
Akhirnya setelah sehari penuh kemarin Genta tidak pulang kerumah, kini Genta baru memasuki rumahnya saat pagi hari. Ada rasa yang menikam saat kakinya menapaki kedalam rumah. Rani sedang menyiapkan sesuatu di ruang keluarga, perempuan itu menatap kedatangan Genta lalu melangkah mendekatinya.
"Genta, kamu kemana aja, Mama khawatir" kata Rani dengan tulus.
Genta hanya tersenyum miris, entah kenapa kalimat Rani tidak bisa menjadi penenang baginya.
Mata Rani menatap mata Genta yang penuh kerapuhan. Ada binar yang sama terpancar dimata keduanya, yaitu kerapuhan yang tidak bisa dijelaskan. Meski begitu sudut bibir Rani terangkat dengan tulus.
"Kamu tahu kan hari ini, Mama sama papa akan resmi bercerai" katanya.
Genta hanya bisa memandang kearah Rani tanpa suara, yah hari ini adalah hari yang tidak akan dia lupakan dalam hidupnya, hari yang membuat Genta terpuruk setengah mati. Hari yang membuat Genta kehilangan segalanya.
"Mama harap, ada atau tidak papa kamu tidak buat kita kurang bahagia, kamu paham kan"
Genta terus memandang dengan kosong kearah Rani, kemana kaki Genta selanjutnya melangkah saat ini. Genta takut jika nanti entah Rani atau Akmal akan mendapatkan keluarga masing masing dan melupakan kehadirannya.
"Mungkin Mama bisa tahan sama sikap papa kamu selama kamu gak tahu, tapi saat kamu tahu kebusukan papamu, Mama gak bisa menahan lagi"
Mata hitam pekat Genta tergeser sedikit, apa karena dirinya mereka bercerai? Entah kenapa pertanyaan semacam itu malah memenuhi otaknya, apa karena Genta tahu hingga Rani memutuskan bertindak seperti ini?
"Mama pergi dulu ya, Mama udah buatin sarapan. Kamu sekolah aja" katanya langsung berjalan pergi.
Genta diam ditempat, kakinya enggan melangkah, yang jelas saat ini perasaan Genta sulit untuk di gambarkan, ada belati yang terus menusuk hatinya, oksigen pun seakan terasa musnah.
Perlahan Genta mengangkat kakinya untuk melangkah menuju kamar, semua terasa kosong dan menyesakkan untuknya.
Sampai dikamar, Genta menutupnya perlahan, tatapannya memanas dipenjuru ruangan. Hari ini semuanya berakhir, Genta sudah kehilangan keharmonisan keluarganya.
Sekali hentakan Genta menyapu meja belajarnya dengan tangan, semua buku buku berhamburan jatuh kelantai, bingkai fotonya dan Gadis ikut jatuh dan berakhir pecah. Alat tulis yang berada didalam kotak pun sudah tercecer. Genta menggeram dengan rasa sakit hati nya.
"Arggggh" tangannya terkepal kuat dan meninju kaca yang berada dihadapannya.
Prang
Pecah, kaca itu berakhir retak, Genta menatap kearahnya. Ya seperti itulah keadaan hati Genta, bahkan disaat tangannya terluka oleh goresan kaca dan mengeluarkan darah pun Genta tidak merasakan sakit sama sekali.
🏡🏡🏡
Ketika Gadis berada didepan gerbang sekolah, dia menghentikam langkahnya. Akankah Genta menepati janjinya untuk pergi sekolah? Lelaki itu pasti merasa hancur hari ini.
Gadis menarik nafas, dia ragu untuk melangkah masuk kedalam sekolah. Semalam tatapan Genta menyorotkan kerapuhan yang teramat hebat, meskipun bibirnya berkata dia baik baik saja, Gadis tidak tertipu dengan sorot mata lemah itu.
"Dis kenapa berhenti disitu aja?" Tanya Roy yang baru saja menghentikan mobil disebelah Gadis.
Perempuan itu tetap saja diam, saat hati Gadis merasa yakin untuk membolos hari ini, Gadis lantas berbalikkan badan dan berlari menuju tukang ojek yang baru saja menurunkan penumpang.
"Mas ke komplek BTN ya" kata Gadis secepatnya.
"Sekarang mbak?" Tanya tukang ojek itu.
"Lebaran monyet mas"
"Yaudah mbak turun dulu"
"Lha kok" Gadis mengernyitkan dahi karena bingung.
Gadis tepuk jidat sendiri saat menyadari mulutnya yang menjawab dengan spontan tadi. Dia menarik nafas mencoba mengatur detak jantungnya yang berpacu secepat kilat.
"Mas, sekarang!!" kata Gadis menahan dongkol setengah mati.
"Oh iya mbak"
Untungnya tidak ada tanya tanya yang semakin membuat Gadis naik pitam. Kini motor yang dikendarai Gadis melaju dengan kecepatan penuh, Gadis yang berkali kali menepuk bahu tukang ojek agar menambah kecepatannya. Gadis khawatir kalau Genta melakukan hal aneh.
Ketika motor berada didepan rumah Genta, motor itu melaju dengan pelan. Disana, ternyata didepan rumah Genta, Irvan, Eles serta Antar sudah berdiri menunggu pintu terbuka.
Gadis melepaskan helm dan menyodorkan ke tukang ojek, lalu memberikan uang lima puluh ribu kearahnya. Gadis melangkah secepatnya karena terlalu khawatir.
"Neng kembaliannya" panggil tukang ojek itu.
"Buat Abang aja" teriak Gadis karena sudah dekat dengan jarak ketiga sahabat Genta.
"Genta gak dirumah?" Tanya Gadis ketika dia baru berhenti didepan Eles.
"Kita gak tahu Dis, kita baru aja sampe" jawab Eles.
Gadis berjalan dan mengetuk pintu rumah Genta.
"Genta, ini Gadis" panggilnya yang tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
Karena lama tidak mendapatkan jawaban, Gadis memegang knop dan mendorongnya. Terbuka, yah memang sejak Rani pergi tadi perempuan itu hanya menutup pintunya saja sedangkan Genta dia langsung naik ke kamar tanpa turun untuk mengunci pintu.
Gadis berjalan lebih cepat untuk masuk kerumah orang lain, masa bodoh jika dia melanggar hukum, yang jelas Gadis takut terjadi sesuatu dengan Genta.
Ada suara isakan dari atas, suara benda terjatuh dan suara geraman. Mereka semua saling pandang, Gadis yang memiliki inisiatif lebih dulu untuk naik kelantai atas. Ketika sumber tangisan itu semakin jelas Gadis mendorong pintu kamar Genta.
Pertama kali yang dilihatnya adalah semua benda dikamar Genta berhamburan, kaca di kamarnya pun pecah, koleksi robot mainan, rak sepatu kaca untuk menyimpan koleksi sepatu Nike miliknya pun sudah pecah.
Gadis menatap Genta yang bersandar di dinding, tatapan lelaki itu benar benar kosong, tangannya berdarah.
"Genta" panggilan itu lemah, tapi mampu membuat Genta menoleh nya.
Irvan, Eles dan Antar hanya bisa meneguk air liur dengan lemas. Mata merah Genta, Wajah berantakan serta luka ditangannya membuat ketiga temannya terpaku, hanya Gadis yang dengan kekuatannya mendekati Genta.
"Are you okey?" Gadis meraih tangan Genta yang sudah berdarah.
Melihat kondisi kaca yang pecah, Gadis tebak lelaki ini pasti melayangkan tinjunya kearah kaca.
Mata Gadis menatap kearah mata Genta yang memerah, semua berantakan bahkan sejak semalam. Mungkin Genta bisa baik baik saja saat tahu kalau Rani dan Akmal akan bercerai, tapi tidak ketika satu kenyataan menghantamnya. Benua? Kenyataan bahwa Benua anak Akmal benar benar memukul batin Genta.
Gadis memeluk Genta, memeluk lelaki itu tanpa banyak tanya. Tiga menit dari pelukan itu bahu Genta tergoncang, Gadis merasakan basah di tekuknya. Meski begitu Gadis memilih diam saja.
Sedangkan Irvan, Eles dan Antar hanya bisa menarik nafas berat saat melihat kerapuhan yang diperlihatkan Genta. Semua menatap kearah itu dengan kasihan, bahkan Antar, lelaki itu diam diam membalikan badan membelakangi Irvan dan Eles sambil mengelap air mata yang menetes secara tiba tiba.
Tahu kalau Antar menangis Eles mendekati Antar dan menepuk punggung lelaki itu.
Kehancuran yang dirasakan Genta, tidak hanya dirasakan oleh dirinya, bahkan semua orang.