofa ruang tamu Gadis, menunggu kekasihnya membuat makanan, menemani Martine, lalu kembali ketika pukul tujuh malam.


Seperti hari hari yang selalu sama setiap harinya, Genta melalui itu, selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan sudah memasuki bulan. Genta selalu melakukan hal yang sama, sama setiap waktu, sama setiap hari. Tidak ada kegiatan yang berbeda, seperti bertemu dengan Akmal.


Genta mendengar berita kelahiran anak Sandra, katanya perempuan, dan memang benar setelah Akmal mengirim gambar Putrinya ke Genta. Meski tidak bertemu, Genta tetap berkomunikasi alakadarnya dengan Akmal, hanya menanyakan kabar, tanpa sesuatu berarti.


Enam bulan bahkan sudah berlalu, dan tidak ada yang berubah seperti terakhir kali, habungannya dan Gara semakin terbentang luas, seperti orang asing saat bertemu. Jarak Genta dan Irvan yang mulai hadir, saat Genta selalu memutuskan bersama Gadis.


Kondisi Martine yang setiap harinya semakin memburuk, sikap keras Rani yang semakin tidak bisa untuk dicairkan, namun sepekan ini ada yang berubah setiap jam sembilan di latar rumahnya.


Genta menatap dari jendela, Rani selalu keluar dari mobil sedan warna silver, setelahnya keluar Seorang laki laki berwajah sedikit bule, Rani selalu diantar oleh orang itu, dengan senyum mengembang khasnya.


Genta menutup tirai dan bergerak keatas ranjang. Yah, memang sepatutnya jika kedua orang tua Genta menemukan belahan jiwa tanpa mengajaknya ikut serta, tapi yang membuat Genta tidak habis fikir hanyalah, kenapa disaat dia belum sembuh, kedua orang tuanya sudah lebih dulu sembuh tanpa berusaha mengobati lukanya.


Genta memejamkan mata ketika mendengar suara langkah menuju kamarnya.


"Genta" suara Rani yang lembut seperti biasanya bergerak mendekati Genta.


Ada rasa lembut yang mengusap di rambut, tapi Genta memutuskan untuk tidak membuka mata.


"Ada yang mau ketemu sama kamu" katanya.


Genta belum siap jika seseorang yang akan bertemu dengan dirinya akan menggantikan Akmal , Genta belum bisa menerima kedatangan orang asing yang akan dia panggil sebagai papa.