Why Me?

Why Me?
[Part 3 : Fake Smile]



Nana berjalan dengan langkah gontai, dibawah langit yang masih mendung dari pagi tadi. Namun bedanya, sekarang mulai turun tetesan hujan yang awalnya hanya rintikkan semakin lama semakin deras, bahkan banyak kilat dan petir yang bergemuruh disertai angin yang sangat kencang, yang membuat Nana basah kuyup dan kesulitan berjalan maju namun dikepala Nana, tidak ada niatan untuk berhenti dan mencari tempat untuk berteduh, dia tetap terus berjalan dan berjalan hingga sampai di depan rumahnya yang sederhana.


Tok tok!! Tok tok!! Tok tok!!


Nana mengetuk pintu rumahnya berkali-kali tak berapa lama pintu terbuka, dan nampak seorang gadis kecil berambut cokelat terang yang dikuncir kuda berumur 10 tahun yang menatap Nana dengan ekspresi marah.


"Kak Nan~ Darimana aja sih! Jam segini baru pulang dan lagi basah kek gini!! Humm!!" Ujarnya kesal seraya menarik tangan Kakaknya itu untuk masuk kedalam rumah.


"Haha.. Maaf ya Nayya, entar Kakak ceritain deh abis Kakak mandi ya!" Ujar Nana seraya tersenyum lebar. Senyum pertamanya hari ini setelah seharian ini menampakkan raut wajah datar dan tatapan yang kosong.


Namun, senyum ini bukanlah senyuman tulus melainkan senyum palsu yang dipaksakan. Ya, Nana selalu tersenyum palsu dihadapan keluarganya yang menutupi segala kesedihan, masalah, agar tidak membuat keluarganya khawatir dan menyusahkan keluarganya. Memaksakan tersenyum walau hatinya tidak ingin itu terasa sangat berat, sangatlah berat.


Ketika Nana selesai mandi dan berganti baju menjadi piyama, diapun pergi ke dapur hendak memasak makanan, namun dia melihat diatas meja makan sudah banyak makanan tersedia.


"I-ini semua, siapa yang masak?" Tanya Nana tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Aku kak!!" Jawab seorang anak lelaki berumur 13 tahun yang berambut hitam pekat seperti Nana, yang ternyata adalah adik laki-laki Nana.


"Heh? Kamu bisa masak? Sejak kapan, Naiel?" Tanya Nana kaget mendengar adiknya bilang dia yang memasak makanan yang ada diatas meja makan.


"Sejak tadi, baru aja belajar dari buku masak ini" Ujarnya seraya menunjukkan buku masak yang tadi siang dibelinya saat perjalanan pulang dari sekolah.


"Be-benarkah?" Tanyanya lagi masih tak percaya yang membuat adiknya semakin kesal.


"Iya!! Udah sekarang makan jangan banyak tanya!" Perintah Naiel yang membuat Nana duduk dan menyendok makanan buatan adiknya itu, begitu juga Nayya yang sangat tidak sabar dari tadi untuk memakannya. Ketika Nana memakannya dia terkejut matanya terbelalak dan menatap adik laki-lakinya.


"ENAK!!" Ujarnya yang mengagetkan kedua adiknya. Nayya yang mendengar itu pun mengangguk tanda setuju, yang membuat Naiel merasa malu dan wajahnya memerah.


"Bo-bodoh! Ngak usah segitunya juga! Sudah makan saja kalian berdua!" Ujarnya seraya melahap makanannya dengan cepat, dengan pipi yang makin merah.


"Naiel, Siapa yang ngajarin kamu ngomong bodoh?" Tanya Nana dingin.


"Eh? Ah..bukan siapa-siapa!" Ujarnya dengan polos yang membuat Nana menghela napas lalu menatap wajah adiknya yang kini sudah tidak merah lagi.


"Naiel, Ibu dan Ayah..belum pulang ya?" Tanya Nana yang membuat Naiel tersedak, dan itu membuat Nana dan Nayya kaget dan panik seraya memberinya segelas air, Naiel pun meminumnya.


"Ahahaha...iya kak mereka belum pulang" Ujar Naiel dengan tertawa canggung.


"Hahh...sudah beberapa minggu, Ibu dan Ayah tidak pulang" Kata Nana merasa sedih karena orang tuanya tidak pulang dikarenakan pekerjaan mereka diluar kota.


Meski kedua orang tuanya itu sama-sama pegawai kantor yang memiliki jabatan yang cukup tinggi, namun itu tidak dapat mencukupi kehidupan mereka dikarenakan hutang yang sedang membelit mereka, hingga Nana bekerja paruh waktu untuk membantu orang tuanya. Jika saja hutang itu tidak ada, pastilah Nana dan keluarganya tidak hidup kekurangan seperti sekarang.


"Yah..Mereka kan ditugaskan bekerja di luar kota selama 2 bulan karena permintaan klien bagaimana lagi?" Ujar Naiel yang membuat Nana tersenyum canggung yang dipaksa.


"Aku kangen.. Ibu..Ayah..hiks-hiks..HUWAA!!" Isak tangis Nayya mengejutkan Nana dan Naiel, mereka panik melihat adik mereka menangis dan mereka pun berusaha menenangkan adik mereka itu.


"Nayya..Nayya...udah jangan nangis kan ada Kakak ya.." Bujuk Nana seraya memeluk adiknya itu.


"Ya, Nayya! Kan ada Kak Naiel dan Kak Nan yang bakal selalu melindungi kamu, menyayangi kamu, dan selalu ada disisi kamu..!" Ujar Naiel menatap Nayya dengan tatapan mata yang serius, membuat Nayya berhenti menangis dan menatap Kakaknya itu, mengusap air matanya seraya tersenyum lebar.


"Hehe..benar juga kata Kak Naiel. Ok Nayya ngak bakal nangis lagi!" Ujarnya seraya memeluk kedua kakaknya. Nana dan Naiel menerima pelukan dari adik mereka dengan hangat, namun Nana hanya tersenyum palsu lagi karena entah kenapa dia masih saja tidak bisa tersenyum tulus dan bahagia seperti yang ia kehendaki.


"Kalau begitu kita cuci piring dulu..sikat gigi baru tidur ya?" Ujar Nana meminta persetujuan adik-adiknya sekali lagi dengan senyum palsunya, dan dijawab adik-adiknya dengan anggukan.


Setelah selesai membersihkan piring dan menyikat gigi,


Nana mengucapkan selamat tidur kepada dua adiknya dan mengecup dahi mereka, lalu


setelah itu mereka pun pergi ke kamar masing-masing dimana Nana tidur sendiri di sebuah kamar, dan kedua adiknya tidur di sebuah kamar yang sama di sebelah kamar Nana.


Setelah masuk ke kamarnya Nana menjatuhkan diri ke kasurnya lalu menatap jam dinding di kamarnya dengan tatapan kosong.


Tik! Tok! Tik! Tok!


Dimalam yang hening, suara jam yang terdengar begitu jelas, sekali lagi Nana menangis dalam diam, menangis tanpa suara, dengan wajah datar air mata mengalir dengan derasnya dari sudut matanya, Nana mengeluarkan rasa sakit, kesedihan, kekesalan, kemarahan, yang dia pendam dan sembunyikan dihadapan kedua adiknya. Menangis sepuasnya tanpa ada yang tahu hingga dia terlelap sampai pagi datang.


***


Terganggu dengan sinar mentari yang menerobos masuk menyinari matanya, Nana pun membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali lalu terbangun.


'Tak terasa..sudah pagi lagi...' Gumamnya dalam hati seraya mengusap matanya.


Bangkit dari kasurnya, Nana melangkah menuju kamar mandi setelah mandi dia memakai seragamnya dan menyisir rambut hitam legamnya yang panjang setelah itu dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk kedua adiknya.


Tok tok!!


Tiba-tiba ketukan pintu mengejutkannya, Nana mematikan kompor dan bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang pagi-pagi begini.


''Apakah itu Ayah dan Ibu?'' Tanya Nana dalam hati.


[CONTINUE?]