
Sampai disekolah, Genta sudah nongkrong di kantin pak Tab, memesan nasi goreng yang selalu menjadi rutinitas paginya, kaki diangkat dan dia mulai menyuapkan nasi kedalam mulut.
"Lo kenapa gak sarapan dirumah dah, udah mepet jam masuk" decak Irvan tidak percaya bahwa kurang lima menit lagi dan Genta masih saja santai menikmati nasi goreng yang baru dia pesan.
"Takut Lo?" Genta menaikan alisnya.
"Kita ada Ujian matematika hari ini geblek, elo santai banget"
"Elah kayak pernah belajar aja, kalo nilai dibawah KKM tinggal minta remidi" kata Genta dengan santai.
"Ta Lo bener bener ya, kemarin gue bolos demi elo, nilai gue udah banyak di bawah KKM ***" maki Irvan kesal sendiri saat melihat Genta tetap santai menikmati nasi goreng.
"Ting Ting , saat nya pelajaran pertama dimulai" suara laki laki dari speaker semakin membuat Irvan gugup.
"it's time for the first lesson to begin" suara speaker itu disambut dengan suara perempuan yang menerjemahkan dalam bahasa Inggris.
Irvan berdiri "Terserah elo Ta, gue mau masuk kelas" katanya.
"Tungguin katanya setia kawan" teriak Genta ikut buru buru menelan nasi yang tidak sempat dia kunyah, untungnya tadi Genta sudah membayar jadi dengan mudahnya dia bisa kabur dan menyusul Irvan.
"Lagian Bu Emi masih dijalan, belum masuk kelas" kata Genta sambil meneguk sebotol air.
"Gue mau belajar *****. **** **** gini gue juga gak mau remidi di kantor" jawab Irvan terdengar ngegas.
Saat mereka hendak masuk kedalam kelas, langkah mereka terhenti, Gara dan Eles berada dihadapan mereka. Wajah Genta langsung berubah datar begitupun senyum yang tadi mengembang di wajah Gara lantas hilang.
"Lo mau kemana Ra?" Irvan yang merasa canggung berusaha untuk mencairkan suasana.
"Kantor" jawab Gara sudah hendak melangkah.
Saat Gara sudah melangkah pergi, Eles menatap wajah Irvan dan Genta bergantian. Kemudian lelaki itu nyengir kaku.
"Gue duluan ya" katanya sudah berjalan menyusul Gara.
Genta hanya bisa mengenggam dengan erat botol air di tangannya, dan Irvan hanya bisa menatap wajah tidak enak dari Genta.
🏡🏡🏡
Genta berjalan dengan santai setelah mendapatkan pesan dari Irvan kalau Eles menunggunya diruang OSIS. Langkah Genta tanpa curiga terus berjalan ke sana. Ketika dia mendorong pintu ruang OSIS yang tertutup, wajah datar Genta yang menyambut tatapan menghunus dari Gara.
Tidak hanya Gara yang duduk di kursi OSIS, ada Eles, Irvan dan juga Antar. Genta orang terakhir yang datang kesini.
"Lo ngapain sih buang buang waktu buat ngumpulin kita" Gara sudah berdiri "Lo kan tahu, kalo gue gak mau satu ruangan atau satu tempat sama dia" tunjuk Gara kearah Genta.
Lelaki yang ditunjuk itu hanya diam memaku di ambang pintu, dia bahkan tidak berani melangkah. Takut sikapnya semakin melukai Gara.
"Masuk dulu Ta" kata Irvan.
Dengan ragu Genta melangkah, saat dia berada disebelah Irvan, Antar menutup kembali pintu ruang OSIS.
"Ra Lo redamin emosi elo bentar, Eles mau ngomong sesuatu sama kita" kata Irvan berusaha untuk meredamkan emosi Gara.
Eles berdiri dan menepuk bahu Gara yang tetap berdiri tanpa mau duduk sama sekali, bahkan Gara tidak mau menatap Genta yang kini menatap kearah ponselnya.
"Ada yang mau gue sampein" kata Eles terdengar serius "Gue pengen nyampein ini rame rame, anggep aja pidato perpisahan" kata Eles membuat Genta mendongak.
Eles menarik sudut bibir saat keempat temannya sudah memusatkan arah fokus ke dirinya. Dengan mantap Eles menarik nafas dan memulai semuanya.
"Gue, Mama, bang Aldo dan mbak Aisah setuju buat pindah"
Kalimat Eles tadi bagaikan sambaran petir untuk Genta, nafas Genta kembali tercekat. Tidak hanya itu, Gara menatap Eles tidak percaya, matanya membulat sempurna. Irvan dan Antar seperti sudah tahu tentang ini, wajah mereka tampak biasa saja tanpa keterkejutan sama sekali.
"Kenapa?" Tanya Gara.
"Lo bisa tinggal disini, dirumah gue atau Irvan" kata Gara.
"Gue pengen ngerawat Mama gue Ra, gue cuman punya dia di dunia ini, gue gak mau kehilangan orang yang berharga lagi dihidup gue" kata Eles.
Genta menunduk, mulutnya terkunci rapat, Eles teman yang begitu baik dan paling dewasa diantara mereka.
"Terus kita gimana?" Tanya Genta mulai mengangkat kepalanya.
Eles menatap kearah Genta yang menahan kekecewaan karena kepergiannya.
"Lo masih punya Antar, Irvan dan Gara" Eles menatap kearah Gara "Ra, gue tahu Lo kecewa sama bokapnya Genta, tapi Lo harus tahu, ngelampiasin marah elo ke Genta gak bakalan nyelesaiin masalah, justru bikin kalian berdua tersiksa" imbuh Eles semakin menekan dada Gara.
Lelaki itu berusaha memalingkan pandangan agar tatapannya tidak bertemu dengan Eles, sekuat tenaga, baik Gara dan Genta tidak ingin meluapkan tangis mereka.
"Ra, gue gak belain Genta, serius, gue pengen kalian kayak dulu lagi, buat Kera band" kata Eles menepuk bahu Gara "Genta juga sama sakitnya pas tahu kalau bokap dia sebrengsek itu, Lo bayangin sesakit apa Genta pas tahu bokap nya punya anak diluar nikah, dan nyelingkuhin nyokap nya sendiri"
Nafas Genta terasa sesak setiap Eles bersuara, dia ingin menutup telinganya saat mendengar Eles menjabarkan kesalahan Akmal.
"Lo, gue, dan yang lainnya bahkan tahu, Genta gak salah apa apa, Genta sama kayak elo, sama sama korban" kata Eles.
Gara menatap kearah Genta yang menatap kearahnya dengan kosong. Eles benar, Genta hanya korban. Tapi setiap melihat Genta, Gara selalu melihat kesalahan Lisma.
"Tahu apa elo tentang gue?" Kata Gara begitu emosi "Kalo Lo mau pergi pergi aja, gak usah sok sok tahu tentang hidup gue"
"GARA !!" Irvan berdiri karena tidak tahan mendengar kata usiran tadi.
"Eles cuman mau damaiin elo sama Genta" kini Irvan berjalan dan mendekati Gara.
Gara justru tertawa, menertawakan teman temannya yang membela Genta.
"Emang Lo tahu gimana rasanya bangun tidur Lo ngeliat adek Lo dan Lo sadar satu hal kalau dia hasil selingkuhan antara nyokap elo dengan bokap temen elo sendiri?" Gara mendorong bahu Irvan "Lo tahu rasanya, bokap elo jadi orang paling **** dengan nyayangi anak dari laki laki lain, tahuu?" Gara berteriak.
Irvan menepis tangan Gara yang berniat mendorongnya.
"Orang yang patut elo salahin bokapnya Genta sama nyokap elo" Irvan menatap dengan tatapan tajam kearah Gara.
"Van udah" Genta menarik tubuh Irvan yang sudah di selimuti emosi.
Gara menatap kearah Genta "Seneng semua orang simpati ke elo sekarang?" Tanyanya tak kalah menyakitkan.
"Ra, gue cuman mau elo ngambil masalah ini dari sudut pandang yang bener" kata Eles berusaha untuk membuat sadar Gara.
"Menurut gue ini bener kok, dan elo gak perlu ikut campur urusan gue" jawab Gara.
"Jangan kayak gini lah Ra, Genta gak tahu apa apa soal ini, dia juga sama sakitnya kayak elo" kata Eles masih tidak berhenti membujuknya.
"Ta. Gue mohon sekali aja, anggep kita gak pernah kenal sebelumnya, berlagak kayak kita gak pernah ada apa apa, dengan kayak gini gue gak perlu benci elo sebanyak ini" kata Gara berjalan keluar ruangan OSIS.
"Kejar dia Les" pinta Genta.
Eles menatap kearah Genta yang berdiri dengan wajah datar dan tatapan terluka.
"Dia lebih butuh elo dari pada gue" imbuh Genta yang kembali ke mejanya untuk mengambil ponsel.
"Gue gak mau, pas elo pergi Gara juga benci sama elo" katanya ikut berjalan keluar ruang OSIS.
Antar menatap punggung Genta yang bergerak menjauh tanpa bisa berkata sepatah kata pun. Baginya ini urusan senior sedangkan dia terlalu junior untuk memahami ini semua.
note : kayaknya cerita ini part-nya bakalan panjang deh, mungkin lebih panjang dibandingkan part di cerita BARA,
jangan bosen2 ya 😄