Why Me?

Why Me?
Extra Part



Resmi menikah, Genta tidak membawa Gadis kerumah Rani ataupun rumah yang sudah diberikan Akmal, melainkan Genta ikut ke rumah Gadis.


Setelah mandi dan menyantap makan malam bersama kini Genta dengan penuh semangat membayangkan bagaimana momen malam pertama yang akan mereka lakukan nanti.


"Kenapa sih senyum senyum sendiri?" Gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap Genta, perempuan itu duduk di meja rias lalu mengoleskan beberapa perawatan wajah.


Genta masih setia dengan senyum, apalagi saat menatap Gadis menggunakan piyama yang sedikit menggoda, bayangan liarnya langsungย  menggoda untuk mempercepat adegan malam pertama.


Genta mendekati Gadis lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Udah siap?" Tanyanya menggoda sambil menyampingkan rambut Gadis yang tergerai.


"Kamu gak cape? Tadi habis acara kamu juga sempet manggung sama Kera band" kata Gadis akhirnya menyudahi rutinitas perawatan malamnya.


Genta menggendong tubuh Gadis, lalu diletakkan pelan pelan keatas kasur. Kini Genta bergerak untuk menindih tubuh Gadis.


"Aku mau kita punya anak tiga, cowok, cewek sama cowok" kata Genta.


"Satu aja" Gadis menolak, tiga terlalu banyak bukan.


"Satu itu gak enak, kesepian, coba liat kita, jadi anak pertama gak punya saudara"


Gadis mengusap lengan kekar Genta, lalu tersenyum malu malu.


"Takut sakit" katanya begitu polos.


"Enggak, nanti aku pelan pelan"


Genta mendekati wajah Gadis, lalu ******* bibir ranum perempuan itu. Dikecupnya dengan begitu lembut, amat lembut tapi bisa menjadi sengatan listrik penuh nafsu bagi Gadis.


Tangan Genta tidak berhenti disitu, dengan lihai dia mencari gunung kembara kembar nakal yang sudah tegak minta di jilat.


"Taaa" rintih Gadis sudah merasakan nikmat.


Ciuman Genta turun ke leher, memberi beberapa kissmart tanda kepemilikannya.


TOK TOK TOK TOK TOK


Lagi dan lagi, adegan seperti ini selalu saja tertunda. Genta menjauhkan tubuhnya dari tubuh Gadis.


"Siapa malem malem gini bertamu?" Tanya Genta menatap Gadis.


Gadis menggeleng, membenarkan piyamanya lalu meminta Genta mengecek siapa tamu yang sedari tadi mengetuk pintu.


Genta berjanji akan memarahi tamu yang tidak tepat waktu datang kerumahnya. Apa dia tidak tahu sang pemilik rumah sedang malam pertama.


Saat membuka pintu, Genta kaget, sangat kaget.


Teman temannya datang membawa kantung makanan.


"Kalian ngapain?" Belum selesai Genta bertanya, Gara lebih dulu menerobos masuk dan diikuti teman temannya menuju kamar Genta.


"Tadi pas acara elo nyuruh kita nyusul" ucap Irvan begitu polos.


"Heh setan" teriak Genta.


"Apa apa nantangin gelud?" Gara menggulung lengan kemejanya "Ayo sini tangan kosong kalo berani"


Genta mendelik, lalu Gara tertawa saat melihat ekspresi kaget dari Genta, terlebih Gadis yang lantas berdiri menatap teman teman Genta sudah duduk dilantai membuka kantung plastik bawaan mereka.


"Sini Dis. Gabung makan sama kita" ajak Eles.


"Kak Gadis gue bawain roti nih" Antar juga ikut membuka kantung plastik bawaannya.


Genta dan Gadis saling pandang, dengan lemas, Genta mengangkat bahunya tanda tidak mengerti dengan kelakuan teman temannya itu.


"Kalian ngapain sih?" Tanya Genta berusaha menahan kemarahannya.


"Lah elo tadi nyuruh kita nyusul" kata Gara.


"Maksud gue itu nyusul kepelaminan, bukan ke kamar gue" Genta mengigit kecil bibir bawahnya lantaran gemas.


"Gak bilang sih, kan otak kita agak dungu bang" Antar nyengir lalu memakan roti yang dia bawa.


"Ini mpar, gue beli direstoran Jepang tadi" ucap Eles memberikan kotak makanan bawaannya.


"Waow enak nih" Antar mengambil sushi yang dibeli Eles.


"Sini gue juga mau" kata Irvan ikut mengambil Sushi.


"Gue beli di ayam di KFC, gak sempet ke restoran soalnya" kata Gara.


Bencana malam pertama yang Genta dan Gadis dapatkan dari teman temannya. Menyesal tadi siang Genta meminta mereka segera menyusul. Ternyata kalimat menyusul yang di tangkap oleh Kera band bukan menyusul kepelaminan melainkan ke kamar mereka, mengacau malam pertama yang seharusnya terjadi secara nikmat dan beberapa ronde.


๐Ÿก๐Ÿก๐Ÿก


Akhirnya pun, meski tidak menikmati malam pertama, Genta dan Gadis tidak begitu kecewa. Kedatangan Kera band kerumahnya seperti hiburan untuk Genta, meski banyak sekali kesalnya.


Hari ini, sesuai janji dengan Akmal, Genta membawa Gadis menginap kerumahnya.


"Papa suka gak sama makanan yang aku bawain?" Tanya Gadis sambil melepaskan seatbelatnya.


"Suka, papa gak pernah pilih pilih makan an" Genta mendorong pintu dengan pelan.


Dia melangkahkan kaki berjalan memasuki rumah megah yang hanya dihuni Akmal seorang diri. Ketika memasuki rumah yang berharga beberapa miliyar itu, Genta merasakan kosong. Bahkan begitu senyap dan seperti tidak dihuni.


Genta terus melangkah, pada ruang makan dia menatap kearah pintu kalau Akmal sedang berdiri melamun menatap riuk kolam.


Genta mendekati papa nya yang hari ini terlihat begitu pucat


"Ngapain?" Tanya Genta menyentak Akmal.


"Bikin kaget aja" Akmal sempat menoleh sekilas kearah Genta "Cuman menghirup udara aja"


Genta ikut berdiri disebelah Akmal, menatap kearah yang sama dimana kini papa nya memandang.


"Gimana kabar Mama mu?" Tanya Akmal lagi.


"Baik"


"Kamu pernah rindu kita yang dulu"


Entahlah kenapa Akmal bertanya seperti itu, apakah lelaki itu mulai merasakan sesal sekarang?.


"Dulu pernah tapi sekarang jarang" kata Genta jujur, lelaki itu menatap kearah Akmal.


"Papa rindu kita yang dulu?" Tanya Genta.


Dengan samar, Akmal mengangguk. Ya, dia merasakan sepi. Merasakan bahwa kesepian bisa membunuhnya secara perlahan.


"Kenapa dulu papa yakin sekali ninggalin aku sama Mama kalau papa nyesal gini?"


Akmal menarik nafas panjang "Papa tahu kalau akhirnya papa akan menyesal. Tapi papa yakin sudah melakukan hal yang benar"


"Ketika kamu mencintai dua wanita dalam sekaligus waktu, maka pilihlah wanita kedua, karena jika kamu mencintai wanita pertama, kamu tidak akan mencintai wanita selain dia" Tutur Akmal "Dan papa hanya mempercayai itu"


"Papa tahu, ketika papa mencintai orang lain, itu bukan cinta, tapi hanya rasa bosan karena terlalu lama bersama orang yang sama setiap hari" Genta tersenyum "Seharusnya dulu papa sadar itu"


"Gadis bawain papa makanan, ayo makan" ajak Genta seperti enggan untuk membahas mengenai apapun lagi.


Akmal mengikuti putranya dari belakang, lalu sama sama duduk di meja yang sudah disediakan oleh Gadis. Gadis mengambil nasi kepiring kosong Akmal lalu menyendokkan beberapa lauk Pauk.


"Dimakan pa" ucap Gadis.


"Kalian berapa hari menginap disini?" Tanya Akmal berharap Genta dan Gadis akan menginap di rumahnya cukup lama.


"Hanya semalam, kenapa tidak tiga hari atau seminggu" protes Akmal.


"Genta ada banyak jadwal, begitupun juga Gadis" Genta masih tidak menatap kearah Akmal.


Lelaki itu hanya bisa menatap piring nya yang penuh oleh makanan, Akmal merasa benar benar kesepian. Akhir akhir ini dia merindukan sebuah keluarga, merindukan rumahnya yang dulu. Merasa seketika hening, Genta mengangkat kepala dan menatap Akmal yang tidak menyendok makanannya sama sekali.


"Kenapa?" Tanya Genta.


"Gak, papa hanya merasa kesepian saja" aku Akmal.


๐Ÿก๐Ÿก๐Ÿก


Genta menutup pintu kamar setelah tadi berbincang dengan Akmal. Dia menatap keatas kasur dimana Gadis sudah terlelap tidur. Genta berjalan mendekati Gadis lalu dengan sengaja dia sedikit berbaring disebelah Gadis, tangan kanannya menyentuh payudara istrinya.


Tidak hanya disitu Genta menciumi leher jenjang Gadis.


"Genta, aku cape, besok aja" tolak Gadis mengganti posisi tidurnya.


"Masak gagal lagi" kesel Genta.


Gadis sudah memunggunginya sambil tertidur nyenyak. Sedangkan Genta menahan kesal karena lagi lagi tidak ada pengganti malam pertama.


Kera band sialan, maki Genta dalam hati. kalau bukan karena mereka mungkin Genta sudah merasakan nikmatnya malam pertama.


๐Ÿก๐Ÿก๐Ÿก


"Papa mana?" Saat Genta baru saja bangun, dia menemukan Gadis sudah memasak di dapur.


"Pergi, katanya mau ketemu klien sebentar" jawab Gadis tetap melanjutkan memasak.


Genta menatap punggung dan tubuh Gadis yang semakin menggodanya setiap hati. Apalagi saat Gadis mengenakan piyama seperti ini, kadar godaannya semakin tinggi.


Genta melingkarkan tangannya ke tubuh Gadis, memeluk perempuan itu dengan begitu erat.


"Mau pengganti malam pertama" ucap Genta membuat Gadis justru terkekeh.


"Aku pengen dari kemarin gak diturutin" Genta mengusap usapkan hidung kebelakang leher Gadis.


Bermanja manja dengan istrinya di pagi hari adalah rutinitas Genta. Gadis tidak lagi merasa risih atau merasa perlu menyingkirkan tangan Genta, hampir setiap hari setelah menikah Genta selalu melakukan hal ini.


Gadis mematikan kompor dan membalikan tubuhnya, lalu menangkup wajah Genta.


"Mau mandi, aku siapin air hangat ya?" Tawar Gadis.


Genta menggeleng dengan tegas lalu menyandarkan kepalanya di dada Gadis. Genta sedikit membungkuk saat melakukan itu.


"Aku pengen malam pertama" rengek Genta.


Gadis tertawa dan memukul lengan Genta dengan begitu lirih. Amat lirih karena hampir terasa seperti elusan saja.


"Ini pagi, bukan malam"


"Tapi Dis, kita belum awewe" rengek Genta semakin membuat tawa Gadis menggema.


"Gara gara temen setan ku, kita gagal malam pertama dan malam seterusnya"


Ya Genta merasa kesal dengan Kera band, setelah malam pertamanya gagal, Kera band tetap datang dimalam malam selanjutnya. Rasanya mereka seperti sengaja menganggu malam itu.ย  Meski itu hanya terjadi selama tiga hari, tapi seharusnya tiga hari itu Genta sudah merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan intim.


Genta mengangkat kepalanya lalu mencium bibir Gadis dengan begitu bruntal. Gadis hampir kehabisan nafas andai dia tidak memukul dada Genta untuk melepaskan pungutannya.


"Genta" saat Gadis hendak protes tubuhnya sudah melayang.


Genta menggendong Gadis tanpa persetujuannya, sudah mengangkat perempuan itu dan dibawanya ke kamar.


"Gentaaa"


"Gak usah protes, gak ada malam pagi pun jadi" ujar Genta terdengar begitu tidak sabar.


Dia membuka pintu dan merebahkan tubuh Gadis di atas kamar. Genta sudah siap untuk melakukan hal yang dia nanti nantikan.


"Ini pagi" kata Gadis.


"Gak papa, pagi juga gak papa"


Dan. Yah tidak perlu aku ceritakan bagaimana, biar fantasi kalian yang menjawab.


๐Ÿก๐Ÿก๐Ÿก


"Gimana awewenya lancar?" Tanya Gara setelah Kera band seleksi mengisi acara di tlak show.


Genta langsung memberikan tatapan maut, gara gara ulah mereka Genta baru melaksanakan malam pertama tadi pagi.


"Santai dong natapnya" Gara menjauhkan kursi. Takut dengan tatapan maut yang diberikan Genta.


"Awas Lo pada besok nikah, gue bakalan kerumah kalian setiap malam" ancam Genta dengan wajah mengeras.


Justru, tidak ada yang merasa takut dengan ancaman itu. Kera band kompak menertawai vokalisnya yang gagal melakukan malam pertama.


"Gue mah kalau nikah langusng otw Bali, emangnya elo stay aja di Jakarta" cela Gara.


"Heh Dajjal, gue juga mau otw tapi kita banyak jadwal" sergah Genta.


"Haha santai santai men, jangan emosi lah" Irvan menertawakan ekspresi Genta.


"Lagian elo, temennya mau enak enak malah digangguin, emang seneng banget elo pada ngeliat gue sengsara" kata Genta penuh emosi.


"Kan gak boleh zina bang" Antar yang baru saja datang ikut nimbrung.


"Ini beda hukumnya lagi ampar ampar pisang" Genta menggigit bibirnya sangking gemas "kalau sekarang gue sama Gadis gak zina, tapi udah sah"


"Oh iya" Antar menggaruk kepala "Yang zina bang Irvan ya"


Mendengar itu Irvan melotot tajam dan mendekati Antar lalu memukul kepala lelaki itu.


"Jangan asal bicara" kata Irvan dengan nada ngegas.


"Santai Van, kayak apa aja, yang di omongin ampar ampar pisang juga bener" kata Eles cekikikan di ujung.


"Eh Ta, tapi Lo udah awewe sama Gadis kan? Kalau belum, kita ngerasa bersalah nih" kata Eles.


Genta duduk di sofa lalu mengangkat kaki, membayangkan adegan pagi yang entah kenapa bisa membangkitkan gairahnya kembali.


"Hem, ngeliat dari ekspresi nya gue yakin udah skidipapap" kata Irvan sambil bersidekap.


"Apaan, kepo banget" Genta berdiri dan membenarkan kemejanya.


Genta bisa tertawa, semuanya sudah utuh kembali. Persahabatan nya, dia juga sudah memiliki keluarga.


Ya, memaafkan seseorangย  yang pergi untuk mencari kebahagiannya memang sulit. Yang namanya perpisahan tidak ada yang baik baik saja, pasti meninggalkan luka. Tapi memaafkan asal luka itu akan membuat kita merasa baik, seperti Genta, yang dengan rela memaafkan perpisahan orangtuanya.


**note : nantiin cerita Why Series ๐Ÿ˜


-Gara


-Irvan


-Antariksa


-Benua


๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


good bye, kritik dan saran tinggalkan di kolom komentar ya , makasih**