Why Me?

Why Me?
[Part 10 : Tak Nyata]



"NAYYA!! NAIEL!!" Seru Nana senang ketika melihat sosok dari lubang intip. Dengan senyuman yang merekah di wajahnya yang membuat wajahnya tidak terlihat datar lagi, dia membuka pintu dengan cepat untuk menyambut kedua adiknya dengan pelukan hangat dan mencium mereka berdua.


Ketika dia melihat di depan matanya, memang ada kedua adiknya namun mereka sedang dicekik dan diangkat ke udara oleh dua orang lelaki berperawakan besar, bermantel hitam, dengan raut wajah menyeramkan, tanpa belas kasihan mencekik kedua adiknya dengan kuat. Nayya dan Naiel meronta-ronta untuk melepaskan diri mereka, menendang-nendangkan kaki mereka dengan air mata yang mengalir dari sudut mata mereka.


Nana yang menyaksikan hal itu sangat terkejut, matanya terbuka lebar dan mulutnya ternganga, namun dengan cepat Nana maju dan memberikan tonjokan kepada dua lelaki menyeramkan tadi di bagian ulu hati mereka. Kedua lelaki tadi sempat meringis kesakitan namun cengkeraman di leher kedua adiknya tidak lepas bahkan semakin erat.


"LEPASKAN!!! LEPASKAN ADIK-ADIKKU BERENGSEK?!?! KALAU INGIN MEMBUNUH ORANG LEBIH BAIK BUNUHLAH AKU!!! LEPASKAN MEREKA DASAR BIADAB?!? LEPASKAN!!!!" Bentak Nana dengan air mata yang berlinangan dan tangannya yang terus-menerus memukul kedua lelaki bermantel hitam tadi.


Kedua lelaki bermantel hitam tadi tidak menghiraukan Nana dan terus mencekik kedua adik Nana hingga.


KRAKK!!!


Suara retakan dari leher kedua adik Nana terdengar dan menggema ditelinga Nana. Nana terbelalak, napasnya menjadi tidak teratur, air matanya terus mengalir, keringat dingin membasahi sekujur badannya, badannya gemetar dengan hebatnya, tenggorokannya terasa seperti tercekik dan dadanya terasa seperti terhimpit, sesak, detak jantungnya berdetak dengan cepat dan tak karuan, kakinya tidak sanggup lagi untuk berdiri hingga Nana jatuh terduduk.


Lelaki bermantel hitam tadi melepaskan cengkeraman di leher adik-adik Nana, dan menjatuhkannya di depan mata Nana. Tergeletak didepan mata Nana, kedua adiknya sudah tak bernapas dengan wajah yang membiru.


"TIDAAKKKK!!!!!" Jerit Nana histeris dengan menjambak rambutnya dengan keras.


"Nana? Nana?! NANA!! NANA SADARLAH?!?!?" Panggil seseorang dengan mengguncang tubuh Nana dan terbangunlah Nana. Dia membuka matanya yang sembab dan masih basah.


''Kamar..? Berarti tadi...mimpi?'' Batin Nana dengan raut wajahnya yang kebingungan.


"Syukurlah kamu bangun. Nana kamu ngak apa?" Tanya seseorang berkacamata dengan rambut pirangnya, yang terlihat ketakutan dan sangat cemas yang ternyata adalah Daniel.


"A-aku..ngak papa...." Ujar Nana mengusap air matanya yang masih mengalir dipipinya.


"Be-benarkah? Soalnya tadi saat aku masuk ke kamar dan aku melihat, kamu mengigau dengan menangis dan berteriak-teriak histeris. Aku panik memanggil namamu dan mengguncang-guncang tubuhmu..tapi kamu ngak kunjung bangun. Apakah kamu bermimpi buruk, Nana?" Tanya Daniel sangat khawatir seraya mengusap kepala Nana dengan penuh kasih sayang.


"Ngak papa..itu cuman mimpi...cuman mimpi..." Jawab Nana kepada Daniel walau itu juga bermaksud untuk menenangkan dirinya sendiri. Daniel yang mendengar itu pun menghela napas lalu mengambil sebuah kantong plastik berwarna putih yang kelihatannya berisi banyak makanan.


"Anu Kak Daniel..Kenapa Kakak ada disini?" Tanya Nana heran melihat Daniel yang ada di kamarnya sekarang.


"Ahaha-eh-itu..aku baru ingat kalau kamu belum makan seharian ini..jadi aku bilang ke Ibuku dan dia langsung dengan cepat menyiapkan makanan yang masih tersisa, dan membungkusnya untuk diberikan kepada kamu. Pas aku sampai disini aku mengetuk pintu rumah dan tidak ada respon. Kemudian Kubuka dan ternyata ngak dikunci. Aku khawatir jadi aku langsung lari ke kamar kamu saat aku masuk aku liat kamu teriak-teriak dan aku langsung ngehampirin kamu dan ngebangunin kamu.." Jelas Daniel dengan keringat dingin yang mengucur.


"Hoo.." Jawab Nana singkat.


"Btw kamu belum makankan? Jadi nih makan.." Ujar Daniel seraya menyodorkan sebungkus plastik kepada Nana.


"Ini..apa?" Tanya Nana yang penasaran dengan isi bungkusan itu.


Nana membukanya lalu menemukan, kalau isinya ternyata adalah kotak makan yang bertumpuk-tumpuk, yang diisi berbagai masakan buatan rumah seperti misalnya sup ayam, nasi putih, ayam goreng, sayur-sayuran. Nana sampai berkedip-kedip karena terkagum dengan banyaknya masakan yang ada didepan matanya, hidungnya mencium aroma makanan yang lezat yang membuat perutnya, entah kenapa tiba-tiba menjadi lapar padahal seharian tidak makan, dia tidak merasakan lapar sama sekali.


"I-i-ini beneran semuanya untuk aku Kak???" Tanya Nana yang tidak percaya. Daniel mengacak-ngacak rambut dipuncak kepala Nana.


"Ya iyalah! Sekarang makan!" Perintah Daniel dengan mata melotot tajam berusaha membuat Nana takut dan menurut.


"Tapi Kak..Masa a-"


"Ngak ada tapi-tapi-an kubilang makan ya makan!!" Sela Daniel dengan cepat.


"Hufft..dengar dulu..Masa aku makannya diatas kasur kek gini sih..Aku mau makan di meja makan, Kak Daniel.." Jelas Nana yang kesal karena Daniel langsung memotong perkataannya tanpa mendengarkannya lebih dulu.


"O-oh..kirain tadi kamu bakal nolak..ahaha maaf.." Ujar Daniel meminta maaf dengan tertawa canggung.


"Ngak apa..Kalau begitu Kak, temanin aku makan ya? Aku ngak mau makan sendiri.." Pinta Nana saat mereka sedang melangkah menuruni tangga dan menuju dapur.


"Aku juga makan? Tapi, aku tadi udah makan Nana..." Tolak Daniel yang teringat ketika dia tadi pulang ke rumahnya dan langsung makan dengan lahap hidangan yang dibuatkan ibunya untuknya.


"Makan..!" Perintah Nana dan ini membuat Daniel pasrah dan akhirnya menemani Nana makan juga.


Mereka duduk dikursi yang berseberangan dimeja makan. Nana menyiapkan makanannya diatas meja makan dan akhirnya mereka berdua pun makan. Nana makan hanya sedikit walaupun begitu sebenarnya dia merasa kalau masakan ibunya Daniel sangat enak, namun dia sedang tidak nafsu makan walau perutnya terasa melilit, jadinya dia merasa bersalah kepada ibu Daniel karena tidak memakan makanan buatan ibunya Daniel dengan lahap, sementara Daniel yang sebenarnya sebelum ke rumah Nana tadi sudah makan, kini sedang makan dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan dan belum makan apa-apa selama berhari-hari.


Nana yang melihat hal itu hanya menatap Daniel lalu tak terduga sebuah senyum, senyum yang sangat kecil yang sampai tidak dapat dilihat jika tidak teliti merekah diwajahnya. Walau senyumnya sangat kecil, namun itu adalah senyum tulus yang berasal dari hati kecil Nana dan sayangnya Daniel tidak menyadarinya dan terus makan tanpa menghiraukan sekitar. Setelah makanan dimeja makan sudah habis tak bersisa, mereka pun membereskannya lalu mencuci piring yang mereka gunakan tadi dan menempatkannya ke tempatnya.


Keheningan pun mulai memenuhi atmosfer disekeliling mereka yang sekali lagi membuat Daniel merasa tercekik namun akhirnya Daniel memberanikan diri untuk membuka mulutnya.


"Itu..Nana, karena malam semakin larut sebaiknya aku pu-"


"Jangan pergi...jangan tinggalkan aku sendiri.." Pinta Nana dengan memegang erat lengan Daniel.


Daniel tersentak mendengarnya, dia pun merasa bingung. Apakah dia akan mengiyakan permintaan Nana untuk tetap tinggal atau dia akan menolaknya dan pulang kerumah? Jujur, Daniel sangat bimbang. Disatu sisi dia ingin tinggal untuk menemani Nana dan disatu sisi dia merasa tidak enak dengan ibunya di rumah, karena sudah dua hari ini dia tidak pulang ke rumah.


Namun, akhirnya Daniel memutuskan untuk tinggal dan menemani Nana alasannya karena. Satu, dia merasa malam semakin larut dan sepertinya tidak memungkinkan untuk dia pulang ke rumah, dan mengetuk pintu rumahnya di tengah malam begini dan membangunkan ibunya yang sedang terlelap. Dua, dia juga menduga mungkin ibunya akan memaklumi dia menginap karena mengingat dia mengantarkan makanan untuk Nana agak kemalaman. Dan ketiga, dia ingin sekali menemani Nana mengingat keadaan Nana sekarang yang membutuhkan seseorang untuk menemaninya dan mencegahnya untuk melakukan hal-hal yang tidak-tidak.


Lagi-lagi Daniel tidur di lantai kamar Nana dan Nana tidur di kasurnya. Dan lagi-lagi mereka berdua sama-sama tidak tertidur. Dan lagi-lagi Nana menangis dalam diam.


[CONTINUE?]