Why Me?

Why Me?
Why Me? 37



Pyar


Genta mengernyitkan matanya ketika saraf telinganya menerima bunyi yang begitu keras. Genta membuka mata, dia menatap jam di ponselnya, masih pukul 5 pagi. Kenapa ada suara keributan kecil di rumahnya?.


Genta bangkit dan berjalan menuruni tangga, ketika dia berada di tangga ke empat, langkahnya terhenti. Kedua orangtuanya sudah kembali bertengkar lagi.


"Kamu dari mana, jawab aku!!!" Rani terdengar begitu marah.


"Aku udah bilang kalo aku ada urusan"


Rani menarik baju Akmal untuk dia cium, kemudian dia menepis baju beserta tubuh Akmal.


"Kamu nemui perempuan itu lagi?"


Akmal menatap Rani dengan wajah yang tak kalah marah.


"Nemuin siapa, aku gak nemuin siapa siapa"


Sedetik Rani tidak bisa lagi membendung tangisnya, perempuan itu terisak sambil jongkok. Rani menangis sejadi-jadinya.


"Kita udah sepakat buat fokus sama Genta, kenapa kamu justru masih berhubungan sama wanita itu" suara Rani hampir hilang ditengah tangisnya.


Akmal tidak bisa menjawab, lelaki itu diam saja mematung menatap Rani sudah duduk sambil terisak.


"Setidaknya, kalau kamu gak mau mempertahankan hubungan kita, tolong pertahankan rumah tangga ini demi Genta" pinta Rani yang menyayat hati Genta.


"Aku udah berusaha, kamu tahu kan selama ini aku udah mati matian nahan semuanya" Akmal menggenggam tangannya dengan kuat "Ini semua aku lakuin demi Genta"


Sungguh Genta ingin menangis saat ini ketika melihat orangtuanya. Genta ingin mati saja, semuanya terasa sia sia.


"Kalau ini demi Genta, kenapa kamu gak bisa ninggalin wanita itu" Rani mendongak.


"Aku gak bisa ninggalin kamu atau pun Sandra" Akmal menatap Rani "Ijinkan aku poligami, aku janji, aku akan adil sama kalian, ini salah satu cara agar kita tidak menyakiti siapapun"


Mendengar itu, mata Rani terlihat membulat tidak percaya, Rani bergegas berdiri, sorot matanya kini berubah begitu menyala. Apakah sakit hati yang selama ini dia tahan tidak cukup untuk lelaki di hadapannya ini?.


Poligami? Lelaki macam apa yang tega membagi cintanya dan wanita macam apa yang rela di bagi cintanya, berbagi tubuh suaminya dengan wanita lain.


"Ternyata rumah tangga kita bener bener gak bisa di selamatkan" Rani bergegas pergi.


"Rani mau kemana kamu?!!" Akmal menyusul Rani, tampak diluar terdengar suara deru mobil keduanya.


Genta terduduk dengan lemas, pemandangan didepannya tadi benar benar memukul dirinya. Genta bingung harus melakukan apa lagi, Genta sudah pasrah, jika memang keluarganya harus berkahir, maka Genta tidak akan mencegahnya.


Air mata Genta terjatuh menetes, Genta terisak, benar benar terisak seperti bayi. Nafas nya begitu sesak, jantungnya terasa berdegup karena kemarahannya, hatinya teriris. Genta menyapu pandangan ke penjuru rumah, tangisnya kembali lagi mengingat momen momen paling menyenangkan dirumah ini.


🏡🏡🏡


Mau tidak mau, Genta harus sekolah, ini adalah pelarian satu satunya dari masalah dirumahnya, dia tidak sarapan, langsung bergegas pergi kerumah Gadis dan menjemput perempuan itu.


Saat dia sampai diperataran rumah, mobil Martine masih terparkir disana. Genta turun lalu melangkah mendekati pintu, diketuknya daun pintu secara perlahan. Tidak lama Gadis keluar, dia sudah lengkap mengenakan seragam SMA hanya saja dia belum menata rambut halusnya.


"Genta, tumben pagi banget?" Gadis tersenyum menyabut kedatangan Genta meski sedikit ada keterkejutan dimatanya.


"Kebangun pagi tadi, jadi yaudah berangkat pagi sekali kali" cengiran andalan itulah yang bisa menutupi lukanya.


"Masuk yuk, ikut sarapan sama papa" ajak Gadis sudah menarik tangan Genta untuk masuk ke dapurnya.


Disana, Martine terlihat sedang menikmati masakan buatan Gadis. Genta mendekati Martine dan menyalami lelaki berperut buncit itu.


"Eh Ta, udah dari tadi?" Tanyanya.


"Baru aja Om" Genta menggeser kursi dan duduk disebelah Gadis.


"Perlu dirayain Lo pa, baru sekali ini Genta pagi banget jemput Gadis" ujarnya sambil menyodorkan nasi dan beberapa lauk yang sudah diambilkan ke arah Genta.


"Emangnya Genta jemput kamu jam berapa Dis?"


"Biasanya tu pa, Genta jemputnya  jam tujuh lewat dua puluh menit, pernah ni ya Genta jemput Gadis jam delapan lewat tiga puluh menit" Gadis mengungkit kesalahan Genta yang terlambat bangun.


"Jangan diceritain malu tahu" Genta melirik kearah Gadis yang saat ini justru tertawa.


Martine ikut tertawa mendengar penuturan putrinya yang begitu antusias saat Genta ikut bergabung.


"Sering sering Ta sarapan disini, Gadis suka ngeluh katanya makan berdua bareng Om gak rame"


Genta tersenyum kearah Martine "Nanti beras punya Om habis lagi" candanya.


"Ih papa, Gadis kan gak pernah bilang gitu" Gadis menimpali kalimat Martine barusan.


"Tenang aja Ta, kalo beras dirumahnya Om habis nanti om ke perusahaan papa kamu, minta ganti rugi" lalu tawa Martine menggema.


Genta hanya menatap tawa itu sesekali melirik ke arah Gadis. Melihat betapa ceria nya perempuan disebelah Genta, ada rasa malu yang seketika hadir dihati Genta. Gadis saja dengan penuh keyakinan bisa melewati hari harinya, sedangkan Genta yang baru diterpa angin sedikit sudah merasa tidak kuat.


Seketika mendapat perlakuan seperti itu, wajah Gadis bersemu merah, perempuan itu melirik kearah Genta dan melotot memperingati, apalagi saat dengan beraninya Genta sudah masuk kedalam roknya.


Tahu kalau godaannya berhasil, Genta menarik tangannya dan ikut tertawa bersama Martine. Terkadang menggoda Gadis adalah hiburan yang paling menyenangkan untuknya.


🏡🏡🏡


Saat ini Genta dan ketiga temannya sudah duduk di kantin pak Tab, apalagi yang mereka lakukan selain membicarakan satu sama lain.


Gara masih sibuk dengan ponselnya, entahlah sejak anak itu tergila gila dengan tiktok Genta merasa Gara semakin alay. Irvan masih menggoda beberapa siswa yang melintas.


"Eh, gimana si ampar ampar pisang, udah Lo wa" tukas Eles tiba tiba ditengah hening.


"Lo kenapa ikut ikut gue dah" Gara memprotes saat nama panggilan untuk Antar di ikuti Eles.


"Enakan manggil ampar ampar pisang ketimbang Antar"


Irvan dan Genta mengangguk menyetujui nama panggilan untuk personil barunya.


"Tu tu si ampar ampar pisang" tunjuk Irvan dari arah kanan.


"Ampar ampar pisang sini Lo" teriak Gara yang membuat Antar melangkah dengan cepat.


"Gimana bang?" Antar menarik satu kursi untuk dia duduki.


"Sini sebagai personil baru Lo kudu gabung sama kita tiap pagi dikantin pak Tab" kata Eles.


"Eh gimana kabar Mochi?" Irvan memepetkan duduknya.


"Bentar satu satu dulu, kak Eles, gue usahain ya buat gabung, soalnya gue masih kelas dua susah ngatur waktu sama organisasi, kalo pagi gue kumpul OSIS dulu" kata Antar menjelaskan "Nah kak Irvan, kak Mochi baik baik aja kok, malah semalam baru jadian sama kak Nico, orangnya ganteng, kaya, jago main basket sama matematika juga" cerocos Antar yang tidak melihat ekspresi masam Irvan.


Melihat ekspresi sahabatnya yang ditekuk, Gara dan Genta otomatis tertawa lebar.


"Brengsek Lo ya, calon adek gak tahu di untung" maki Irvan dengan nada sedang.


"Ha kenapa kak, kan gue ngomong apa adanya"


Gara geleng geleng sendiri melihat otak adik kelasnya itu.


"Dasar ogeb, Lo kan tahu si Irvan suka banget sama Mochi" jelas Gara.


Antar menatap kearah Irvan yang berwajah masam akibat jawabannya tadi.


"Kenapa gak ditembak aja kak?" Tanyanya polos.


"Udah tapi ditolak 3 kali" jawab Genta mewakili Irvan.


"Empat kali" ralat Irvan cepat.


"Nah malah empat kali" kata Genta kembali menertawakan Irvan.


"Fakeboy kok lemah" ejek Antar "kejar aja terus kak, kita kan gak tahu tembakan mana yang bisa bikin kak Mochi luluh" Antar menyemangati Irvan "yah walaupun gue gak yakin sih kak Mochi mau sama kakak"


Lagi lagi Irvan seperti dihantam bongkahan batu kearahnya. Jawaban Antar memang bukan main main untuknya.


Gadis yang entah sejak kapan ikut bergabung disebelah Genta, duduk disana dan memandangi teman teman Genta.


"Tumben sendiri?" Tanya Genta.


"Windi gak sekolah, gak ada keterangan juga, udah aku telfon tapi hpnya gak aktif" curhat Gadis kepada Genta.


Gadis menatap arah Antar yang asing, Gadis menaikan alis.


"Antar Lo kok disini?" Tanyanya.


Antar menarik sudut bibir "Mulai kemarin gue resmi jadi personil Kera band kak, keren kan gue" katanya menepuk dada membanggakan diri yang membuat Gadis mengangguk.


"Iya elo keren, tapi kerenan Genta,"


Mendengar pujian itu Genta tertawa, dia mengusap puncak kepala Gadis dengan mesra.


"Emang Windi kemana Dis?" Tanya Eles.


"Gak tahu"


Gadis menatap ponselnya, ketika hening beberapa detik diantara mereka, Gara bersuara.


"Kenapa gak Lo tanya Genta, siapa tahu dia tahu dimana Windi"


Mendengar itu, Gadis mendongak dan menatap Genta dengan tatapan menghunus.