
Enam tahun berlalu, Genta tetap memutuskan berada di Semarang, selama ini pula Genta banyak memahami orang orang disekelilingnya, memaafkan sikap Akmal dan Rani yang waktu itu tidak bisa dia terima.
Selama kuliah, Genta banyak mengikuti organisasi yang mengharuskan dia bergabung dan bersosialisasi dengan banyak orang. Genta juga mulai bekerja setelah lulus empat tahun lalu. Meski dibujuk Rani untuk pulang ke Jakarta. Genta tetap menolak pulang, bukan karena Genta belum menerima Richard atau anak Rani dengan Richard, tetapi karena Genta ingin lebih bisa memaafkan dan menerima semuanya.
Bagi Genta, luka tujuh tahun yang lalu masih terasa hingga saat ini. Luka karena keluarganya hancur, persahabatannya bahkan ditinggal kekasih disaat Genta terpuruk.
Genta duduk di teras depan kost nya, memainkan gitar dan menyandungkan lagu buatan Gara dulu. Tiba tiba Genta merindukan teman temannya, terutama Gara yang tidak pernah menghubunginya sama sekali.
"Ndes, we arep golek mangan ora? (Teman. Kamu mau nyari makan gak?)" Tanya Erlan yang baru saja keluar dari dalam kost.
Erlan ini teman Genta selama kuliah. Satu aktivis di kampus. Genta menggeleng dengan lemah.
"Belum laper" katanya.
"Aku metu disek ya (aku keluar dulu ya)" pamit Erlan sudah melenggang.
Genta menatap kearah Erlan yang mulai bergerak menjauh, perlahan Erlan mulai tidak terlihat, ditelan berbelokan kearah jalan raya. Genta melirik gitarnya, membayangkan wajah Gadis kembali.
Gadis apa kabar? Apa dia sudah menikah atau malah sudah memiliki anak? Genta? Bahkan Genta masih setia sendiri setelah ditinggalkan. Trauma untuk membuka dirinya kepada orang yang baru. Sebenarnya banyak yang ingin dengan Genta, tapi Genta yang tidak ingin membuka dirinya lagi, menceritakan tentang Genta berserta masalahnya yang terasa begitu pahit.
Ponsel Genta bergetar, Genta mengambilnya dan menatap nama Irvan sebagai si pemanggil. Perlahan dia menggeser panggilan itu.
"Ta, apa kabar Lo?" Suara di sebrang membuat Genta tertawa.
Ah, Genta rindu Irvan. Lelaki itu jarang sekali menghubungi nya, mungkin sibuk kuliah di sana atau sibuk mencari pacar.
"Gue, baiklah kayak terakhir kali elo nelfon" kata Genta meletakkan gitar didepannya.
"Lo gak balik ke Jakarta?" Tanya Irvan membuat Genta terdiam.
"Hallo, Ta, Genta" panggil Irvan untuk memastikan bahwa panggilannya masih terhubung.
"Gimana-gimana?" Tanya Genta mengangkat gitar dan masuk ke kamar kostnya.
"Lo udah lulus kan? Atau Lo belum lulus sampai sekarang?"
"Sialan, gue udah lulus dua tahun yang lalu" kata Genta.
"Gue kira Ta. Bdw Lo betah bener di Semarang, apa udah ada pacar?" goda Irvan.
"Emangnya elo, gue masih sendiri Van. Tahulah elo gimana arti Gadis buat gue" kata Genta kembali menatap langit langit kamar.
Ada hembusan nafas yang begitu berat dari ujung.
"Balik aja Ta. Ngapain elo di Semarang lama lama. Yang ada dapet orang sana nanti" Irvan menjedanya "Lusa Eles balik kesini, dia mau nyari kerja disini, rencana sih mau tinggal sama gue dulu" cerita Irvan.
"Lo udah di Jakarta?" Tanya Genta.
"Nah ini, gue rasa Lo udah dapat anti anti orang Semarang deh" suara kekehan disebrang menular untuk Genta. "Gue udah di Jakarta tahun kemarin, sekarang lagi menggeluti bisnis makanan"
Anti anti yang di maksud Irvan adalah perempuan tidak benar, Irvan selalu menyebutnya dengan anti anti, atau lebih tepat para simpanan Om Om.
"Terus si Gara mau balik juga kesini" kata Irvan "Lo bisa memperbaiki hubungan elo sama dia Ta, siapa tahu otak anak itu udah dewasa sekarang"
Genta hanya bisa terdiam menelan semua kalimat Irvan. Pulang ke Jakarta, Genta memang tidak keberatan untuk kembali kesana. Tapi, Genta belum bisa jika harus serumah dan merasa canggung dengan Richard apalagi dengan Amanda, adik tirinya.
"Gue pikir pikir dulu Van" putus Genta.
"Apalagi yang mau elo pikirin, Jakarta itu rumah elo, udah seharusnya elo disini" Irvan menarik nafas "Ta. Sampai kapan Lo ngehindari ini semua, sepuluh tahun lagi atau nunggu nyokap bokap elo udah tua?"
Kata kata Irvan terdengar begitu bijak, terkadang terlalu aneh untuk telinga Genta yang selalu mendengar kalimat vulgar dari mulut Irvan.
"Banyak hal yang Lo lewatin disini, termasuk kembalinya seseorang" kata Irvan masih berusaha membujuk Genta.
"Gue, pikir pikir dulu" katanya langsung mematikan panggilan Irvan.
Genta merebahkan diri diatas kasur, menatap ke atap, lalu menutup matanya. Hari Minggu yang terasa membosankan. Apa Genta akan kembali kesana?
🏡🏡🏡
Genta bekerja di salah satu perusahaan jasa keuangan di Semarang, dia sedang menyusun berkas berkas. Lalu memeriksa kesamaan dengan yang ada di komputer kerjanya.
"Ta, dipanggil bos" kata Bram, teman kerjanya.
Genta menoleh kearah Bram, lalu menaikan alis karena bingung "ada apa?"
"Gak tahu. Katanya ada yang nyari kamu" Bram duduk di kursinya setelah kembali dari ruangan pimpinan kantor.
Genta berdiri, tanpa menunda lagi dia berjalan menuju ruangan pimpinan kantor. Didepan pintu, Genta menarik nafas dulu, menyiapkan diri sebelum menemui pimpinannya.
Dua kali ketukan itu, Genta mendengar pimpinannya berseru untuk memintanya masuk. Tanpa ragu. Genta melangkah masuk kesana, lalu terkejut saat melihat Akmal sudah duduk disofa tamu milik pimpinan kantor.
"Genta, duduk dulu" persilahkan pimpinan Genta.
Genta mengangguk. Lalu duduk disebelah Akmal. Sebenarnya ini bukan pertama kali Genta bertemu Akmal di Semarang, setiap setahun se kali lelaki itu selalu menemuinya, membujuk Genta untuk pulang ke Jakarta dan meneruskan perusahaan daripada bekerja untuk perusahaan lain.
"Silahkan pak Akmal untuk mengobrol dengan Genta, saya tinggal dulu" pamit pimpinan Genta.
Dua lelaki itu duduk bersebelahan, setelah perginya pimpinan Genta, Akmal berdehem lalu menatap putranya yang semakin gagah.
"Gimana kabarmu?" Tanya Akmal.
"Baik pa, tumben biasanya papa ngabarin Genta dulu kalau mau ke Semarang" kata Genta.
"Papa mau buka perusahaan cabang disini, tadi sempat meeting dengan karyawan papa" Akmal menatap Genta "Kamu masih di kontrakan yang lama?"
Genta mengangguk. Lalu ikut menatap Akmal "Papa gimana kabarnya?"
Akmal tertawa sekilas, lalu mengangkat kakinya untuk ditumpangkan di kaki sebelahnya. Lelaki itu mengetuk ketuk tangan kursi.
"Akhir akhir ini papa sering berantem dengan mamamu" jujur Akmal.
Genta menaikan alis, Mama? Ah, dia baru ingat jika Akmal sudah mengganti panggilan Sandra menjadi Mama, sejak setahun mereka menikah.
"Karena?"
"Mama mu terlalu banyak cemburu, menuntut papa, bahkan selalu mencurigai papa"
Genta tersenyum, hampir kelepasan untuk menertawakan cerita Akmal barusan.
"Papa percaya gak? Sepandai-pandai seorang laki laki berbohong, feeling perempuan jauh lebih kuat" sindir Genta talak mengenai Akmal.
Bahkan lelaki itu sampai harus mengendorkan dasi hanya untuk menghilangkan degupan karena kata kata Genta berhasil menusuknya.
"Kamu gak pengen pulang ke Jakarta?" Tanya Akmal.
"Pulang, tapi nanti kalau Genta udah mau"
"Apa yang kamu tunggu disini sebenarnya?"
"Genta mau kerja pa, kalau ada yang mau di obrolkan lagi. Papa ke kontrakan Genta," kata Genta mulai berdiri.
"Ta" Akmal ikut berdiri "Pulanglah. Seorang laki laki harus menyelesaikan masalahnya. Kalau masalahmu ada di Jakarta maka tuntaskan, bukan malah pergi menjadi orang pengecut seperti ini"
Genta mengangguk, lalu mendorong pintu.
🏡🏡🏡
Akhir akhir ini Genta banyak melamun, memikirkan kata kata bujukan yang selalu dia dengar melalui benda Pipih nya. Kenapa Genta tidak ingin ke Jakarta? Bahkan kalimat tanya itu selalu saja terputar di otaknya.
Genta menatap langit kamar sebelum suara gaduh diluar menyedot perhatiannya.
"Permisiiiii" teriakan dari luar.
Genta yang baru pulang kerja, lekas berdiri dan keluar dari kamarnya, lalu bertatapan dengan Erlan yang sama bingung dengan tamu yang berteriak diluar.
"Sopo ndes? (Siapa teman?)" Tanya Erlan pada Genta saat mereka bertatapan di depan kamar masing masing.
"Gak tahu, temenmu?" Genta balik bertanya.
"Permisiiiii ada Orang gak ya, udah pegel nih berdiri" teriakan dari luar kembali terdengar.
"Gak ngundang temen malam ini" kata Erlan mulai berjalan keluar untuk mencari tahu siapa tamu yang berteriak sedari tadi.
Saat Erlan membuka pintu, Genta begitu kaget, bahkan mundur selangkah saat melihat Irvan, Eles dan Antar yang berdiri dengan pakaian berantakan.
"Astaga bang Genta panutanku. Lama banget sih bukannya, udah pegel berdiri" protes Antar.
"Kenal Ta?" Tanya Erlan kepada Genta.
Perlahan anggukan kepala dari Genta membuat Erlan tersenyum menyambut tiga teman Genta. Irvan datang dengan kacamata hitam dan jas rapi, sedangkan Eles memakai celana kolor dan baju singlet, Antar tak kalah aneh lagi, lelaki itu memakai pakaian hitam putih seperti ingin mendaftar PNS.
"Lo ngapain disini?" Tidak tahan untuk mengomentari temannya Genta maju selangkah "Ngapain kesini pakek pakaian aneh gini?" Tanya Genta penasaran.
"Gini bang, gue baru aja daftar kerja eh diculik sama bang Irvan buat ikut dia. Ternyata gue diajak ke Semarang" cerita Antar.
Yah. Masuk akal dengan pakaian Antar yang menggunakan hitam putih, namun kini Genta menatap kearah Eles yang hanya memakai kolor dan baju singlet.
"Lo Les, kenapa bisa pakek kolor doang kesini?"
Eles memutar mata dengan malas lalu menatap tajam kearah Irvan. Tatapannya bahkan bisa membunuh Irvan andai tatapan itu adalah pedang.
"Lo tanya temen sengklek lo itu, gue kira setelah dia hampir jadi bapak, pikirannya agak tercerahkan, ternyata kagak" Eles meledakkan bom kemarahannya kearah Antar dan Irvan "Lo tahu gak Ta, gue baru aja sampe di Jakarta, baru tidur tiba tiba gue bangun udah di mobil"
Genta geleng geleng menatap kearah Irvan yang hanya nyengir saja.
"Kelewatan Lo" cela Genta lalu berjalan masuk kedalam kamarnya yang diikuti ketiga teman Genta.
"Salam kenal ya mas" kata Erlan menyalami ketiga teman Genta.
"Iya, salam kenal juga" kata Eles.
Erlan berpamitan masuk kedalam kamar yang ditatap ketiganya dari dalam kamar Genta, lalu mereka sudah merebahkan tubuhnya masing masing diatas kasur tanpa memberitahu maksud dan tujuan mereka datang ke Semarang.
"Lo ngapain sih. Kontrakan gue sempit, mending Lo cari hotel di luar" titah Genta.
"Ngapain kita nginep di hotel?" Irvan mendudukan tubuhnya sambil melepaskan jas yang membalut tubuh "Kita kesini mau bawa Lo balik ke Jakarta"
Genta menarik nafas lalu berkacak pinggang dan menatap satu persatu temannya.
"Gue ada kerjaan disini, gue belum pengen balik ke Jakarta" jawab Genta.
"Ta, kerja itu cuman buat orang susah, Lo jangan keliatan susah gitu deh" kata Irvan menatap Genta lebih dalam "Eles aja datang ke Jakarta gak nyari kerjaan justru enak enakan tidur"
Eles yang baru saja dijadikan contoh tidak menyenangkan lantas menoleh dengan cepat kearah Irvan, lalu memukul belakang kepala Irvan dengan keras.
"Eh Bambang, gue kan baru aja nyampe"
"Buktinya, si ampar ampar pisang yang anak orang kaya tetep cari kerja" kata Genta menatap Antar yang mulai membuka kemeja putihnya.
Irvan menarik nafas "Dia mau ngelamar jadi dosen di kampus nya sendiri, dia kan anak mama, otomatis dia ngikuti kemauan mamanya"
Antar mengangguk membetulkan ucapan Irvan. Memang betul dia sedang melamar kerja menjadi dosen di kampusnya, karena IPK nya cukup tinggi dan Antar adalah mahasiswa berprestasi, lebih memudahkan peluangnya untuk menjadi dosen sambil melanjutkan S2.
"Lo kenapa sih gak pengen balik ke Jakarta?" Tanya Eles dengan suara yang lembut.
Genta menarik nafas "Belum pengen aja" kata Genta menoleh kebelakang dan membuka lemari, lalu melemparkan kaos hitamnya kearah Eles "Pakek El, gerah gue liat elo bugil gitu"
Eles menerima itu dan dengan sigap mengenakannya, dia juga menatap kearah Genta lalu melanjutkan kalimatnya kembali.
"Apa karena nyokap bokap elo yang udah punya keluarga sekarang?"
Genta menarik kursi dan duduk di sana, mengangkat kaki kanannya lalu ditumpangkan ke kaki kiri. Genta menelan ludah, dan hanya memandangi Eles.
"Ta, gue rasa Lo lagi jadi pengecut sekarang, Lo lari dari masalah elo sendiri"
"Gue" Irvan menunjuk dirinya "Gue rasa gue manusia paling pengecut yang lari di saat Pelangi hamil, tapi gue gak kayak elo yang lari begitu lamanya tanpa nyelesaiin masalah, gue tetep balik ke Jakarta, nemuin Pelangi dan niat buat tanggung jawab" kata Irvan.
Genta mendongak sejenak, bersidekap sambil menggoyangkan kakinya.
"Gue udah nyelesaiin masalah gue sama Pelangi, tapi Pelangi malah gugurin anak gue, dan itu jadi hantaman paling menyakitkan buat gue Ta, karena gue pecundang gue kehilangan anak gue" kata Irvan "Lo mau. Kehilangan orang orang yang Lo sayang?"
Genta menatap Irvan dengan tatapan berkobar "Gue udah kehilangan mereka!" Teriak Genta menggebu.
"Lo gak usah nasehatin gue soal kehilangan. Gue paling paham soal itu" kata Genta.
"Ta, sebenarnya masalah elo sekarang bukan di orang lain tapi diri Lo sendiri" kata Eles berdiri dan menepuk pundak Genta "Lo belum maafin diri Lo, gue ngerasa lo disini justru lagi nyalahin diri Lo"
Genta menepis tangan Eles "Karena gue, bokap nyokap gue cerai, karena gue juga Gara jauh dari gue dan karena gue, Gadis pergi ninggalin gue" ujarnya.
"Gak Ta" Irvan berdiri "Lo gak salah, yang salah itu bokap nyokap elo, yang salah itu Gara, dan yang salah itu Gadis"
Genta mengusap wajahnya dengan kasar. Mengapa dia berakhir ditinggalkan? Kalau ini bukan salahnya lalu kenapa semua orang selalu pergi secara berturut-turut?.
"Ta, kita hidupin lagi Kera band, kita wujudin semua mimpi kita dulu" kata Eles.
"Kita udah sepakat, bakalan balik kayak dulu, ada atau gak si Gara, Kera band harus ngewujudin mimpi kita" imbuh Irvan.
Genta menatap wajah Eles dan Irvan yang sama sama cerah. Lalu memeluk mereka, berpelukan bertiga, disusul Antar dari samping. Namun saat Antar mulai bergabung Genta melepaskan pelukannya.
"Anjing, Lo bau semua" teriak Genta.
"Maaf ya terakhir gue mandi kemarin" cengiran Eles berakhir di pukuli teman temannya.
note : terima gak terima, kalian kudu terima wkwkkw. kalo pas masa kuliah Genta di bahas, bakalan panjang banget novelnya. kalian kan tahu, aku gak pernah bikin novel dengan chapter panjang. jangan bosen bosen ya, I LOVE U ❤