
Selesai manggung, Genta lantas mencari Gadis, tapi sayang, dia sudah bolak balik seperti orang gila namun tidak menemukan kehadiran perempuan dengan dres menganggum kan tadi.
"Gak ketemu?" Tanya Irvan yang tahu kalau sedari tadi Genta mencari Gadis.
Lelaki itu menggeleng dengan lemah, dia menatap kesemua penjuru ruangan. Lalu menghela nafas dengan berat karena lagi lagi, Gadis pergi tanpa sempat berpamitan dengan dirinya.
"Lo gak minta nomor Gadis?" Tanya Irvan lagi.
Genta menatap kearah depan, dimana pintu keluar tamu. Bahkan tidak ada perempuan dengan dres kalem yang digunakan Gadis.
"Gue gak sempet" jawab Genta setelah menggantungkan pertanyaan Irvan.
"Tadi kita dikasih kartu nama kantor Gadis kan?" Irvan mengingatkan "coba deh lo telfon nomornya"
Bahkan, tanpa Irvan memberitahunya, dia sudah menghubungi nomor yang ada di kartu nama itu. Namun sepertinya semesta sedang tidak berpihak pada dirinya, itu bukan nomor pribadi Gadis, melainkan nomor rumah sakit tempat Gadis bekerja. Genta harus membuat janji bertemu Gadis dulu jika ingin menemuinya.
"Itu bukan nomor dia, nomor rumah sakit" jelas Genta.
"Yaudah, Lo bikin janji buat konsultasi sama Gadis aja"
Genta memutar mata malas, haruskah untuk menemui Gadis dia menjadi pasien terlebih dahulu?. Genta begitu frustasi, dia menatap kearah Irvan tanpa tenaga, lemas karena baru saja dia ditinggalkan oleh Gadis lagi.
"Kapan kapan gue kesana" Tutur Genta "Gue cabut balik dulu ya" katanya.
"Yaelah Ta, gitu aja udah lemes" Irvan menyenggol lengan Genta "Kita ada undangan ke acara musik sehabis ini"
Ah, Genta melupakan hal itu. Setelah nama Kera band semakin dikenal orang, memang banyak sekali job manggung berdatangan. Ini job kedua setelah dia tampil perdana di acara pernikahan Roy.
"Lima belas menit lagi kita cabut ke sana" kata Irvan menepuk bahu Genta dan pergi.
Genta hanya bisa duduk tanpa minat disini, mencari keberadaan Gadis, bahkan harus kehilangan lagi tanpa sebuah salam.
"Kak Genta Edenata ya?" Seorang perempuan dari arah kanan memanggilnya.
Genta menoleh, lalu mengernyitkan dahi karena merasa tidak mengenal perempuan yang memanggilnya tadi. Perlahan Genta mengangguk.
"Boleh minta foto gak?" Tanya perempuan itu mendekati Genta.
"Ha? Foto?"
"Iya, kak Genta keren banget, suaranya bagus" puji perempuan itu.
"Oh, iya iya, boleh" Genta mengangguk, lalu berdiri dan menerima Selfi bersama perempuan itu.
🏡🏡🏡
Bahkan di acara musik televisi pun, pikiran Genta hanya melayang mengenai Gadis. Kenapa perempuan itu lantas pergi tanpa meninggalkan pesan untuknya sama sekali?.
Diruang ganti, Genta menatap dirinya di pantulan cermin. Irvan sedang berfoto diluar bersama para gadis, Gara tentu saja sedang bercakap dengan para presenter, Eles dan Antar juga sedang melayani foto bersama fans. Hanya dirinya saja yang duduk di ruang ganti sendirian.
"Gak gabung ke luar bang?" Tanya salah satu kru TV.
Genta mengalihkan tatapannya kearah lelaki yang sedang membawa gitar milik Irvan, meletakkan disudut ruangan.
"Lagi pengen istirahat bang" jawab Genta ramah.
"Banyak yang nyariin Abang Lo, pengen foto katanya"
Genta hanya tersenyum sekilas dan mengangguk, lalu menatap kru TV itu keluar dan menutup pintu. Tidak lama Eles masuk seorang diri sambil mengusap wajahnya.
"Ta, kenapa Lo gak keluar?" Tanya Eles menatap pantulan kaca sambil melepas tindik palsu yang dia tempelkan ditelinga.
"Lagi males" jawab Genta seenaknya.
"Ayolah keluar. Banyak yang nyariin elo, terutama fans kita"
Genta menaikan alis, mendengar Eles menyebutkan fans rasanya terdengar menggelitik. Namun itu membuat Genta terhibur sendiri.
"Gaya banget udah punya fans" goda Genta sembari tertawa kecil.
"Elah beneran, itu mereka lagi foto sama Gara dan Irvan" Eles duduk disebelah Genta "Si Antar yang paling banyak fans nya"
"Lo sendiri ngapain di sini?"
Eles mengambil pembersih wajah, lalu menuangkan ke kapas dan mengusap kewajahnya yang tadi sempat diolesi bedak oleh staf.
"Rame banget Ta, sesek nafas gue" cerita Eles "Mereka antusias banget"
"Gilaaa diluar banyak banget orang pengen foto sama kita" datang datang Gara sudah mengoceh.
Genta hanya menatap satu persatu temannya yang harus keluar dari kerumunan fans dibantu staf televisi. Mereka semua duduk di kursi yang sudah disediakan. Lalu satu persatu dari mereka mulai melepaskan pakaian yang tadi digunakan manggung.
Genta sendiri sudah berganti dengan kaos hitam dan repedjeans. Kini Genta hanya menatap teman temannya mulai menghapus riasan.
"Gak nyangka ya, banyak bener yang ngantri pengen ketemu sama kita" kata Antar terdengar takjup.
"Enak kan jadi anak band, banyak fansnya. Elo jadi dosen malah banyak musuhnya" goda Irvan cekikikan.
"Eh jangan salah bang, gini gini waktu gue jadi asdos dulu, banyak mahasiswa yang tergila gila sama kegantengan gue" Antar menaik turunkan alis.
Eles dan Genta kompak geleng geleng. Tidak lama mereka semua tertawa, merasa puas dengan perjalanan yang selama ini mereka lalui. Merasa bahagia karena akhirnya mimpi yang mereka susun bersama sama terwujud satu persatu.
"Kita jangan puas dulu sekarang, jalan masih panjang" ujar Eles tiba tiba.
"Ya. Kita kudu punya planing lagi kedepannya buat Kera band" kata Genta "Sekarang emang lagu kita ngebooming, besok belum tentu"
"Makanya itu kita harus bikin lagu yang gak kalah booming dari sekarang" kata Gara begitu percaya diri.
Mereka saling pandang, lalu Eles berdiri dan menepuk pundak temannya satu persatu.
"Mau booming atau gak, yang penting kita tetep sama sama, jangan lagi berantem kayak dulu" Eles menatap ke arah Genta dan Gara "Bikin mimpi kita tertunda lama" imbuhnya.
"Foto dulu yuk bang" ajak Antar.
"Buluq gini?" Gara yang sudah berganti pakaian menaikan alis.
"Gak papa bang, biar jadi kenangan kalau kita pernah manggung di acara musik tv" Antar berjalan keluar ruangan lalu memanggil staf dan meminta mereka mengambil gambar.
Akhirnya, meski sudah berganti pakaian, semua anggota Kera band berdiri dan berpose. Setelah staf selesai mengambil gambar, Antar mengucapkan terimakasih membuat staf keluar dari ruangan mereka.
"Besok, setiap kita selesai manggung kita ambil foto bang" kata Antar.
"Kenapa gak sebelum mulai aja, kan dandanan kita masih cakep tuh, belum keringetan" balas Gara.
"Beda dong bang, kalo sebelum mulai itu berarti kita belum manggung, kalo udah kan nanti kita punya kenangan kalau pernah manggung di tempat tempat berbeda" Antar menatap hasil gambar mereka lalu mengirim kedalam grup chat.
Yah, Antar memang benar kenangan sekecil apapun patut diabadikan.
🏡🏡🏡
Genta pulang kerumah ketika malam hari, dari pagi hingga sore tadi, Kera band manggung di sejumlah acara, sudah mengisi sejumlah acara televisi, malam harinya Irvan mengajak mereka menemui manajer yang akan menaungi dan mengurusi seputar jadwal.
Meski baru sehari melakukan manggung, namun melihat tawaran yang selalu masuk ke email membuat Kera band sepakat untuk mempekerjakan manajer.
Saat Genta baru membuka pintu, Ranj sudah menyambutnya dan mendekati Genta.
"Papa kamu sama Sandra mau cerai" kata Rani.
Genta berhenti sejenak sebelum berbelok menuju ruang keluarga, lalu menatap wajah Rani dengan senyum menggoda.
"Kenapa? Mama pengen balikan sama papa?" Goda Genta.
"Huss" Rani memukul lengan Genta "Mama mu ini wanita terhormat, kalau sudah punya suami Mama gak akan cari lagi"
Genta tertawa kecil, Genta tahu sifat Rani se-setia itu, meski dia begitu posesif dengan pasangannya.
"Kamu udah tahu?" Tanya Rani.
Genta mengangguk kecil, lalu menurunkan resleting jaket. Hanya membuka resleting nya saja tanpa berniat melepaskan.
"Kenapa gak kasih tahu Mama?, Mama malah di kasih tahu sama Tante Ghina"
"Mama gak perlu tahu, itu kan udah bukan urusan Mama lagi"
"Iya sih, tapi Mama kasihan sama papamu" Rani menatap Genta bersungguh sungguh dengan ucapannya "Biarpun dia suka gitu, tapi dia begitu tanggung jawab sama kesalahannya"
"udahlah, itu juga kan kesalahan papa" Genta tidak mau memiliki harapan dari percakapannya dengan Rani hari ini.
Rani mengelus lengan Genta, menatap dengan tatapan khas keibuannya.
"Kalau besok kamu menikah, jangan perlakukan wanita seperti itu ya, ketika kamu menikah. apa yang kamu pilih akan kamu miliki seumur hidup, jadi jangan pernah bermain main dengan pilihan itu" nasihat Rani.
"Iya ma" Genta mengangguk patuh.
"Oh ya, besok malam papa ngajak kita makan malam sama karyawan nya"
Genta menatap kearah Rani, tumben sekali Richard memintanya untuk makan malam bersama staf rumah sakit.
"Katanya itu psikiater yang bakalan jadi psikiater tetap buat keluarga kita" imbuh Rani.
"Perlu banget ya keluarga kita psikiater?"
"Udah terima ajalah, siapa tahu kita butuh" Rani menatap kearah Genta "Papa bilang. Kalau kamu yang paling butuh teman cerita. Dan kamu pasti menyukai psikiater kita"
Genta hanya tertawa mendengar keyakinan dari Rani, lalu bergerak untuk menaiki tangga menuju kamarnya.
note : mungkin partnya ada 80an gitu , sabar ya