
Setelah kejadian dia berkelahi dengan Gara, dua minggu ini hubungan Genta dengan Gara semakin merenggang, bahkan Genta tidak pernah lagi berkumpul bersama Eles maupun Antar, Genta selalu menolak ajakan Irvan.
Begitupun dengan Rani, Genta membangun skat yang begitu terlihat dimata Rani, setiap pagi Genta tidak pernah sarapan dirumah nya, selalu beralasan kalau dia buru buru, setiap pagi pula Genta hanya bisa menikmati sarapan dikantin pak Tab.
Selepas pulang sekolah Genta tidak langsung pulang, dia pergi dulu, sekadar menikmati waktu bersama Gadis, dan banyak bersama dengan Gadis dibandingkan Irvan.
Genta menutup buku Fisika setelah pak Harto menutup pelajaran kedua. Genta meraih ponsel dan memainkan, sambil mengangkat kaki yang dia naikkan ke atas meja, Genta menonton tayangan musik di YouTube.
"Ta, kemarin gue dapet tawaran buat manggung di pendopo Jogja, lumayan lah bayarannya" cerita Irvan sambil memakan rujak yang dibelikan Bagor.
"Lo terima?" Tanya Genta masih fokus ke tayangan YouTube.
"Ya, gue sih nunggu elo"
Irvan mengusap rambutnya lalu memandang lurus, dia tidak enak untuk membahas mengenai Gara, karena setiap kali Irvan membahas Gara, Genta selalu menatapnya dengan tajam.
"Kayaknya gak usah ya, lagian kita juga mau ujian" putus Irvan.
Genta mengangguk, dia menyetujui untuk menolak tawaran manggung di pendopo.
"Oh ya, hari ini hari terakhir Eles sekolah di sini" kata Irvan membuat Genta menggeser bola matanya.
"Sebenarnya gue punya niatan buat bikin acara perpisahan sama Eles, cuman___" Irvan menggantungkan kalimatnya.
"Elo aja, gue gak ikut" Genta mematikan tontonannya dan bergerak untuk keluar kelas.
Yah kurang lebih itulah yang selama ini terjadi dan merubah Genta menjadi orang yang tidak banyak bicara, Genta jadi orang yang semakin tertutup.
🏡🏡🏡
Genta berdiri didepan kelas Gadis, kelas pacarnya itu dalam keadaan gaduh, ada yang naik ke kelas dan merubah kelas menjadi konser dadakan, ada yang sedang berdandan.
"Nyari siapa Lo?" Diambang pintu Roy menghadang langkah Genta.
"Pacar gue" ucap Genta.
"Pacar?" Roy menaik turunkan alisnya "Setelah elo buat hubungan Gadis dan Windi merenggang, Lo masih bisa santai gitu aja"
Genta mengernyitkan dahinya, merenggangkan hubungan? Apa yang dimaksud Roy Kiyoshi ini.
"Maksud lo?"
Roy menepuk bahu Genta "yah gue paham sih, elo mana sempet mikirin kehidupan Gadis, Lo sibuk sama hidup elo sendiri" kata Roy menarik tangannya dari bahu Genta.
Roy tersenyum smrik, merasa percaya diri bahwa sebentar lagi dirinya akan menang melawan Genta dalam mendapatkan hati Gadis.
"Apa Lo tahu kalau Om Martine punya penyakit TBC?"
Genta menatap kearah Roy tidak percaya, apa yang dimaksud Roy, kenapa lelaki itu berbicara tidak jelas seperti itu padanya.
"Ngeliat muka elo, gue yakin elo gak tahu" Roy mendekati Genta "Ra, Lo masih inget kan kata kata gue" Roy menjedanya.
"Kalau cewek mudah merubah hatinya saat dia sedih"
Genta menggenggam dengan kuat jari jemarinya, saat kepalan tangannya semakin kuat, senyum dari belakang Roy membuat Genta melemaskan jari jemari.
"Genta, udah lama?" Tanya Gadis mendekati mereka berdua.
Roy menoleh kearah Gadis yang tersenyum manis. Lelaki itu menepuk bahu Genta sebelum beranjak pergi.
"Duluan ya" katanya masih terus tersenyum.
"Ngobrolin apa?" Tanpa malu malu Gadis lantas memeluk lengan Genta.
Dengan mantap Genta menggeleng, dia mengusap puncak rambut Gadis sebelum berjalan menuju kantin es cream yang tadi sudah disepakati mereka berdua di dalam chat.
Langkah mereka beriringan, masih sama seperti dulu saat Genta memendekkan langkahnya untuk mengimbangi langkah Gadis.
Sampai dikantin, Genta memesan dua porsi es cream, mereka tidak banyak bercerita hanya Gadis saja yang terus tersenyum memandangi wajah Genta.
Saat pesanan mereka datang, Gadis yang dengan cepat melahapnya, perempuan itu memakan dengan cepat menggunakan sendok kecil yang disediakan kantin.
"Dis" panggil Genta disela sela dia mengaduk es cream tanpa minat.
"Hmmm" Gadis menggantungkan sendok es cream didalam mulut sebelum menariknya kembali.
"Ada yang pengen kamu ceritain?"
Gadis mengernyitkan dahi, perempuan itu bingung dengan pertanyaan Genta barusan, mata mereka saling beradu sebelum Gadis tertawa.
"Maksud kamu apa sih, aku gak ngerti deh"
Genta meletakkan kembali sendok kedalam mangkuk es cream sebelum memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Genta menarik nafas dengan berat lalu tersenyum.
"Gak jadi, mau nambah?" Tanyanya memilih mengalihkan pembicaraan.
"Kalo aku gendut gimana?"
"Aku tetep cinta kok" rayu Genta.
"Ihh gombal" Gadis melipat bibirnya untuk menahan senyum.
Ada tawa yang menggema mendekati kearah mereka, tawa itu mampu membuat senyum Gadis menegang, Genta menoleh ke sumber tawa itu. Gara dan Elis tengah berjalan beriringan.
Genta kembali mengalihkan tatapan kearah Gadis, dia memilih untuk tidak perduli dengan lelaki itu. Meski canggung Gadis kembali menikmati es cream nya sambil berbincang mengenai apapun untuk mengalihkan kecanggungan itu.
"Eneng eyisss eneng mau mamam apah?" Suara Gara yang keras itu terdengar dari meja Genta.
"Ih berhenti deh elo kayak gitu ke gue" jawab Elis dengan galak.
"Eneng eyisss pilih aja semua yang ada di kantin ini, tenang neng uang Abang gak bakalan habis"
Genta memakan es cream nya agar mengusir canggung yang semakin terasa.
"Ke kelas yuk" ajak Genta sudah tidak tahan lagi.
Setiap dia melihat Gara hati Genta terasa teriris, bayangan mengenai Benua, Akmal bahkan makian Gara masih terus terpapar nyata untuknya.
"Ayuk" Gadis mengambil pouch di sebelah Genta.
Meski secanggung apapun Genta harus bisa gentle, dia berjalan kearah penjual es cream. Jaraknya dengan Gara pun begitu dekat yang semakin membuat dada keduanya kembali sesak, meski begitu Gara berusaha untuk mengalihkan kesesakan itu dengan menggoda Elis.
"Berapa mas?" Tanya Gara.
"40 mas"
Genta memberikan uang lima puluhan ke penjual es cream dan bergegas pergi setelah menerima kembalian. Lelaki itu lantas berjalan tanpa sepatah katapun untuk menyapa Gara. Tidak ada lagi keakraban antara Gara dan Genta.
🏡🏡🏡
"Tapi nanti beneran kan tungguin aku kerja kelompok di tempat Angel" kata Gadis tak henti hentinya mengulang permintaan saat mereka keluar dari kelas dan menuju ke parkiran.
"Iya sayang iya" Genta mengacak rambut Gadis dengan gemas.
Ketika mereka sama sama melangkah ke parkiran, Genta lantas mengambil helm dan menyodorkan ke Gadis, namun sebelum Gadis naik ke jok belakang perempuan itu mengernyitkan dahinya.
"Ta, itu bukannya Papa kamu ya?" Gadis menunjuk ke luar gerbang.
Genta mengikuti arah yang ditunjukan Gadis, menatap lelaki yang sedang berdiri di depan mobil sambil terus menatap kesekolahan. Genta menarik nafas, lalu menatap kearah Gadis.
Sebelum Genta bersuara Gadis sudah tersenyum dan melepaskan helmnya.
"Aku gak papa kok bareng sama Siti, lagian kamu udah dua minggu gak ketemu papa kamu kan" Gadis memberikan helmnya.
"Bener gak papa?" Tanya Genta.
Gadis dengan mantap mengangguk, kepalanya menoleh kearah Siti yang baru saja membunyikan motor Scoopy miliknya.
"Siti aku bareng ya" teriak Gadis kearah Siti.
Perempuan itu menatap kearah Gadis, dengan gesit Gadis sudah berlari kearahnya. Genta melihat keduanya berbincang sejenak sebelum Gadis menerima helm dari Siti dan naik ke jok belakang. Gadis melambaikan tangan saat motor yang di kendarai Siti dan Gadis bergerak menjauh meninggalkan Genta.
Sedangkan Genta, juga ikut melajukan motor dan berhenti disebelah mobil sedan Akmal.
"Papa tungguin dari tadi" Akmal tersenyum kearah putranya yang tidak dia temui selama dua minggu.
Genta tidak mematikan mesin motornya, lelaki itu juga masih duduk diatas motor, tanpa berniat turun sama sekali.
"Ada perlu?" Tanya Genta dengan singkat.
"Papa mau ngobrol sama kamu, gimana kalau kita ke restoran Jepang langganan kita" ajak Akmal.
Genta mengangguk, dan tanpa kata lagi lelaki itu sudah membawa motornya untuk pergi ke restoran Jepang yang sering didatangi mereka, yah mereka yang dimaksud Genta adalah Rani, Akmal dan Genta sebelum keluarganya hancur.
🏡🏡🏡
Direstoran, Akmal terus tersenyum kearah putranya, duduk berhadapan begini sudah membuat Akmal merasa puas sendiri.
"Papa Rindu kamu Gen" aku Akmal.
Genta menyesap minumannya sambil menunggu makanan yang mereka pesan tadi.
"Langsung aja, Genta mau jemput Gadis"
Akmal mengangguk, dari nada bicara Genta saja Akmal bisa menyimpulkan kalau putranya itu masih marah dengannya, wajar, mengingat semua yang sudah dia perbuat, termasuk menghancurkan hidup putranya sendiri, mungkin beribu maaf tidak akan mengembalikan kepercayaan Genta.
"Kamu masih marah sama papa ternyata" Akmal tersenyum miris "Gak papa Gen. Papa iklas kamu benci, memang semua kesalahan papa"
Genta menarik nafas dengan sesak, sangat sesak karena menatap wajah bersalah Akmal, hatinya teriris, Genta membenci lelaki didepannya ini tapi rasa sayangnya tetap tumbuh sebanyak dulu, tidak pernah kurang.
Genta memutar letak gelasnya, tatapan Genta masih tertuju kearah gelas yang sudah berembun, perlahan embun itu menetes membasahi meja.
Akmal menyodorkan kartu ATM dan black card. Kedua kartu yang kini ditatap Genta.
"Terima ini" kata Akmal "Papa akan tetap nafkahi kamu, papa tahu sekarang mungkin kamu merasa sungkan buat minta uang ke papa"
Genta menatap kartu itu, lalu perlahan dengan keberanian Genta menatap bola mata Akmal. Bola mata ketulusan seorang ayah yang menatap putranya. Sorot mata bersalah yang membuncah.
"Genta, bagaimanapun, papa akan tetap menjadi papa kamu" Akmal menarik nafasnya "Ini gak akan cukup bagi papa, tapi papa harap kamu gak memiliki perasaan sungkan sama sekali. Bersikaplah seperti dulu, saat papa masih serumah sama kamu" kata Akmal.
"Kamu berhak dapat apapun dari kerja keras papa, kamu juga berhak dapat kasih sayang papa"
Genta menarik dua kartu itu, entah akan berguna atau tidak yang jelas tidak ada salahnya Genta menerima itu, bukankah sudah kewajiban bagi seorang ayah untuk menafkahi anaknya meskipun dia sudah tidak tinggal serumah dengan anaknya?.
Perlahan sudut bibir Akmal melengkung begitu lebar, tatapan Akmal harus berpindah ketika pelayan datang membawa pesanan mereka, meletakkan semua menu yang tadi dipilih Akmal.
"Ayo dimakan, kamu keliatan kurus sekarang" ajak Akmal.
Genta mengambil sushi di atas meja dan memakannya, perlahan meski sebentar dia juga melirik ke Akmal yang masih tersenyum puas kearahnya.
"Ada yang kamu butuhkan lagi? Peralatan sekolah atau band?"
Kunyahan Genta terhenti, band?, Genta tidak memiliki itu lagi sekarang.
"Genta berhenti nge-band" katanya.
"Apa Mama kamu ngelarang?"
Genta menggeleng, dia menatap Akmal begitu serius, bahkan lelaki didepannya tetap tidak menyadari satu kesalahan yang menggores hati Genta.
"Karena papa"
Akmal tertegun, sepuluh detik setelahnya dia baru menyadari jika Genta dan Gara satu band. Kenyataan itu kembali mengiris hatinya, kalimat penyesalan Genta karena memiliki ayah seperti dirinya juga memukul batin Akmal lagi.
"Maafin papa" tukas Akmal melemah.
Genta sudah tidak perduli, dia menarik jaketnya dan menatap Akmal, tahu kalau putranya akan pergi Akmal terlihat khawatir.
"Kamu mau pulang?"
"Aku mau jemput Gadis"
"Genta" panggilnya "Apapun yang kamu butuhkan kamu bilang ke papa ya, mungkin Mama kamu memang memiliki segalanya tapi ada kalanya banyak hal yang tidak bisa dilakukan seorang ibu" kata Akmal ikut bangkit dan mengekori Genta.
"Ya, Genta akan inget itu"