Why Me?

Why Me?
Why Me? 36



Genta membawa motornya dengan kecepatan sedang, otaknya sedang berfikir saat ini. Mungkin rumah tangga orangtuanya akan segera hancur. Memangnya kemarin apa yang diharapkan Genta ketika melihat Akmal kembali seperti semula.


Genta memelankan laju motor saat di trotoar jalan dia melihat seseorang yang begitu familiar. Genta mendekat kearahnya.


"Win Lo ngapain?" Genta berhenti dan menstandarkan motor, dia berjalan mendekati Windi.


Melihat kehadiran Genta, Windi mendongakkan kepala, dia menatap wajah Genta lalu berhamburan memeluk lelaki itu.


Tidak ada yang bisa Genta lakukan selain diam mematung, tangannya masih diam. Perlahan pelukan itu terlepas, Genta dapat melihat wajah babak belur Windi.


"Lo dipukuli bokap Lo lagi?" Tanya Genta.


Windi mengangguk, wajah babak belur itu sudah basah oleh air matanya.


"Kita kerumah sakit ya" Genta berniat mengantarkan Windi kerumah sakit tanpa banyak tanya.


Namun, pergerakan itu dicegah Windi, perempuan itu menarik tangan Genta hingga yang ditarik menoleh. Windi menggeleng sambil menyeka air matanya.


"Gue gak mau, gue takut papa bakalan mukulin lagi"


"Tapi Lo harus dapet pertolongan Win"


Windi tetap menggeleng "Please jangan paksa gue"


Genta tidak ada pilihan selain menuruti kemauan Windi, lelaki itu menarik nafas begitu dalam. Genta menatap penampilan Windi, hanya menggunakan celana jeans pendek dan kaos berwarna merah muda. Rambutnya begitu acak acakan.


"Gue antar pulang?" Genta masih tidak berhenti untuk membujuk Windi.


Perempuan itu menggeleng lagi.


"Gue takut, bokap masih ada disana" isaknya.


"Terus sekarang Lo mau kemana, Lo mau gue anter kerumah Gadis?"


Sekali lagi gelengan dari kepala Windi membuat Genta menghela nafas frustasi.


"Anterin gue ke hotel, gue pengen istirahat disana, gue takut buat balik kerumah , gue gak punya siapa siapa disini"


Sedetik Genta menarik nafas, kemudian dia mengangguk dan berjalan keatas motor. Disana, Windi yang berada dibelakang Genta, memeluk lelaki itu setelah mereka melenggang naik motor.


🏡🏡🏡


Mereka ada di hotel yang tidak terlalu jauh, mulanya Genta mendatangi resepsionis untuk memesan kamar hotel, setelah mendapatkannya, Genta mengantarkan Windi untuk kekamar.


Mereka berjalan bersisian, sampai di lift pun, mereka masih saja bungkam.


"Jangan bilang siapa siapa ya kalo gue dipukuli bokap lagi" mohon Windi ditengah lift naik keatas "Terutama Gadis, gue gak mau bikin cewek itu khawatir"


Genta hanya bisa mengangguk pasrah.


"Lo gak berniat ngelaporin bokap Lo?"


Windi menggeleng "Gimana pun dia itu papa gue"


Genta menoleh dan menatap Windi yang sedang menunduk, perempuan itu menggesekkan sepatu karena gelisah.


"Win, mau sampe kapan elo kayak gini?, selalu dipukuli bokap elo, Lo gak cape?"


"Gue gak papa Ta"


Genta mengusap rambutnya dengan frustasi. Terkadang seseorang memang memiliki pandangan yang berbeda dan Genta sedang tidak habis fikir dengan cara pandang Windi saat ini.


"Sekarang emang elo gak papa, besok besok apa elo bisa jamin" nada bicara Genta begitu emosi, beruntung di lift hanya ada mereka berdua.


"Gu_gue"


"Kalo sampe bokap elo hilang kendali gimana, kalo sampe bokap elo mukulin elo sampe mati gimana?"


Windi menggeleng kemudian terisak.


🏡🏡🏡


Setelah mengantarkan Windi untuk mencari penginapan, Kini Genta menuju rumah Gara. Disana teman temannya sudah berkumpul, setelah memarkirkan motor di pekarangan depan rumah Gara, Genta berjalan menaiki tangga atas.


Hanya ada Gara yang merebahkan tubuhnya di sofa seorang diri.


"Yang lain belum datang?" Tanya Genta.


"Irvan masih otw. Katanya dia bawa pianis baru yang kemarin gagal di kenalin ke kita" Gara menegakkan posisi tidurnya.


Dia menatap Genta "Ta gue boleh minta tolong gak?" Tanyanya.


Genta menghentikan pergerakan tangan saat membuka kancing jaket jeansnya. Dia menaikan alis.


"Ini" Gara mendekati Genta "Lo bisa rekamin gue Vidio kayak gini gak" Gara menunjukan Vidio yang dia tonton di tiktok.


Pertama kali saat Vidio itu ditekan ada suara seorang perempuan yang berkata "Yoo my bestfriend rich chek" lalu selanjutnya Vidio tentang kekayaan yang tampil, diakhir seseorang yang diyakini Genta sebagai teman perempuan itu tersenyum kearah kamera sambil memamerkan jam rolexnya.


Genta geleng geleng "Faedah Lo main gituan apa?"


"Biar terkenal" Gara menyisir rambutnya lalu memberikan ponsel iPhone kearah Genta.


Lipatan dahi itu menandakan bahwa Genta sedang bingung, lalu Genta mengembalikan ponsel ke Gara.


"Ogah gue, kek anak alay" seloroh Genta tajam.


"Ini keren ****, gue mau pamer kalo kekayaan cowok di Vidio ini kalah sama gue" Gara menatap kearah Genta dengan tidak suka"gue mau pamer koleksi pakaian Gucci, prada, Louis, Hermes, Chanel, belum lagi gue mau pamerin mobil Alphard punya gue, jam rolex, sepatu Nike, rumah gue" cerocos Gara yang tidak ditanggapi Genta.


Tidak lama pintu dibuka, tiga orang laki laki masuk kesana. Eles, Irvan dan satunya tidak dikenali Genta.


"Eh Les Les sini Lo bantuin gue" Gara mendekati kearah Eles


"Bentar dulu Ra, gue mau ngenalin pianis baru Kita" Irvan merangkul laki laki yang mengenakan kaos hitam.


Irvan mengangguk kearah lelaki itu yang menandakan untuk memperkenalkan dirinya sendiri.


"Kenalin kak, nama gue Antariksa Margana Mahendra, gak kaya sih kak cuman punya koleksi rolex di kamar .Oh ya Panggil aja Antar"


Gara mengamati penampilan Antar dari atas sampai bawah, gak kaya gimana, lihat kaos yang dia kenakan saja sudah bermerk, celana , jam,tas bahkan sepatunya pun bermerk. Sebelah dua belas lah dengan miliknya.


"Gue Eles Prabowo" Eles mengulurkan tangannya "Gue disini sebagai basis"


Antar menerima uluran tangan itu "Tahu kak yang nyalon ketua OSIS tapi gagal terus kan?"


Eles hampir melongo dengan perkataan jujur dari Antar, kini Antar menatap kearah Genta.


"Kak Genta vokalis kan, wah kakak keren" Antar memuji Genta terang terangan.


Kini Antar menatap kearah Gara, lelaki itu masih memandang Antar dengan aneh.


"Nama Lo siapa tadi?" Tanya Gara.


"Antariksa Margana Mahendra, panggil aja Antar"


"Antar kemana?" Celetuk Gara.


"Ha?" Antar terlihat cengo, setelah menyadari jokes milik Gara, Antar tertawa.


"Bang Gara Gara bisa aja" Antar memukul lengan Gara.


"Sakit ****" Gara masih memandangi Antar "Eh ampar ampar pisang,prestasi lo apa aja di musik?"


"Maaf kan nama gue Antar" ralat Antar tidak terima namanya diganti.


"Terserah gue mau manggil elo siapa"


"Prestasi gue__" belum sempat Antar menyebutkan prestasinya, Irvan lantas memotong dengan cepat.


"Udah Lo percaya aja sama gue, dia pernah menang lomba piano di Swis" Irvan menatap kearah Antar.


"Yaudah, ampar ampar pisang buruan Lo tunjukin kemampuan elo" titah Gara yang diangguki Antar.


Lelaki itu dengan semangat menuju keyboard yang baru dibeli Gara. Dengan cekatan Antar sudah memulai aksinya dan membuat Genta serta Eles mengangguk.


"Lo Nemu dia dimana sih Van?" Tanya Gara.


"Dia adek kelas kita, ponaannya Mochi"


Mendengar itu Gara memutar matanya dengan malas, memang kalau urusan Mochi Irvan paling cepat.


"Gimana setuju gak?" Tanya Irvan pada yang lainnya.


Mereka dengan kompak mengangguk dan mengangkat jari jempol bersamaan.


Seperti monyet.


🏡🏡🏡


Genta membuka pintu rumah dan menemui keheningan disana, tidak ada siapapun. Padahal sekarang sudah hampir magrib, namun dia tidak menemukan siapapun disini.


Dulu situasi semacam ini terasa biasa untuk Genta, karena dia tahu Akmal dan Rani akan pulang dan mereka berkumpul saat malam hari. Namun kini semua berbeda, situasi semacam ini adalah situasi paling membuatnya ingin mati, Genta duduk di undakan tangga ketiga, dia menatap sekeliling rumah, lalu Genta terisak dalam diam.


Akankah semua baik baik saja? Akankah semua akan berakhir?


Genta hanya mampu menenggelamkan wajahnya kedalam telapak tangan, air matanya bercucuran disana.


Genta memutuskan untuk naik keatas dan mengistirahatkan diri dan fikiranya.


**note : Spesial menyambut hari raya idul Fitri, autor akan update 3x, pagi setelah sholat IED, Sore dan malam.


selamat hari raya idul Fitri, Minak aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin**