
"Mbak, mbak mau ngapain?" Ghina mencegah Rani ketika perempuan itu hendak memasukan pakaian Akmal kedalam koper.
"Kamu pikir mbak ngapain selain beresin barang orang asing" jawabnya.
"Mbak, tolong jangan lakuin sekarang, mbak harus mikirin perasaan Genta"
"Genta udah tidur" Rani dengan tidak sabaran memasukan semua pakaian Akmal tanpa menatanya.
Perempuan itu menyeret koper menuju ruang keluarga yang berdekatan dengan dapur, dibantingnya koper kelantai, kini Rani berjalan menuju ruang kerja Akmal, lelaki itu memasukan semua berkas berkas kedalam koper satunya.
"Mbak" Ghina berusaha mencegah, namun tidak berhasil, Rani sudah diselimuti kemarahan saat ini.
Ruang keluarga, ruang kerja dan kamar sudah di acak acak Rani, lelaki itu memasukan apa saja barang milik Akmal.
Rani menyeret koper itu untuk keluar diikuti Ghina dari belakang. Sedangkan Genta, lelaki itu berdiri di tangga menatap Rani.
Hatinya benar benar teriris melihat itu semua, Genta tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kakinya membawa Genta menuruni tangga dan menatap semua ruang yang sudah berantakan, dia menarik nafas Lalu bergerak dan memunguti beberapa lembar kertas yang berserakan.
Genta menyusunnya, sesungguhnya Genta tidak sedang berfikir bahwa dia menyusun kekacauan yang telah dibuat Rani, tapi Genta menyusun hatinya yang sudah pecah berkeping-keping. Genta memunguti semuanya dan menyusun seperti semula.
Itu Genta lakukan sampai pukul empat dini hari, bahkan mata bulat itu masih kuat terjaga tanpa rasa kantuk sama sekali.
🏡🏡🏡
Genta turun dari tangga dengan wajah yang sudah sedikit cerah, setelah semalam dia menghabiskan waktu untuk menangisi pecahnya keluarga Genta, menghabiskan malam untuk membersihkan rumah tanpa tidur sama sekali. Kini Genta menuruni tangga dan menatap Ghina sedang menyiapkan sarapan.
"Genta, makan dulu ya" ajak Ghina.
Lelaki itu berjalan dan duduk, dia menatap semua masakan Ghina yang di rasa, Ghina memasak dari rumah.
"Kamu makan ya" kata Ghina memberikan sendok dan piring.
Saat tangan Genta menerima itu, Ghina menatap balutan perban yang berada di tangan Genta, balutan yang membekas warna merah.
"Tangan kamu kenapa Ta?" Tanya Ghina hendak memegang balutan perban itu tapi dijauhkan oleh Genta secepat kilat.
"Bukan urusan tente" ujarnya bergegas pergi.
🏡🏡🏡
Seperti pagi pagi yang sebelumnya, Genta selalu menjemput Gadis, bermesraan dengan perempuan itu seperti tidak terjadi apa apa pada dirinya, lalu duduk berkumpul di kantin pak Tab. Genta masih bisa untuk berpura pura bahwa dirinya baik baik saja didepan semua orang.
Kini, jam istirahat Kera band tidak menghabiskan waktu di kantin pak Tab, melainkan duduk di tribun melihat Irvan tengah bermain futsal.
"Heran deh, Mochi kenapa bisa nolak Irvan ya?" Gara yang tengah memakan sosis berkecap ketika melihat Irvan begitu seksi saat berkeringat.
"Lo tanya aja sama Mochi, dia punya masalah hidup apa sampe nolak Irvan" jawab Eles.
"Mungkin Irvan terlalu baik buat Mochi" mendengar jawaban Genta, Gara dan Eles kompak menoleh kearahnya.
Mereka berdua mengangguk lalu mengangkat jari jempol tanda setuju.
"Heran deh, cewek suka banget nolak cowok baik baik kaya kita" kata Gara.
"Nanti kalo disakitin cowok bilangnya semua cowok sama aja" kata Eles menanggapi kalimat Gara.
"Dasar cewek makhluk paling aneh" kata Genta.
Irvan selesai bermain futsal dan berjalan kearah tiga temannya, lelaki itu begitu basah oleh keringat.
"Kak Irvan" siswi perempuan mendekati kearahnya, Irvan hanya menoleh.
"Buat Kakak" perempuan itu menyodorkan sebotol air mineral.
"Makasih cantik" puji Irvan menerima botol mineral sambil mengedipkan sebelah mata.
Perempuan itu bergegas pergi dengan pipi yang merona, sedangkan Genta, Eles dan Gara hanya bisa geleng geleng melihat sikap fakeboy Irvan yang belum hilang.
"Kapan Lo insaf?" Tahya Gara begitu Irvan berada didepannya.
"Kapan kapan kalo gue inget" Irvan membasahi wajah dengan air mineral.
"Kalo Lo tetep fakeboy terus si Mochi bakalan ngejauh dari elo" kata Genta menatap sahabatnya yang sedang menarik turunkan kaos untuk mengipasi tubuhnya sendiri.
"Van, cewek itu nilai cowok dari tingkah lakunya, kalo elo tetep aja fakeboy, si Mochi bakalan ragu pas Lo bilang suka sama dia" Genta menjeda "Soalnya elo kan doyan ngerayu cewek"
Irvan menarik nafas, dia menatap arah depan dimana banyak siswi yang menatap kearahnya.
"Mendingan juga jomblo, enak gak perlu ngeship cewek manapun" komentar Eles saat mendengar betapa ribetnya urusan mereka.
"Itu mah elo" Irvan membekap mulut Eles dengan tangan bekas dia menggaruk ketiak.
"Brengsek" maki Eles begitu lantang.
Ponsel disaku Eles bergetar, lelaki itu segera merogoh saku celana sebelum membalaskan dendam atas perbuatan Irvan barusan.
"Iya ma" sapa Eles yang penelfonnya adalah mamanya sendiri.
"Apa? Papa kecelakaan" raut wajah Eles berubah drastis, Irvan yang berniat memukul dengan sepatu lantas menurunkan sepatunya.
"Dimana sekarang?" Tanya Eles dengan wajah pucat.
Lelaki itu menyisir rambut "Eles kesana" dan panggilannya ditutup.
Wajah Eles tampak begitu pucat, Genta segera berdiri dan mendekati Eles.
"Kenapa El?" Tanya Genta.
"Bokap gue kecelakaan" tuturnya membuat yang lain ikut terkejut.
"Kita anterin kerumah sakit" kata Irvan "Ra, gunaiin kekuasaan bokap Lo disekolah ini, kita kudu keluar dari sini" titah Irvan yang di angguki oleh Gara.
Lelaki itu dengan sigap segera berlari ke ruang kepala sekolah untuk meminta ijin, sedangkan Eles , Irvan dan Genta bergegas kembali ke kelas untuk mengambil tas mereka.
🏡🏡🏡
Eles lari begitu kencang menyusuri koridor rumah sakit, begitu dia menemui mamanya yang berdiri penuh kekhawatiran Eles lantas memelankan langkah.
"Papa gimana ma?" Tanyanya.
Perempuan berambut hitam, bermata sipit itu menatap Eles lalu memeluk putranya.
"Papa belum sadarkan diri" tuturnya.
Eles ikut berdiri didepan ICU, menunggu dokter keluar setelah memeriksa papanya.
Lucia, Mama Eles begitu pucat saat matanya menatap kearah pintu ICU, perempuan itu berharap suaminya baik baik saja disana. Tangan Eles merangkul bahu Lucia, mengelus nya dan menyalurkan kekuatan.
Sedangkan Gara, Genta dan Irvan hanya bisa berdiri memberi kekuatan kepada Eles. Selang beberapa saat dokter yang menangani papa Eles keluar dari ruang ICU, Lucia dan Eles lantas menghampirinya.
"Gimana dok?" Tanya Lucia lebih dulu.
"Papa saya gak papa kan dok?" Tanya Eles .
Dokter itu menarik sudut bibir "Boleh saya berbicara dengan wali pasien"
"Saya dok" Eles lebih dulu berbicara kemudian menatap mata sembab Lucia "Biar aku aja ma, Mama temenin papa" katanya.
Lelaki itu bergegas berjalan mengikuti dokter ke ruangannya. Selama beberapa menit, baik Genta, Gara dan Irvan masih setia menunggu di kursi tunggu depan ICU, fikiran mereka masih seputar Eles.
Tidak lama lelaki yang sedari tadi dikhawatirkan, berjalan dengan langkah gontai, tatapannya kosong dan kabur, mereka bertiga berdiri menyambut kedatangan Eles.
Lelaki itu, lelaki yang memiliki rahang tegas, menatap ketiga temannya lalu duduk di kursi. Eles mengusap wajahnya.
"Gimana kata dokter?" Tanya Genta ikut duduk disebelah Eles.
"Bokap" Eles menelan ludahnya "bokap gue koma, ada gumpalan darah beku di otaknya, secepatnya bokap harus dioperasi" Tutur Eles dengan nada lirih.
Gara menarik nafas, begitu juga Irvan, mereka ikut duduk tanpa suara.
Irvan menepuk bahu Eles lalu mencengkram nya sedikit lembut.
"Kita ada buat Lo Les" hanya itu kalimat yang bisa dituturkan Irvan.
Mulut mereka terlalu berat untuk mengatakan kalimat penyemangat untuk Eles. Semuanya terdiam, menatap tundukan wajah Eles yang semakin dalam. Hanya ada tarikan nafas penuh kegusaran diantara mereka.