Why Me?

Why Me?
Why Me? 69



Genta memutuskan pulang ke Jakarta setelah dua hari temannya kembali ke Jakarta. Kini, motor yang pertama kali di bawa ke Semarang sudah berganti menjadi mobil sedan warna hitam. Mobil yang dulu dia beli dari kerja kerasnya.


Genta berbelok ke komplek rumah yang berbeda dengan rumah yang dia tinggali, kini rumahnya berada di daerah Menteng. Genta berhenti dan membuka pintu mobil, lalu membuka bagasi belakang dan menyeret koper yang dia bawa. Hanya barang barang yang dia perlukan saja dia bawa, sisanya di tinggalkan untuk Erlan atau temannya yang ada di Semarang.


Bugh


Dari depan, bocah kecil menabrak tubuhnya, perempuan berkuncir dua itu mengelus dahi, lalu bersungut.


"Ih, kakak kalo jalan liat liat dong, jadinya nabrak kan" protes bocah itu.


Genta mengernyitkan dahi lalu menarik nafas, ingin memprotes balik kepada bocah ini namun masih dia tahan.


"Nama Lo siapa?" Genta menatap kearahnya.


"Amanda Keysiva Aldiv" Amanda mengulurkan tangan kearah Genta dan ditatap Genta lalu diterima uluran tangan itu.


"Kakak namanya siapa?" Tanya Amanda dengan polos.


"Genta"


"Oh kak Genta" Amanda seperti sedang memikirkan sesuatu "Jadi kakak, kak Genta kakak aku" dan selanjutnya wajah Amanda berubah begitu cerah.


Genta mengangguk, tanpa diduga Amanda lantas menggandeng Genta dengan begitu riang, perempuan itu menarik narik tangan kakaknya untuk masuk kedalam.


"Mama, Kak Genta pulang" teriak Amanda.


"Kita gak pernah ketemu ya kak" Amanda mendongak kearah Genta yang sedang memandanginya.


"Iya, kamu setiap ke Semarang selalu tidur"


"Genta" Rani yang baru saja turun dari tangga lantas tersenyum dan berhamburan ke arah putranya, dipeluk Genta berkali kali lalu di genggam tangannya.


"Mama pikir kamu gak akan pulang" ada binar kebahagian dimata Rani.


Diluar dugaannya, bahkan tadi Genta berfikir Rani tidak akan menyambut kepulangannya, atau hanya menyambut ala kadarnya, tapi melihat tatapan Rani, Genta jadi tahu, tidak ada rasa yang berubah sedikitpun.


"Sudah makan? Mau istirahat dulu? Mama antar ke kamar" kata Rani dengan nada begitu bahagia.


"Biar aku aja yang nganterin kakak" Tutur Amanda sikecil.


Genta tersenyum, lalu tangannya bergerak mengusap puncak rambut Amanda, dan dengan sigap bocah berwajah kebule bule an itu menggandeng Genta untuk diantarkan ke kamar kakaknya, dilantai dua.


Saat menapaki tangga atas, Genta dibawa Amanda ke ruangan yang berada di sudut, pintunya berwarna hitam dengan pahatan yang mewah. Dibantu Genta, Amanda membuka pintu kamar Genta. Pemandangan pertama kali sungguh menakjubkan, Genta masih ingat saat Akmal membawanya kerumah itu, membawa Genta ke kamar yang begitu mewah, dan sekarang, ini jauh lebih besar dengan fasilitas yang sama seperti kamarnya di rumah Akmal.


"Upsss" Amanda lantas berlarian memunguti boneka yang berada diatas kasur Genta.


"Maaf ya kak, Manda selalu main dikamar kak Genta" Manda menggendong dua boneka kelinci dan beruang.


"Gak papa" jawab Genta.


Genta meletakkan koper di sebelah kasurnya lalu memandangi peralatan game yang disediakan di sana.


"Kak Genta mau main ke kamar Manda?" Tanya Amanda dengan tatapan penuh harap.


Mau tidak mau, Genta kembali mengikuti langkah Amanda ke kamar yang berada didepan kamarnya. Sebuah kamar yang tidak begitu luas, jauh lebih luas dari miliknya, kamar yang didominasi warna biru dan gambar frozen. Juga ada banyak mainan yang berserakan.


Dari sini, Genta menyadari bahwa tidak ada yang berubah sedikitpun dari Rani, semua masih sama. Rani tetap menjadi Rani yang dulu, Richard pun sepertinya memenuhi janji dia, bahwa dia akan membahagiakan Rani.


🏡🏡🏡


"Jadi latihan gak?" Tanya Genta yang sedari tadi hanya melihat Irvan berganti pakaian di kamar Irvan sendiri.


Sejak dua jam kedatangannya, Genta lantas kerumah Irvan, mereka ingin menggarap single yang sempat mereka tunda sewaktu SMA dulu.


"Jadi, tapi kita kebandara dulu" kata Irvan lalu memakai jam tangan.


Genta menaikan alis, dia mulai merasa ada yang aneh dengan Irvan.


"Mauuu ngapain?"


"Jemput Gara" Irvan tanpa segan menyebutkan nama Gara, dulu Irvan begitu segan hingga tidak pernah menyebutkan nama temannya sendiri.


"Lo aja, gue gak ikut"


Mendengar itu Irvan lantas menarik tangan Genta dan menepuk punggung sahabatnya, ketika Genta berhasil berdiri, di dorong kecil punggung Genta supaya mulai bergerak.


"Ayolah, kita coba dulu bujuk Gara supaya gabung ke Kera band, kalau dia tetep sama kayak dulu, baru kita cari anggota baru" kata Irvan.


Dengan langkah berat Genta menuruti, lagi pula mungkin memang Genta harus menyelesaikan masalahnya dengan Gara secepat mungkin.


"Si ampar ampar pisang udah di bandara" kata Irvan begitu mereka berdua memasuki mobil yang sama.


Genta hanya diam saja, sedangkan Irvan sibuk bersiul siul tidak jelas didalam mobil. Genta menatap kearah samping, membayangkan nanti dia dan Gara akan kembali adu cekcok, Genta kembali melukai harga diri dan hatinya saat mendengarkan kalimat pedas dari Gara.


Tanpa sadar, mobil yang mereka kendarai telah sampai di bandara. Genta dengan terpaksa melepaskan seatbeltnya lalu turun mengikuti Irvan dari belakang.


"Si Eles gak ikut?" Tanya Genta yang tidak menemukan kehadiran Eles dari tadi.


"Oh Eles" Irvan menyimpan kunci mobil disaku celana "Dia lagi nyari kontrakan, katanya gak enak kalo numpang terus dirumah gue"


Tidak jauh dari posisi mereka, Antar sudah melambaikan tangan dengan setelan hitam casualnya.


"Bang Genta panutanku, akhirnya ikutan nyambut kedatangan bang Gara Gara" komentar Antar.


"Yo'i, demi kebaikan Kera band" jawab Irvan.


Genta hanya diam saja sembari menatap ke sembarang arah tanpa menatap ke pintu keluar penumpang. Genta hanya takut. Nantinya Gara masih sekeras dulu, Gara tetap akan menyakiti dirinya dengan kata kata yang dilontarkan.


"Nah tu si Gara" kata Irvan membuat Genta menoleh kearah yang ditunjuknya.


"Raaa" "wiuwitt" Irvan bersiul memanggil Gara yang sedang mendorong koper.


Gara berdiri memandangi Irvan  lalu melepaskan kaca mata hitam dan melambaikan tangan dengan senang. Dibalas Irvan dan Antar yang juga begitu senang menyambut kedatangan Gara. Tidak dengan Genta yang hanya diam saja melihat itu.


Gara yang tidak tahu jika ada Genta lantas berjalan dengan cepat dan merentangkan tangan.


"Pelukkkk akuuu" teriak Gara yang disambut gedikan ngeri dari Irvan maupun Antar.


"Gimana Inggris, dapet apa disana?" Tanya Irvan tidak sabar mendengar cerita Gara "Dapet bule bule gak?"


"Cewek mulu otak elo" Gara geleng geleng "Gue dapet ilmu seni disana" kata Gara melipat kaca mata hitam dan menggantungkannya di leher baju.


"Bang Gara Gara, gue kangen" Antar merentangkan tangan namun dahinya lebih dulu menyentuh telapak tangan Gara sebagai tanda penolakan dari Gara.


"Sorry ampar ampar pisang kita bukan muhrim" kata Gara.


Mata Gara menoleh ke belakang Irvan, lalu menyadari kalau disana ada Genta. Mata keduanya saling pandang. Tidak begitu lama karena Genta lebih dulu mengalihkannya. Tahu kecanggungan dadakan itu, Irvan lantas merangkul bahu Gara dan Genta secepat kilat.


"Gas nongkrong" teriak Irvan mengajak keduanya segera pergi.


Diluar, ketika matahari sedang terik, Irvan berhenti ditengah parkiran. Wajah nya seperti bingung, lalu kepalanya menoleh kanan dan kiri seperti mencari sesuatu.


"Kenapa Van?" Tanya Genta.


"Gue lupa narok mobil gue dimana, tadi perasaan ada disini" aku Irvan berjalan untuk mencari mobilnya.


"Lo niat jemput gue gak sih Van?, pakek acara lupa markir mobil segala" decak Gara dengan kesal.


"Tadi gue tarok disini" kata Irvan


"Gue capek Van, penerbangan jauh dari Inggris, sampe sini kudu nungguin elo nyari mobil segala" omel Gara dengan mulut pedasnya.


"Sini bang kopernya kalo capek" Antar yang sedari tadi merasa kasihan dengan Gara akhirnya memberikan pertolongan.


"Beneran?" Tanya Gara.


Gara yang sudah lelah akhirnya menuruti kemauan Antar, memberikan semuanya kepada Antar.


"Bang Genta panutanku, gak kepengen titip juga?" Tanya Antar menawarkan bantuan.


Gara sempat melirik kearah Genta yang sedang memasukan kedua tangan didalam saku celana.


"HP gue ada di mobilnya Irvan" kata Genta.


Tidak lama Irvan kembali lagi ke mereka, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap ketiga temannya dengan rasa bersalah.


"Asli gue lupa" kata Irvan menyesal.


"Ini kalo otak isi selakangan semua" Gara geleng geleng.


"Mau kemana?" Suara berat dari arah kanan membuat keempatnya menoleh dengan cepat.


Tiga laki laki berbadan kekar, berpakaian seperti preman mendekati mereka. Gara yang penakut sedikit mundur dan mencari perlindungan dibelakang Irvan. Sedangkan Antar, melakukan hal yang sama dengan memepetkan tubuhnya dengan Genta.


"Mau balik bang" jawab Genta masih santai.


"Bagi duit"


Lelaki yang di duga Genta sebagai pemimpin itu menyodorkan tangan. Genta tidak habis fikir kenapa di bandara bisa ada preman seperti ini. Datang dari mana preman ini?


"Gak ada" jawab Genta cuek.


"Ta, bagi aja" kata Gara mencari aman dengan tidak mau terkena masalah.


"Berani kalian?" Justru kini Irvan yang sok jago malah menantang ketiga preman itu "Maju kalo berani"


"Mau cari mati?" Laki laki satunya maju selangkah dan mendekati Irvan.


"Hitungan ketiga kita serang rame rame" bisik Irvan yang didengar ketiga temannya dengan baik.


"Ayo siapa yang takut" tantang Irvan lagi.


"Satuuu" Irvan mulai menghitung, membuat Genta mengambil kuda kuda.


Begitupun dengan Antar yang memegang koper dengan kuat, Gara yang belum pernah berkelahi akhirnya menggenggam tangan bersiap memukul.


"Duaa"


Semua semakin mempersiapkan langkah, menatap dengan sengit ketiga preman itu.


"Tigaaaa"


Tidak, tidak ada yang memukul, aba aba itu hanya aba aba untuk Irvan dan Antar melarikan diri. Keduanya sudah lari terbirit-birit dan meninggalkan Gara serta Genta ditempat itu.


"Lariii begooo" Genta menarik tangan Gara dan meminta Gara untuk lari.


Dua laki laki itu, lari tanpa tahu penyebab kenapa mereka harus lari. Langkah Gara semakin dipercepat saat ketiga preman itu mengejarnya. Begitupun Genta yang semakin mempercepat langkah nya keluar dari bandara.


"Jangan lariii" teriakan dari ketiga preman dibelakang membuat langkah keduanya semakin dipercepat.


"Ini gimana ceritanya di bandara ada preman" kata Gara ditengah larinya.


"Gue kagak tahuu. Yang kenceng lerinya"


Bughhh


Gara justru tersandung hingga jatuh di trotoar jalan, Genta yang berada didepannya kembali lagi untuk membantu Gara berdiri. Genta menatap ketiga preman itu sejenak lalu dengan sigap membantu Gara untuk berdiri.


"Belok sana" ajak Genta untuk lari kearah gang sempit


Mereka terus berlari, sangat kencang, melewati jalan gang gang sempit, lalu berbelok kembali dan menemui anak anak kecil yang sedang bermain sepak bola ditengah gang.


"Mingeerrrrrrr" teriak Gara begitu kencang.


Mereka terus berlarian sampai berada di lapangan komplek. Gara yang berada didepan mengatur nafas dan berhenti, dia sudah tidak tahan lagi jika harus berlari.


"Istirahat dulu Ta, gue capek" kata Gara ngos ngosan.


Genta ikut berhenti dan menoleh ke belakang, ketiga preman itu sudah tidak ada, tidak mengejarnya pula.


"Itu preman sialan bener, udah gue bilangin buat ngasih duit aja, malah gak lo kasih" oceh Gara tidak mau berhenti.


Genta yang kelelahan merebahkan tubuhnya di atas rumput lapangan. Lalu mengatur nafas dan menatap ke langit yang begitu cerah. Gara pun mengikuti apa yang dilakukan Genta.


"Gue baru sampe Inggris udah disuguhi hal kayak gini di Indonesia"protes Gara dengan nafas terengah-engah.


Genta hanya menertawai ocehan Gara sedari tadi, sudah lama sebenarnya ocehana semacam itu tidak didengarkan Genta. Mereka terdiam begitu lama, lalu mulai sadar jika sebelumnya mereka sedang tidak baik baik saja.


"Gue___" Genta menggantungkan kalimatnya, dia menoleh kesamping dan menatap Gara sedang menatap kearah langit.


"Gue mau minta maaf" kata Genta yang membuat Gara lantas bangkit.


"Mau kemana lo?" Genta yang tahu kalau Gara hendak pergi lantas ikut bangun.


"Mau balik lah, gila aja gue rebahan disini" Gara menoleh kearah Genta lalu merogoh saku celananya dan melempar sesuatu.


Selembar kertas yang sudah kunyel itu dibuka oleh Genta dan dibaca isinya. Lalu Genta yang tidak paham menatap kearah Gara.


"Single ketiga kita" kata Gara kemudian tersenyum namun dia langsung berbalik badan untuk berjalan.


Genta yang paham maksud Gara lantas berdiri dan merangkul Gara dari samping, Gara memaafkannya, ya, Gara butuh waktu enam tahun untuk memahami ini semua, untuk memaafkan Genta , untuk menerima bahwa Benua bukan adik kandungnya.


"Lo udah dapet cewek di Semarang sampe lama bener Lo disana?"tanya Gara saat mereka melangkah untuk keluar komplek.


"Ha ha, Lo sendiri kenapa di Inggris lama?"


Gara menoleh ke Genta lalu tertawa "Nenangin pikiran aja" katanya.


Genta mengangguk dan menguatkan rengkuhannya di bahu Gara. Tidak jauh dari sana, dijalan raya, Antar melambaikan tangan kearah Gara dan Genta.


"Woy, sinii masuk mobil" teriak Irvan dari arah kemudi.


"Si biawak" maki Gara.


"Kita kerjain aja mereka nanti" Genta melepaskan pelukannya dan diangguki oleh Gara.


Mereka berjalan melangkah beriringan dan masuk kedalam mobil yang sama, lalu menemukan Eles yang sudah nyengir didalam dengan kaos santai.


"Sialan kalian, awas ya" ancam Gara setelah mendudukan tubuhnya.


"Urusan itu nanti aja lah" Irvan melajukan mobil, tidak jauh di perempatan jalan Gara berteriak dengan kencang.


"Woy itu preman yang ngejar kita kan?"


Semua reflek menoleh. Membuat Irvan menurunkan kaca dan mengkalkson ketiga preman yang sedang meminum es dipinggir jalan.


"Bang makasih yakk" teriak Irvan lalu di balas dengan lambaian tangan dari mereka.


Gara dan Genta yang menyadari itu saling pandang lalu dengan buasnya Gara memukul belakang kepala Irvan.


"Bangke jadi ini rencana kalian?" Tanya Gara tidak terima.


"Ha ha ha ha" ketiganya sama sama tertawa.


"Tapi berujung baikan kan?" Eles Menaik turunkan alis.


Yah. Rencana Eles berhasil, rencana yang awalmula dipikir oleh Irvan dan Antar sebagai sesuatu rencana yang aneh, namun justru Genta dan Gara berhasil saling memaafkan dari sini.