Why Me?

Why Me?
Why Me? 77



Setelah lamaran spektakuler yang di rencanakan oleh Kera band, kini tidak hanya nama Genta yang dikenal publik, nama Gadis pun ikut dikenal masyarakat.


Bahkan, Gadis sampai menahan malu setiap kali pergi ke rumah sakit, selalu di ledek teman kerjanya.


"Nah kan bagus" Rani selesai menarik resleting gaun pernikahan buatannya.


Saat ini gaun yang dirancang Rani sudah dikenakan sang pemilik, Gadis Ayunda.


Perempuan sederhana itu tampak begitu memukau, tampak anggun dan cantik dengan gaun berwarna putih.


"Kamu cantik banget Gadis" puji Rani terang terangan.


"Aku juga mau dibuatin gaun kayak gitu" Amanda kecil menarik narik baju Rani.


Gadis dan Rani kompak tertawa, terutama menertawakan tingkah lucu Amanda.


"Tante, makasih ya" Gadis menatap penuh haru kearah Rani.


"Panggil Mama" katanya memeluk Gadis dari samping.


"Gadis, berdiri di sini, biar Mama foto" Rani melepaskan pelukannya dan mengambil benda Pipih yang da disaku.


Memotret Gadis dan lagi lagi Rani selalu mampu kagum akan kecantikan yang dipancarkan anak yatim piatu itu.


"Nanti Mama mau ngirim ke Genta" kata Rani tersenyum puas dengan hasil karya nya yang dikenakan calon menantu.


🏡🏡🏡


Meskipun Genta sudah melamar Gadis, mereka justru tidak memiliki waktu bertemu. Genta semakin sibuk dengan jadwal manggung di luar kota, jadwal pemotretan atau bahkan sudah mendapatkan tawaran untuk bermain film.


Genta sengaja menggantungkan tawaran itu, mengingat saat ini pernikahannya dengan Gadis tinggal menghitung hari.


Semua keperluan pernikahan di hendel oleh Ghina, adik kandung dari Akmal. Tantenya itu masih berhubungan baik dengan Rani, jadi Genta sudah menyerahkan semuanya ke Rani maupun Ghina.


"Eh calon pengantin" Gara duduk disebelah Genta sambil memakan ciki cikian yang entah dia bawa dari mana.


Sedangkan Irvan tampak berguling dengan resah, ada yang menganggu pikirannya.


"Van Lo mau bertelur atau gimana sih dari tadi guling guling gak jelas" komentar Gara dengan mulut penuh makanan.


"Gue kepikiran Pelangi" akunya.


"Dulu aja pas SMA elo sia sia in" cicit Genta "Giliran sekarang nyesel kan"


Irvan mengubah posisinya menjadi duduk, dia menatap kearah Gara dan Genta. Menatap mereka dalam dalam.


"Gue gak habis fikir aja sama Pelangi. Bisa bisanya dia punya anak lain setelah sama gue" Irvan memaparkan ketidakterima an nya.


"Ya terserah Pelangi lah. Rahim rahim dia" Gara memutar mata jengah "Lagian elo udah lari dari tanggung jawab bdw"


Irvan mengambil bantal sofa dan dipukulkan dengan begitu keras ke kepala Gara. Genta hanya tertawa melihat itu semua, menjadi hiburan paling menyenangkan ditengah jadwal manggung yang selalu padat.


"Vitamin Ta" Eles menyodorkan obat kearah Genta "Jaga kesehatan bentar lagi elo nikah" kata Eles.


Genta menerimanya. Lalu memakan obat itu sekali kunyahan. Genta tidak perlu khawatir dengan rasa pahit yang dia rasakan. Rasanya obat semacam ini sudah menemani aktifitas dia selama menjadi artis.


"Kayaknya mulai sekarang kita harus ngurangin jadwal deh" Samuel, manajer Kera band mendekati mereka.


Samuel mengambil duduk di sebelah Antar yang sedang terlelap, sedangkan Eles masih enggan duduk dan memilih berdiri menyandarkan tubuhnya di tembok.


"Gue takut kondisi kalian gak fit kayak kemarin. Apalagi Genta mau nikah, ampar ampar pisang juga sebentar lagi mau nikah" kata Samuel.


"Gue setuju sih, kita terima jadwal yang ringan ringan aja" timpal Genta.


"Betul, gue udah kangen sama pacar gue" Gara nyengir kuda membuat Samuel geleng geleng sendiri.


"Selama ini kan kita udah banyak manggung di luar kota. Gue rasa itu udah cukup buat bikin nama Kera band akrab sama masyarakat, sekarang kita prioritasin tampil di tv" ujar Samuel lagi.


Irvan hanya manggut-manggut, Gara juga ikut setuju, dan Eles tentu saja setuju tanpa banyak bicara lagi.


🏡🏡🏡


Setuju dengan saran Samuel untuk mengurangi jadwal manggung. Sekarang Genta langsung pergi menuju rumah sakit, rasanya dia merindukan Gadis, merindukan berada di pelukan perempuan itu.


Grepp


Ada yang melingkar di perutnya, ada yang mengusap tekuknya hingga membuat Gadis terperajak kaget.


"Calon istriku sibuk ngapa sih?" Suara berat itu membuat tubuh Gadis berubah melunak.


Novel tebal yang baru setengah halaman dia baca, diletakkan di pinggir jendela. Gadis membalikan tubuhnya tanpa melepaskan pelukan mereka.


"Aku kira siapa?"


Genta tersenyum lalu menguatkan pelukan mereka kembali, menyusuri leher jenjang Gadis. Tenang saja. Kali ini Genta sudah menutup pintu ruangan Gadis rapat rapat.


"I miss u" lirih Genta yang sudah mengecup leher Gadis.


Perempuan itu hanya bisa menahan desahannya, berharap tidak ada satu kalimat yang keluar dari bibirnya. Sial, saat Genta menggigit kecil dadanya, Gadis berhasil mendesah.


"Genta" rintih Gadis memohon Genta menghentikan kebruntalannya.


"Kita dirumah sakit" rintihnya sekali lagi, saat menyadari kini kancing kemeja putih yang dia kenakan sudah terbuka.


"Gentaaaa" sekali lagi Gadis berusaha mengontrol nafsu.


Dan itu berhasil. Genta menjauhkan tubuhnya lalu mengangkat kedua tangan, seperti sedang menyerahkan diri kepada polisi. Genta tersenyum melihat beberapa mahakarya nya, bekas tanda kepemilikan yang berhasil memenuhi area dada dan payudara Gadis.


"Ihhh" Gadis meninju kecil perut Genta lalu mengancingkan kembali kemeja putih.


"Udah makan, aku mau ngajak kamu makan" kata Genta duduk di kursi pasien.


"Sini" Gadis justru menarik Genta untuk mendekat kearahnya.


Lalu menatap Genta dengan begitu tajam, seperti seorang dokter yang mulai memeriksa pasiennya.


"Masih sering tidur pakai obat?" Tanya Gadis.


Genta menaik turunkan alis lalu nyengir kuda.


"Beberapa kali. Tapi gak sering" Genta mengalihkan pandangannya ke arah samping.


"Genta" panggil Gadis.


"Kamu tahu, memaafkan diri sendiri lebih utama dibandingkan memaafkan orang lain" Gadis memegang tangan Genta "Semua orang yang pergi itu bukan kesalahan kamu, tapi karena memang mereka ingin pergi"


Genta hanya bisa menatap genggaman tangan mereka berdua, lalu tersenyum tipis kearah Gadis.


"Termasuk kamu yang ingin pergi dari aku?"


Gadis mengangguk "Waktu itu, aku ingin pergi, bukan karena kesalahan kamu. Tapi aku ingin mengikhlaskan kepergian papa, kamu tahu kan berat buat aku ngelalui itu meski disitu ada kamu"


"Aku pengen berusaha sendiri dan gak tergantung sama siapapun waktu itu, termasuk kamu" Gadis tersenyum "Tapi aku gak ingin pergi lagi, aku akan disini buat nemenin kamu"


Genta menyembunyikan anak rambut dibelakang telinga, lalu mengusap puncak rambut Gadis.


"Kenapa orang ingin pergi? Apa karena gak nyaman sama aku?"


Gadis menggeleng "Pergi atau tidak itu keputusan orang, bukan nyaman atau tidaknya" Gadis menepuk nepuk genggaman tangan mereka "Mereka berpikir jika mereka pergi itu akan jadi hal yang baik untuk kamu atau mereka"


Genta menatap butir mata indah Gadis, memandangi perempuan yang akan menjadi istrinya. Apa benar kepergian seseorang itu bukan kesalahannya?


"Kalau mereka ingin pergi, mereka akan pergi, tapi mereka akan kembali kalau alasan kepergian mereka sudah mereka dapatkan" Gadis tersenyum kembali "Kayak aku sama Gara, kita akhirnya kembali karena alasan pergi kita udah kita dapatin"


"Yang jadi milik kamu, akan kembali meskipun sempat pergi jauh"


"Kamu mau bantuin aku memaafkan diri aku sendiri?" Tanya Genta yang langsung di angguki Gadis dengan cepat.


"Gak hanya memaafkan diri kamu, aku akan bantu kamu memaafkan orang lain, memaafkan perpisahan orangtua kamu"


note : tinggal satu part lagi ❤❤❤


besok euy siapa yg mau ke nikahan Gadis sama Genta, Ayuk lah bareng aja