Why Me?

Why Me?
Why Me? 39



"Genta tolong bangun" suara raungan Gadis begitu menggema, Gadis terisak saat melihat Genta terbujur lemah diatas aspal.


Irvan sudah panik, beberapa kali memanggil ambulan, sedangkan Eles mengecek keadaan pengemudi yang menabrak Genta barusan, kerumunan orang orang benar benar menyulitkan mereka. Saat ambulan datang, Gara dan yang lainnya bergegas membantu petugas ambulan.


Gadis yang ikut didalam ambulan sedangkan yang lainnya mengikuti Genta dari belakang.


🏡🏡🏡


Sayup sayup Genta mendengar suara seseorang disebelahnya, meski Genta belum membuka mata tapi dia bisa menangkap suara orang itu.


"Beruntung pasien menggunakan helm, jika tidak mungkin terjadi benturan keras di kepala pasien, untungnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan" ujarnya "Hanya ada beberapa luka di tubuhnya, termasuk bagian tangan, mungkin beberapa Minggu luka pasien akan segera kering"


"Makasih dok" itu suara Gara.


Genta membuka mata, saat ini ada isakan disebelah kanannya, suara isakan seorang perempuan. Genta menarik nafas sambil menutup matanya dan menghembuskan nafas, ada rasa nyeri di punggungnya.


Genta membuka mata setelah terdengar suara pintu yang ditutup.


"Taaa" suara Irvan menyambutnya.


Pertama kali yang di lihat Genta adalah mata sembab Gadis. Perempuan itu menangis, dan entah kenapa saat melihat Gadis begitu mengkhawatirkan nya Genta merasa senang, bahkan dia ingin mencium bibirnya.


Sialan, fikiran macam apa ini.


"Ta ada yang sakit gak?"


Ah Genta tidak terlalu fokus dengan suara dari teman temannya, dia masih saja menatap wajah Gadis.


"Genta, apa Lo gak bisa ngomong, Ta kata dokter Lo baik baik aja, tapi kenapa Lo gak bisa gerak?" cerocos Gara menggoyangkan tubuhnya.


Genta sedikit menggeser tubuhnya untuk setengah duduk, meski dengan bantuan. Lelaki itu terus menatap Gadis yang menangis, bahkan tidak menghiraukan pertanyaan dari temannya.


Tangan kiri Genta terurur mengusap air mata Gadis.


"Dah, cabut kuy, kayaknya bener kata dokter, nih anak baik baik aja" kata Gara terdengar kecewa.


"Gue harap dia patah tulang tadi" sahut Eles.


"Setidaknya dia kudu gagar otak dulu, biar lupa ngebucin" imbuh Irvan.


Genta justru tertawa mendengar kalimat dari teman temannya, dia menoleh ke arah mereka.


"Lo berharap gitu?"


"Ta Lo kudu tanya Lo dimana, apa yang terjadi sama elo, dan Gadis siapa, biar kayak di tv tv" ujar Gara menasehati.


Genta menarik nafas "Gue kan gak alay" cibirnya "Lagian gue juga gak papa cuman luka aja kan" Genta mengangkat tangannya.


"Iya emang Lo gak papa, tapi bisa gak patah tulang dikit, atau koma" kata Gara yang diangguki teman temannya.


Mereka sedang protes dengan sikap Genta barusan.


"Ta, lain kali jangan kebut kebutan ya, kalo kamu kenapa napa gimana?" suara Gadis begitu lirih membuat tawa ketiga temannya berhenti.


Genta menarik sudut bibir "aku gak papa Dis" lelaki itu menarik tubuh Gadis dan memeluk perempuan itu, memeluk perutnya.


"Aku khawatir tahu"


Genta mendongak dan sedikit tersenyum, lelaki itu menciumi tangan Gadis.


Genta menunduk, mungkin ini saatnya mereka harus tahu yang sebenarnya. Genta tidak bisa menyembunyikan dari mereka.


"Orang tua gue" Genta menjedanya sambil memandangi wajah teman temannya "orang tua gue mau cerai"


"Uhuk uhuk" Gara tersedak air liurnya sendiri.


Tangan Gadis mengusap rambut Genta hingga kepala Genta bersandar di perutnya, tangan kiri lelaki itu masih memeluk pinggang Gadis. Meski begitu Genta masih bisa menatap teman temannya.


"Ke_kenapa?" Tanya Eles begitu ragu.


"Bokap gue selingkuh" Genta justru tertawa memandangi wajah cengo teman temannya "Kaget ya? Gue juga belum bisa nerima sampai saat ini"


Gadis menggeser duduk dan menggenggam tangan kiri Genta, lelaki itu memandangi Gadis seolah dia berkata bahwa Genta baik baik saja meskipun orangtuanya akan bercerai.


Situasi yang semula ramai tiba tiba menjadi hening, tidak ada yang berani mengeluarkan jokes dalam keadaan seperti ini, termasuk Gara.


"Udah lama?" Irvan mendekati Genta "udah lama elo nyembuiin ini dari kita?" Ulangnya.


Genta mengangguk "Sebulan lebih mungkin, awalnya gue pengen cerita sama kalian, cuman gue malu" Genta menunduk "Gue Malu punya bokap yang selingkuh, gue malu karena akhirnya gue sama kayak temen temen yang sering kita ceritain"


"Ta" Gara menepuk bahu Genta "Kita saudara elo, kita temen elo, kita ini lebih dari pacar elo, seharusnya hal kayak gini elo bagi ke kita, gak selamanya elo kuat nahan ini sendirian Ta"


Genta mengangguk, dia hanya ingin menangis saat ini, apalagi tatapan teman temannya begitu menyorotkan rasa kasihan. Genta benci saat dia diperlakukan seperti itu.


"Kamu istirahat dulu ya, kata dokter kamu harus banyak istirahat" kata Gadis mengelus tangan Genta.


Lelaki itu menatap sorot mata Gadis, sorot yang masih tetep sama, sendu dan tidak mengandung unsur apapun. Genta menemukan kedamaian dari sorot mata itu.


"Ta, kita keluar dulu ya, kita jaga didepan" ujar Eles mengawali.


Yang lainnya hanya mengangguk lalu pergi, Genta menidurkan posisi tubuhnya, sehingga Gadis langsung merapikan selimut Genta, beberapa balutan perban diluka Genta begitu sangat hati-hati di setuh Gadis.


Perempuan itu tersenyum ,menatap Genta yang mulai memejamkan mata, Gadis melepaskan genggaman tangan mereka lalu berniat beranjak namun Genta menarik tangannya dengan kuat hingga Gadis jatuh diatas tubuh Genta.


Lelaki itu membuka mata saat jarak wajah Genta dan Gadis menipis. Genta lantas menyembunyikan wajahnya di tekuk Gadis, lelaki itu menghirup aroma tubuh pacarnya dari sana.


"Aku rapuh Dis, aku sakit, aku bingung" kalimat itu begitu lirih diucapkan Genta.


Gadis hanya bisa diam sambil mengelus rambut Genta, ada yang basah diarea leher Gadis, nafas Genta terasa begitu berat, Gadis tahu kalau Genta sedang menangis.


"Papa punya anak dari selingkuhannya. Papa bakalan ninggalin kita" kata Genta begitu lemah.


Gadis masih diam saja, dia tidak ingin bersuara, Gadis tahu bahwa Genta hanya perlu didengar. Saat tangis Genta semakin kencang, Genta memperdalam pelukannya, sehingga Gadis merasa tubuhnya dipeluk terlalu kuat oleh Genta.


"Genta kuat, Genta pasti bisa" setelah lama menahan komentar, Gadis bersuara dengan nada paling lembut yang disukai Genta.


"Gue takut kalau gue akan berkahir kayak bokap gue" isaknya melemah.


Gadis mengurai pelukannya sehingga pelukan itu terlepas, saat Gadis menatap wajah basah Genta, lelaki itu buru buru menutup matanya dengan telapak tangan, meski begitu Gadis sudah lebih dulu melihatnya.


Tangan Gadis dengan lemah menarik tangan Genta untuk membuka matanya, dengan mata merah dan air mata yang menggenang, Gadis menatap mata Genta. Tangan mungilnya menyeka setiap tetes yang membasahi pipi Genta.


"Setiap orang akan menangis Genta, kamu gak perlu sembunyi, menangis bukan sebuah kekalahan" kata Gadis menyeka wajah Genta.


"Kamu gak akan jadi kayak papa kamu, percaya sama aku" Gadis menyemangati dengan kata katanya.


Ah, Genta bangkit dan segera mencium bibir Gadis. Lelaki itu membawa tubuh Gadis kepelukanya, hingga Gadis berada diatas tubuh Genta, ******* bibir Gadis yang bisa membuat Genta lupa segalanya.