
Nana yang habis kesabaran itu pun tanpa sadar, langsung menghantam wajah gadis pirang dihadapannya hingga jatuh tersungkur. Nana kelepasan meninju gadis itu karena dia sangat kesal, geram, dan marah mendengar perkataan yang keluar dari mulut gadis pirang berkuncir dua itu.
Bukan tanpa alasan, Nana menjadi marah besar seperti tadi hingga menghantam wajah gadis itu. Nana merasa sangat sangat kesal mendengar orang tuanya dihina, diejek, direndahkan seperti tadi oleh gadis pirang itu. Kalau dirinya saja yang dihina, direndahkan, Nana masih bisa menerimanya dan menahan amarahnya namun, jika anggota keluarganya yang dihina, dan direndahkan Nana tidak akan segan-segan untuk menghabisi orang yang berani berkata begitu.
Dan inilah hasilnya, Nana menghantam wajah gadis itu dengan sangat keras. Dengan hatinya yang masih membara karena amarah yang bergejolak, Nana perlahan berjalan menghampiri gadis itu yang masih terduduk dan memegangi pipinya. Nana terus berjalan mendekat dan membuat gadis pirang itu gemetar disekujur tubuhnya merasa ketakutan karena melihat raut wajah Nana yang tadinya datar dengan tatapan kosongnya sekarang tatapan matanya menjadi tajam dan dingin penuh kebencian dan amarah.
"Oy, anak bangsawan manja, konglomerat keparat, bedebah kurang ajar, penjilat dan penipu ulung menjijikkan." Caci Nana dengan dinginnya. Gadis pirang itu terhenyak, saking terkejutnya.
"Kenapa diam saja..? Bukankah seekor anjing itu selalu menyalak dan menggonggong? Kok yang ini malah diam saja? Padahal, tadi menggonggong terus tanpa henti, menghina orang tuaku dengan gampangnya, bertingkah seperti kau yang paling terhormat disini." Sarkas Nana yang membuat seluruh orang yang ada di lorong tersentak kaget, dan tak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata mereka, tak terkecuali gadis pirang kuncir dua yang sekarang badannya gemetaran dengan hebatnya merasa terintimidasi dengan Nana.
"Oh iya, aku salah. Kau kan bukan anjing.." Lanjut Nana lagi seraya menggedikkan bahunya.
"Kau kan Tuan Putri yang terhormat. Hey, Tuan Putri Keparat. Bukankah keluargamu mengajarimu sopan santun dan tata cara berbicara yang sopan kepada lawan bicara? Kenapa daritadi kau hanya diam? Bukankah tidak sopan mengabaikan orang yang sedang berbicara denganmu?" Tanya Nana dengan sarkas.
"Oh iya, maafkan atas segala cacianku tadi kepadamu, Tuan Putri. Semua cacian itu keluar tanpa aku sadari. Sepertinya, kau begitu terguncang ya atas semua cacian dan hinaanku tadi. Aku sungguh menyesal atas tindakanku tadi.." Ujar Nana meminta maaf seraya menundukkan wajahnya.
"Karena sampah tak berguna ini yang tentunya tak disangka bisa meminta maaf sudah meminta maaf kepada, Tuan Putri. Apakah kau sekarang bisa membuka mulut kau itu dan meminta maaf kepadaku juga?" Tanya Nana dengan sorot mata yang mengerikan dan mencekam, yang membuat gadis berambut pirang itu ketakutan dan dari sudut matanya keluar air mata dengan derasnya.
"Ma-ma-maafkan aku..Nana.." Ujar gadis itu meminta maaf dengan terbata-bata dan suara yang gemetar, juga air mata yang terus mengalir dari kedua belah matanya.
"Apa? Kau bilang apa tadi? Maaf?Tak kusangka tuan putri yang begitu mulia meminta maaf kepadaku.. Apakah ini artinya derajatku lebih tinggi dari, Tuan Putri? Aku sampah tak berguna ini derajatnya lebih tinggi dari Tuan Putri? Hehh~" Sarkas Nana dengan senyum mengejek. Setelah itu Nana terkekeh-kekeh dengan wajah datarnya, namun matanya masih menatap tajam gadis pirang itu.
"NANA NAIRE!!" Teriak seorang wanita paruh baya berkacamata dengan perawakan sedikit gemuk, yang tidak lain tidak bukan adalah Ibu Ani berlari menghampiri Nana dan gadis pirang. Sementara si gadis pirang ditolong oleh guru lain, Bu Ani menarik lengan Nana dengan kasar, lalu menyeret gadis itu sepanjang lorong untuk membawanya ke kantor kepala sekolah. Nana hanya menurut ketika dia diseret oleh Bu Ani, raut wajahnya datar, namun tatapan matanya dipenuhi amarah dan kebencian.
Tik..tik..tik...
Diruang kepala sekolah yang berdebu dan terasa pengap dan juga hening, hingga suara jam berdetik terdengar sangat jelas. Suasana yang dirasakan Nana disana terasa mencekam, hanya berduaan di sebuah ruangan tertutup bersama dengan seorang kepala sekolah berpakaian lengkap, yang memiliki rambut yang sudah mulai beruban, berkacamata bulat, raut wajah yang menyeramkan, dan tatapan mata tajam yang sedari tadi menatap Nana, namun Nana membalas tatapan itu dengan tatapan matanya yang kosong juga raut wajah datarnya yang khas.
"Nana Naire..Siswa dari jalur beasiswa dan siswa berprestasi dengan peringkat tertinggi di sekolah ini.." Ujarnya dengan tangan bersimpuh di atas meja.
"Iya dengan saya sendiri..Ada keperluan apa hingga Bapak memerintahkan Ibu Ani untuk menyeret saya dengan kasar ke ruangan Bapak ini?" Tanya Nana tanpa rasa takut sedikitpun terhadap kepala sekolahnya, yang ditakutinya adalah fakta kalau sebentar lagi dia akan dikeluarkan dari sekolah.
"Tidak, saya tidak ada niatan untuk menyinggung Bapak dan Ibu Ani namun saya hanya mengucapkan fakta saja.." Jelas Nana seraya menghembuskan napas singkat.
"Baiklah, kita lupakan saja yang tadi. Sekarang..Tolong jelaskan maksud dari perbuatanmu terhadap anak didik saya yang berharga bernama Klaressa Tristi, nak Nana!" Perintah Kepala Sekolah dengan intonasi yang ditekankan di setiap kata.
''Oh..nama orang kurang ajar dan manja tadi Klaressa ya?'' Ujar Nana dalam hati.
"Hoo...Sebenarnya anda itu salah bertanya, Pak." Timpal Nana dengan nada bicara dan sorot mata yang dingin.
"Apa maksudmu?" Tanya Kepala Sekolah seraya mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti maksud Nana.
"Hufft..Seharusnya bapak bertanya 'Apa kamu tahu maksud perbuatan Klaressa Tristi terhadap dirimu, nak Nana?' Seharusnya begitu Pak. Karena yang menjadi korban disini bukan Klaressa, Pak! Melainkan saya!" Jelas Nana seraya menatap Kepala Sekolah dengan tatapan mata sinis.
"Korban? Kamu? Yang saya lihat kamulah pelakunya dan Klaressa itu korbannya!! Sekali lagi Nak Nana..Bapak ingin bertanya kepadamu. Apa mak-"
Brakk!!!
Suara gebrakan meja yang nyaring membuat Kepala Sekolah tersentak kaget. Sementara itu Nana yang tadi menggebrak meja menatap Kepala Sekolah dengan napas yang memburu, saking kesalnya dengan pembicaraan yang sedang berlangsung diantara mereka berdua.
"JANGAN BERTINGKAH SEPERTI BAPAK TAHU DENGAN APA YANG TERJADI!!!" Bentak Nana dengan nada yang tinggi membuat Kepala Sekolah menganga tak percaya.
"Bapak pasti akan mengeluarkan saya kan? Tidak perlu, Pak. Karena saya sendiri yang akan keluar dari sekolah busuk ini. Dan gadis konglomerat manja yang bernama Klaressa itu, sudah saya katakan bahwa dialah pelakunya dan saya korbannya. Oke, karena masalah sudah selesai maka saya akan angkat kaki dari sekolah ini. Selamat tinggal, Pak. Semoga bapak dan sekolah busuk ini hancur rata dengan tanah." Ujar Nana lalu melangkah untuk pergi keluar dari sekolah yang selama 6 bulan ini membuatnya sengsara.
Saat punggung Nana lenyap dari balik pintu, Kepala Sekolah yang daritadi ternganga lebar dan matanya melotot saking terkejutnya dengan kejadian tadi, akhirnya tersadar dan membetulkan kacamatanya yang turun. Dia hanya menghela napas panjang dan menatap jam dinding yang terpasang tepat di atas pintu bekas Nana keluar tadi.
"Huftt...Sepertinya kalau aku memperpanjang masalah tentang gadis satu ini pastilah akan membuang-buang waktuku, lebih baik aku membujuk keluarga Nak Klaressa Tristi untuk menyudahi permasalahan ini karena Nak Nana juga sudah keluar dari sekolah ini dengan keinginannya sendiri.." Gumamnya seraya mengeluarkan handphone mahalnya dari saku celananya.
"Sayang sekali..padahal dia adalah anak paling jenius dan berprestasi di sekolah ini..yah di sekolah busuk ini pastilah anak seperti dia yang hanya anak orang miskin bakal diperlakukan seperti sampah menjijikkan..Nak Nana maafkan Bapak yang tidak bisa menolongmu..." Lanjut Kepala Sekolah dengan nada lirih karena sedih anak didik yang paling berharga baginya keluar dari sekolahnya.
[CONTINUE?]