Why Me?

Why Me?
Why Me? 42



Mereka masih setia menunggu didepan ICU, bahkan ketika Eles sudah hampir sejam lebih berada didalam. Baik Genta, Gara dan Irvan tidak ada yang berniat pulang.


"Menurut lo, bokapnya Eles bakalan baik baik aja kan?" Tanya Gara disela sela hening.


Irvan menghela nafas "Gue harap begitu"


Genta menatap arah depan kemudian sedikit merosotkan tubuhnya. Tatapannya jatuh ke orang orang yang tengah berlalu lalang, fikiran Genta kacau. Malam ini, rumah sakit mulai sedikit lenggang tapi penuh dengan perasaan takut mencengkram.


Eles keluar dengan wajah kusut, tidak ada yang tidur bahkan ketika jam menunjukan pukul satu dini hari, mereka melupakan bahwa besok mereka harus pergi ke sekolah.


"Kalian balik aja kalo mau balik, sebentar lagi Abang gue juga kesini" kata Eles meminta yang lainnya untuk pulang.


Gara menghela nafas "Gimana kita bisa pulang, keadaan Lo aja kayak gini"


"Kita akan stay disini Les" imbuh Genta.


"Besok kan kalian sekolah" Eles masih meminta yang lainnya untuk pulang.


"Emang elo gak sekolah" sergah Irvan cepat "Sekolah masalah gampang, yang penting keadaan bokap elo"


Eles duduk di kursi tunggu bersama yang lainnya, mereka menatap arah depan secara bersama. Hanya helaan nafas penuh rasa sakit yang terdengar.


Ketika dua orang yang berjalan kearahnya semakin dekat, Eles lekas berdiri menyambut kedatangan Rivaldo, kakak Eles.


"Bang" sapa Eles begitu jarak Rivaldo sudah dekat dengan nya.


"Gimana papa? Keadaannya baik baik aja kan?" Bahkan Rivaldo masih mengenakan kaos Polisi di badannya.


Itu berarti Rivaldo belum sempat berganti pakaian. Eles menunduk, dia tidak sanggup berbicara pada Rivaldo.


"Papa__" Eles menggantungkan kalimatnya.


"Papa kenapa?" Tanya Rivaldo tidak sabaran.


"Ada gumpalan darah beku di kepala papa bang, dokter nyaranin papa buat cepet cepet di operasi"


Rivaldo berpegangan pada perempuan disebelahnya, perempuan itu menatap Eles lalu mengelus lengan Rivaldo.


"Mama ada didalam?" Tanya Aisyah, kakak ipar Eles.


Dengan lemah Eles mengangguk, dia menarik nafas dan hampir menangis karenanya.


"Aku kedalam dulu buat nemuin ibu, kamu tenangin diri kamu dulu, jangan sampai ibu ngeliat wajah pucatmu" Aisyah mengusap wajah suaminya kemudian dia berjalan memasuki ruang ICU.


Rivaldo hanya bisa duduk dengan lemas, tatapannya begitu kosong. Eles pun duduk di sebelah Rivaldo, dua saudara itu sedang merasakan tubuhnya digerogoti ketakutan.


Genta dan yang lain hanya bisa berdiri melihatnya, melihat betapa rapuh seorang anak harus kehilangan ayah mereka.


Rivaldo mendongak dan menatap satu persatu teman Eles, kemudian seulas senyum terbit dari sana.


"Kalian udah lama disini?" Tanya Rivaldo.


"Mereka nemenin Eles dari pagi tadi bang" jawab Eles mewakili mereka.


Rivaldo tersenyum, setidaknya Rivaldo perlu bersyukur bawah adiknya memiliki teman yang begitu baik dan tidak akan meninggalkan Eles.


Rivaldo menoleh kemudian tersenyum kearah Eles.


"Besok kamu sekolah kan Les, kamu pulang aja bareng mereka, Mama sama papa biar aku yang jaga" kata Rivaldo.


"Tapi bang___"


"Ini tugas Abang selaku anak pertama, tugas kamu hanya sekolah. Ingat pesan Papa, orang yang bijak adalah orang yang bisa memahami situasi" Rivaldo tersenyum penuh kerapuhan.


"Kalian juga pulang, ini udah malam, nanti orang tua kalian nyariin kalian" Rivaldo tidak berhenti memaksa wajahnya untuk tersenyum.


Genta tahu betapa rapuhnya senyum itu, Genta paham, dia pun setiap hari merasakannya.


"Kamu pulang sama teman teman mu, besok sekolah, sepulang sekolah kamu baru kesini lagi" Tutur Rivaldo.


Yang lain hanya bisa saling pandang untuk bertanya pendapat dari pancaran mata masing masing. Ketika Genta mengangguk saat itu juga Eles berdiri.


"Gue kedalam dulu, mau liat kondisi bokap sama pamitan ke mama" kata Eles yang juga diikuti Rivaldo dari belakang.


🏡🏡🏡


"Lo yakin gak nginep dirumah kita dulu, atau dirumah gue?" Tawar Irvan sekali lagi kepada Eles.


Lelaki itu sudah menurunkan Eles didepan rumahnya, rumah yang tidak ada penerangan cahaya.


"Gue kudu jagain rumah, siapa tahu nanti bang Aldo mau kesini" jawab Eles dengan senyum lemah.


"Atau kita yang harus nginep dirumah ini" sekali lagi Gara ikut memberi penawaran agar Eles tidak sendiri.


"Lo butuh temen dalam keadaan kayak gini, kita bisa malam ini nginep disini" Genta pun melakukan hal yang sama.


Eles menepuk bahu Genta dan mencengkram nya sedikit kuat.


"Santai aja, gue gak papa, lagian besok bokap gue bakalan sembuh"


Genta, Gara dan Irvan hanya bisa pasrah mendengar itu. Ketika Eles sudah masuk kedalam rumahnya pun, hanya ada hembusan berat dari masing masing.


"Yok Ta gue anterin" kata Irvan berjalan masuk kedalam mobil.


🏡🏡🏡


Genta membuka pintu rumahnya, pertama kali yang dia temui adalah kegelapan, tidak ada tanda tanda bahwa Rani atau Akmal pulang kesini. Genta menyalakan semua lampu, lalu menemui banyaknya kertas dan pecahan gelas di dapur.


Genta menarik nafas, menatap semua ruangan yang berantakan. Ini tidak kalah menusuk dirinya dibandingkan ketakutan selama dirumah sakit tadi.


Perlahan Genta membersihkan semuanya, sampai selesai pukul tiga pagi. Genta beranjak dan naik ke kamar, dia merebahkan tubuhnya disana. Memaksa dua bola matanya untuk terpejam.


Tidak bisa.


Bahkan sudah setengah jam Genta memaksa matanya untuk tertutup, tapi tidak ada tanda tanda kalau dirinya akan tertidur. Hanya ada ketakutan yang bersemayam di hatinya, ada kesedihan yang membuat hatinya menggumpal.


Genta mengganti posisi tidur sedikit kesamping, menatap kearah jendela yang tirainya diterpa angin, jendela yang tidak tertutup sama sekali.


Genta menarik nafas, kenapa Rani tidak pulang hari ini? Kenapa Akmal tidak menemaninya?


Genta kembali mencoba untuk terpejam, sayangnya semua sia sia. Genta menatap langit langit kamar dan menjadikan tangan sebagai bantal. Genta selalu hafal setiap detail langit kamarnya. Genta hafal bahwa dibawah lampu ada stiker bintang yang sudah memudar di makan panasnya cahaya lampu. Stiker yang dulu hampir memenuhi kamarnya, dipasang penuh bahagia oleh Genta kecil bersama Akmal.


Sekarang akankah kenangan semacam itu hanya tinggal kenangan?


Karena tidak bisa tidur, akhirnya Genta berdiri, dia mengambil gitar yang berada di dekat lemari. Gitar itu dibawa nya ke jendela, Genta duduk di bingkainya.


Tangannya memetik gitar sambil menatap arah jalanan, ah betapa menyayat hati saat sepi melanda dirinya. Genta menatap rumah Eles yang tidak terlalu jauh, bahkan dari jendela kamar Eles lampu masih menyala terang.


Eles dan dirinya pun merasa dibunuh oleh waktu, setiap detingnya bahkan selalu mampu mengiris hati Genta dan Eles.


Perlahan Genta turun dari bingkai jendela, lelaki itu meletakkan kembali gitar dan beranjak turun, sepertinya lari pagi akan membuat dirinya fit kembali.